Ikhtisar: Harga ayam dan telur di Samarinda tertekan biaya pasokan, sementara pedagang menyesuaikan ukuran untuk menjaga daya beli.
Balikpapan TV - Hai Ces! Pedagang ayam di Pasar Bengkuring, Samarinda, menghadapi kenaikan modal pasokan dengan menyesuaikan bobot ayam agar harga tetap terjangkau pembeli.
Kondisi ini menunjukkan tekanan biaya di tingkat hulu mulai terasa sampai pasar eceran. Lantas, bagaimana pedagang dan pembeli menghadapi perubahan harga tersebut?
Baca Juga: Raperda Bencana Samarinda Diperkuat, Usaha Berisiko Tinggi Wajib Siapkan Analisis
Harga Ayam di Bengkuring Mendorong Pedagang Ubah Strategi
Pedagang ayam potong di Pasar Bengkuring, Kelurahan Sempaja Utara, Kecamatan Samarinda Utara, harus menyesuaikan strategi penjualan di tengah kenaikan modal dari distributor.
Ayu Wahyuni, salah seorang pedagang ayam potong, menyebut modal pasokan mengalami kenaikan bertahap sekitar Rp2.000 setiap malam. Kondisi tersebut membuat ruang pedagang untuk mempertahankan harga semakin terbatas.
Daripada menaikkan harga per ekor, Ayu memilih menjual ayam dengan bobot lebih kecil. Strategi ini membuat harga jual masih berada dalam jangkauan pembeli di kawasan permukiman Bengkuring.
"Kalau pelanggan maunya ayamnya besar tapi harganya murah. Padahal dari sananya modal naik terus Rp2.000 per malam. Makanya saya cari ayam yang bobotnya lebih kecil, dari yang biasanya 2,3 kilogram sekarang jadi 1,8 kilogram, supaya bisa tetap dijual di harga Rp55.000," ujar Ayu kepada RRI.
Langkah tersebut secara sederhana merupakan bentuk penyesuaian ukuran barang ketika harga jual sulit dinaikkan. Bagi pedagang, pilihan ini menjadi cara menjaga transaksi ketika pembeli memiliki batas kemampuan belanja.
Mengapa Bobot Ayam Diperkecil untuk Pertahankan Harga?
Persoalan utama pedagang bukan hanya harga modal, tetapi kemampuan pembeli menerima harga jual baru. Ayu menyebut kisaran Rp52.000-Rp55.000 menjadi batas harga yang masih dapat diserap pasar setempat.
Jika harga ayam melewati Rp55.000 per ekor, menurut Ayu, jumlah pembelian cenderung turun tajam. Harga di atas kisaran tersebut biasanya lebih mudah diterima pada momen tertentu seperti menjelang Idulfitri atau Iduladha.
Kondisi penjualan yang melemah juga bukan baru terjadi. Ayu mengaku omzet dagangannya sudah menurun sekitar tiga bulan, tepatnya sejak setelah Iduladha.
Situasi ini menjadi penting karena biaya pakan memang merupakan komponen besar dalam struktur biaya usaha unggas. Kementerian Pertanian mencatat pakan dapat menyumbang sekitar 60-70 persen biaya usaha peternakan unggas.
Namun, data nasional yang tersedia juga menunjukkan dinamika harga pakan tidak selalu bergerak naik. Pada Februari hingga awal Maret 2026, Kementan justru mencatat sejumlah harga pakan produsen mengalami penurunan. Karena itu, kenaikan modal yang dirasakan Ayu perlu dipahami sebagai kondisi pasokan yang terjadi di tingkat pedagang dan distributor setempat, bukan sebagai bukti bahwa seluruh harga pakan nasional sedang meningkat.
Pasokan Telur Lancar, Harga Eceran Masih Tinggi
Tekanan harga juga terlihat pada komoditas telur ayam ras di Pasar Bengkuring. Berbeda dengan ayam potong, pedagang menyebut pasokan telur dari distributor maupun peternak masih berjalan lancar.
Pedagang telur, Lilis, mengatakan harga telur ayam ras saat ini berada pada kisaran Rp48.000-Rp50.000 per rak, bergantung pada ukuran telur.
"Kalau masalah pasokan dari distributor atau peternak lancar saja, tidak ada kendala. Tapi memang harganya lagi tinggi naik dibanding sebelumnya," ucap Lilis.
Kondisi pasokan yang lancar tidak otomatis membuat harga kembali rendah. Rantai distribusi dan biaya pada setiap tingkat perdagangan tetap memengaruhi harga yang akhirnya diterima konsumen.
Situasi serupa juga pernah terlihat di Pasar Bengkuring pada Mei 2026. Saat itu, RRI mencatat telur ayam ras berada di sekitar Rp50.000 per rak setelah sebelumnya mencapai Rp52.000, dengan pasokan dari daerah pemasok disebut relatif lancar.
Pedagang Makanan Ikut Tertekan Biaya Bahan Baku
Kenaikan harga telur membawa persoalan tersendiri bagi pembeli yang menggunakan telur sebagai bahan baku usaha. Pedagang makanan dan pemilik warung harus menghadapi biaya produksi yang meningkat.
Lilis menyebut pembeli tetap membeli telur karena kebutuhan tersebut sulit ditinggalkan. Namun, kenaikan harga membuat pelaku usaha makanan menghadapi pilihan sulit ketika harga jual makanan kepada konsumen juga sulit dinaikkan.
