Mengurai Amarah di Jalanan Bumi Etam: Mengapa Pengendara Kita Semakin Mudah Tersulut

Arya Kusuma • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 12:16 WIB
Ilustrasi konflik antar-pengendara di jalan raya yang menggambarkan fenomena road rage.
Ilustrasi konflik antar-pengendara di jalan raya yang menggambarkan fenomena road rage.

Durasi Baca: 6 menit

Ikhtisar: Road rage di Kaltim tumbuh dari tekanan jalan, ego, dan ruang publik yang makin kompleks setiap hari.

Nama Penulis: Charli Sitinjak, PhD.
Jabatan: Dosen Psikologi, Universitas Esa Unggul; Pakar Psikologi Transportasi; Ketua Komisi Hukum dan Humas Dewan Transportasi Kota Jakarta.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Jalan raya di Kalimantan Timur hari ini tidak hanya menjadi ruang untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Ia juga menjadi ruang sosial tempat berbagai kepentingan, tekanan, dan karakter manusia bertemu. Di tengah pembangunan yang begitu cepat, pertumbuhan kendaraan, aktivitas logistik, serta perubahan tata ruang akibat pembangunan Ibu Kota Nusantara, jalan raya semakin sering menjadi tempat bertemunya ketergesaan dan ketegangan.

Kita mungkin pernah melihatnya. Seorang pengendara memotong jalur tanpa memberi tanda. Pengendara lain membunyikan klakson panjang. Adu tatapan berubah menjadi makian. Senggolan kecil berkembang menjadi pertengkaran. Tidak jarang, persoalan yang sebenarnya sederhana berakhir dengan ancaman bahkan kekerasan fisik.

Fenomena ini dikenal sebagai road rage, yaitu kemarahan yang muncul dalam konteks berkendara dan dapat diwujudkan melalui perilaku agresif, seperti membunyikan klakson secara berlebihan, memaki, mengejar kendaraan lain, melakukan manuver berbahaya, hingga melakukan kekerasan.

Namun, pertanyaannya bukan sekadar mengapa seseorang mudah marah ketika berkendara. Pertanyaan yang lebih penting adalah mengapa lingkungan jalan raya kita semakin mudah memproduksi kemarahan?

Jalan Raya yang Semakin Menekan

Kalimantan Timur sedang mengalami perubahan besar. Pembangunan infrastruktur, aktivitas ekonomi, mobilitas penduduk, dan perkembangan kawasan sekitar IKN menciptakan dinamika transportasi yang semakin kompleks.

Di satu sisi, kita melihat pembangunan jalan dengan standar yang semakin baik. Namun di sisi lain, masih terdapat ruas jalan yang menghadapi persoalan kerusakan, kepadatan, debu, pekerjaan konstruksi, percampuran kendaraan ringan dan kendaraan berat, serta waktu perjalanan yang sulit diprediksi.

Semua kondisi tersebut bukan sekadar persoalan teknis transportasi. Bagi manusia yang mengalaminya setiap hari, kondisi jalan dapat menjadi sumber tekanan psikologis.

Bayangkan seseorang yang harus berkendara selama berjam-jam, menghadapi kemacetan, panas, debu, suara kendaraan berat, dan ketidakpastian waktu tiba. Dalam kondisi seperti itu, kapasitas seseorang untuk mengendalikan emosi dapat menurun. Ketika kemudian ia dipotong kendaraan lain atau diklakson secara kasar, respons emosional dapat menjadi jauh lebih besar dibandingkan dengan situasi normal.

Dengan kata lain, perilaku agresif di jalan tidak selalu dimulai ketika seseorang bertemu pengendara lain. Ia bisa dimulai jauh sebelumnya, ketika tubuh dan pikiran sudah berada dalam kondisi lelah dan tertekan.

Jalan raya Kalimantan Timur dengan kendaraan ringan dan berat dalam satu ruang mobilitas.
Jalan raya Kalimantan Timur dengan kendaraan ringan dan berat dalam satu ruang mobilitas.

Baca Juga: Mengurai Paradoks Daerah Penyangga yang Tercekik di Bawah Bayang-Bayang IKN

Ketika Jalan Menjadi Ruang Perebutan

Persoalan berikutnya adalah bagaimana berbagai jenis kendaraan berbagi ruang yang sama.

Jalan di Kalimantan Timur mempertemukan sepeda motor, mobil pribadi, angkutan umum, kendaraan proyek, kendaraan logistik, hingga kendaraan berat yang membawa berbagai komoditas dan material. Masing-masing memiliki ukuran, kecepatan, kebutuhan ruang, dan kepentingan perjalanan yang berbeda.

Ketika ruang jalan terbatas sementara kebutuhan mobilitas terus meningkat, konflik kepentingan mudah terjadi.

Pengendara sepeda motor merasa terdesak ketika berhadapan dengan kendaraan besar. Pengemudi mobil merasa perjalanan mereka terhambat. Pengemudi kendaraan berat memiliki tekanan target waktu dan kebutuhan operasional. Sementara masyarakat yang tinggal di sekitar koridor transportasi harus berhadapan dengan kebisingan, debu, serta risiko keselamatan.

