Kemarau Panjang di Samarinda, Andi Harun Ajak Warga Perbanyak Doa

Ahla Najwa • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 17:52 WIB
Wali Kota Samarinda Andi Harun bersama Forkopimda mengikuti salat istisqa di Balai Kota. (DOK. DENNY SAPUTRA/KP)
Wali Kota Samarinda Andi Harun bersama Forkopimda mengikuti salat istisqa di Balai Kota. (DOK. DENNY SAPUTRA/KP)

Durasi Baca: 5 menit

Ikhtisar: Kemarau di Samarinda meningkatkan risiko karhutla dan gangguan air, sehingga Pemkot mengajak warga memperkuat ikhtiar dan doa.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Wali Kota Samarinda Andi Harun bersama Forkopimda menggelar salat istisqa di Balai Kota Samarinda, Jumat (11/9), sebagai ikhtiar menghadapi kemarau panjang dan risiko karhutla.

Ketika hujan belum juga menjadi penolong yang ditunggu warga, pemerintah tidak hanya mengandalkan kesiapsiagaan di lapangan. Doa bersama ikut dilakukan, sementara kewaspadaan terhadap kebakaran dan persoalan air tetap berjalan, Ces!

Mengapa Samarinda sampai menggelar salat istisqa?

Salat istisqa dilaksanakan di lapangan parkir Balai Kota Samarinda dan diikuti Andi Harun, jajaran Forkopimda, serta ratusan pegawai di lingkungan Balai Kota.

Bagi Pemkot Samarinda, kegiatan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar menghadapi kondisi kemarau yang berdampak pada berbagai persoalan lingkungan dan kehidupan masyarakat.

Andi Harun mengatakan penanganan karhutla selama ini melibatkan pemerintah, TNI-Polri, masyarakat, hingga relawan. Namun, upaya tersebut menurutnya perlu dilengkapi dengan ikhtiar spiritual.

“Penanganan karhutla dan kemarau panjang sudah dilakukan bersama, kolaborasi pemerintah, TNI-Polri, masyarakat dan relawan. Tetapi itu tidak cukup, kita harus mengetuk pintu langit karena hujan adalah salah satu yang kita tunggu,” ujarnya.

Kemarau Samarinda bukan hanya soal panas

Persoalan yang muncul saat hujan jarang turun tidak berhenti pada meningkatnya potensi kebakaran.

Pemkot juga menghadapi dampak kemarau terhadap ketersediaan air. Andi Harun menyebut intrusi air laut sebagai salah satu persoalan yang diharapkan dapat terbantu ketika hujan kembali turun.

Ia berharap hujan yang datang nantinya membawa keberkahan sekaligus membantu mengurangi dampak kemarau yang dirasakan masyarakat.

“Hanya berharap kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa. Kalau hujan turun yang penuh barokah, maka masalah karhutla, intrusi air dan lain-lain akan teratasi secara sempurna dan permanen,” tuturnya.

Kondisi tersebut membuat persoalan hujan memiliki arti lebih luas bagi Samarinda. Air hujan bukan sekadar perubahan cuaca, tetapi berkaitan dengan kondisi lingkungan, risiko kebakaran, dan kebutuhan air masyarakat.

Baca Juga: Pria di Samarinda Bawa Kabur Motor Teman, Uang Rp1,5 Juta Dipakai Bayar Indekos

Seberapa kering kondisi Kalimantan Timur?

Data BMKG menunjukkan kondisi kering memang masih menjadi perhatian di Kalimantan Timur.

Untuk periode 1–10 September 2026, Stasiun Meteorologi APT Pranoto Samarinda memprakirakan sebagian besar wilayah Kaltim mengalami curah hujan kategori rendah, yakni 0–50 milimeter. Sifat hujan juga didominasi kategori bawah normal.

Kondisi tersebut tidak berarti hujan sama sekali tidak mungkin turun. Peluang hujan di Kaltim masih ada, tetapi distribusi dan intensitasnya tidak serta-merta mampu mengakhiri kondisi kering di seluruh wilayah.

BMKG juga memperkirakan periode September masih diwarnai kondisi hujan yang cenderung berada di bawah normal di sejumlah wilayah Kaltim. Samarinda termasuk daerah yang perlu tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak musim kemarau.

Artinya, warga tidak bisa hanya menunggu hujan datang. Kesiapsiagaan terhadap sumber api dan penggunaan air tetap menjadi bagian penting dalam menghadapi kondisi tersebut.

Apa kaitannya dengan risiko karhutla?

