Durasi Baca: 5 menit
Ikhtisar: Perjalanan kuliner Pontianak mempertemukan pengunjung dengan pengkang, mie tiaw, es sago gunting, bakmi kepiting, dan bubur pedas.
Balikpapan TV - Hai Ces! Perjalanan dari Singkawang menuju Pontianak membawa Ria SW menikmati kuliner khas sekaligus mengenal identitas Kota Ekuator dan tradisi di balik makanannya.
Pontianak bukan cuma soal Tugu Khatulistiwa. Di balik ikon kota tersebut, ada kuliner dengan bahan, cara masak, dan cerita yang membuat perjalanan terasa lebih lengkap.
Perjalanan Dimulai dari Tugu Khatulistiwa
Sekitar pukul 09.00, perjalanan berlanjut dari Singkawang menuju Pontianak. Salah satu tujuan yang menjadi penanda kedatangan adalah Tugu Khatulistiwa.
Secara geografis, Kota Pontianak berada di lintasan garis khatulistiwa. Karena itu, tugu tersebut menjadi penanda titik nol derajat garis khatulistiwa dan ikut menguatkan julukan Pontianak sebagai Kota Ekuator.
Ada pula fenomena menarik yang berkaitan dengan posisi geografis tersebut. Sekitar 21–23 Maret dan 23 September, matahari berada tepat di atas garis khatulistiwa. Saat fenomena kulminasi matahari terjadi, benda tegak di sekitar kawasan tugu dapat terlihat hampir tanpa bayangan.
Namun, setelah mengenal ikon kota, perjalanan berlanjut pada hal yang tak kalah menarik: mencicipi makanan khas Pontianak.
Pengkang, Ketan Bakar dengan Isian Ebi
Salah satu makanan yang dicoba adalah pengkang. Makanan khas Kalimantan Barat ini berbahan dasar beras ketan yang dimasak menggunakan santan.
Adonan kemudian dibungkus daun pisang hingga membentuk segitiga dan dibakar. Di bagian dalamnya terdapat isian ebi atau udang kering yang memberikan rasa gurih khas.
Pengkang biasanya semakin nikmat ketika disantap bersama sambal petis dengan perpaduan rasa manis dan pedas. Cara memasaknya yang dibakar juga memberikan aroma khas pada ketan.
Bagi pencinta makanan berbahan ketan, pengkang menarik karena teksturnya berbeda dari kudapan ketan biasa. Ada rasa gurih dari santan, isian ebi, aroma daun pisang, dan sensasi bakaran dalam satu sajian.
Sate dengan Sambal Cabai Rawit Segar
Perjalanan kuliner kemudian berlanjut ke Sate Bibi Wasiah. Pilihannya mencakup sate ayam, sapi, dan kambing.
Yang membuat penyajiannya menarik adalah campuran pendamping berupa bawang dan cabai rawit segar. Sambal sederhana ini memberikan sensasi pedas yang langsung terasa ketika disantap bersama potongan sate.
Kombinasi daging bakar dan cabai segar membuat sajian ini punya karakter rasa yang kuat tanpa membutuhkan banyak pelengkap.
Baca Juga: Lek Tau Suan, Bubur Gunting Khas Pontianak dengan Kuah Manis dan Cakwe Renyah
Es Sago Gunting untuk Pelepas Dahaga
Setelah makanan bercita rasa gurih dan pedas, perjalanan dilanjutkan dengan Es Sago Gunting.
Namanya memang terdengar unik. Dalam satu mangkuk atau gelas, terdapat sago gunting, kacang merah, cincau, bongko, gula merah, serta santan.
Perpaduan tersebut membuat sajian ini bukan sekadar minuman pelepas dahaga. Ada tekstur dari berbagai isian, rasa manis dari gula merah, serta gurih santan yang menyatu dalam satu sajian.
Bagi pembaca yang belum familiar dengan kuliner Pontianak, es sago gunting bisa menjadi salah satu pilihan untuk mengenal jajanan lokal melalui campuran bahan yang cukup beragam.
Mie Tiaw Pontianak yang Sudah Melegenda
Kuliner berikutnya membawa perjalanan pada sebuah kedai mie tiaw yang telah ada sejak 1968.
Mie tiaw disajikan dalam gaya basah dengan proses pengolahan yang menghasilkan cita rasa gurih. Sajian tersebut kemudian dilengkapi es jeruk Pontianak yang memberikan rasa manis dan segar.
Mie tiaw menjadi salah satu hidangan yang menunjukkan kuatnya pengaruh kuliner Tionghoa dalam ragam makanan Pontianak. Pengalaman menyantapnya pun terasa berbeda karena tekstur mie dan kuah atau bumbu basah berpadu dalam satu piring.
Setelah seharian berkeliling, perjalanan kemudian berlanjut ke hotel untuk beristirahat. Kamar yang ditempati berada di lantai tujuh, sementara area duduk di lantai lima menawarkan pemandangan kota, termasuk suasana matahari terbenam.
