Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Iptek Bisnis & UMKM Religi

Kisah Miris Pekerja Proyek RDMP! Gaji Pekerja Masih Tertunda 2 Bulan di Proyek Energi Raksasa 123 Triliun Rupiah di Balikpapan

Arya Kusuma • Selasa, 3 Februari 2026 | 13:14 WIB

Gambaran pekerja proyek RDMP Balikpapan yang menunggu kepastian gaji di tengah proyek energi raksasa.
Gambaran pekerja proyek RDMP Balikpapan yang menunggu kepastian gaji di tengah proyek energi raksasa.

Ikhtisar: Proyek energi raksasa RDMP Balikpapan menyisakan ironi, ratusan pekerja subkontraktor menunggu gaji dua bulan tanpa kepastian.

Balikpapan TV - Hai Cess! Proyek Refinery Development Master Plan atau RDMP Balikpapan berdiri megah dan kerap disebut sebagai simbol kekuatan energi nasional. Nilai investasinya tembus USD 7,4 miliar atau setara Rp 123 triliun. Angka yang setara delapan tahun APBD Kaltim dan tiga puluh lima tahun APBD Kota Balikpapan. Proyek ini bahkan diresmikan langsung Presiden Prabowo Subianto pada 12 Januari 2026 dan diklaim terbesar di Asia Tenggara.

Namun di balik bangunan raksasa dan seremoni kenegaraan itu, terselip cerita getir. Ratusan, bahkan diduga ribuan pekerja proyek RDMP hingga kini belum menerima gaji selama dua bulan. Cerita ini bukan kabar angin. Ia hidup di rumah-rumah sewa, di dapur yang mulai sepi, dan di obrolan panjang para perantau yang menunggu kepastian. Terus simak sampai tuntas, karena kisah ini bukan sekadar angka, tapi soal hidup orang banyak Cess!.

Mengapa proyek RDMP Balikpapan disebut raksasa energi nasional?

RDMP Balikpapan digadang sebagai tulang punggung ketahanan energi Indonesia. Proyek strategis nasional ini menargetkan peningkatan kapasitas kilang dari 260 ribu menjadi 360 ribu barel per hari, sekaligus memproduksi BBM ramah lingkungan berstandar Euro V. Klaimnya tegas, posisinya vital, dan skala proyeknya mencengangkan.

Investasi Rp 123 triliun menjadikan RDMP bukan proyek biasa. Kerja sama operasi atau joint operation melibatkan perusahaan besar, mulai dari Hyundai Engineering, SK Engineering & Construction, PT Rekayasa Industri, hingga PT Pembangunan Perumahan. Di atas kertas, semuanya tampak solid dan menjanjikan.

Tetapi bagi pekerja lapangan, megahnya narasi besar itu terasa jauh. Angka triliunan rupiah tidak otomatis berubah menjadi beras di dapur atau pulsa untuk menenangkan keluarga di kampung. Nah, di titik inilah jurang realita mulai terasa, pahamlah ikam Cess!.

Bagaimana kondisi pekerja RDMP yang belum menerima gaji?

Di sebuah rumah sewa sederhana di RT 53 Batu Ampar, Balikpapan Utara, belasan pekerja RDMP lebih sering duduk mengobrol tanpa aktivitas kerja. Mereka bukan libur. Mereka berhenti karena gaji tak kunjung dibayarkan. Setiap hari, satu pertanyaan terus berputar di kepala, makan besok dari mana.

Sebagian besar pekerja adalah perantau. Ada yang datang dari Ngawi, Cianjur, Lampung, Medan, hingga Manado. Harapan hidup lebih baik membawa mereka ke Balikpapan. Kenyataannya, kini justru terjebak ketidakpastian yang panjang.

“Sudah dua bulan gaji belum dibayar, Pak. Sebelumnya juga sering telat,” ujar Nono, pekerja asal Ngawi yang telah tiga tahun bekerja melalui salah satu subkontraktor, Minggu (1/1/2026). Perusahaan tempatnya bekerja mempekerjakan sekitar 400 orang. Banyak rekan memilih mundur. Yang bertahan, bukan karena kuat, tapi karena tidak punya pilihan lain, nah’ itu sudah…!.

Siapa saja yang ikut terdampak dan bagaimana mereka bertahan?

Untuk sekadar bertahan, para pekerja terpaksa berutang ke tetangga. Rasa sungkan terpaksa disimpan. “Iya, beberapa kali saya pinjami buat makan. Ada juga yang pinjam untuk kirim ke keluarga mereka,” kata Suyono, Ketua RT 53 Batu Ampar.

