Luba Laya Khas Kalimantan Utara, Nasi Lembek Dayak Lundayeh dengan Cara Masak Unik

Nasya Syafira • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 14:16 WIB
Luba Laya khas Dayak Lundayeh dibungkus daun dengan tekstur lembut, kuliner tradisional dari Krayan, Kalimantan Utara. (BTV/AI)
Luba Laya khas Dayak Lundayeh dibungkus daun dengan tekstur lembut, kuliner tradisional dari Krayan, Kalimantan Utara. (BTV/AI)

Durasi Baca: 6 menit

Ikhtisar: Luba Laya merupakan makanan khas Dayak Lundayeh di Krayan, Nunukan, yang dikenal sebagai “nasi lembek” dengan teknik memasak dan bahan lokal yang khas.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Kalau lontong biasanya padat dan kenyal, Luba Laya justru hadir dengan tekstur lembut seperti nasi yang dimasak lebih lama. Kuliner khas Dayak Lundayeh ini berasal dari Krayan, Nunukan, Kalimantan Utara.

Bagi masyarakat Lundayeh, Luba Laya bukan sekadar makanan berbahan beras. Hidangan ini berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, tradisi, dan pemanfaatan pangan lokal di dataran tinggi Krayan.

Apa sebenarnya Luba Laya khas Kalimantan Utara itu?

Luba Laya secara harfiah dikenal sebagai “nasi lembek”. Bentuknya memang sekilas menyerupai lontong, tetapi teksturnya jauh lebih lembut.

Kuliner ini merupakan makanan tradisional masyarakat Dayak Lundayeh yang tinggal di wilayah Krayan, Kabupaten Nunukan. Keunikannya terletak pada teknik memasak beras hingga bulirnya menjadi sangat lunak.

Dalam sejumlah sumber, beras yang digunakan adalah beras Adan Krayan, varietas lokal yang menjadi salah satu kekayaan pangan masyarakat setempat. Luba Laya kemudian dibungkus menggunakan daun itip yang memberikan aroma khas.

Baca Juga: Ikan Asin Pipih, Olahan Ikan Air Tawar yang Menjadi Bagian dari Kuliner Kalimantan

1. Beras Adan Krayan menjadi bahan yang istimewa

Beras menjadi bahan utama Luba Laya. Beberapa sumber secara khusus menyebut beras Adan dari Krayan sebagai bahan yang memberikan karakter rasa tersendiri.

Beras tersebut dimasak menggunakan air lebih banyak dibandingkan proses menanak nasi biasa. Ketika air mulai mendidih, beras tidak dibiarkan begitu saja.

Proses pengadukan justru menjadi bagian penting. Beras terus diaduk, dibalik, dan ditekan hingga bulirnya semakin hancur dan teksturnya berubah menjadi lembut.

2. Daun itip memberikan aroma khas

Setelah matang, Luba Laya dapat dibungkus dalam ukuran kecil menggunakan daun itip. Daun tersebut menjadi salah satu ciri yang membedakannya dari lontong biasa.

Daun pembungkus juga membantu memberikan aroma pada makanan. Sumber lain menyebut daun pisang juga dapat digunakan dalam variasi penyajian Luba Laya.

3. Kautan digunakan untuk mengolah teksturnya

Teknik tradisional Luba Laya tidak berhenti pada penggunaan beras dan air. Masyarakat Lundayeh menggunakan alat kayu khusus bernama Kautan untuk mengaduk, membalik, serta menekan beras selama proses memasak.

Menurut penjelasan budayawan Dayak Lundayeh kepada detikKalimantan, proses tersebut dapat berlangsung sekitar satu jam. Bulir beras yang awalnya masih terlihat akan semakin hancur hingga menyerupai adonan yang lembut.

Bagaimana cara membuat Luba Laya?

Cara tradisional membutuhkan waktu dan teknik khusus. Untuk versi rumahan, prosesnya dapat dibuat lebih sederhana, tetapi hasilnya belum tentu sama persis dengan Luba Laya yang dibuat menggunakan peralatan tradisional.

Bahan:

Cara membuat:

1. Cuci beras

Beras dicuci hingga bersih, kemudian masukkan ke dalam panci berdinding tebal.

2. Tambahkan air

Gunakan air lebih banyak daripada memasak nasi biasa. Jumlah air menjadi salah satu faktor penting untuk menghasilkan tekstur lembut.

3. Masak hingga mendidih

Nyalakan api dan biarkan air bersama beras mulai mendidih. Setelah mendidih, beras harus terus diperhatikan agar tidak menempel di bagian dasar panci.

4. Aduk terus

Aduk beras secara berkala menggunakan spatula kayu yang kuat. Dalam teknik tradisional, Kautan digunakan untuk mengaduk, membalik, dan menekan beras.

5. Masak hingga teksturnya lembut

Lanjutkan proses sampai bulir beras hancur dan menghasilkan tekstur yang sangat lembut. Pada cara tradisional, api kemudian dikecilkan agar bagian bawah tidak gosong.

