Bikin Takjub! 6 Pesona Sangkulirang-Mangkalihat dari Karst, Gua, hingga Jejak Budaya Kaltim

Wenny Anastasya • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 18:05 WIB
Bentang karst Sangkulirang-Mangkalihat menyimpan warisan geologi, biodiversitas, dan jejak budaya Kalimantan Timur yang bernilai penting. (BTV/AI)
Bentang karst Sangkulirang-Mangkalihat menyimpan warisan geologi, biodiversitas, dan jejak budaya Kalimantan Timur yang bernilai penting. (BTV/AI)

Durasi Baca: 9 Menit

Ikhtisar: Sangkulirang-Mangkalihat mempertemukan warisan geologi, keanekaragaman hayati, dan jejak budaya yang sedang dikembangkan menuju Geopark Nasional.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Ada kawasan di Kalimantan Timur yang pengalaman wisatanya tidak cukup dijelaskan hanya dengan kata indah. Bentang karst, gua, hutan, keanekaragaman hayati, hingga jejak kehidupan manusia berada dalam satu lanskap besar Sangkulirang-Mangkalihat yang membentang di Kutai Timur dan Berau.

Kawasan ini juga sedang berada dalam tahapan penting. Setelah menjalani verifikasi lapangan Tim Verifikasi Geopark Nasional pada 6–10 Juli 2026, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur pada September 2026 masih mematangkan hasil verifikasi dan dokumen usulan menuju penetapan sebagai Geopark Nasional. Bagi wisatawan, perkembangan tersebut membuat Sangkulirang-Mangkalihat menarik dibaca bukan hanya sebagai tujuan untuk melihat gua atau karst. Kawasan ini memperlihatkan bagaimana geologi, alam, budaya, pendidikan, konservasi, dan kehidupan masyarakat dapat menjadi bagian dari satu pengalaman perjalanan.

Sangkulirang-Mangkalihat Bukan Sekadar Kawasan Gua

Istilah geopark sering membuat orang langsung membayangkan batu, bukit karst, atau gua. Padahal, konsep geopark memiliki cakupan yang lebih luas. Sebuah geopark menghubungkan warisan geologi dengan keanekaragaman hayati dan budaya. Karena itu, nilai suatu kawasan tidak hanya berada pada bentuk batuannya, tetapi juga pada ekosistem, sejarah manusia, pengetahuan masyarakat, serta cara seluruh unsur tersebut dilestarikan dan dikenalkan kepada pengunjung. Konteks tersebut terlihat dalam pengembangan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat. Data Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur pada April 2026 mencatat delineasi kawasan yang saat itu mencapai 22.011 kilometer persegi, dengan 26 situs warisan geologi, 13 situs keragaman hayati, dan tujuh situs keragaman budaya. Kawasannya mencakup wilayah Kutai Timur dan Berau.

Dalam perkembangan berikutnya, pembahasan hasil verifikasi pada September 2026 menyebut kawasan yang disiapkan mencapai 26.643,11 kilometer persegi. Perbedaan angka tersebut berkaitan dengan perkembangan delineasi dan dokumen usulan, sehingga angka terbaru dalam pembahasan resmi perlu dibaca sebagai kawasan yang sedang disiapkan, bukan batas final sebuah Geopark Nasional yang telah ditetapkan. Di sinilah cara membaca destinasi menjadi penting. Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat satu objek, lalu pulang. Pengalaman dapat dibangun dari perjalanan memahami lanskap secara keseluruhan.

Baca Juga: Wisata PPU di Sekitar IKN: Pantai, Mangrove, Desa, dan Peluang Ekonomi Lokal

Membaca Lanskap Karst Kutai Timur

Bentang karst Sangkulirang-Mangkalihat memperlihatkan gua, hutan, dan warisan geologi Kalimantan Timur (BTV/AI)
Bentang karst Sangkulirang-Mangkalihat memperlihatkan gua, hutan, dan warisan geologi Kalimantan Timur (BTV/AI)

Karst merupakan bentang alam yang terbentuk melalui proses geologi dalam waktu sangat panjang. Di kawasan Sangkulirang-Mangkalihat, karakter tersebut terlihat melalui bukit karst, gua alami, sistem sungai bawah tanah, serta bentuk eksokarst dan endokarst. Pemerintah Kabupaten Kutai Timur menyebut kawasan ini sebagai salah satu bentang alam karst besar di Kalimantan dan memiliki gua-gua alami serta sistem bawah tanah yang menjadi bagian dari nilai geologinya.

