Gerimis Guyur Samarinda, BPBD Sebut Risiko Karhutla Belum Banyak Berubah

Ahla Najwa • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 09:45 WIB
Ilustrasi gerimis mengguyur Samarinda di tengah kemarau, sementara risiko kebakaran hutan dan lahan masih mengintai. (BTV/AI)
Ilustrasi gerimis mengguyur Samarinda di tengah kemarau, sementara risiko kebakaran hutan dan lahan masih mengintai. (BTV/AI)

Durasi Baca: 4 menit

Ikhtisar: Gerimis di Samarinda memberi tambahan kelembapan, namun risiko karhutla masih tinggi karena curah hujan rendah dan kemarau.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Gerimis mengguyur sejumlah kawasan Samarinda saat kemarau berlangsung, namun BPBD menilai kondisi tersebut belum cukup menekan risiko kebakaran hutan dan lahan.

Hujan memang membawa harapan, tetapi intensitas dan lokasi guyuran menjadi faktor penting dalam mengurangi ancaman karhutla.

Gerimis Belum Cukup Membasahi Kawasan Rawan

Kepala Pelaksana BPBD Kota Samarinda Suwarso menyebut hujan tetap memberi pengaruh terhadap kondisi lahan yang mengering.

Namun, dampaknya sangat bergantung pada intensitas hujan serta lokasi wilayah yang menerima guyuran air.

“Pasti ada dampak, cuma dampaknya tergantung besar atau kecilnya. Titik hujan itu apakah di daerah permukiman atau daerah yang rawan lahan terbakar, seperti gambut atau belukar,” ujar Suwarso, Selasa (25/8).

Kondisi tersebut membuat gerimis yang muncul di beberapa kawasan belum banyak mengubah tingkat risiko karhutla.

Baca Juga: BSG Cup 2026: Cita Hati Samarinda Tampil Sempurna dan Jadi Juara

OMC Disiapkan untuk Mengatasi Dampak Kemarau

Operasi Modifikasi Cuaca atau OMC menjadi salah satu opsi menghadapi defisit air dan ancaman karhutla.

Suwarso menilai hujan hasil OMC berpotensi membantu pemadaman sekaligus memenuhi kebutuhan air untuk sektor pertanian.

Kepala Pelaksana BPBD Samarinda Suwarso menyampaikan pandangan terkait OMC untuk mengatasi defisit air dan karhutla. (DOK. HAFIZ/KP)
Kepala Pelaksana BPBD Samarinda Suwarso menyampaikan pandangan terkait OMC untuk mengatasi defisit air dan karhutla. (DOK. HAFIZ/KP)

“Kalau dilakukan OMC, menurut pandangan saya malah lebih cepat dan tepat karena bisa memadamkan api. Area pertanian juga bisa teraliri air dan debit sungai bisa bertambah,” katanya.

Upaya tersebut sejalan dengan pelaksanaan OMC di Kaltim pada 25 Agustus 2026 untuk mengatasi defisit air dan karhutla.

Samarinda Perkuat Pemantauan Saat El Nino

Ancaman kekeringan membuat Pemkot Samarinda memperkuat koordinasi lintas organisasi perangkat daerah dalam menghadapi kondisi ekstrem.

Setiap OPD diminta memetakan kondisi wilayah masing-masing agar status penanganan dapat ditentukan berdasarkan data lapangan.

Pemkot Samarinda juga menginventarisasi sumber air seperti void tambang, sumur, serta sumber lain untuk kebutuhan masyarakat.

Sumber air tersebut dipetakan untuk kebutuhan air minum, penyiraman lahan, peternakan, hingga perikanan.

Langkah ini penting karena BMKG Samarinda turut memasok data kekeringan, prakiraan cuaca, curah hujan, serta informasi hotspot bagi pemerintah daerah.

Baca Juga: DPRD Samarinda Minta Void Tambang Kukar Jadi Penampung Air untuk Tekan Banjir

Patroli dan Respons Cepat Jadi Kunci

Camat dan lurah diminta meningkatkan pemantauan bersama TNI dan Polri untuk menemukan titik api sejak awal.

Di tingkat kelurahan, relawan dan masyarakat peduli api dapat menangani kebakaran dengan skala kecil sebelum meluas.

“Di kelurahan kita juga ada kelurahan tangguh bencana, relawan dan masyarakat peduli api. Itu bisa menangani kalau skalanya masih kecil,” jelas Suwarso.

Jika api berkembang, BPBD, Disdamkarmat, relawan, serta perusahaan dapat dilibatkan dalam penanganan bersama.

Pola tersebut penting karena kebakaran lahan dapat mengganggu kualitas udara dan kesehatan masyarakat, sehingga patroli kawasan rawan terus diperkuat.

Poin Penting:

Insight Redaksi

Gerimis jangan langsung dianggap sebagai tanda ancaman karhutla selesai. Kondisi lahan, ketersediaan air, dan pemantauan hotspot tetap menentukan. Samarinda sudah bergerak melalui koordinasi lintas sektor, tetapi kesiapan lapangan harus berjalan konsisten. Data mesti jadi pegangan, bukan sekadar formalitas. Kalau api masih kecil, cepat ditangani. Di situlah peran warga dan aparat jadi penting.

Kawalan warga bisa ikut melapor ketika menemukan asap atau titik api, supaya penanganan bergerak sebelum kondisi membesar.

Bagikan artikel ini ke kawalan ikam agar makin banyak warga memahami ancaman karhutla di Samarinda.

Update terus informasi kekeringan dan karhutla yang berdampak ke Kaltim hanya di Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Apakah gerimis sudah mampu menurunkan risiko karhutla Samarinda?

Belum signifikan, karena curah hujan masih rendah dan guyuran belum merata di kawasan rawan.

2. Mengapa lokasi hujan menentukan dampaknya terhadap karhutla?

Hujan di kawasan permukiman belum tentu membasahi lahan gambut atau belukar yang rawan terbakar.

3. Apa fungsi OMC dalam menghadapi kemarau?

OMC diarahkan untuk membantu menghasilkan hujan, menambah ketersediaan air, serta mendukung penanganan karhutla.

4. Siapa yang melakukan pemantauan titik api?

Pemantauan melibatkan pemerintah daerah, BPBD, kecamatan, kelurahan, TNI, Polri, relawan, dan masyarakat peduli api.

Sumber Informasi

Media Kaltim Post, dengan judul “Gerimis Mulai Guyur Samarinda, BPBD: Dampaknya ke Karhutla Masih Kecil”, oleh M Hafiz Alfaruqi. Di-update kembali dengan angle dan style artikel Balikpapantv.id.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
El Nino samarinda bpbd samarinda karhutla