Dalam kondisi seperti ini, persoalan transportasi tidak lagi sekadar persoalan siapa yang salah ketika terjadi pelanggaran. Ada persoalan yang lebih mendasar, yaitu bagaimana ruang jalan dibagi secara adil dan aman.

Ketika masyarakat merasa bahwa sebagian pengguna jalan memperoleh ruang lebih besar atau mendapatkan perlakuan berbeda, persepsi ketidakadilan dapat berkembang. Ketidakpuasan terhadap sistem kemudian mudah diarahkan kepada individu lain yang berada paling dekat.

Di sinilah kemarahan terhadap sistem dapat berubah menjadi kemarahan antarpengguna jalan.

Ketika Klakson Menjadi Bahasa Kemarahan

Ada satu perubahan perilaku yang sering kita anggap sepele. Cara kita berkomunikasi di jalan.

Klakson seharusnya menjadi alat komunikasi keselamatan. Namun dalam praktiknya, klakson sering digunakan sebagai ekspresi ketidaksabaran. Lampu jauh digunakan untuk menekan kendaraan di depan. Jarak kendaraan dipersempit untuk memaksa pengendara lain berpindah jalur. Tatapan dan gestur tubuh digunakan untuk menunjukkan dominasi.

Hal-hal kecil tersebut sebenarnya memperlihatkan perubahan fungsi jalan raya. Jalan tidak lagi dipandang sebagai ruang bersama, tetapi sebagai ruang kompetisi.

Saya harus lebih cepat.
Saya harus lebih dahulu.
Saya tidak boleh didahului.
Saya berhak menggunakan ruang ini.

Pola pikir semacam ini membuat aktivitas berkendara menjadi arena mempertahankan ego.

Padahal, jalan raya adalah salah satu ruang publik terbesar yang kita miliki. Di sana kita bertemu dengan orang yang tidak kita kenal, berasal dari latar belakang berbeda, memiliki tujuan berbeda, dan mungkin sedang menghadapi tekanan hidup yang tidak pernah kita ketahui.

Karena itu, kemampuan mengendalikan diri di jalan sebenarnya merupakan bentuk kecerdasan sosial.

Baca Juga: Samarinda dan Krisis Keselamatan Jalan: Ketika Perilaku Berisiko Menjadi Budaya

Mengapa Orang Lain Hanya Menonton

Ada persoalan lain yang juga perlu kita perhatikan ketika konflik terjadi di jalan raya. Orang yang berada di sekitar kejadian sering kali memilih untuk tidak terlibat. Sebagian bahkan mengeluarkan telepon genggam dan merekam.

Dalam psikologi sosial, fenomena ketika kehadiran banyak orang justru membuat seseorang semakin kecil kemungkinan untuk memberikan pertolongan dikenal sebagai bystander effect.

Dalam konteks jalan raya, fenomena ini dapat muncul ketika orang menyaksikan konflik tetapi merasa bahwa orang lain akan bertindak.

Tentu kita tidak dapat menyederhanakan setiap orang yang merekam kejadian sebagai tidak peduli. Dalam situasi tertentu, merekam dapat menjadi cara untuk menyediakan bukti. Namun ketika kekerasan justru diperlakukan sebagai tontonan, ada persoalan sosial yang perlu kita renungkan.

Apa yang dahulu dianggap memalukan dapat berubah menjadi konten.

Apa yang dahulu harus dilerai dapat berubah menjadi tontonan.

Apa yang dahulu merupakan konflik pribadi dapat berubah menjadi hiburan publik.

Media sosial kemudian memperpanjang umur sebuah konflik. Peristiwa yang berlangsung beberapa menit di jalan dapat beredar selama berhari-hari dan membentuk persepsi bahwa kekerasan di jalan adalah sesuatu yang biasa.

Padahal, normalisasi semacam itu berbahaya.

Kita Membutuhkan Pendekatan Psikologi Transportasi

Penanganan road rage tidak cukup hanya dengan menambah tilang, kamera pengawas, atau operasi lalu lintas. Instrumen hukum tetap penting, tetapi persoalan perilaku berkendara memiliki dimensi psikologis yang juga harus ditangani.

Di sinilah psikologi transportasi memiliki peran penting.

Keselamatan lalu lintas bukan hanya tentang apakah kendaraan layak digunakan atau apakah seseorang memahami rambu. Keselamatan juga berkaitan dengan bagaimana seseorang mempersepsikan risiko, mengelola emosi, mengendalikan impuls, mengambil keputusan, dan berinteraksi dengan pengguna jalan lain.

Karena itu, pendidikan mengemudi seharusnya tidak berhenti pada kemampuan mengoperasikan kendaraan.

Kita perlu membangun budaya bahwa pengemudi yang baik adalah pengemudi yang mampu mengendalikan dirinya ketika situasi tidak berjalan sesuai keinginannya.

