Durasi Baca: 6 Menit
Ikhtisar: Pemerintah Kabupaten Kutai Timur menargetkan pengembangan 20 ribu hektare lahan sawah dalam lima tahun. Saat ini sekitar 7.000 hektare lahan telah masuk pendataan, sedangkan lahan yang sudah eksis atau siap diolah mencapai lebih dari 5.000 hektare.
Balikpapan TV - Hai Ces! Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur, tengah mendorong perluasan sektor pertanian dengan target pengembangan sawah hingga 20 ribu hektare dalam lima tahun ke depan.
Target tersebut diarahkan untuk memperkuat produksi pangan dan mendorong kemandirian beras di daerah. Namun, pemerintah menghadapi tantangan yang tidak kalah penting dari persoalan lahan, yakni ketersediaan tenaga petani.
Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman menyebut minimnya generasi muda yang tertarik masuk sektor pertanian menjadi salah satu persoalan utama dalam mengejar target tersebut.
Target Sawah 20 Ribu Hektare
Rencana perluasan lahan pertanian Kutim bukan sekadar penambahan area sawah. Pemerintah daerah juga melakukan pendataan terhadap potensi lahan yang dapat dikembangkan menjadi kawasan tanaman pangan.
Dari target 20 ribu hektare, sekitar 7.000 hektare telah masuk dalam proses pendataan. Sementara lahan yang sudah eksis atau siap diolah tercatat lebih dari 5.000 hektare.
Target tersebut diproyeksikan dalam kurun waktu lima tahun. Lahan tidur atau kawasan yang belum dimanfaatkan secara maksimal menjadi salah satu sasaran pengembangan.
Sebelumnya, Ardiansyah juga menyebut luas kawasan sawah aktif di Kutim masih berada di kisaran 2.600 hektare. Pemerintah daerah kemudian mendorong perluasan hingga membentuk kawasan lumbung pangan dengan target awal sekitar 10 ribu hektare.
Baca Juga: Gence Ruan Khas Kutai, Ikan Gabus Bakar dengan Sambal Kasar yang Nendang
Petani Baru Jadi Tantangan Utama
Perluasan lahan ternyata tidak otomatis membuat target pertanian mudah dicapai. Pemerintah perlu memastikan lahan yang dibuka memiliki tenaga yang mampu mengelolanya secara berkelanjutan.
Ardiansyah mengatakan persoalan tenaga petani menjadi kendala utama yang kini dihadapi Pemkab Kutim.
“Ternyata kesulitannya hanya satu, yakni tenaga petaninya yang tidak ada. Generasi muda atau anak-anak muda yang berminat ke sektor pertanian masih sangat sedikit,” ujar Ardiansyah.
Kondisi tersebut membuat regenerasi petani menjadi pekerjaan penting bagi pemerintah daerah. Sebab, sebagian besar petani yang masih aktif saat ini berasal dari kelompok petani lama.
Jika perluasan sawah terus dilakukan tanpa diikuti penambahan jumlah petani, lahan yang tersedia berpotensi tidak dimanfaatkan secara optimal.
Pemerintah Dorong Regenerasi Petani Muda
Pemkab Kutim mulai mendorong munculnya petani baru, terutama dari kalangan generasi muda.
Upaya regenerasi diperlukan agar sektor pertanian tidak hanya bergantung pada petani yang saat ini masih aktif. Pemerintah ingin memastikan ada sumber daya manusia yang melanjutkan pengelolaan lahan pertanian dalam jangka panjang.
Ardiansyah menegaskan, jumlah petani yang tersedia saat ini masih terbatas sehingga pemerintah perlu mencari cara untuk menumbuhkan minat generasi muda terhadap sektor pertanian.
“Mau mengandalkan petani yang ada, jumlahnya terbatas pada kelompok lama. Kita sedang berupaya keras mencari dan menumbuhkan minat petani-petani baru demi mendukung keberlanjutan sektor pertanian ini,” tegas Ardiansyah.
Persoalan regenerasi ini menjadi semakin penting seiring dengan target perluasan lahan yang cukup besar. Artinya, pemerintah tidak hanya perlu menyiapkan lahan, tetapi juga menyiapkan orang yang akan mengolahnya.
Lahan Potensial Kawasan Kehutanan Ikut Dipertimbangkan
Selain mendata lahan yang sudah tersedia, Pemkab Kutim juga membuka peluang mengembangkan kawasan yang dinilai potensial untuk pertanian meski berada dalam wilayah kehutanan.
Pemerintah daerah menyatakan akan mengupayakan proses perizinan melalui pemerintah pusat apabila terdapat kawasan yang dinilai layak dan dapat diperjuangkan untuk pengembangan pertanian.
“Jika ada kawasan potensial yang masuk dalam wilayah kehutanan, selagi bisa kita perjuangkan perizinannya melalui Kementerian Kehutanan, tentu akan kita lakukan,” jelas Ardiansyah.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi menambah potensi lahan pertanian. Namun, persoalan tenaga petani tetap menjadi tantangan yang harus diselesaikan bersamaan dengan perluasan lahan.
Sawah Aktif Masih Jauh dari Target
Kondisi kawasan sawah aktif Kutim saat ini menunjukkan adanya jarak yang cukup besar dengan target 20 ribu hektare.
Dengan luas sawah aktif sekitar 2.600 hektare, pemerintah daerah masih harus melakukan perluasan secara bertahap. Sebagian lahan yang masuk pendataan juga masih membutuhkan proses untuk bisa benar-benar dimanfaatkan sebagai kawasan pertanian.
