
Ikhtisar: Keanggotaan BRICS membuka peluang pasar, pembiayaan alternatif, dan penguatan posisi ekonomi Indonesia secara global.
Balikpapan TV - Hai Ces! Ekonom Universitas Mulawarman Samarinda Aji Sofyan Efendi menilai keanggotaan Indonesia di BRICS dapat memperkuat perekonomian nasional melalui perluasan pasar, diversifikasi pembiayaan, dan peningkatan posisi tawar global.
Buat pelaku usaha, peluang ini berarti satu hal penting: pasar Indonesia tidak hanya bergantung pada mitra dagang lama. Bagaimana peluang tersebut bisa benar-benar memberi dampak bagi ekonomi nasional?
Pasar Ekspor Indonesia Bisa Makin Beragam
Aji Sofyan Efendi mengatakan keanggotaan BRICS membuka akses perdagangan yang lebih luas bagi Indonesia.
"Keanggotaan tersebut membuka akses pasar baru yang lebih luas. Selama ini ekspor Indonesia masih bertumpu pada Amerika Serikat, Eropa, Jepang dan kawasan ASEAN," ujar Aji Sofyan Efendi di Samarinda, Kalimantan Timur, Senin.
BRICS kini memiliki 11 anggota penuh, yakni Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab, Ethiopia, Iran, dan Indonesia. Indonesia resmi menjadi anggota penuh pada 6 Januari 2025.
Bagi Indonesia, keanggotaan tersebut memperluas ruang kerja sama dengan sejumlah negara besar di luar pasar tradisional. Produk seperti kelapa sawit, nikel, furnitur, hingga produk UMKM dinilai memiliki peluang untuk mencari pasar yang lebih beragam.
Data perdagangan BPS juga menunjukkan hubungan ekonomi dengan negara BRICS sudah cukup signifikan. Sepanjang 2025, nilai ekspor Indonesia ke Brasil tercatat sekitar US$2,21 miliar, sedangkan impor dari Brasil mencapai US$4,78 miliar.
Angka itu sekaligus menunjukkan bahwa peluang BRICS bukan hanya soal membuka pasar ekspor, tetapi juga bagaimana Indonesia mengelola arus perdagangan agar memberikan manfaat lebih besar bagi pelaku usaha dalam negeri.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




