Erau 2026 Dimulai, Ini Pantangan Sultan Kutai yang Masih Dijaga

Ahla Najwa • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 22:53 WIB
Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura HM Aji Muhammad Arifin menjalani ritual Bepelas pada Erau 2024. (DOK. IST/KP)
Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura HM Aji Muhammad Arifin menjalani ritual Bepelas pada Erau 2024. (DOK. IST/KP)

Durasi Baca: 5 menit

Ikhtisar: Tradisi Erau mengharuskan Sultan Kutai menjaga pantangan tidak menginjak tanah sejak Tiang Ayu didirikan hingga dirobohkan.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura HM Aji Muhammad Arifin menjalani pantangan adat selama Erau dengan tidak menginjak tanah secara langsung sejak Tiang Ayu didirikan hingga rangkaian adat berakhir.

Bagi masyarakat yang melihat Erau sebagai festival budaya, aturan ini mungkin terdengar tidak biasa. Namun bagi Kesultanan Kutai Kartanegara, pantangan tersebut merupakan bagian dari adat turun-temurun yang masih dijaga sampai sekarang, Ces!

Mengapa Sultan tidak boleh menginjak tanah?

Pantangan tersebut berlaku sejak prosesi mendirikan Tiang Ayu di lingkungan Kedaton Museum Mulawarman hingga Tiang Ayu kembali dirobohkan sebagai penanda berakhirnya rangkaian adat Erau.

Sultan tetap menjalankan aktivitas selama periode tersebut. Hanya saja, kaki Sultan tidak diperbolehkan menyentuh tanah secara langsung.

Untuk menjaga aturan adat itu, kain kuning digunakan sebagai alas ketika Sultan berada di lingkungan istana.

Aji Muhammad Arifin menjelaskan, pantangan tersebut bukan aturan yang baru dibuat untuk pelaksanaan Erau 2026. Tradisi itu telah diwariskan dari generasi ke generasi.

"Kalau kita tidak menginjakkan kaki ke tanah, itu mulai dari mendirikan Tiang Ayu di Kedaton Museum sampai berakhirnya Tiang Ayu dirobohkan. Baru kita bisa menginjak tanah," ujarnya setelah Rapat Finalisasi Pelaksanaan Erau Adat Kutai di Eks Gedung Wanita Tenggarong, Selasa (15/9/2026).

Sejak kapan aturan adat ini berlaku?

Menurut Aji Muhammad Arifin, larangan menginjak tanah merupakan bagian dari adat yang telah digunakan sejak zaman bahari.

"Memang sudah namanya adat, kita tidak bisa mengubah. Sudah dari zaman bahari, nenek moyang kita, sampai sekarang masih terpakai di anak cucu kita," katanya.

Artinya, pantangan tersebut tidak berdiri sendiri sebagai aturan selama sebuah festival berlangsung. Ada rangkaian adat yang menjadi penanda kapan pantangan dimulai dan kapan Sultan kembali diperbolehkan menginjak tanah.

Dalam konteks Erau, Tiang Ayu menjadi salah satu penanda penting dalam rangkaian tersebut. Ketika prosesi berakhir dan Tiang Ayu dirobohkan, pantangan tersebut pun berakhir.

Apa hubungan pantangan Sultan dengan rangkaian Erau 2026?

Erau Adat Kutai 2026 dijadwalkan berlangsung di Tenggarong pada 20–27 September 2026. Sejumlah prosesi adat bahkan sudah berlangsung sebelum pembukaan utama, mulai dari ziarah makam para Sultan, Besawai, Haul Jamak Raja dan Sultan, hingga Titi Bende.

Pada rangkaian utama, Erau tidak hanya berisi pertunjukan budaya. Prosesi adat di lingkungan keraton berjalan beriringan dengan kegiatan masyarakat seperti expo, bazar UMKM, pentas seni dan olahraga tradisional.

Salah satu tahapan penting berada di penghujung rangkaian. Pada 27 September, agenda adat mencakup Pengambilan Air Tuli, Mengulur Naga, Beumban, Begorok, Naga Bekenyawa, Sultan Turun ke Rangga Titi dan Belimbur. Setelah itu, rangkaian dilanjutkan dengan prosesi adat berikutnya pada 28 September, termasuk merebahkan Tiang Ayu.

Karena itu, keberadaan pantangan Sultan tidak bisa dipisahkan dari keseluruhan rangkaian adat. Ada batas waktu adat yang dimulai dengan pendirian Tiang Ayu dan berakhir setelah Tiang Ayu direbahkan.

Baca Juga: Sensus Ekonomi Dibahas di Tenggarong, Ketepatan Data Bantuan Jadi Perhatian

Mengapa tradisi seperti ini masih dipertahankan?

Erau menjadi salah satu ruang penting bagi Kesultanan Kutai Kartanegara untuk mempertahankan tata adat yang diwariskan lintas generasi.

