Durasi Baca: 6 menit
Ikhtisar: Bendungan Benanga Samarinda menyusut akibat kemarau, memicu bau limbah dan memperbesar tekanan terhadap pasokan air baku warga.
Balikpapan TV - Hai Ces! Bendungan Benanga di Lempake, Samarinda Utara, terus menyusut akibat kemarau panjang. Kondisi ini kini tidak hanya menekan cadangan air baku, tetapi juga mengganggu aktivitas warga di sekitar bendungan.
Bau menyengat dari aliran air yang stagnan membuat kawasan sekitar jembatan ikut terdampak. Di saat yang sama, muka air bendungan berada pada level kritis sehingga kebutuhan air bersih ikut menghadapi tekanan, Ces!
Kenapa bau di sekitar Bendungan Benanga makin terasa?
Debit air yang menyusut membuat aliran di sekitar Bendungan Benanga tidak lagi bergerak optimal. Kondisi tersebut membuat bau dari sampah dan limbah yang masuk ke aliran air menjadi lebih terasa.
Keluhan warga dan pedagang di sekitar Jembatan Bendungan Benanga muncul dalam sepekan terakhir. Salah seorang pedagang makanan, Nur Kasiyati, menyebut aroma tersebut membuat pembeli tidak nyaman berada terlalu lama di lokasi.
“Sudah sekitar seminggu ini baunya makin parah. Apalagi kalau cuaca panas begini, campur antara sampah dan limbah, bikin pembeli jadi tidak nyaman,” ujar Nur.
Kondisi ini menunjukkan bagaimana kemarau tidak hanya berdampak pada volume air. Ketika air menyusut dan tidak mengalir dengan baik, persoalan sampah serta limbah di sekitar aliran menjadi lebih mudah terasa dalam aktivitas sehari-hari warga.
Dari mana persoalan limbah itu berasal?
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda turun meninjau kawasan tersebut pada Kamis, 17 September 2026.
Dalam pemeriksaan, DLH menemukan persoalan pengelolaan limbah dari salah satu usaha pembuatan tahu di sekitar aliran Bendungan Benanga. Bak yang tersedia disebut berfungsi sebagai tempat penampungan, tetapi belum menjadi sistem pengolahan limbah.
Plt Kepala Bidang Penataan DLH Samarinda, Rifqi Helmi, mengatakan sisa air dari bak penampungan masih berpotensi mengalir ke sungai.
“Bak penampungan itu hanya dipakai menampung, bukan mengolah. Jadi sisa air tampungannya masih mengalir dan mencemari sungai,” jelas Rifqi.
DLH kemudian menginstruksikan penghentian pembuangan limbah secara langsung ke badan sungai. Pemilik usaha juga diminta berkoordinasi dengan Dinas PUPR Samarinda untuk penyedotan air limbah yang sudah tertampung.
Untuk limbah padat berupa ampas tahu, pengelola diarahkan bekerja sama dengan peternak. Sementara limbah cair harus melalui pengolahan yang sesuai sebelum dilepas ke lingkungan.
Baca Juga: Kebakaran Lahan Lempake Mengarah ke Gunung Lingai, Api 500 Meter dari Permukiman
Seberapa kritis kondisi air Bendungan Benanga?
Persoalan bau muncul bersamaan dengan kondisi Bendungan Benanga yang sedang mengalami penyusutan serius.
Pada 16 September 2026, tinggi muka air (TMA) Bendungan Benanga berada di level 6,4 meter. Angka tersebut sudah masuk kondisi kritis akibat kekeringan. Pengambilan air baku untuk Perumdam Tirta Kencana Samarinda juga telah dikurangi menjadi sekitar 100 liter per detik, atau sekitar 30–40 persen dari kapasitas sebelumnya.
Batas terendah operasional yang disebut pengelola berada pada TMA 6 meter. Jika muka air terus turun hingga level tersebut, pengambilan air baku untuk produksi Perumdam berpotensi tidak lagi berjalan optimal.
Pengelola bahkan memperkirakan cadangan untuk pengambilan air baku hanya mampu bertahan sekitar lima sampai enam hari jika tidak ada tambahan air hujan.
Kekeringan juga sudah menghentikan fungsi irigasi. Pengairan untuk Daerah Irigasi Belimau dan Betapus disebut berhenti sejak awal September karena volume air tidak lagi mencukupi.
Mengapa kondisi ini penting bagi warga Samarinda?
Bendungan Benanga bukan sekadar genangan air di kawasan Lempake. Waduk tersebut menjadi salah satu sumber air baku yang menopang pelayanan air bersih di Samarinda.
Perumdam Tirta Kencana sebelumnya juga menginformasikan bahwa kondisi kemarau dan menurunnya sumber air baku dari Waduk Benanga berdampak pada kapasitas pelayanan sejumlah instalasi pengolahan air, termasuk IPA Bengkuring, IPA Bumi Sempaja, dan IPA Gunung Lingai.
Artinya, penyusutan bendungan memiliki dua lapis dampak.
Di sekitar bendungan, warga berhadapan dengan air yang menyusut, aliran yang stagnan, sampah, serta bau yang mengganggu aktivitas. Pada sisi pelayanan publik, cadangan air yang semakin tipis memberi tekanan terhadap keberlanjutan produksi air bersih.
