Di Balik Wisata Gunung Parung IKN, Ada Hutan dan Satwa yang Perlu Tetap Terjaga

Amellinda Nur Aini • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 18:25 WIB
Lanskap Gunung Parung di kawasan IKN menjadi salah satu destinasi wisata alam yang menyimpan kekayaan flora dan fauna serta perlu dikelola secara berkelanjutan.
Lanskap Gunung Parung di kawasan IKN menjadi salah satu destinasi wisata alam yang menyimpan kekayaan flora dan fauna serta perlu dikelola secara berkelanjutan.

Durasi Baca: 7 Menit

Ikhtisar: Gunung Parung di kawasan IKN bukan sekadar destinasi wisata alam. Kawasan ini memiliki kekayaan flora dan fauna yang membuat pengembangan wisata perlu berjalan bersama perlindungan habitat.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Berkunjung ke kawasan Gunung Parung di Sepaku berarti menikmati lanskap hutan yang masih menjadi bagian penting dari alam IKN. Daya tarik seperti ini justru membuat wisata alam membutuhkan cara pengelolaan yang berbeda dari destinasi buatan.

Semakin banyak orang datang, semakin besar pula kebutuhan untuk menjaga jalur, kebersihan, habitat, dan perilaku pengunjung. Di Gunung Parung, pengalaman wisata dan keberlanjutan lingkungan berada dalam ruang yang sama.

Gunung Parung Bukan Sekadar Bukit untuk Dikunjungi

Gunung Parung berada di bagian barat IKN dan termasuk dalam kawasan hutan yang membentang hingga lanskap Pegunungan Meratus. Dokumen Rencana Induk Pengelolaan Keanekaragaman Hayati IKN menempatkan kawasan ini sebagai bagian dari kekayaan ekologis Nusantara.

Posisi tersebut membuat Gunung Parung memiliki arti lebih luas daripada sekadar tempat menikmati pemandangan. Hutan yang dilihat wisatawan merupakan ruang hidup bagi berbagai jenis tumbuhan dan satwa.

Konteks ini sejalan dengan konsep Kota Hutan IKN yang menempatkan perlindungan, pengelolaan, dan restorasi ekosistem sebagai bagian dari pembangunan. Target dalam rencana induk tersebut mencakup 65 persen wilayah IKN sebagai kawasan dilindungi.

Otorita IKN juga menjelaskan bahwa pendekatan Kota Hutan tidak berhenti pada menanam pohon, tetapi mencakup pemulihan fungsi ekosistem dan pembangunan koridor satwa untuk menghubungkan habitat yang terfragmentasi.

Yang Hidup di Balik Rimbunnya Hutan Gunung Parung

Bagi pengunjung, hutan mungkin terlihat sebagai hamparan pepohonan hijau. Namun, data keanekaragaman hayati Gunung Parung menunjukkan bahwa kawasan ini menyimpan kehidupan yang jauh lebih kompleks.

Rencana Induk Pengelolaan Keanekaragaman Hayati IKN mencatat 28 jenis mamalia, 108 jenis burung, 29 jenis herpetofauna, dan 259 jenis flora di kawasan Gunung Parung.

Beberapa satwa yang tercatat antara lain lutung merah, owa kalawat, dan bekantan. Dokumen yang sama juga mencatat sejumlah jenis burung dan reptil, termasuk elang brontok serta buaya muara.

Angka tersebut memberi gambaran bahwa perjalanan wisata ke Gunung Parung sebenarnya berlangsung di dalam sebuah ekosistem. Setiap jalur, suara, sampah, dan aktivitas manusia dapat beririsan dengan ruang hidup satwa.

Ketika Wisata Makin Dikenal, Tekanan terhadap Alam Ikut Berubah

Destinasi alam membutuhkan pengelolaan yang mampu mengatur hubungan antara manusia dan lingkungan. Masalahnya bukan semata-mata jumlah pengunjung, tetapi bagaimana aktivitas mereka berlangsung di kawasan tersebut.

Sampah menjadi salah satu persoalan yang paling mudah terlihat. Namun, tekanan terhadap alam juga dapat muncul melalui aktivitas di luar jalur, gangguan terhadap satwa, pengambilan tumbuhan, atau kegiatan yang mengubah kondisi habitat.