Kemampuan untuk tidak membalas ketika dipotong.

Kemampuan untuk tidak mengejar kendaraan yang membuat kita marah.

Kemampuan untuk mengambil jeda ketika emosi meningkat.

Kemampuan untuk menerima bahwa beberapa detik keterlambatan jauh lebih murah daripada risiko kecelakaan atau konflik.

Itulah bentuk kedewasaan dalam berkendara.

Baca Juga: Menajamkan Strategi Pembangunan PPU di Tengah Ruang Fiskal yang Makin Terbatas

Membangun Jalan yang Lebih Manusiawi

Pemerintah juga memiliki pekerjaan besar. Infrastruktur transportasi harus dirancang tidak hanya untuk memperlancar pergerakan kendaraan, tetapi juga untuk mengurangi tekanan psikologis pengguna jalan.

Pengaturan kendaraan berat perlu konsisten. Kondisi jalan perlu dipelihara. Informasi mengenai pekerjaan konstruksi harus jelas. Titik kemacetan perlu dikelola. Konflik antara kendaraan berat dan kendaraan ringan perlu diminimalkan. Penegakan aturan harus dapat dipahami masyarakat sebagai sesuatu yang adil dan konsisten.

Yang tidak kalah penting adalah menyediakan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan keluhan transportasi dan memastikan bahwa keluhan tersebut benar-benar ditindaklanjuti.

Masyarakat membutuhkan kepastian bahwa ketika mereka menghadapi persoalan di jalan, sistem transportasi memiliki mekanisme untuk meresponsnya.

Sebab rasa aman tidak hanya lahir dari keberadaan polisi atau rambu lalu lintas. Rasa aman juga lahir dari keyakinan bahwa sistem bekerja secara adil.

Mengembalikan Makna Etam di Jalan Raya

Bumi Etam memiliki identitas sosial yang kuat. Semangat kebersamaan seharusnya tidak berhenti pada hubungan antarwarga di lingkungan tempat tinggal. Semangat tersebut juga perlu hadir di jalan raya.

Kita tidak pernah tahu siapa orang yang sedang kita hadapi di persimpangan. Mungkin ia sedang terburu-buru karena harus membawa anggota keluarganya ke rumah sakit. Mungkin ia sedang kelelahan setelah bekerja. Mungkin ia sedang menghadapi persoalan pribadi yang tidak kita ketahui.

Karena itu, tidak semua kesalahan di jalan harus dibalas.

Tidak semua klakson harus dijawab.

Tidak semua tindakan yang mengganggu perjalanan kita harus menjadi pertengkaran.

Menahan diri bukan berarti kalah. Justru kemampuan mengendalikan respons ketika emosi sedang tinggi merupakan salah satu bentuk kekuatan psikologis.

Jalan raya pada akhirnya adalah cermin dari cara kita hidup bersama. Ketika kita mampu memberi ruang kepada orang lain, bersabar ketika perjalanan tersendat, menghormati pengguna jalan yang berbeda, dan menolak menjadikan kekerasan sebagai cara menyelesaikan konflik, kita sedang membangun lebih dari sekadar keselamatan lalu lintas.

Kita sedang membangun budaya publik.

Kalimantan Timur sedang bergerak menuju masa depan baru. Pembangunan IKN dan transformasi wilayah akan membawa perubahan besar terhadap pola mobilitas masyarakat. Tantangannya bukan hanya bagaimana membangun jalan yang lebih lebar dan kendaraan yang lebih modern.

Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana memastikan bahwa manusia yang menggunakan jalan tersebut tetap mampu hidup berdampingan.

Karena jalan yang baik bukan hanya jalan yang membuat kita tiba lebih cepat. Jalan yang baik adalah jalan yang membuat kita semua dapat tiba dengan selamat, tenang, dan tetap menghargai satu sama lain.

Poin Penting

Insight Redaksi

Di Bumi Etam, perubahan mobilitas tidak cukup dijawab dengan jalan dan aturan. Tekanan perjalanan juga menyentuh perilaku manusia. Ketika kendaraan berat, konstruksi, kepadatan, dan ego bertemu, konflik mudah membesar. Jalan harus dipahami sebagai ruang bersama, bukan arena adu dominasi. Kada perlu menang di jalan kalau risikonya membawa masalah sampai rumah setiap hari.

Jalan raya bukan arena menang cepat; yang paling penting adalah pulang selamat dan menjaga ruang bersama.

Kalau tulisan ini terasa dekat dengan kondisi jalan yang ikam lewati, bagikan ke bubuhan yang setiap hari berbagi ruang di jalan.

Jalan yang makin ramai membutuhkan manusia yang makin mampu mengendalikan diri; ikuti terus info BTV untuk melihat cerita lain tentang Bumi Etam dan kehidupan warganya. Balikpapan TV teman update setia, bukan sekadar info biasa!

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates

 

Editor : Arya Kusuma
psikologi transportasi road rage keselamatan lalu lintas kalimantan timur