Baca Juga: Tudai Bakar Khas Kalimantan Utara: Resep Kerang Darah Gurih Pedas yang Bikin Nagih
Bakmi Kepiting, Sajian dengan Karakter Berbeda
Eksplorasi kuliner Pontianak belum selesai. Ada pula bakmi kepiting yang dalam perjalanan ini disebut sebagai sajian non-halal.
Hidangan tersebut menggunakan kuah berbahan kaldu babi dan dilengkapi daging kepiting serta bakso ikan. Kombinasi bahan laut dan kaldu memberikan karakter rasa tersendiri.
Informasi mengenai bahan menjadi bagian penting ketika menikmati kuliner. Bagi pembaca Muslim, keterangan non-halal ini perlu diperhatikan sebelum memilih hidangan.
Bubur Pedas yang Tidak Selalu Berarti Pedas
Salah satu kuliner yang menarik perhatian adalah bubur pedas, makanan tradisional Melayu Sambas.
Namanya mungkin membuat orang langsung membayangkan makanan dengan banyak cabai. Namun, istilah “pedas” dalam konteks bubur ini tidak merujuk semata-mata pada rasa pedas.
“Kenapa namanya bubur pedas? Ini bukan berarti rasanya pedas ya, bukan. Tapi pedas itu artinya sayuran dan rempah, jadi ini isinya sayur-sayuran,” kata Ria SW.
Bahan yang disebutkan dalam sajian tersebut antara lain tauge, seledri, kacang tanah, teri, potongan daging, dan bakso.
Dengan begitu, bubur pedas lebih tepat dipahami sebagai sajian yang mengandalkan perpaduan sayuran dan rempah. Nama yang terdengar sederhana ternyata menyimpan konteks budaya tersendiri.
Pontianak, Kota yang Bisa Dinikmati Lewat Makanan
Perjalanan dari Singkawang ke Pontianak memperlihatkan bahwa mengenal sebuah kota tidak harus berhenti pada tempat wisatanya.
Tugu Khatulistiwa memberikan konteks geografis, sedangkan pengkang, sate, es sago gunting, mie tiaw, bakmi kepiting, hingga bubur pedas memperkenalkan sisi kuliner dan budaya masyarakatnya.
Setiap makanan membawa karakter berbeda. Ada yang berbahan ketan dan dibakar, ada yang mengandalkan daging dan cabai segar, ada pula sajian berisi sayuran serta rempah.
Buat Ces yang berencana menjelajah Pontianak, pengalaman kuliner seperti ini bisa menjadi cara sederhana untuk memahami sebuah daerah: bukan hanya melihat apa yang ada di meja makan, tetapi juga mengenali bahan dan cerita yang menyertainya.
Baca Juga: Kwe Cap Veteran Pontianak, Kuliner Berkuah Sapi yang Hangat dan Mengenyangkan
Poin Penting:
-
Pengkang dibuat dari beras ketan, santan, dan ebi, kemudian dibungkus daun pisang serta dibakar.
-
Es sago gunting memadukan sago gunting, kacang merah, cincau, bongko, gula merah, dan santan.
-
Mie tiaw yang dicoba disebut berasal dari kedai yang telah ada sejak 1968.
-
Bakmi kepiting dalam perjalanan ini merupakan sajian non-halal dengan kaldu babi.
-
Bubur pedas merupakan makanan tradisional Melayu Sambas dan istilah “pedas” merujuk pada sayuran serta rempah.
Pontianak punya cara sendiri untuk membuat perjalanan terasa berkesan. Setelah mengenal kulinernya, Ces mungkin akan melihat Kota Ekuator dari sudut yang berbeda—bukan cuma tempat yang dilewati, tetapi kota yang punya rasa dan cerita.
Kalau artikel ini bermanfaat, bagikan ke teman yang sedang menyusun rencana perjalanan kuliner ke Kalimantan Barat.
Tetap bersama Balikpapan TV untuk cerita lokal dan perjalanan menarik lainnya yang bukan sekadar informasi biasa.
FAQ
Apa makanan khas Pontianak yang dicoba dalam perjalanan ini?
Beberapa di antaranya adalah pengkang, sate, es sago gunting, mie tiaw, bakmi kepiting, dan bubur pedas.
Apa itu pengkang?
Pengkang merupakan makanan berbahan beras ketan dan santan, diisi ebi, dibungkus daun pisang berbentuk segitiga, lalu dibakar.
Mengapa disebut bubur pedas?
Menurut penjelasan dalam perjalanan tersebut, “pedas” bukan berarti rasanya harus pedas, melainkan berkaitan dengan penggunaan sayuran dan rempah.
Apakah bakmi kepiting yang dicoba halal?
Tidak. Bakmi kepiting yang disebut dalam perjalanan menggunakan kaldu babi sehingga dikategorikan non-halal.
Mengapa Pontianak disebut Kota Ekuator?
Karena secara geografis Kota Pontianak berada pada lintasan garis khatulistiwa.
Sumber Informasi:
Informasi ini telah tayang sebelumnya di YouTube Ria SW, dengan judul “HELLO PONTIANAK #01”. Dipublikasikan kembali dengan angle dan style artikel Balikpapantv.id.
Editor : Arya Kusuma