Karena itu, pengembangan wisata membutuhkan jalur yang jelas, aturan kunjungan, pengelolaan sampah, serta kapasitas pengelola yang memadai. Wisatawan juga perlu memahami bahwa tidak semua bagian kawasan harus menjadi ruang yang dapat dijelajahi bebas.

Prinsipnya sederhana: semakin alami sebuah destinasi, semakin penting batas aktivitas manusia di dalamnya.

Aksi Bersih di Gunung Parung Menunjukkan Arah Wisata Bertanggung Jawab

Pada 7 Februari 2026, Otorita IKN bersama sejumlah mitra menggelar aksi pengumpulan sampah di Gunung Parung, Air Terjun Tembinus, dan Batu Dinding. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan kesadaran terhadap kebersihan dan wisata yang bertanggung jawab.

Kegiatan itu melibatkan hampir 300 relawan dari berbagai unsur, termasuk Otorita IKN, masyarakat setempat, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), Bank Indonesia, perusahaan, instansi pemerintah, dan unsur lainnya. Tempat sampah terpilah juga diserahkan untuk mendukung pengelolaan sampah di lokasi wisata.

Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Otorita IKN, Myrna Asnawati Safitri, menyampaikan pesan yang relevan dengan arah pengembangan wisata alam tersebut.

“Ayo kita naik kelas, berwisata dengan peduli lingkungan.”

Pesan itu disampaikan Myrna dalam kegiatan aksi bersih sampah di kawasan wisata alam pada Februari 2026.

Baca Juga: Wisata Murung Batu Laba di Riam Kanan, Sensasi Pantai di Tepi Waduk Asri

Wisatawan Bisa Menjadi Bagian dari Konservasi

Menjaga Gunung Parung tidak harus dimulai dari tindakan besar. Bagi pengunjung, kebiasaan sederhana justru menjadi bagian penting dari wisata bertanggung jawab.

Pertama, bawa kembali sampah yang dihasilkan. Jika tersedia tempat sampah terpilah, gunakan sesuai jenisnya.

Kedua, tetap berada di jalur yang ditentukan. Jalur wisata bukan hanya membantu pengunjung bergerak lebih aman, tetapi juga membatasi gangguan terhadap kawasan di luar jalur.

Ketiga, jangan mengambil flora atau fauna. Tumbuhan dan satwa yang ditemukan di kawasan tersebut merupakan bagian dari ekosistem, bukan oleh-oleh.

Keempat, jangan mengejar atau mengganggu satwa. Pengalaman melihat satwa seharusnya tidak mengubah perilaku alami hewan tersebut.

Kelima, ikuti arahan pengelola atau pemandu. Aturan lokal dapat berubah mengikuti kondisi kawasan, cuaca, keamanan, maupun kebutuhan konservasi.

Masyarakat Sekitar Juga Perlu Mendapat Manfaat

Ekowisata tidak hanya berbicara mengenai pohon dan satwa. Ada masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di sekitar kawasan, sehingga perkembangan destinasi juga perlu mempertimbangkan manfaat bagi komunitas lokal.

Dokumen keanekaragaman hayati IKN menempatkan peningkatan kapasitas dan kepedulian masyarakat adat serta lokal sebagai bagian dari arah pengelolaan keanekaragaman hayati.

Dalam praktiknya, masyarakat dapat memiliki peran dalam kegiatan wisata, mulai dari pemanduan, pengelolaan aktivitas, penyediaan kebutuhan pengunjung, hingga edukasi mengenai lingkungan setempat.

Dengan begitu, wisata tidak hanya membawa orang masuk ke kawasan alam. Ada pula manfaat ekonomi dan sosial yang dapat kembali kepada masyarakat sekitar ketika pengelolaannya dilakukan secara tepat.

Tantangan Gunung Parung Bukan Sekadar Mendatangkan Pengunjung

Ketika sebuah destinasi mulai dikenal, ukuran keberhasilannya tidak cukup hanya dilihat dari banyaknya wisatawan. Kualitas pengalaman dan kondisi lingkungan juga perlu diperhatikan.

