Durasi Baca: 6 menit
Ikhtisar: Perjalanan “Percuma” dari Anggis-Betrand menuju versi Mahalini membuka cerita tentang cinta, hak karya, dan interpretasi musik.
Ada lagu yang terasa berbeda ketika dinyanyikan orang lain. “Percuma” menjadi salah satunya: karya yang lebih dulu dikenal lewat Anggis Devaki dan Betrand Peto, lalu kembali hadir melalui suara Mahalini dengan warna emosional berbeda.
Bagi Mahalini, lagu ini bukan sekadar materi yang dinyanyikan ulang. Ia merupakan bagian dari karya yang melibatkan dirinya sebagai pencipta, sehingga versi solonya membawa hubungan yang lebih langsung antara penulis lagu dan penyanyi.
“Percuma” berbicara tentang hubungan yang tak lagi berjalan dua arah
Cerita utama lagu ini sederhana, tetapi dekat dengan pengalaman banyak orang: seseorang terus mempertahankan hubungan ketika cinta di dalamnya perlahan kehilangan makna.
Ada usaha untuk memperbaiki keadaan, harapan agar hubungan kembali seperti dulu, sampai akhirnya muncul kesadaran bahwa perjuangan seorang diri tidak cukup. Tema lelah dan kecewa menjadi pusat emosi yang dibangun sepanjang lagu.
Karena itu, judul “Percuma” terasa seperti titik akhir dari sebuah proses panjang. Bukan sekadar kemarahan, melainkan kesadaran bahwa mempertahankan sesuatu tanpa komunikasi dan respons yang seimbang dapat terasa sia-sia.
Sebelum Mahalini, lagu ini sudah punya perjalanan sendiri
“Percuma” lebih dahulu dirilis oleh Anggis Devaki dan Betrand Peto pada 27 Juni 2025. Hampir setahun kemudian, Mahalini resmi merilis versinya sendiri pada 28 Agustus 2026 melalui HITS Records.
Menariknya, Mahalini sudah membawakan lagu tersebut sebelum perilisan resmi. Lagu itu diperkenalkan dalam konser KOMA Live in Concert di Istora Senayan, Jakarta, pada Februari 2026.
Momen tersebut membuat versi Mahalini tidak sepenuhnya terasa seperti lagu baru. Pendengar yang mengikuti perjalanan konsernya sudah lebih dahulu mendengar bagaimana sang pencipta membawakan karya tersebut dengan karakter vokalnya sendiri.
Dari komposisi ke interpretasi: apa yang berubah?
Kekuatan “Percuma” justru berada pada ruang interpretasi. Ceritanya tetap sama, tetapi karakter penyanyi dapat menggeser cara pendengar merasakan emosi di dalamnya.
Versi Mahalini banyak disorot karena karakter vokalnya memberikan tekanan emosional yang berbeda. RRI mencatat adanya sudut pandang baru, sementara sejumlah pemberitaan menggambarkan versi Mahalini sebagai interpretasi yang lebih personal.
Dengan begitu, perbandingan Anggis-Betrand dan Mahalini tidak harus berhenti pada pertanyaan versi siapa yang lebih bagus. Keduanya dapat dibaca sebagai dua cara membawakan cerita yang sama dengan warna vokal berbeda.
Mengapa perilisan versi Mahalini kemudian menjadi polemik?
Perhatian publik tidak hanya tertuju pada musiknya. Keputusan Mahalini merilis “Percuma” kembali memunculkan perbincangan mengenai hubungan antara pencipta lagu, penyanyi yang lebih dahulu membawakan karya, serta kesepakatan penggunaan rekaman.
Mahalini menjelaskan bahwa menurut keterangannya, kontrak penggunaan lagu tersebut berlangsung satu tahun dan bukan sistem beli putus. Ia juga menyatakan persoalan legalitas serta pemberitahuan kepada pihak terkait telah dibicarakan sebelum perilisan.
Anggis Devaki kemudian menyampaikan bahwa dirinya tidak mengetahui rencana perilisan versi Mahalini. Pernyataan tersebut ikut membuat pembahasan publik melebar dari persoalan musikal menuju soal komunikasi dan etika industri.
Dari sisi lain, pengamat musik Wendi Putranto menjelaskan bahwa pencipta dapat merilis kembali karyanya setelah masa lisensi atau kontrak penggunaan sebelumnya berakhir.
Mytha Lestari juga memberikan pandangan serupa mengenai hak pencipta dan mekanisme perizinan, sembari membedakan antara hak atas komposisi dan penggunaan rekaman.
Jadi, polemik “Percuma” sebenarnya memperlihatkan dua lapisan cerita: bagaimana sebuah lagu terdengar di telinga pendengar dan bagaimana sebuah karya bergerak dalam ekosistem industri musik.
