Menemukan Wajah Lain Banjarbaru di Pumpung Cempaka, dari Jejak Intan hingga Kehidupan Kampung

Wafiq Azizah Amru • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 06:23 WIB
Suasana gerbang masuk kawasan wisata sejarah Intan Trisakti yang asri dan alami. (BTV/Ai)
Suasana gerbang masuk kawasan wisata sejarah Intan Trisakti yang asri dan alami. (BTV/Ai)

Durasi Baca: 8 Menit

Ikhtisar: Perjalanan ke Pumpung Cempaka memadukan kuliner, kehidupan kampung, sejarah intan, ruang kreatif, dan lanskap bekas pendulangan.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Kalau selama ini wisata ke Banjarbaru identik dengan taman kota, pusat kuliner atau tempat rekreasi keluarga, kawasan Cempaka menawarkan pengalaman yang berbeda.

Perjalanannya tidak berhenti ketika sampai di sebuah papan nama destinasi. Dari koridor menuju Cempaka, suasana perjalanan mulai berubah. Permukiman, aktivitas warga, kuliner lokal, hingga kawasan kampung membawa wisatawan semakin dekat dengan cerita yang menjadi identitas Pumpung: pendulangan intan.

Di Kelurahan Sungai Tiung, Kecamatan Cempaka, Kota Banjarbaru, Pumpung memang dikenal sebagai kawasan pendulangan intan tradisional. Pemerintah Kota Banjarbaru juga telah menetapkan Pendulangan Intan Pumpung sebagai salah satu destinasi wisata, sementara dokumen tata ruang kota mencantumkan kawasan Geowisata Pumpung di Sungai Tiung, Cempaka.

Namun, pengalaman Pumpung hari ini mulai bergerak lebih jauh dari sekadar melihat aktivitas mendulang.

Pada Agustus 2026, kawasan ini memasuki tahap pengembangan baru melalui Pumpung Creative Space dan Rute Jelajah Intan Trisakti. Rute tersebut dirancang untuk menghubungkan sejarah pendulangan dengan kehidupan masyarakat, lingkungan, pangan lokal, hingga lokasi bersejarah penemuan Intan Trisakti.

Jadi, kalau ingin menyusuri Pumpung dalam satu perjalanan, seperti apa pengalaman yang bisa ditemui?

Perjalanan menuju Cempaka justru menjadi bagian dari ceritanya

Salah satu cara menarik membaca Pumpung adalah tidak langsung menjadikannya sebagai titik akhir perjalanan.

Cempaka memiliki karakter kawasan yang berbeda dari pusat perkotaan Banjarbaru. Semakin mendekati Sungai Tiung dan Pumpung, perjalanan membawa wisatawan menuju kawasan yang memiliki hubungan lebih dekat dengan sejarah pertambangan rakyat, permukiman dan aktivitas masyarakat.

Konteks ini penting karena Pumpung bukan destinasi yang berdiri terpisah dari kehidupan warga. Aktivitas pendulangan intan telah berlangsung secara turun-temurun di Cempaka dan menjadi bagian dari sejarah ekonomi masyarakat setempat. Di kawasan ini, proses mencari intan dilakukan secara tradisional dengan peralatan sederhana.

Karena itu, perjalanan menuju Pumpung sebaiknya tidak diperlakukan hanya sebagai waktu tempuh.

Ia adalah bagian awal untuk memahami mengapa kawasan ini memiliki karakter yang berbeda.

Sebelum masuk lebih jauh, kuliner lokal bisa menjadi jeda perjalanan

Perjalanan berbasis pengalaman juga tidak harus langsung mengejar titik wisata.

Kuliner dapat menjadi jeda untuk mengenal daerah sebelum masuk lebih dalam ke kawasan Pumpung. Materi perjalanan yang menjadi dasar ide artikel ini menempatkan kuliner lokal sebagai bagian dari koridor menuju Cempaka, dengan sajian khas Banjar seperti serabi, laksa, bubur kacang, bubur gunting, olahan haruan dan mandai.

