Ekonom Unmul Ungkap Peluang dan Tantangan Indonesia di BRICS

istikhomah • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 17:37 WIB
Aktivitas perdagangan dan industri Indonesia yang menjadi bagian dari peluang perluasan pasar setelah Indonesia bergabung dengan BRICS.
Aktivitas perdagangan dan industri Indonesia yang menjadi bagian dari peluang perluasan pasar setelah Indonesia bergabung dengan BRICS.
Durasi Baca: 5 menit

Ikhtisar: Keanggotaan BRICS membuka peluang pasar, pembiayaan alternatif, dan penguatan posisi ekonomi Indonesia secara global.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Ekonom Universitas Mulawarman Samarinda Aji Sofyan Efendi menilai keanggotaan Indonesia di BRICS dapat memperkuat perekonomian nasional melalui perluasan pasar, diversifikasi pembiayaan, dan peningkatan posisi tawar global.

Buat pelaku usaha, peluang ini berarti satu hal penting: pasar Indonesia tidak hanya bergantung pada mitra dagang lama. Bagaimana peluang tersebut bisa benar-benar memberi dampak bagi ekonomi nasional?

Baca Juga: Klorida Mahakam Tembus 1.085 Ppm, Warga Samarinda Bisa Ambil Air 24 Jam

Pasar Ekspor Indonesia Bisa Makin Beragam

Aji Sofyan Efendi mengatakan keanggotaan BRICS membuka akses perdagangan yang lebih luas bagi Indonesia.

"Keanggotaan tersebut membuka akses pasar baru yang lebih luas. Selama ini ekspor Indonesia masih bertumpu pada Amerika Serikat, Eropa, Jepang dan kawasan ASEAN," ujar Aji Sofyan Efendi di Samarinda, Kalimantan Timur, Senin.

BRICS kini memiliki 11 anggota penuh, yakni Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab, Ethiopia, Iran, dan Indonesia. Indonesia resmi menjadi anggota penuh pada 6 Januari 2025.

Bagi Indonesia, keanggotaan tersebut memperluas ruang kerja sama dengan sejumlah negara besar di luar pasar tradisional. Produk seperti kelapa sawit, nikel, furnitur, hingga produk UMKM dinilai memiliki peluang untuk mencari pasar yang lebih beragam.

Data perdagangan BPS juga menunjukkan hubungan ekonomi dengan negara BRICS sudah cukup signifikan. Sepanjang 2025, nilai ekspor Indonesia ke Brasil tercatat sekitar US$2,21 miliar, sedangkan impor dari Brasil mencapai US$4,78 miliar.

Angka itu sekaligus menunjukkan bahwa peluang BRICS bukan hanya soal membuka pasar ekspor, tetapi juga bagaimana Indonesia mengelola arus perdagangan agar memberikan manfaat lebih besar bagi pelaku usaha dalam negeri.

Bukan Sekadar Menambah Negara Tujuan Ekspor

Perluasan pasar memang menjadi salah satu peluang utama. Namun, keanggotaan BRICS juga membawa dimensi ekonomi yang lebih luas.

Aji menilai hubungan dengan negara-negara anggota dapat memberi Indonesia alternatif dalam membangun kerja sama perdagangan dan pembiayaan. Diversifikasi ini penting ketika ekonomi global menghadapi perubahan kebijakan perdagangan, ketegangan geopolitik, maupun pergeseran rantai pasok.

Kinerja perdagangan Indonesia sendiri masih menunjukkan fondasi yang kuat. BPS mencatat ekspor Indonesia sepanjang Januari-Desember 2025 mencapai US$282,91 miliar, sementara impor mencapai US$241,86 miliar. Neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus US$41,05 miliar.

Dengan basis perdagangan tersebut, tantangan berikutnya bukan sekadar mencari lebih banyak pasar, tetapi memastikan produk Indonesia mampu bersaing di pasar yang semakin terbuka.

Ada Peluang Pembiayaan, tetapi NDB Perlu Dibedakan

Salah satu pembahasan yang sering muncul ketika Indonesia masuk BRICS adalah New Development Bank atau NDB.

Bank tersebut memang dibentuk oleh negara-negara BRICS untuk memobilisasi pembiayaan bagi proyek infrastruktur dan pembangunan berkelanjutan di negara berkembang. NDB juga memiliki strategi meningkatkan pembiayaan menggunakan mata uang lokal.

Namun, ada catatan penting. Indonesia belum tercantum sebagai anggota NDB dalam daftar keanggotaan bank tersebut. Daftar terbaru NDB mencatat Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, Bangladesh, Uni Emirat Arab, Mesir, Aljazair, dan Uzbekistan sebagai anggota.

Artinya, keanggotaan BRICS tidak otomatis membuat Indonesia menjadi anggota NDB. Peluang pembiayaan dari NDB tetap berkaitan dengan mekanisme dan status keanggotaan bank tersebut.