Karena itu, melihat karst hanya sebagai kumpulan batu kapur akan membuat cerita wisatanya menjadi terlalu sederhana. Batu yang terlihat di permukaan berkaitan dengan proses pembentukan bentang alam. Gua dapat memiliki sistem ekologis tersendiri. Hutan di sekitarnya menjadi bagian dari habitat berbagai organisme. Sementara kondisi bawah permukaan memiliki peran dalam sistem air.  Bagi wisatawan, hubungan tersebut dapat diterjemahkan menjadi pengalaman geowisata. Bukan sekadar berfoto di depan tebing, tetapi memahami mengapa lanskap tersebut terbentuk, apa yang hidup di dalamnya, dan mengapa kondisi alaminya perlu dijaga.

Jejak Manusia Membuat Lanskap Ini Memiliki Cerita Berbeda

Salah satu lapisan yang membuat Sangkulirang-Mangkalihat memiliki nilai budaya adalah jejak kehidupan manusia pada kawasan karst. Pemerintah Kabupaten Kutai Timur menyebut keberadaan gua prasejarah dengan lukisan cap tangan dan gambar hewan sebagai bagian dari warisan peradaban manusia di kawasan tersebut.

Dalam rangkaian verifikasi Geopark Nasional pada Juli 2026, Galeri Cagar Budaya Kutai Timur juga menjadi salah satu titik pengenalan bagi tim verifikator. Galeri tersebut berfungsi sebagai pusat informasi yang memperkenalkan hubungan antara bentang alam karst, sejarah manusia, budaya, dan tradisi masyarakat. Kehadiran jejak tersebut mengubah cara wisatawan seharusnya memandang gua. Gua bukan hanya latar foto. Lukisan cadas atau tinggalan budaya bukan dekorasi yang boleh diperlakukan sesuka hati.

Ketika sebuah tempat menyimpan bukti kehidupan manusia masa lalu, kegiatan wisata perlu berjalan bersama perlindungan terhadap situsnya. Karena itu, wisata berbasis warisan membutuhkan informasi yang memadai. Pengunjung perlu mengetahui bagian mana yang boleh didatangi, bagaimana menjaga jarak dari objek tertentu, dan mengapa kondisi asli situs harus dipertahankan.

Baca Juga: Menemukan Wajah Lain Banjarbaru di Pumpung Cempaka, dari Jejak Intan hingga Kehidupan Kampung

Ketika Geopark Masuk Tahap Pengembangan, Apa yang Berubah?

Perkembangan menuju Geopark Nasional membuat pembahasan pariwisata Sangkulirang-Mangkalihat memasuki tahap yang berbeda. Pada Juli 2026, Tim Verifikasi Geopark Nasional melakukan verifikasi lapangan di sejumlah lokasi. Di Kutai Timur, lokasi yang masuk agenda antara lain Mata Air Tangga Bidadari di Selangkau, SD Negeri 002 Kaliorang, dan Pemandian Air Panas di Desa Karangan. Verifikasi tersebut tidak hanya melihat pemandangan. Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menjelaskan bahwa penilaian mencakup potensi warisan geologi, keanekaragaman hayati, budaya, serta komitmen pengelolaan kawasan secara berkelanjutan.

Artinya, apabila kawasan dikembangkan sebagai destinasi yang lebih dikenal, kebutuhan wisatanya juga tidak berhenti pada promosi. Akses perlu dipikirkan. Informasi wisata perlu tersedia. Pemanduan harus sesuai kondisi lapangan. Keselamatan pengunjung harus diperhatikan. Masyarakat sekitar perlu mendapat ruang dalam aktivitas ekonomi wisata. Dan yang paling penting, peningkatan kunjungan tidak boleh mengurangi kualitas warisan yang menjadi alasan kawasan tersebut bernilai.