Erna, istri pekerja RDMP, juga merasakan hal serupa. “Suami saya juga begitu, kerja di proyek RDMP sering telat gajian. Tetapi terpaksa bertahan karena belum dapat pekerjaan lainnya yang lebih menjanjikan,” ujarnya. Bahkan seorang manajer subkontraktor harus menelan pil pahit tidak pulang Natal ke Manado karena upah belum diterima. “Sedih sekali Pak. Tiap tahun pulang Natalan di Manado. Natalan 2025 kemarin gak bisa pulang, gak ada uang, karena belum gajian,” keluhnya.

Nasib sedikit berbeda dialami Kus, pekerja yang tinggal bersama orang tua di Balikpapan. Beban sewa rumah tidak ada, tapi gaji dua bulan tetap tak cair. “Gaji telat dua bulan. Ya mau bagaimana lagi, dianggap tabungan saja. Mudah-mudahan Lebaran sudah cair,” ujarnya lirih.

Di mana persoalan pembayaran gaji para pekerja tersendat?

Soal penyebab keterlambatan gaji, informasi di lapangan terdengar mbulet. Ada kabar subkontraktor belum membayar karena dana dari Joint Operation belum diterima. Di sisi lain, muncul isu bahwa JO sudah menyalurkan pembayaran ke subkontraktor.

“Mbulet informasinya. Katanya JO sudah bayar, tapi subkon belum bayar ke pekerja. Sedangkan subkon bilang belum dibayar oleh JO RDMP,” ungkap seorang Ketua RT di Batu Ampar yang juga bekerja di proyek tersebut. Hingga kini, simpul persoalan belum terbuka jelas.

Untuk bertahan hidup, sebagian pekerja terpaksa berutang ke tetangga. Rasa sungkan disisihkan. “Iya, beberapa kali saya pinjami buat makan,” kata Suyono, Ketua RT 53 Batu Ampar. Bahkan ada manajer subkon yang batal pulang Natal ke Manado karena belum menerima upah.

Apa langkah DPRD Balikpapan menyikapi persoalan ini?

Aksi demonstrasi kembali digelar Rabu, 28 Januari 2026. Puluhan pekerja turun ke jalan membawa spanduk, menuntut pembayaran hak yang tertunda. Proyek dinyatakan rampung, namun bagi pekerja, keadilan belum tiba.

Wakil DPRD Balikpapan, Muhammad Taqwa, mengakui pihaknya masih menerima pengaduan. “Dalam perjalanannya, proyek ini melibatkan banyak rekanan dan tenaga kerja. Namun kenyataannya, sampai hari ini masih ada persoalan yang belum tuntas,” ujarnya.

Menurut Taqwa, skala besar proyek menuntut tanggung jawab besar pula. DPRD kini melakukan pendalaman dan koordinasi dengan Pertamina, perusahaan rekanan, serta organisasi pekerja. “Yang paling penting adalah memastikan hak-hak pekerja dibayarkan,” tegasnya.

Insight: Kisah RDMP Balikpapan menunjukkan bahwa keberhasilan proyek strategis nasional tidak cukup diukur dari kilang yang berdiri megah. Hak pekerja adalah fondasi sosial yang sama pentingnya. Tanpa penyelesaian adil, proyek sebesar apa pun berpotensi meninggalkan jejak persoalan di masyarakat. Bagi warga Balikpapan, isu ini relevan karena menyentuh kemanusiaan, keadilan kerja, dan masa depan kota.

Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang paham situasi di balik proyek besar ini Cess.
Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, 'Bukan Sekadar Info Biasa!'

FAQ
Apa itu proyek RDMP Balikpapan?
Proyek pengembangan kilang minyak strategis nasional dengan nilai investasi besar untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas BBM.

Mengapa pekerja RDMP belum menerima gaji?
Karena terjadi keterlambatan pembayaran yang disebut-sebut terkait hubungan keuangan JO dan subkontraktor.

Apa peran DPRD Balikpapan dalam kasus ini?
DPRD melakukan koordinasi dan pendalaman agar hak pekerja segera dibayarkan sesuai aturan ketenagakerjaan.

DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Gambar dapat saja dihasilkan AI di artikel ini hanya sebagai ilustrasi pendukung yang membantu pembaca memahami konteks informasi bukan sebagai bukti realistis. Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.

Koneksi Informasi Terkini
Koneksi Informasi Terkini

Editor : Arya Kusuma
#gaji #Subkontraktor #batu ampar #RDMP Balikpapan #ketahanan energi nasional #pekerja proyek