35 Karhutla Tercatat di Samarinda, Musim Kemarau Jadi Perhatian BPBD

istikhomah • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 07:21 WIB
Petugas gabungan melakukan penanganan kebakaran lahan di Samarinda.
Petugas gabungan melakukan penanganan kebakaran lahan di Samarinda.
Durasi Baca: 4 menit

Ikhtisar: BPBD Samarinda mencatat 35 karhutla, dengan cuaca kering dan aktivitas manusia menjadi perhatian utama.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! BPBD Kota Samarinda mencatat 35 kejadian kebakaran hutan dan lahan sepanjang Januari hingga awal Agustus 2026, dengan luas terdampak mencapai 16,22 hektare.

Musim kemarau membuat kondisi lahan semakin kering dan mudah terbakar. Karena itu, kewaspadaan warga menjadi penting agar api tidak cepat meluas.

Baca Juga: Harga Ayam Samarinda Naik, Pedagang Bengkuring Pilih Kecilkan Bobot

Kecamatan Mana yang Paling Banyak Mengalami Karhutla?

Data BPBD Kota Samarinda menunjukkan sebaran kejadian karhutla tidak merata di seluruh wilayah. Samarinda Ulu dan Sambutan menjadi kecamatan dengan catatan tertinggi, masing-masing tujuh kejadian.

Sementara itu, Samarinda Utara dan Palaran masing-masing mencatat lima kejadian. Sungai Pinang mengalami empat kejadian, Sungai Kunjang tiga kejadian, serta Loa Janan Ilir dua kejadian.

Satu kejadian lainnya tercatat di luar wilayah administrasi Kota Samarinda. Adapun Samarinda Kota dan Samarinda Seberang belum mencatat kejadian karhutla hingga pembaruan data tersebut.

Mengapa Risiko Kebakaran Meningkat Saat Kemarau?

Kondisi cuaca menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan memasuki periode kemarau. Curah hujan yang berkurang membuat vegetasi dan lahan semakin kering sehingga api lebih mudah muncul serta menyebar.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Samarinda, Suwarso, mengatakan perubahan kondisi cuaca perlu menjadi perhatian bersama.

“Cuaca saat ini sudah mulai masuk peralihan menuju musim kemarau. Curah hujan diprediksi semakin berkurang dan suhu udara meningkat, kondisi ini tentu harus menjadi perhatian bersama,” ujar Suwarso.

Risiko kebakaran juga dapat meningkat ketika kondisi lahan kering disertai embusan angin. Dalam situasi tersebut, api berpotensi menyebar lebih cepat ke area sekitarnya.

Aktivitas Manusia Masih Jadi Pemicu Karhutla

Faktor cuaca bukan satu-satunya persoalan. Evaluasi BPBD Kota Samarinda menunjukkan sebagian besar kejadian karhutla masih berkaitan dengan aktivitas manusia.

Beberapa pemicu yang ditemukan di lapangan meliputi pembakaran sampah, pembukaan lahan menggunakan api, serta puntung rokok yang dibuang sembarangan di kawasan kering.

Kondisi tersebut menunjukkan pencegahan karhutla membutuhkan keterlibatan masyarakat. Kewaspadaan warga dapat membantu mengurangi peluang munculnya api sejak sumber awal.

Pengalaman Samarinda Mendorong Mitigasi Sejak Dini

Samarinda memiliki catatan kebakaran lahan di sejumlah wilayah, termasuk Sambutan, Sungai Kunjang, dan Palaran. Pengalaman tersebut menjadi pertimbangan pemerintah untuk memperkuat mitigasi menghadapi cuaca panas.

Suwarso menyebut pengalaman kebakaran sebelumnya menjadi dasar penguatan langkah pencegahan.

“Samarinda pernah memiliki catatan kejadian kebakaran lahan di sejumlah wilayah, seperti Kecamatan Sambutan, Sungai Kunjang, dan Palaran. Pengalaman tersebut menjadi dasar pemerintah untuk memperkuat upaya mitigasi sejak dini,” katanya pada Selasa, 11 Agustus 2026.

BPBD juga memperkuat koordinasi dengan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, Manggala Agni, relawan, serta Kelurahan Tangguh Bencana untuk mempercepat penanganan apabila kebakaran terjadi.

Baca Juga: Teras Samarinda 2 Dibuka September, 22 Personel Siaga dan Parkir Dipusatkan

Apa yang Perlu Diperhatikan Warga?

Masyarakat perlu menghindari aktivitas yang berpotensi memicu api, terutama ketika kondisi lahan sedang kering. Pembakaran sampah dan pembukaan lahan dengan cara membakar menjadi aktivitas yang perlu mendapat perhatian.

Pencegahan dari sumber api menjadi langkah penting. Semakin cepat potensi kebakaran dikenali dan ditangani, semakin kecil peluang api meluas.

Tips

Poin Penting

Insight Redaksi

Angka 35 kejadian menunjukkan karhutla di Samarinda bukan sekadar persoalan cuaca. Lahan kering dan aktivitas manusia bertemu dalam satu risiko. Pencegahan harus dimulai dari kebiasaan sederhana. Jangan tunggu api membesar, pang.

Masyarakat bisa ikut mengawasi lingkungan dan segera melaporkan titik api kepada petugas terkait agar penanganan berlangsung cepat.

Bagikan informasi ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak warga paham risiko karhutla selama musim kemarau.

Pantau terus perkembangan cuaca dan karhutla Samarinda agar ikam kada kecolongan informasi penting, hanya di Balikpapan TV teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Berapa kejadian karhutla di Samarinda hingga awal Agustus 2026?

BPBD Kota Samarinda mencatat 35 kejadian dengan luas lahan terdampak sekitar 16,22 hektare.

2. Kecamatan mana yang mencatat karhutla terbanyak?

Samarinda Ulu dan Sambutan menjadi wilayah dengan catatan terbanyak, masing-masing tujuh kejadian.

3. Apa saja pemicu karhutla yang ditemukan BPBD?

Di antaranya pembakaran sampah, pembukaan lahan dengan cara membakar, dan puntung rokok.

4. Mengapa musim kemarau meningkatkan risiko karhutla?

Curah hujan yang berkurang membuat vegetasi dan lahan lebih kering sehingga mudah terbakar.

5. Siapa saja yang terlibat dalam penanganan karhutla?

BPBD berkoordinasi dengan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, Manggala Agni, relawan, serta Kelurahan Tangguh Bencana.

Sumber Informasi: Informasi ini sebelumnya tayang di Radio Republik Indonesia (RRI) dengan judul “Musim Kemarau, Karhutla Samarinda Capai 35 Kejadian”, ditulis Denny Kartikasari dan diperbarui editor Marga Rahayu pada 11 Agustus 2026. Artikel disusun ulang dengan angle dan gaya jurnalistik BalikpapanTV.id.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
samarinda bpbd samarinda kebakaran hutan dan lahan karhutla musim kemarau