Pada September 2026, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur masih membahas hasil verifikasi lapangan bersama Tim Verifikasi Geopark Nasional dan para pemangku kepentingan untuk menindaklanjuti usulan Geopark Nasional. Dengan demikian, Sangkulirang-Mangkalihat belum tepat disebut sebagai Geopark Nasional yang telah ditetapkan. Posisi faktualnya adalah kawasan yang sedang menjalani proses menuju penetapan tersebut.

Pengalaman Wisata yang Bisa Dibangun dari Karst

Jika pengembangan kawasan berjalan sesuai prinsip geopark, pengalaman wisata dapat dibuat lebih beragam daripada sekadar kunjungan ke gua.

Wisatawan dapat mengenal bentang karst melalui interpretasi geologi. Informasi tentang batuan, proses pembentukan gua, bentuk permukaan, dan sistem bawah tanah dapat membuat perjalanan menjadi pengalaman belajar.

Hutan, bentang karst, mata air, dan ekosistem di sekitar kawasan dapat menjadi bagian dari pengalaman menikmati alam.

Jejak prasejarah serta pusat informasi budaya dapat membantu wisatawan memahami hubungan antara manusia dan lanskap Kalimantan dari masa lalu hingga sekarang.

Karst menawarkan bentuk visual yang khas. Namun fotografi sebaiknya tetap mengikuti aturan lokasi dan tidak mengganggu situs atau ekosistem.

Kegiatan berjalan kaki atau eksplorasi gua dapat menjadi pengalaman minat khusus jika dilakukan pada lokasi yang memang dibuka untuk aktivitas tersebut, dengan panduan, perlengkapan, dan prosedur keselamatan yang sesuai. Satu hal penting perlu digarisbawahi: tidak semua bagian kawasan geopark otomatis menjadi objek wisata yang dapat dimasuki bebas. Kawasan yang memiliki nilai ekologis atau budaya tinggi justru dapat membutuhkan perlindungan lebih ketat.

Baca Juga: Menjelajah Bontang Mangrove Park, Jalur Ulin, Burung Air, hingga Satwa Pesisir

Wisatawan Perlu Melihat Konservasi sebagai Bagian dari Perjalanan

Bentang karst Sangkulirang-Mangkalihat menyimpan warisan geologi, biodiversitas, budaya, dan potensi wisata berkelanjutan. (BTV/AI)
Bentang karst Sangkulirang-Mangkalihat menyimpan warisan geologi, biodiversitas, budaya, dan potensi wisata berkelanjutan. (BTV/AI)

Semakin besar perhatian terhadap sebuah destinasi, semakin besar pula kebutuhan untuk mengendalikan tekanan kunjungan. Karst memiliki karakter yang tidak selalu mudah dipulihkan ketika mengalami kerusakan. Situs budaya juga memiliki nilai yang tidak dapat digantikan ketika mengalami kehilangan atau perubahan.

Karena itu, konsep wisata Sangkulirang-Mangkalihat perlu menempatkan konservasi sebagai bagian dari pengalaman, bukan sekadar pesan tambahan di papan informasi. Pengunjung dapat diarahkan untuk memahami mengapa sampah tidak boleh ditinggalkan, mengapa beberapa area tidak boleh disentuh, mengapa jalur tertentu harus diikuti, dan mengapa penggunaan pemandu dapat menjadi bagian penting dari perjalanan.

Dalam konteks pengembangan geopark, masyarakat sekitar juga menjadi bagian penting. Pemerintah daerah menyebut pengembangan kawasan diharapkan dapat mendukung edukasi, pariwisata, pemberdayaan masyarakat, dan ekonomi lokal tanpa mengorbankan keseimbangan ekosistem.