Mahalini membawa “Percuma” ke fase baru kariernya
Perilisan “Percuma” hadir ketika Mahalini sedang kembali aktif di panggung setelah periode jeda karier. Pada 2026, ia menjalankan rangkaian KOMA Live in Concert, termasuk pertunjukan di Jakarta dan Kuala Lumpur.
Kini perjalanan tersebut berlanjut ke Singapura. Mahalini dijadwalkan tampil dalam konser solonya di The Star Theatre pada 10 Oktober 2026, yang menjadi konser solo pertamanya di Singapura.
Konteks ini membuat “Percuma” menarik ditempatkan bukan hanya sebagai single terbaru, tetapi sebagai bagian dari fase baru perjalanan musikal Mahalini. Ia kembali ke panggung, membawa karya lama yang pernah dinyanyikan orang lain, lalu memberikan identitas vokalnya sendiri.
Baca Juga: Great Expectation Sienna Spiro Tembus No. 1 Inggris, Ini Cerita di Balik Lagunya
“Percuma” bukan lagu baru, tetapi ceritanya mendapatkan babak baru
Perjalanan lagu ini menunjukkan bahwa satu komposisi dapat mengalami beberapa kehidupan setelah berpindah suara. Versi Anggis Devaki dan Betrand Peto memperkenalkannya kepada publik pada 2025, sementara Mahalini menghadirkan interpretasinya sendiri pada 2026.
Setelah dirilis, versi Mahalini juga mendapat perhatian besar di YouTube Music. Pada 1 September 2026, “Percuma” tercatat berada di posisi kedua dengan sekitar 857 ribu penayangan menurut data yang dikutip detik dari kanal HITS Records dan Mahalini.
Pada akhirnya, daya tarik “Percuma” tidak hanya terletak pada kisah patah hati di dalamnya. Lagu ini juga memperlihatkan bagaimana sebuah karya bisa berubah makna ketika berpindah penyanyi, panggung, dan konteks karier.
Bagi pendengar, mungkin yang tersisa adalah pertanyaan sederhana: ketika sebuah hubungan sudah tidak lagi saling mendengar, kapan usaha harus diteruskan dan kapan harus dilepaskan?
Poin Penting
- “Percuma” versi Mahalini dirilis pada 28 Agustus 2026.
- Versi Anggis Devaki dan Betrand Peto lebih dahulu dirilis pada 27 Juni 2025.
- Mahalini ikut terlibat dalam penciptaan lagu bersama Mohammed Kamga dan Martinus Tintin.
- Mahalini telah membawakan “Percuma” di konser KOMA sebelum perilisan resminya.
- Polemik setelah perilisan berkaitan dengan komunikasi, kontrak penggunaan, hak pencipta, dan etika industri musik.
- Mahalini dijadwalkan tampil di The Star Theatre, Singapura, pada 10 Oktober 2026.
Insight Redaksi
“Percuma” menarik bukan karena sekadar memiliki dua versi populer, tetapi karena perjalanan lagunya mempertemukan tiga hal sekaligus: cerita personal, identitas penyanyi, dan mekanisme industri musik.
Di situlah lagu ini menjadi lebih dari sekadar lagu patah hati. Ia memperlihatkan bahwa sebuah karya dapat terus hidup melalui interpretasi berbeda, sementara persoalan di balik perjalanannya ikut membentuk cara publik mendengarkannya.
Kalau artikel ini terasa dekat dengan pengalamanmu atau menarik untuk dibaca teman sesama pencinta musik, bagikan. Perjalanan sebuah lagu kadang sama menariknya dengan lagu itu sendiri.
Dan perjalanan “Percuma” belum berhenti di sini. Dari panggung Indonesia menuju Singapura, suara Mahalini masih membawa cerita yang sama ke ruang pendengar yang berbeda.
FAQ
Siapa yang pertama merilis “Percuma”?
Versi yang lebih dahulu dirilis adalah duet Anggis Devaki dan Betrand Peto pada 27 Juni 2025.
Kapan Mahalini merilis “Percuma”?
Mahalini merilis versinya pada 28 Agustus 2026 melalui HITS Records.
Apa makna utama lagu “Percuma”?
Lagu ini menggambarkan kelelahan seseorang yang terus mempertahankan hubungan ketika cinta, komunikasi, dan respons dari pasangan tidak lagi berjalan seimbang.
Apakah Mahalini sudah pernah menyanyikan “Percuma” sebelum dirilis?
Ya. Ia membawakannya dalam KOMA Live in Concert di Istora Senayan, Jakarta, pada Februari 2026.
Mengapa perilisan versi Mahalini menjadi perbincangan?
Perbincangan muncul karena lagu tersebut sebelumnya telah dipopulerkan Anggis Devaki dan Betrand Peto, lalu Mahalini merilis versinya sendiri. Diskusi kemudian berkembang ke persoalan kontrak, hak pencipta, komunikasi, dan etika industri.