Pertanyaannya kemudian menjadi lebih panjang: apakah jalur wisata mampu menampung aktivitas pengunjung? Apakah pengelolaan sampah berjalan? Apakah habitat satwa tetap terlindungi? Apakah masyarakat sekitar memperoleh manfaat?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena daya tarik Gunung Parung justru berada pada alamnya.

Jika hutan dan habitatnya mengalami tekanan besar, alasan utama orang datang ke kawasan tersebut ikut berubah. Karena itu, konservasi bukan bagian yang berdiri di luar pariwisata, melainkan fondasi pengalaman wisata alam itu sendiri.

Cara Berwisata di Gunung Parung dengan Lebih Bertanggung Jawab

Sebelum berkunjung, wisatawan sebaiknya mempersiapkan perlengkapan pribadi secukupnya dan membawa kembali sampah yang dihasilkan.

Gunakan alas kaki yang sesuai untuk aktivitas alam dan ikuti ketentuan pengelola mengenai jalur maupun kawasan yang dapat dimasuki.

Hindari mengambil tumbuhan, memberi makan satwa, membuat aktivitas yang menimbulkan gangguan, atau meninggalkan benda apa pun di kawasan hutan.

Untuk informasi mengenai akses, kondisi jalur, fasilitas, dan ketentuan kunjungan, pengunjung sebaiknya mengikuti informasi terbaru dari pengelola kawasan sebelum berangkat karena kondisi destinasi alam dapat berubah.

Baca Juga: Pantai Takisung Tanah Laut: Wisata Pesisir Kalsel dengan Akses Mudah dan Suasana yang Bikin Betah

Poin Penting

Insight Redaksi

Gunung Parung menunjukkan bahwa wisata alam memiliki nilai yang tidak selalu terlihat dari foto perjalanan.

Hutan yang tampak sederhana bagi wisatawan ternyata menjadi ruang hidup berbagai satwa dan flora. Ketika kawasan tersebut dibuka untuk aktivitas wisata, tantangannya adalah menjaga agar pengalaman manusia tidak menghilangkan fungsi ekologisnya.

Dalam konteks Kota Hutan IKN, keseimbangan tersebut menjadi semakin penting. Otorita IKN sendiri menempatkan perlindungan keanekaragaman hayati, pemulihan ekosistem, serta keterlibatan masyarakat sebagai bagian dari arah pengelolaan kawasan.

Jadi, saat berwisata ke Gunung Parung, yang perlu dijaga bukan hanya kebersihan tempatnya. Yang lebih penting adalah alasan mengapa kawasan tersebut layak dikunjungi sejak awal: hutannya, satwanya, dan ekosistem yang masih hidup di dalamnya.

Kalau menurut Ces, destinasi alam paling menarik justru ketika kita bisa menikmati keindahannya tanpa meninggalkan masalah untuk alam. Bagikan artikel ini kepada teman atau keluarga yang ingin menjelajah wisata alam di kawasan IKN.

Gunung Parung bukan hanya tempat untuk datang dan pulang. Ia adalah ruang hidup yang perlu tetap punya alasan untuk bertahan.

FAQ

Apa yang menarik dari Gunung Parung?

Gunung Parung memiliki lanskap hutan dan keanekaragaman hayati yang tinggi, sehingga menawarkan pengalaman wisata alam sekaligus edukasi lingkungan.

Satwa apa yang tercatat di Gunung Parung?

Dokumen Otorita IKN mencatat antara lain lutung merah, owa kalawat, bekantan, sejumlah jenis burung, serta buaya muara.

Berapa jenis flora yang tercatat?

Terdapat 259 jenis flora yang tercatat dalam dokumen keanekaragaman hayati IKN untuk kawasan Gunung Parung.

Mengapa wisata bertanggung jawab penting di Gunung Parung?

Karena aktivitas wisata berlangsung di kawasan yang memiliki habitat berbagai flora dan fauna. Pengelolaan pengunjung diperlukan agar kegiatan wisata tidak mengganggu fungsi ekologis kawasan.

Apa yang bisa dilakukan wisatawan untuk membantu menjaga Gunung Parung?

Wisatawan dapat membawa kembali sampah, mengikuti jalur yang ditentukan, tidak mengambil flora atau fauna, tidak mengganggu satwa, serta mengikuti arahan pengelola dan pemandu.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
Ekowisata Gunung Parung IKN Wisata Alam