Artinya, keberhasilan destinasi tidak hanya dapat dilihat dari jumlah orang yang datang. Pertanyaan lain yang sama pentingnya adalah apakah masyarakat memperoleh manfaat, apakah lingkungan tetap terjaga, dan apakah pengetahuan mengenai kawasan semakin dipahami oleh pengunjung. Memilih Pengalaman Wisata Berdasarkan Tujuan Perjalanan

Tujuan perjalanan Pengalaman yang dapat dipertimbangkan Hal yang perlu diperhatikan
Belajar geologi Geowisata dan interpretasi karst Pilih lokasi dengan informasi geologi yang tersedia
Menikmati lanskap Fotografi dan pengamatan alam Ikuti jalur dan aturan kawasan
Mengenal sejarah manusia Wisata heritage dan situs budaya Perlakukan situs sebagai warisan, bukan objek dekorasi
Mencari petualangan Trekking atau eksplorasi gua Kondisi medan, keselamatan, aturan, dan pemandu
Wisata bersama keluarga Lokasi yang telah diverifikasi akses dan fasilitasnya Jangan menganggap semua geosite cocok untuk anak
Wisata minat khusus Rute geologi, biodiversitas, atau budaya Perlu persiapan lebih dan interpretasi yang memadai

Tabel tersebut bukan daftar paket wisata resmi. Pilihan kegiatan tetap bergantung pada lokasi, akses, aturan pengelola, kondisi lapangan, dan fasilitas yang tersedia.

Apa yang Perlu Disiapkan Sebelum Berwisata?

Karena Sangkulirang-Mangkalihat merupakan kawasan yang luas, wisatawan tidak sebaiknya memperlakukannya seperti satu objek wisata dengan kondisi akses yang seragam. Sebelum berangkat, beberapa hal perlu diperiksa. Pertama, tentukan lokasi yang memang ingin dikunjungi. Kedua, pastikan status akses lokasi dan fasilitas yang tersedia dari pengelola atau pemerintah setempat. Ketiga, cari tahu apakah kunjungan membutuhkan pemandu.

Keempat, sesuaikan perlengkapan dengan kondisi medan. Trekking dan eksplorasi gua memiliki kebutuhan berbeda dengan kunjungan ke pusat informasi atau lokasi wisata yang aksesnya lebih mudah. Kelima, perhatikan cuaca dan kondisi perjalanan.

Keenam, jangan memasuki kawasan yang dinyatakan tertutup atau terbatas. Ketujuh, perlakukan situs budaya dan alam sebagai bagian dari warisan yang perlu dijaga. Untuk wisatawan keluarga, jangan hanya mempertimbangkan apakah suatu lokasi terlihat menarik di foto. Periksa juga akses, durasi perjalanan, kondisi jalur, fasilitas, dan tingkat aktivitas fisik yang dibutuhkan.

Baca Juga: Menikmati Pantai Kemala Balikpapan, dari Pasir Putih hingga Sunset

Mengapa Kutai Timur Menjadi Bagian Penting dari Cerita Geopark?

Sangkulirang-Mangkalihat tidak berdiri hanya sebagai destinasi yang berada di satu kabupaten. Delineasi yang disiapkan mencakup wilayah Kutai Timur dan Berau. Dalam data yang dipaparkan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur pada April 2026, kawasan tersebut meliputi delapan kecamatan di Kutai Timur dan 13 kecamatan di Berau. Di Kutai Timur, wilayah yang tercantum antara lain Sandaran, Kaliorang, Sangatta Utara, Karangan, Kaubun, Sangkulirang, Bengalon, dan Rantau Pulung.

Konteks tersebut membuat pariwisata geopark memiliki karakter berbeda dari destinasi tunggal. Perjalanan dapat bersinggungan dengan desa, masyarakat, sekolah, UMKM, pusat informasi, situs geologi, situs budaya, dan kawasan alam. Dalam rancangan pengembangan geopark, unsur-unsur tersebut bukan bagian yang berdiri sendiri. Semuanya dapat menjadi bagian dari cara menjelaskan identitas kawasan kepada pengunjung.

Poin Penting

Insight Redaksi

Sangkulirang-Mangkalihat menarik bukan karena satu gua, satu bukit, atau satu foto yang terlihat dramatis. Nilainya justru muncul ketika seluruh lapisan kawasan dibaca sebagai satu cerita: batuan yang terbentuk dalam proses geologi panjang, hutan yang menjadi bagian dari ekosistem, keragaman hayati, serta jejak manusia yang menunjukkan bahwa lanskap ini telah memiliki hubungan dengan kehidupan manusia sejak masa lampau.