Namun, kuliner dalam perjalanan ini lebih menarik jika dipandang sebagai bagian dari kehidupan kawasan, bukan sekadar daftar makanan yang harus dicoba.

Makanan tradisional memperlihatkan bagaimana bahan, kebiasaan memasak dan selera masyarakat menjadi bagian dari identitas sebuah wilayah. Dengan begitu, perjalanan menuju Pumpung tidak terasa seperti berpindah dari satu tempat wisata ke tempat wisata lain, melainkan seperti mengikuti lapisan kehidupan masyarakat Banjarbaru.

Untuk wisatawan yang hanya memiliki waktu singkat, kombinasi kuliner dan Pumpung sudah dapat menjadi satu perjalanan. Sementara yang ingin mengenal kawasan lebih dalam bisa melanjutkannya dengan menjelajahi aktivitas kampung dan Rute Jelajah Intan Trisakti.

Baca Juga: Taman Nasional Danau Sentarum Danau yang Berubah jadi Hutan Terendam saat Musim Hujan

Pumpung Creative Space menjadi pintu masuk baru

Sesampainya di Pumpung, pengalaman wisata kini memiliki titik pembuka yang lebih jelas.

Pumpung Creative Space diresmikan pada 26 Agustus 2026 sebagai bagian dari peluncuran Rute Jelajah Intan Trisakti sekaligus peringatan 61 tahun penemuan Intan Trisakti. Ruang ini dikembangkan sebagai tempat masyarakat beraktivitas, berkarya, belajar, berdiskusi dan menampilkan kebudayaan yang berkembang di Pumpung.

Dalam pengembangan rute, Pumpung Creative Space juga ditempatkan sebagai titik awal perjalanan.

Informasi mengenai rute yang diperkenalkan pada Agustus 2026 menyebut terdapat delapan titik yang menghubungkan ruang kreatif tersebut dengan berbagai unsur kawasan Pumpung hingga lokasi utama penemuan Intan Trisakti. Di dalamnya termasuk lanskap bekas pendulangan, persawahan padi lokal Banjar, batu akik, kayu ulin purba, tanaman pangan dan pohon jingah yang berkaitan dengan peralatan tradisional pendulangan.

Di titik awal ini, wisatawan tidak hanya diajak melihat sebuah objek.

Mereka diperkenalkan lebih dahulu kepada tempat, masyarakat dan cerita yang akan ditemui sepanjang perjalanan.

Baca Juga: Menjelajah Keindahan Taman Permana Pelaihari: Pesona Bukit Hijau dan Ketenangan Alam Tanah Laut

Dari bekas pendulangan, Pumpung memperlihatkan lanskap yang berbeda

Begitu bergerak keluar dari ruang kreatif, cerita Pumpung mulai berubah.

Lanskap bekas aktivitas pendulangan menjadi salah satu bagian penting dari pengalaman. Lubang-lubang bekas pendulangan dan danau membentuk jejak visual dari aktivitas yang sudah lama menjadi bagian kawasan.

Menariknya, rute wisata yang dikembangkan tidak hanya berbicara tentang intan.

Persawahan padi lokal Banjar juga menjadi bagian dari perjalanan. Ada pula batu akik yang disebut sebagai sisa aktivitas pendulangan serta kayu ulin purba yang ditemukan pendulang pada kedalaman sekitar 20 hingga 30 meter.

Di sinilah pengalaman Pumpung menjadi lebih luas.

Tanah yang selama ini dikenal karena intannya ternyata menyimpan cerita tentang pangan, tanaman, material alam dan kehidupan masyarakat.

Pohon jingah, misalnya, memiliki kaitan dengan tradisi pendulangan karena kayunya digunakan sebagai bahan salah satu peralatan tradisional, yakni linggangan. Dengan pendekatan seperti ini, wisatawan tidak hanya diberi tahu bahwa Pumpung merupakan kawasan pendulangan intan, tetapi juga diajak memahami hubungan antara manusia, alam dan tradisi yang berkembang di dalamnya.