Pada 2026, Erau juga mengusung tema yang menekankan hubungan antara raja dan masyarakat. Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara menyebut Erau sebagai momentum pertemuan Sultan dengan masyarakat.

Dari sudut pandang budaya, pantangan Sultan memperlihatkan bahwa Erau bukan sekadar agenda pertunjukan yang berlangsung selama sepekan. Di balik keramaian festival, terdapat aturan, simbol, perlengkapan dan tahapan adat yang memiliki fungsi masing-masing.

Bagi generasi sekarang, aturan seperti Sultan tidak boleh menginjak tanah menjadi bagian dari warisan yang masih dapat dilihat dalam pelaksanaan Erau. Tradisi tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana adat tetap dijalankan di tengah perubahan zaman.

Erau bukan sekadar festival budaya

Rangkaian Erau mempertemukan unsur Kesultanan, kerabat, pelaksana adat dan masyarakat dalam satu perayaan. Tema Erau 2026, "Raja Manunggal Bersama Rakyat, Raja Menjamu Rakyatnya", juga menegaskan hubungan tersebut.

Prosesi seperti Beluluh, Bepelas, Mengulur Naga hingga Belimbur menjadi bagian dari rangkaian yang membuat Erau memiliki karakter berbeda dari festival budaya biasa.

Pantangan Sultan selama rangkaian berlangsung menjadi salah satu contoh bagaimana aturan adat tetap menjadi bagian dari kehidupan prosesi. Bukan sekadar simbol yang ditampilkan kepada pengunjung, tetapi aturan yang dijalankan oleh Sultan selama batas waktu adat tersebut berlaku.

Dengan Erau 2026 segera memasuki rangkaian utama pada 20 September, perhatian publik tidak hanya tertuju pada kemeriahan acara. Ada pula tradisi yang berlangsung lebih dalam dan tidak selalu terlihat oleh pengunjung, termasuk pantangan Sultan untuk tidak menginjak tanah.

Baca Juga: SIGAP UMKM Kukar: Pembinaan Usaha Kini Disesuaikan dengan Kebutuhan

Poin Penting:

Insight Redaksi

Pantangan Sultan tidak menginjak tanah menunjukkan bahwa kemeriahan Erau memiliki lapisan adat yang jauh lebih dalam. Pengunjung dapat menyaksikan pertunjukan, bazar dan berbagai kegiatan publik, tetapi di baliknya terdapat aturan yang menentukan bagaimana Sultan menjalani rangkaian tersebut. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya bukan hanya soal menampilkan warisan kepada publik, melainkan juga menjalankan aturan yang melekat di dalamnya.

Bagi pembaca yang ingin mengikuti Erau 2026, memahami konteks adat seperti ini membuat setiap prosesi yang disaksikan di Tenggarong memiliki makna yang lebih utuh. Jangan hanya mencari kemeriahannya, tetapi kenali pula tradisi yang membuat Erau tetap menjadi bagian penting dari identitas budaya Kutai.

Kalau informasi budaya Kaltim seperti ini terasa menarik, bagikan artikel ini agar semakin banyak pembaca mengenal tradisi yang masih hidup di tengah masyarakat. Erau bukan sekadar tontonan, Ces, tetapi juga cerita tentang warisan budaya yang terus dijaga.

FAQ

1. Kapan Erau Adat Kutai 2026 digelar?

Erau Adat Kutai 2026 dijadwalkan berlangsung pada 20–27 September 2026 di Tenggarong, Kutai Kartanegara.

2. Apa pantangan Sultan selama Erau?

Sultan tidak diperbolehkan menginjak tanah secara langsung selama batas waktu adat yang dimulai sejak Tiang Ayu didirikan hingga dirobohkan.

3. Bagaimana Sultan tetap beraktivitas tanpa menginjak tanah?

Kain kuning digunakan sebagai alas ketika Sultan berada dan beraktivitas di lingkungan istana.

4. Mengapa pantangan tersebut masih dijalankan?

Menurut HM Aji Muhammad Arifin, pantangan itu merupakan adat turun-temurun yang telah diwariskan sejak zaman bahari.

5. Apa saja rangkaian penting Erau 2026?

Rangkaian Erau mencakup berbagai prosesi adat seperti Beluluh, Bepelas, Mengulur Naga, Beumban, Begorok, Rangga Titi dan Belimbur, serta kegiatan masyarakat seperti expo, bazar UMKM dan pentas seni.

Sumber Informasi

Media Kaltim Post, dengan judul “Selama Pesta Adat Erau, Sultan Tak Boleh Injak Tanah”, oleh Muhhammad Rifqi Hidayatullah. Di-update kembali dengan angle dan style Balikpapantv.id.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
Erau Adat Kutai Sultan Kutai Kartanegara Kutai Kartanegara Budaya Kaltim