Bagi Kutai Timur, konteks tersebut membuka ruang pariwisata yang lebih luas daripada sekadar menjual pemandangan. Namun, semakin besar nilai sebuah kawasan, semakin hati-hati pula cara wisata dikembangkan. Destinasi yang baik bukan hanya mudah didatangi, tetapi juga memiliki alasan kuat untuk tetap dijaga setelah wisatawan pulang. Dalam konteks menuju Geopark Nasional, tantangannya bukan sekadar membuat Sangkulirang-Mangkalihat semakin dikenal. Tantangan yang lebih mendasar adalah memastikan popularitas tidak mengurangi nilai geologi, alam, budaya, dan kehidupan masyarakat yang membuat kawasan tersebut penting sejak awal.

Kalau Ces ingin mengenal sisi lain Kalimantan Timur, Sangkulirang-Mangkalihat menawarkan perjalanan yang tidak berhenti pada pemandangan. Karst, hutan, jejak manusia, budaya, dan upaya konservasi membuat setiap perjalanan memiliki cerita yang lebih panjang. Sebelum berangkat, cari informasi lokasi yang memang terbuka untuk kunjungan, cek kondisi akses, gunakan pemandu bila diperlukan, dan hormati aturan kawasan. Sebab, menikmati geopark berarti ikut menjaga warisan yang sedang diperkenalkan kepada generasi berikutnya. Balikpapan Tv teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Apa itu Geopark Sangkulirang-Mangkalihat?

Sangkulirang-Mangkalihat adalah kawasan bentang alam karst di Kalimantan Timur yang mencakup wilayah Kutai Timur dan Berau, dengan unsur warisan geologi, keanekaragaman hayati, dan budaya.

2. Di mana kawasan Sangkulirang-Mangkalihat berada?

Kawasan yang sedang disiapkan sebagai Geopark Nasional mencakup sejumlah wilayah di Kabupaten Kutai Timur dan Kabupaten Berau. Di Kutai Timur, wilayah yang tercantum dalam delineasi antara lain Sangkulirang, Sandaran, Kaliorang, Karangan, Kaubun, Sangatta Utara, Bengalon, dan Rantau Pulung.

3. Apa yang menarik dari karst Sangkulirang-Mangkalihat?

Daya tariknya tidak hanya berupa gua dan bukit karst. Kawasan ini juga memiliki nilai geologi, keanekaragaman hayati, serta jejak budaya dan prasejarah manusia.

4. Apakah Sangkulirang-Mangkalihat sudah menjadi Geopark Nasional?

Hingga September 2026, proses penetapan masih berjalan. Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur pada 8 September 2026 menyebut hasil verifikasi lapangan dan dokumen usulan masih disempurnakan untuk tindak lanjut menuju penetapan Geopark Nasional.

5. Apakah wisatawan dapat masuk ke semua kawasan?

Tidak otomatis. Akses bergantung pada status lokasi, pengelola, aturan konservasi, kondisi medan, dan fasilitas yang tersedia. Kawasan yang memiliki nilai ekologis atau budaya tertentu dapat memiliki pembatasan akses.

6. Apakah perlu pemandu?

Untuk aktivitas tertentu, terutama eksplorasi medan alam atau gua, pemandu yang memahami kondisi lokasi dapat menjadi bagian penting dari keselamatan dan interpretasi wisata. Kebutuhan tersebut tetap bergantung pada lokasi yang dikunjungi.

7. Apa yang perlu disiapkan untuk wisata karst?

Persiapan dapat mencakup informasi akses, kondisi cuaca dan medan, perlengkapan yang sesuai, air minum, perlindungan pribadi, serta informasi mengenai aturan kawasan. Untuk lokasi tertentu, wisatawan juga perlu memastikan ketersediaan pemandu dan izin kunjungan.

8. Mengapa konservasi penting dalam wisata geopark?

Karena nilai geopark berasal dari warisan yang perlu dipertahankan. Kerusakan terhadap bentang geologi, ekosistem, atau situs budaya dapat mengurangi nilai kawasan sekaligus menghilangkan bagian dari warisan yang ingin dikenalkan kepada wisatawan.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates

 

Editor : Arya Kusuma
Sangkulirang-Mangkalihat Geowisata Pariwisata Kalimantan Timur kutai timur