6. Beri garam

Tambahkan sedikit garam sesuai selera. Beberapa sumber menyebut penggunaan garam gunung dari Krayan dalam kuliner masyarakat setempat.

7. Bungkus

Setelah matang, ambil Luba Laya secukupnya lalu bungkus menggunakan daun itip atau daun pisang. Bentuknya dapat dibuat menyerupai lontong dalam ukuran kecil.

8. Sajikan hangat

Luba Laya dapat disantap bersama lauk dan sayuran khas masyarakat Lundayeh. Penyajiannya memiliki sejumlah variasi sesuai bahan yang tersedia dan kebiasaan masyarakat setempat.

Luba Laya biasanya disantap dengan apa?

Luba Laya dapat menjadi makanan pokok yang disantap bersama lauk dan sayuran. Dalam sumber RRI, hidangan ini disebut dapat disandingkan dengan kuah ayam dan sayuran.

Ada pula tradisi menikmati Luba Laya bersama telu’ atau biter, dua jenis pangan khas masyarakat Lundayeh yang memiliki proses pengolahan tersendiri.

Namun, untuk artikel kuliner umum, Luba Laya dapat diperkenalkan sebagai makanan pokok yang fleksibel dipadukan dengan berbagai lauk lokal.

Mengapa Luba Laya penting bagi masyarakat Lundayeh?

Keberadaan Luba Laya tidak dapat dilepaskan dari kehidupan masyarakat Dayak Lundayeh. Hidangan ini telah menjadi bagian dari tradisi pangan dan kegiatan masyarakat di wilayah Krayan.

Bahkan, Luba Laya pernah diperagakan dalam Festival Budaya Irau Malinau. Pada 2018, Museum Rekor Dunia Indonesia mencatat peragaan menanak Luba Laya menggunakan tungku sepanjang 350 meter di Malinau.

Luba Laya juga menunjukkan bagaimana masyarakat memanfaatkan bahan pangan yang tersedia di lingkungan sekitar. WWF-Indonesia mencatat Luba Laya sebagai bagian dari kehidupan pangan masyarakat Lundayeh di Krayan.

Menariknya, sumber WWF juga mencatat adanya istilah “nasi keras” sebagai pembanding Luba Laya. Dalam konteks kehidupan masyarakat setempat, nasi lembek dahulu berkaitan dengan cara menghemat penggunaan beras.

Jadi, di balik teksturnya yang sederhana terdapat cerita tentang pangan, lingkungan, dan kehidupan masyarakat di dataran tinggi Krayan.

Apa yang membuat Luba Laya berbeda dari lontong?

Kemiripan bentuk sering membuat Luba Laya disebut sebagai lontong khas Lundayeh. Namun, proses pembuatannya memiliki karakter tersendiri.

Lontong umumnya dibuat dengan beras yang dimasukkan ke dalam pembungkus kemudian dimasak hingga padat. Luba Laya justru dimasak terlebih dahulu hingga teksturnya sangat lembut, kemudian dibungkus.

Teknik pengadukan selama proses pemasakan juga menjadi ciri penting Luba Laya. Inilah yang menghasilkan tekstur lembek yang menjadi identitas hidangan tersebut.

Baca Juga: Lamang, Beras Ketan dalam Bambu yang Menjaga Tradisi Kuliner Kalimantan

Poin Penting:

Insight Redaksi

Luba Laya memperlihatkan sisi lain kuliner Kalimantan Utara yang mungkin belum banyak dikenal pembaca Kaltim. Bukan sekadar mirip lontong, proses memasaknya justru menjadi bagian paling menarik. Beras lokal, daun pembungkus, alat kayu, dan tradisi masyarakat berpadu dalam satu hidangan. Dari Krayan, makanan sederhana ini membawa cerita tentang pangan dan budaya yang masih dipertahankan.

Kalau suatu hari mencicipi Luba Laya, jangan cuma melihatnya sebagai nasi lembek, Ces! Ada cerita masyarakat Lundayeh yang ikut tersaji di dalamnya.

FAQ

1. Apa itu Luba Laya?

Luba Laya adalah makanan tradisional masyarakat Dayak Lundayeh di Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, yang dikenal sebagai nasi lembek.

2. Apa bahan utama Luba Laya?

Bahan utamanya adalah beras. Beras Adan dari Krayan menjadi salah satu jenis beras yang dikaitkan dengan hidangan ini.

3. Mengapa tekstur Luba Laya sangat lembut?

Beras dimasak dengan air lebih banyak dan terus diaduk, dibalik, serta ditekan selama proses pemasakan sehingga bulirnya menjadi sangat lunak.

4. Apa pembungkus Luba Laya?

Luba Laya secara tradisional dapat dibungkus menggunakan daun itip. Beberapa sumber juga menyebut penggunaan daun pisang.

5. Apakah Luba Laya sama dengan lontong?

Tidak persis. Keduanya sama-sama berbahan beras dan dapat dibungkus daun, tetapi Luba Laya memiliki tekstur yang jauh lebih lembut serta teknik memasak yang khas.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
kuliner Kalimantan Utara Luba Laya Luba Laya Kalimantan Utara Makanan Khas Nunukan