Situasi ini juga memperlihatkan mengapa pengelolaan lingkungan tidak bisa dilepaskan dari persoalan ketersediaan air. Ketika volume air turun drastis, gangguan kecil di sekitar badan air bisa terasa jauh lebih besar bagi warga.
Apa langkah yang sedang dilakukan untuk mengatasi masalah?
DLH Samarinda telah meminta penghentian sementara pembuangan limbah langsung ke sungai dan mendorong penyedotan limbah dari bak penampungan. Pembinaan pengelolaan limbah juga akan dilakukan lebih lanjut.
Untuk menghadapi penyusutan air, pengelola Bendungan Benanga memprioritaskan sisa air untuk kebutuhan air baku. Bantuan pompa telah disiapkan, sementara BWS juga menyiapkan dukungan tangki apabila kebutuhan air masyarakat semakin terdampak.
Persoalan jangka pendeknya memang berkaitan dengan bertahannya cadangan air. Namun, kualitas lingkungan di sekitar bendungan juga tidak bisa dilepas dari penanganan.
Ketika hujan belum datang, setiap liter air yang tersisa menjadi penting. Karena itu, menjaga agar aliran yang ada tidak semakin tercemar menjadi bagian dari upaya mempertahankan kualitas sumber air di kawasan tersebut.
Baca Juga: Terowongan Samarinda Belum Dibuka, DPRD Bakal Panggil DPUPR
Apa yang bisa dilakukan warga sekitar Bendungan Benanga?
Warga dapat ikut menjaga kondisi aliran dengan tidak membuang sampah maupun limbah rumah tangga langsung ke sungai.
Pengawasan juga penting dilakukan terhadap aktivitas usaha di sekitar badan air. Limbah produksi seharusnya tidak langsung dialirkan ke sungai tanpa pengolahan yang sesuai.
Bagi warga yang berada di wilayah pelayanan terdampak kondisi air baku, penggunaan air secara hemat menjadi langkah praktis selama kondisi sumber air belum pulih. Perumdam Tirta Kencana juga telah mengimbau pelanggan untuk menghemat penggunaan air dan menyiapkan tempat penampungan air.
Poin Penting:
- TMA Bendungan Benanga berada di level kritis 6,4 meter pada 16 September 2026.
- Pengambilan air baku Perumdam turun menjadi sekitar 100 liter per detik.
- Cadangan air baku diperkirakan hanya bertahan lima sampai enam hari jika hujan tidak turun.
- Bau menyengat mengganggu warga dan pedagang di sekitar Jembatan Bendungan Benanga.
- DLH Samarinda menemukan persoalan pengelolaan limbah dari usaha pembuatan tahu.
- Pembuangan limbah langsung ke sungai diminta dihentikan dan dilakukan penanganan lanjutan.
Insight Redaksi
Bendungan Benanga sedang menghadapi dua persoalan sekaligus: airnya makin sedikit, sementara kualitas lingkungan di sekitarnya ikut tertekan. Kalau kemarau berlanjut, menjaga setiap sumber air yang tersisa bukan cuma urusan pemerintah. Bubuhan warga Samarinda juga punya peran, mulai dari sampah sampai limbah usaha, pang.
Kalau lewat kawasan Benanga, jangan cuma perhatikan airnya yang surut; kondisi lingkungan sekitarnya juga perlu dijaga bersama, Ces.
Bagikan informasi ini ke kawalan atau keluarga yang tinggal di wilayah pelayanan air Samarinda agar sama-sama waspada.
Tetap ikuti kabar terbaru Samarinda dan Kalimantan Timur bersama Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!
FAQ
1. Berapa tinggi muka air Bendungan Benanga saat ini?
Pada 16 September 2026, TMA Bendungan Benanga tercatat 6,4 meter dan berada dalam kondisi kritis akibat kekeringan.
2. Berapa banyak air yang masih diambil untuk kebutuhan air baku?
Pengambilan air baku saat ini sekitar 100 liter per detik atau sekitar 30–40 persen dari kapasitas sebelumnya.
3. Mengapa bau di sekitar bendungan semakin menyengat?
Debit air yang menyusut membuat aliran tidak optimal. Kondisi tersebut membuat bau dari sampah dan limbah di sekitar aliran lebih terasa. DLH juga menemukan persoalan pengelolaan limbah dari salah satu usaha pembuatan tahu.
4. Apa yang dilakukan DLH Samarinda?
DLH menginstruksikan penghentian pembuangan limbah langsung ke sungai, meminta penyedotan limbah dari bak penampungan, serta menyiapkan pembinaan pengelolaan limbah.
5. Apa dampaknya jika TMA terus turun?
Jika muka air mencapai sekitar 6 meter, pengambilan air baku untuk produksi Perumdam berpotensi terganggu. Pengelola memperkirakan cadangan saat ini hanya bertahan sekitar lima sampai enam hari jika tidak ada hujan.
Sumber Informasi
Media Sapos, dengan judul “Bendungan Benanga Makin Surut, Bau Menyengat Ganggu Aktivitas Warga”, 17 September 2026. Di-update kembali dengan angle dan style Balikpapantv.id.