Kondisi udara yang kering membuat vegetasi dan lahan lebih mudah terbakar ketika terdapat sumber api. Karena itu, kemarau panjang meningkatkan kebutuhan untuk mencegah kebakaran sejak awal.

Pemkot Samarinda sebelumnya juga mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan menghadapi musim kemarau dan potensi kebakaran hutan, lahan, serta permukiman sepanjang 2026.

Andi Harun menegaskan penanggulangan dan kesiapsiagaan tetap dilakukan bersama TNI-Polri. Namun, ia juga mengajak masyarakat memperkuat ikhtiar melalui doa.

“Penanggulangan dan kesiapsiagaan dilakukan dengan kolaborasi TNI-Polri, tapi juga mengetuk sekencang-kencangnya pintu langit kepada Allah SWT. Semoga hujan segera turun dan masalah kita bisa selesai,” jelasnya.

Pesan tersebut menunjukkan bahwa salat istisqa tidak dimaksudkan menggantikan langkah penanganan di lapangan. Kesiapsiagaan tetap diperlukan, sementara doa menjadi bagian lain dari ikhtiar menghadapi kemarau.

Andi Harun minta warga memperbanyak istighfar

Di tengah kondisi tersebut, Andi Harun mengajak masyarakat Samarinda ikut melakukan ikhtiar spiritual dari lingkungan masing-masing.

Ia meminta warga memperbanyak istighfar dan berdoa agar hujan segera turun.

“Untuk warga Kota Samarinda, ayo banyak-banyak istighfar dan berdoa,” pungkasnya.

Harapan terhadap hujan kini berkaitan dengan beberapa kebutuhan sekaligus: membantu mengurangi risiko karhutla, menjaga kondisi lingkungan, serta mendukung ketersediaan air.

Karena itu, menunggu hujan tidak berarti menghentikan kewaspadaan. Masyarakat tetap memiliki peran dalam mencegah munculnya sumber api dan menggunakan air secara bijak selama kondisi kering berlangsung.

Baca Juga: TPP Guru Samarinda Tertunda, Pemkot Pastikan Juni Dibayar September

Poin Penting:

Insight Redaksi

Salat istisqa di Samarinda memperlihatkan bagaimana persoalan cuaca kering tidak hanya dilihat dari sisi meteorologi. Ketika hujan berkurang, dampaknya merembet ke risiko kebakaran, kondisi lingkungan, dan kebutuhan air masyarakat. Doa menjadi bagian dari ikhtiar, tetapi pencegahan kebakaran dan pengelolaan air tetap membutuhkan tindakan nyata. Di titik inilah kesiapsiagaan pemerintah dan warga harus berjalan bersamaan.

Hujan mungkin tidak bisa dipastikan kapan turun dalam jumlah yang cukup. Karena itu, selama langit masih kering, kewaspadaan terhadap api dan penggunaan air secara bijak tetap menjadi langkah yang bisa dilakukan bersama.

Kalau informasi seperti kondisi cuaca, karhutla, dan persoalan air di Samarinda ingin terus diikuti, simpan artikel ini dan bagikan kepada keluarga atau warga sekitar. Berita berikutnya bisa saja berkaitan langsung dengan kondisi lingkungan tempat tinggal.

FAQ

1. Apa itu salat istisqa?

Salat istisqa merupakan salat sunah yang dilakukan sebagai ikhtiar untuk memohon kepada Allah SWT agar diturunkan hujan.

2. Mengapa Pemkot Samarinda menggelar salat istisqa?

Kegiatan tersebut dilakukan di tengah kemarau panjang dan meningkatnya risiko karhutla serta persoalan ketersediaan air.

3. Apa saja dampak kemarau yang disebut Andi Harun?

Selain risiko karhutla, Andi Harun menyebut persoalan intrusi air laut yang dapat memengaruhi sumber air baku.

4. Apakah hujan diperkirakan turun di Kalimantan Timur?

BMKG masih melihat adanya peluang hujan di Kaltim, tetapi kondisi kering dan curah hujan rendah tetap perlu diwaspadai.

5. Apa yang diminta Andi Harun kepada warga Samarinda?

Ia mengajak masyarakat memperbanyak istighfar dan berdoa agar hujan segera turun.

Sumber Informasi

Media Kaltim Post, dengan judul “Hujan Tak Kunjung Turun di Samarinda, Andi Harun Ajak Warga Ketuk Pintu Langit”, oleh Denny Saputra. Di-update kembali dengan angle dan style Balikpapantv.id.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
samarinda kemarau andi harun karhutla