Tekanan semacam ini membuat perubahan harga bahan pangan tidak berhenti pada pedagang pasar. Dampaknya dapat merambat ke usaha kuliner skala kecil melalui meningkatnya biaya bahan baku.
Bagi konsumen rumah tangga, penyesuaian bobot ayam menjadi salah satu bentuk perubahan yang langsung terlihat. Harga per ekor masih berada pada kisaran yang dianggap terjangkau, tetapi jumlah produk yang diperoleh ikut berubah.
Baca Juga: Varia Niaga Diminta Perkuat Bisnis Pangan Saat Inflasi Samarinda Masih Jadi Sorotan
Pemerintah Sudah Mengatur Stabilitas Perunggasan
Tekanan pada rantai usaha ayam sebenarnya juga menjadi perhatian pemerintah pusat. Kementan pada Juni 2026 mendorong perbaikan harga ayam hidup di tingkat peternak dan menargetkan harga minimal Rp19.500 per kilogram berat hidup.
Kebijakan tersebut mencakup percepatan penyerapan ayam hidup, peningkatan kapasitas pemotongan, serta pengendalian produksi. Pengawasan juga melibatkan Satgas Pangan Polri dan lembaga terkait.
Pada Juli 2026, Kementan menyatakan harga ayam dan telur di tingkat peternak mulai membaik. Pemerintah juga menetapkan harga acuan live bird Rp19.500 per kilogram dan telur ayam ras Rp24.000 per kilogram di tingkat peternak sejak 15 Juli 2026.
Artinya, persoalan yang dirasakan pedagang Bengkuring perlu dilihat dari rantai distribusi secara utuh. Harga di tingkat peternak, distributor, pedagang, hingga konsumen tidak selalu bergerak dengan besaran dan waktu yang sama.
Apa yang Perlu Diperhatikan Pembeli Samarinda?
Pembeli dapat melihat harga per kilogram maupun bobot produk, bukan hanya harga per ekor. Cara tersebut membantu mengetahui apakah perubahan harga berasal dari kenaikan nominal atau perubahan ukuran barang.
Untuk telur, ukuran juga menjadi faktor yang disebut pedagang dalam menentukan harga per rak. Sementara bagi pelaku usaha makanan, perubahan harga bahan baku perlu diperhitungkan dalam biaya produksi agar margin usaha tetap terukur.
Bagi pedagang kecil, menjaga komunikasi dengan pelanggan menjadi penting ketika ukuran atau harga produk mengalami penyesuaian. Transparansi dapat membantu pembeli memahami perubahan yang terjadi di lapangan.
Poin Penting
- Modal ayam di tingkat pedagang Pasar Bengkuring disebut naik sekitar Rp2.000 per malam.
- Ayu Wahyuni menyesuaikan bobot ayam dari sekitar 2,3 kilogram menjadi 1,8 kilogram.
- Harga ayam per ekor dijaga pada kisaran Rp55.000.
- Harga telur ayam ras berada di kisaran Rp48.000-Rp50.000 per rak.
- Pasokan telur dari distributor dan peternak disebut masih lancar.
- Pedagang makanan ikut menghadapi tekanan ketika harga bahan baku meningkat.
- Pemerintah telah mengambil sejumlah langkah untuk menjaga stabilitas perunggasan nasional.
Insight Redaksi
Fenomena di Bengkuring menunjukkan harga pangan bukan cuma soal angka di lapak. Bobot ayam ikut berubah ketika daya beli punya batas. Harga boleh terlihat sama, tapi isi belanja bisa berbeda. Pemerintah perlu melihat rantai distribusi sampai Samarinda, supaya tekanan di pasar kada berhenti di pedagang kecil.
Pedagang juga perlu memperjelas bobot produk saat harga dipertahankan melalui perubahan ukuran. Pembeli jadi lebih gampang menghitung nilai belanjanya, Ces.
Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang paham perubahan harga ayam dan telur di pasar Samarinda.
Handak tahu perkembangan harga pangan dan cerita pasar terbaru? Pantau terus Balikpapan TV teman update setia, bukan sekadar info biasa!
FAQ
1. Berapa harga ayam di Pasar Bengkuring?
Ayu Wahyuni menjual ayam sekitar Rp55.000 per ekor dengan bobot sekitar 1,8 kilogram.
2. Mengapa bobot ayam yang dijual lebih kecil?
Pedagang menyesuaikan bobot agar harga per ekor masih dapat dijangkau pembeli.
3. Berapa harga telur ayam ras?
Menurut pedagang Lilis, telur ayam ras dijual sekitar Rp48.000-Rp50.000 per rak.
4. Apakah pasokan telur di Bengkuring terganggu?
Menurut pedagang, pasokan dari distributor dan peternak masih berjalan lancar.
5. Apa dampaknya bagi pedagang makanan?
Kenaikan harga telur membuat biaya bahan baku meningkat, sementara menaikkan harga makanan kepada pelanggan tidak selalu mudah.
Sumber Informasi: Informasi ini mengacu pada laporan Radio Republik Indonesia (RRI) mengenai kondisi harga ayam dan telur di Pasar Bengkuring Samarinda. Artikel disusun ulang secara orisinal dengan angle dan style jurnalistik Balikpapantv.id. RRI sebelumnya juga mencatat dinamika harga pangan di Pasar Bengkuring dan sejumlah pasar Samarinda.