Lalu, di mana posisi Intan Trisakti dalam perjalanan ini?

Intan Trisakti menjadi salah satu alasan kuat mengapa Pumpung memiliki nilai sejarah yang besar.

Intan tersebut ditemukan di kawasan Cempaka pada 26 Agustus 1965. Pemerintah Kota Banjarbaru mencatat penemuan itu berkaitan dengan 24 pendulang yang dipimpin H. Matsam. Kisah penemuan tersebut kemudian menjadi bagian penting dari identitas sejarah Cempaka dan pengembangan konsep Living Museum.

Kini, cerita tersebut tidak hanya disimpan sebagai sejarah masa lalu.

Rute Jelajah Intan Trisakti dirancang untuk membawa pengunjung menuju titik utama lokasi penemuan sambil melewati berbagai unsur yang membentuk kehidupan Pumpung. Setiap titik dalam rute juga direncanakan memiliki QR code yang terhubung dengan narasi digital Cempaka Living Museum.

Artinya, perjalanan mempunyai alur.

Dimulai dari ruang kreatif, bergerak melewati lanskap dan kehidupan masyarakat, lalu berakhir pada cerita sejarah yang membuat nama Pumpung begitu kuat dalam sejarah intan Banjarbaru.

Baca Juga: Mengenal Kebun Raya Balikpapan, Jejak Konservasi Tumbuhan Kalimantan Sejak 2005

Pumpung bukan hanya tentang tambang, tetapi tentang kehidupan setelahnya

Ada perubahan cara melihat kawasan Pumpung yang sedang berlangsung.

Selama bertahun-tahun, kawasan ini dikenal terutama sebagai tempat pendulangan intan tradisional. Kini pemerintah daerah bersama komunitas dan kelompok masyarakat mendorong konsep Cempaka Living Museum, yaitu pendekatan wisata budaya yang menjadikan kehidupan, sejarah dan tradisi masyarakat sebagai bagian dari pengalaman wisata.

Gagasan tersebut tidak berarti menghapus cerita pertambangan.

Justru aktivitas pendulangan menjadi pintu masuk untuk mengenal kehidupan yang tumbuh di sekitarnya.

Pada Mei 2026, Komite Ekonomi Kreatif Kota Banjarbaru bersama Pokdarwis Kelurahan Sungai Tiung melakukan pemetaan potensi kawasan Pumpung. Pengembangannya mencakup edukasi mengenai pendulangan tradisional, aktivitas komunitas dan peluang ekonomi kreatif. Camping ground juga disebut sebagai salah satu potensi aktivitas pendukung kawasan.

Perkembangan itu menunjukkan bahwa Pumpung masih berada dalam proses membangun ekosistem wisatanya.

Karena itu, wisatawan sebaiknya datang dengan ekspektasi yang tepat. Pumpung menarik justru karena pengalaman yang ditawarkan sedang tumbuh dari kehidupan kampung, sejarah dan komunitas, bukan semata-mata karena fasilitas wisata yang sudah serba lengkap.

Baca Juga: Pantai Melawai Balikpapan: Tempat Menikmati Sunset dan Kuliner Malam

Bagaimana menyusun perjalanan sehari ke Pumpung?

Kalau ingin menjadikan kawasan ini sebagai perjalanan sehari, rute pengalaman bisa disusun secara sederhana.

Pagi, perjalanan dapat dimulai dari koridor menuju Cempaka. Sisipkan waktu untuk sarapan atau menikmati kuliner lokal sebelum masuk lebih jauh ke kawasan Sungai Tiung.

Menjelang siang, Pumpung Creative Space dapat menjadi titik awal untuk mengenal kawasan dan melihat bagian awal Rute Jelajah Intan Trisakti.

