Daging Masak Bumi Hangus Khas Samarinda, Resep Daging Sapi Hitam Pekat yang Bukan Gosong

Durasi Baca: 6 menit
Ikhtisar: Daging Masak Bumi Hangus khas Samarinda menawarkan daging sapi empuk, kecap pekat, rempah hangat, dan rasa gurih manis.
Balikpapan TV - Hai Ces! Daging Masak Bumi Hangus merupakan olahan daging sapi yang dikenal di Samarinda, Kalimantan Timur, dengan warna cokelat kehitaman dari kecap dan proses memasak perlahan.
Namanya memang bikin penasaran. “Bumi hangus” bukan berarti daging sengaja dibuat gosong, melainkan mengacu pada warna akhirnya yang gelap setelah dimasak cukup lama. Yuk, kenali cerita dan cara membuatnya di rumah.
Kenapa disebut Bumi Hangus?
Sekilas, Daging Masak Bumi Hangus bisa mengingatkan orang pada rendang atau semur. Bedanya, karakter sajian ini sangat menonjolkan perpaduan kecap, pala, lada, bawang, dan proses pemasakan yang membuat warna daging semakin pekat.
Sumber kuliner yang mendokumentasikan hidangan ini juga menjelaskan bahwa sebutan “bumi hangus” berkaitan dengan tampilannya yang hitam kecokelatan, bukan karena daging dimasak sampai terbakar.
Di Samarinda dan Kalimantan Timur, hidangan ini menjadi salah satu olahan daging yang dapat ditemui dalam dokumentasi kuliner daerah. Namun, catatan sejarah yang secara spesifik menetapkan kapan pertama kali Daging Masak Bumi Hangus dibuat belum cukup kuat untuk menentukan tahun atau pencipta awalnya. Karena itu, lebih aman melihatnya sebagai kuliner daerah yang telah terdokumentasi, tanpa menambahkan klaim sejarah yang belum memiliki bukti.
Identitas singkat Daging Masak Bumi Hangus
| Informasi | Keterangan |
|---|---|
| Nama | Daging Masak Bumi Hangus |
| Asal | Samarinda, Kalimantan Timur |
| Bahan utama | Daging sapi |
| Teknik | Marinasi, tumis, kemudian dimasak perlahan |
| Rasa dominan | Manis, gurih, berbumbu |
| Warna | Cokelat tua hingga hitam pekat |
| Tekstur | Empuk dengan bumbu meresap |
| Pelengkap | Kacang polong |
| Penyajian | Hangat bersama nasi |
Ada jejak akulturasi dalam kuliner daging Indonesia
Daging Masak Bumi Hangus tidak perlu dipaksakan memiliki sejarah yang sama dengan semur. Namun, penggunaan kecap, saus, pala, lada, serta teknik memasak daging perlahan menunjukkan bagaimana kuliner Indonesia berkembang melalui pertemuan berbagai bahan dan tradisi memasak.
Sejarawan makanan Fadly Rahman, dalam pembahasannya mengenai sejarah kuliner Indonesia, menunjukkan bahwa makanan Nusantara banyak berkembang melalui proses percampuran budaya. Ia menjelaskan bahwa kuliner Indonesia dapat terbentuk melalui kreativitas masyarakat dalam mengolah pengaruh dari luar menjadi sajian yang sesuai dengan cita rasa lokal.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