Salah satu perkembangan yang sudah berjalan adalah program cetak sawah rakyat. Pengembangan tersebut telah mencakup sekitar 553 hingga 600 hektare dan berada di antaranya di Kecamatan Long Mesangat dan Bengalon.
Pertanian Didorong Jadi Masa Depan Kaltim
Target Kutim mendapat dukungan dari Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud. Menurut Rudy, sektor pertanian perlu dipersiapkan sebagai salah satu fondasi ekonomi daerah di masa depan.
Rudy juga meminta Pemkab Kutim memperkuat kolaborasi dengan kelompok tani, TNI-Polri, hingga sektor swasta agar program perluasan lahan dapat berjalan secara optimal.
“Pertanian ini masa depan kita, Pak Bupati. Saya tidak terlalu yakin dengan sumber daya alam (batubara dan migas) yang dikelola selama ini. Dampaknya juga tidak signifikan bagi masyarakat,” kata Rudy.
Dukungan tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan pertanian Kutim tidak hanya dipandang sebagai program daerah, tetapi juga bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan Kalimantan Timur.
Baca Juga: Jantur Inar, Air Terjun di Tengah Hutan Kutai Barat yang Makin Dikenal Wisatawan
Sawah Juga Berpotensi Jadi Destinasi Wisata
Selain untuk produksi pangan, kawasan persawahan juga dinilai memiliki peluang dikembangkan menjadi destinasi wisata.
Rudy melihat hamparan sawah dapat memberikan nilai tambah apabila dipadukan dengan konsep wisata berbasis alam. Dengan begitu, kawasan pertanian tidak hanya berfungsi sebagai tempat produksi pangan, tetapi juga dapat membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
“Sawah ini wisata mewah Pak Bupati, wisata mepet sawah (mewah),” seloroh Rudy.
Konsep tersebut menjadi peluang tambahan di tengah agenda pemerintah memperluas kawasan pertanian. Namun, keberhasilannya tetap bergantung pada kesiapan lahan, petani, infrastruktur, serta pengelolaan kawasan.
Target Besar Butuh Petani Baru
Target 20 ribu hektare sawah memberikan gambaran ambisi Kutai Timur dalam memperkuat sektor pangan. Namun, luas lahan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.
Ketersediaan petani menjadi bagian yang tidak bisa dilepaskan dari rencana tersebut. Pemerintah perlu memastikan generasi baru memiliki minat untuk masuk ke sektor pertanian sekaligus memiliki kemampuan mengelola lahan dengan dukungan teknologi dan sarana produksi.
Dengan begitu, perluasan lahan dapat berjalan beriringan dengan regenerasi petani. Tanpa petani baru, penambahan lahan berisiko tidak menghasilkan produktivitas yang sesuai dengan target.
Poin Penting
- Kutim menargetkan pengembangan 20 ribu hektare sawah dalam lima tahun.
- Sekitar 7.000 hektare telah masuk proses pendataan.
- Lahan yang sudah eksis atau siap diolah mencapai lebih dari 5.000 hektare.
- Luas sawah aktif Kutim saat ini sekitar 2.600 hektare.
- Cetak sawah rakyat telah mencapai sekitar 553-600 hektare.
- Regenerasi petani menjadi tantangan karena minat generasi muda masih rendah.
- Pemkab Kutim juga mempertimbangkan lahan potensial di kawasan kehutanan melalui proses perizinan.
- Gubernur Kaltim mendukung perluasan sektor pertanian Kutim sebagai bagian dari upaya swasembada pangan.
Insight Redaksi
Target 20 ribu hektare sawah menunjukkan besarnya ambisi Kutai Timur dalam memperkuat sektor pangan. Namun, pekerjaan pemerintah tidak berhenti pada pencetakan atau penyediaan lahan.
Persoalan regenerasi petani justru menjadi faktor penting yang perlu mendapat perhatian. Lahan yang luas membutuhkan tenaga pengelola yang cukup agar dapat menghasilkan produksi secara berkelanjutan.
Karena itu, menarik minat generasi muda ke sektor pertanian menjadi pekerjaan yang berjalan bersamaan dengan perluasan lahan. Dukungan teknologi, akses modal, kepastian pasar, serta peningkatan nilai ekonomi dari sektor pertanian dapat menjadi bagian dari upaya tersebut.
FAQ
1. Berapa target sawah yang ingin dikembangkan Kutim?
Pemkab Kutim menargetkan pengembangan lahan padi dan sawah hingga 20 ribu hektare dalam lima tahun ke depan.
2. Berapa luas sawah aktif Kutai Timur saat ini?
Luas kawasan sawah aktif Kutim saat ini sekitar 2.600 hektare.
3. Apa tantangan terbesar dalam mencapai target 20 ribu hektare?
Tantangan utama yang disebut Bupati Kutim adalah keterbatasan tenaga petani, terutama masih sedikitnya generasi muda yang berminat masuk sektor pertanian.
4. Berapa lahan yang sudah masuk pendataan?
Sekitar 7.000 hektare telah masuk proses pendataan. Sementara lahan yang sudah eksis atau siap diolah tercatat lebih dari 5.000 hektare.
5. Apakah sudah ada sawah baru yang berhasil dicetak?
Sudah. Program cetak sawah rakyat di Kutim telah mencapai sekitar 553 hingga 600 hektare, di antaranya berada di Long Mesangat dan Bengalon.
Sumber Informasi: Artikel ini sudah tayang sebelumnya di Media "Kaltim Post", dengan judul "Kutim Targetkan 20 Ribu Hektare Sawah, Regenerasi Petani Masih Jadi Tantangan",oleh penulis Jufriadi. Di-update kembali dengan angle dan style balikpapantv.id.
Editor : Redaksi BTV
Sumber : Kaltim Post