Setelah itu, perjalanan bisa dilanjutkan mengikuti titik-titik rute yang tersedia, termasuk lanskap bekas pendulangan, persawahan, unsur alam dan cerita masyarakat.

Siang hingga sore, perjalanan diarahkan menuju bagian yang berkaitan dengan sejarah Intan Trisakti.

Susunan ini lebih masuk akal dibanding mengejar sebanyak mungkin tempat dalam satu hari. Pumpung bukan kawasan yang paling tepat dinikmati dengan prinsip "datang, foto, lalu pulang".

Yang dicari justru hubungan antarceritanya.

Apakah wisatawan bisa mendulang intan?

Pendulangan tradisional memang merupakan identitas utama Pumpung dan menjadi bagian dari gagasan Living Museum. Pemerintah dan komunitas setempat mendorong pengalaman edukatif mengenai proses pendulangan tradisional.

Namun, pengalaman mencoba mendulang tidak sebaiknya dianggap otomatis tersedia setiap saat untuk seluruh pengunjung.

Program edukasi, simulasi atau pendampingan perlu mengikuti fasilitas dan pengelolaan yang sedang berlaku ketika wisatawan datang.

Dengan kata lain, datang untuk memahami tradisi pendulangan berbeda dengan datang untuk memastikan mendapatkan intan.

Nilai wisatanya justru terletak pada proses dan cerita di balik tradisi tersebut.

Baca Juga: Museum Wasaka Banjarmasin, Teknologi Edukasi yang Bikin Sejarah Lebih Dekat

Bagaimana dengan trekking dan lanskap bekas tambang?

Materi perjalanan Pumpung juga memperlihatkan potensi aktivitas berjalan kaki untuk mengenal lanskap kawasan.

Rute yang dikembangkan pada 2026 memang membawa pengunjung melewati sejumlah titik lingkungan dan sejarah sebelum mencapai lokasi penemuan Intan Trisakti.

Tetapi kondisi jalur dapat berubah mengikuti cuaca dan kondisi lapangan. Karena itu, wisatawan sebaiknya tidak menjadikan angka durasi trekking tertentu sebagai patokan mutlak tanpa informasi terbaru dari pengelola.

Sepatu yang nyaman, air minum, perlindungan dari matahari dan perhatian terhadap kondisi permukaan tanah menjadi persiapan sederhana yang masuk akal untuk perjalanan berbasis jelajah.

Terlebih jika rute membawa pengunjung ke kawasan bekas aktivitas pendulangan, kenyamanan berjalan harus menjadi pertimbangan sebelum mengejar seluruh titik.

Siapa yang paling cocok menikmati perjalanan Pumpung?

Pumpung dapat dibaca dengan cara berbeda tergantung kebutuhan perjalanan.

Untuk keluarga, bagian edukasi sejarah, ruang kreatif dan pengenalan lingkungan dapat menjadi fokus utama.

Untuk pencinta sejarah, cerita pendulangan tradisional dan Intan Trisakti menjadi inti pengalaman.

Untuk wisatawan yang mencari pengalaman lokal, kombinasi kuliner, permukiman, kehidupan kampung dan aktivitas masyarakat menawarkan perjalanan yang lebih utuh.

Untuk pencinta aktivitas luar ruang, lanskap bekas pendulangan dan potensi camping dapat menjadi bagian tambahan, dengan catatan kondisi fasilitas dan aktivitas yang tersedia perlu menyesuaikan perkembangan kawasan.

Karena Pumpung masih dikembangkan sebagai kawasan wisata budaya berbasis komunitas, fleksibilitas menjadi bagian dari pengalaman itu sendiri.

Baca Juga: Waterboom Pesona Modern Banjarmasin, Liburan Keluarga dengan Wahana Air Lengkap

Poin Penting

Insight Redaksi

Hal menarik dari Pumpung bukan hanya fakta bahwa kawasan ini pernah menjadi tempat penemuan Intan Trisakti.