NDB sendiri memang diarahkan untuk mendukung proyek infrastruktur dan pembangunan berkelanjutan, sehingga lembaga ini berpotensi menjadi bagian dari ekosistem pembiayaan pembangunan negara-negara berkembang.

De-dolarisasi Jadi Bagian dari Perubahan Kerja Sama

Aji juga melihat pembahasan penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan antarnegara BRICS sebagai peluang untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat.

Penggunaan mata uang lokal dalam transaksi lintas negara dapat menjadi salah satu cara memperluas pilihan sistem pembayaran dan pembiayaan perdagangan. NDB sendiri menargetkan porsi tertentu pembiayaannya menggunakan mata uang lokal dalam strategi 2022-2026.

Bagi Indonesia, arah tersebut tetap membutuhkan kesiapan sistem keuangan, pelaku usaha, dan mekanisme perdagangan. Karena itu, manfaatnya tidak otomatis muncul hanya karena Indonesia sudah menjadi anggota BRICS.

Tantangan Indonesia Justru Ada di Dalam Negeri

Peluang pasar yang lebih besar juga berarti persaingan yang lebih ketat.

Aji mengingatkan Indonesia perlu meningkatkan daya saing produk agar tidak hanya menjadi pasar bagi negara-negara anggota BRICS lainnya.

Hal ini penting karena perdagangan dengan negara BRICS berlangsung dua arah. BPS mencatat Indonesia masih mengalami defisit perdagangan dengan Brasil pada 2025 sebesar sekitar US$2,57 miliar.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perluasan hubungan dagang tidak otomatis berarti Indonesia selalu berada di posisi yang diuntungkan. Kemampuan industri nasional menghasilkan produk kompetitif tetap menjadi penentu.

Indonesia juga perlu menjaga hubungan dagang dengan mitra lama. Data BPS menunjukkan China, Amerika Serikat, dan India menjadi tiga tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia pada Januari-November 2025 dengan kontribusi gabungan 42,02 persen.

Karena itu, strategi BRICS lebih tepat ditempatkan sebagai upaya diversifikasi, bukan menggantikan hubungan ekonomi Indonesia dengan Amerika Serikat, Eropa, Jepang, ASEAN, dan mitra dagang lainnya.

Baca Juga: Kemarau Panjang di Samarinda, Andi Harun Ajak Warga Perbanyak Doa

BRICS Bukan Jalan Pintas Ekonomi Indonesia

Aji Sofyan Efendi menilai manfaat keanggotaan BRICS tidak akan terasa secara instan.

"BRICS bukan obat ajaib, melainkan peluang yang harus dimanfaatkan dengan kesiapan dalam negeri. Keberhasilan pada akhirnya tetap ditentukan oleh seberapa kuat kemampuan bersaing dan kemandirian ekonomi bangsa sendiri," katanya.

Pandangan tersebut menjadi penting karena ukuran keberhasilan Indonesia di BRICS pada akhirnya bukan hanya seberapa banyak negara yang menjadi mitra, tetapi seberapa besar peluang tersebut bisa diterjemahkan menjadi perdagangan, investasi, lapangan kerja, dan peningkatan daya saing produk nasional.

Bagi pelaku UMKM hingga industri besar, pekerjaan rumahnya tetap sama: meningkatkan kualitas produk, efisiensi, inovasi, serta kemampuan memenuhi kebutuhan pasar internasional.

Dengan begitu, keanggotaan BRICS tidak berhenti sebagai status diplomatik, tetapi menjadi ruang yang benar-benar bisa dimanfaatkan dunia usaha Indonesia.

Kalau ingin melihat seberapa jauh peluang BRICS dapat memberi dampak bagi ekonomi Indonesia, perkembangan perdagangan, investasi, dan kebijakan pembiayaan menjadi bagian yang menarik untuk terus diikuti.

balikpapantv.id, teman update setia, bukan sekadar info biasa.

FAQ

1. Kapan Indonesia resmi menjadi anggota BRICS?
Indonesia resmi menjadi anggota penuh BRICS pada 6 Januari 2025.

2. Berapa jumlah anggota BRICS saat ini?
BRICS memiliki 11 negara anggota penuh, termasuk Indonesia.

3. Apa manfaat utama Indonesia bergabung dengan BRICS?
Menurut Aji Sofyan Efendi, manfaatnya antara lain memperluas pasar, membuka peluang kerja sama pembiayaan, dan memperkuat posisi tawar Indonesia.

4. Apakah Indonesia otomatis menjadi anggota New Development Bank karena bergabung dengan BRICS?
Tidak. Indonesia belum tercantum dalam daftar anggota NDB terbaru.

5. Apa tantangan terbesar Indonesia di BRICS?
Indonesia perlu meningkatkan daya saing produk sekaligus menjaga hubungan ekonomi dengan mitra dagang lama agar diversifikasi pasar tidak berubah menjadi kehilangan pasar.

Sumber Informasi: ANTARA News Kalimantan Timur, BPS, BRICS Brasil, dan New Development Bank (NDB).

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
Perdagangan Internasional brics ekonomi indonesia kalimantan timur