Nilai wisatanya justru muncul ketika sejarah tersebut ditempatkan di tengah kehidupan yang masih berjalan.

Ada pendulangan, ada sawah, ada tanaman lokal, ada ruang kreatif, ada masyarakat dan ada lanskap bekas aktivitas manusia. Semuanya membentuk satu cerita yang tidak bisa dipahami hanya dengan berhenti di sebuah monumen.

Karena itu, Pumpung lebih tepat dinikmati sebagai perjalanan membaca sebuah kampung daripada sekadar kunjungan ke satu objek wisata.

Konsep Cempaka Living Museum juga bergerak ke arah tersebut: menjadikan sejarah dan kehidupan masyarakat sebagai pengalaman yang dapat dipelajari sekaligus membuka ruang bagi kegiatan ekonomi kreatif lokal.

Kalau berangkat dari Banjarbaru, perjalanan menuju Pumpung pun akhirnya bukan sekadar mencari apa yang bisa difoto.

Yang lebih menarik adalah melihat bagaimana sebuah kawasan yang tumbuh dari tradisi pendulangan intan sedang menyusun cerita barunya sebagai ruang wisata budaya.

Setelah mengenal Pumpung, perjalanan Cempaka terasa punya alasan lain untuk dilanjutkan: bukan hanya mengejar destinasi, tetapi memahami cerita yang membuat sebuah tempat tetap hidup.

Kalau menurutmu perjalanan seperti ini menarik, bagikan artikel ini kepada teman atau keluarga yang sedang mencari ide jalan-jalan berbasis pengalaman di Kalimantan Selatan.

Dan mungkin, perjalanan berikutnya bukan lagi soal mencari tempat yang ramai, tetapi menemukan cerita yang selama ini ada di sekitar kita. Balikpapan TV – teman update setia, bukan sekadar berita biasa.

FAQ

1. Pumpung berada di mana?

Pumpung berada di Kelurahan Sungai Tiung, Kecamatan Cempaka, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu lokasi pendulangan intan tradisional di Banjarbaru.

2. Apa yang bisa dilakukan wisatawan di Pumpung?

Pengalaman yang dapat dikembangkan mencakup mengenal sejarah pendulangan intan, mengikuti Rute Jelajah Intan Trisakti, mengunjungi Pumpung Creative Space serta menikmati lanskap dan kehidupan masyarakat di kawasan tersebut.

3. Apakah wisatawan bisa mencoba mendulang intan?

Pendulangan tradisional menjadi bagian penting dari konsep edukasi wisata Pumpung. Namun, ketersediaan pengalaman praktik atau simulasi mengikuti program dan pengelolaan yang berlaku di kawasan ketika berkunjung.

4. Apakah Pumpung cocok untuk wisata keluarga?

Bisa menjadi pilihan, terutama bagi keluarga yang menyukai wisata sejarah, budaya dan edukasi. Aktivitas yang tersedia perlu disesuaikan dengan kondisi serta fasilitas kawasan saat kunjungan.

5. Apakah tersedia area camping?

Camping ground disebut sebagai salah satu potensi aktivitas pendukung dalam pengembangan kawasan Pumpung.

6. Apa yang perlu disiapkan sebelum mengikuti rute jelajah?

Gunakan pakaian dan alas kaki yang nyaman untuk berjalan, bawa air minum dan perlindungan dari matahari, serta sesuaikan rencana dengan kondisi cuaca dan jalur. Untuk aktivitas atau fasilitas tertentu, pastikan ketersediaannya kepada pengelola sebelum berangkat.

7. Apa yang membuat Intan Trisakti penting bagi Pumpung?

Penemuan Intan Trisakti pada 26 Agustus 1965 menjadi bagian penting dari sejarah pendulangan intan Cempaka. Cerita tersebut kini menjadi salah satu dasar pengembangan Rute Jelajah Intan Trisakti dan Cempaka Living Museum.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
Pumpung Cempaka Wisata Banjarbaru Intan Trisakti Cempaka Living Museum