Warga Sekerat Keluhkan Debu dari Darat hingga Laut, Pemkab Diminta Bertindak

Riafandi • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 13:15 WIB
Keluhan debu di Sekerat meningkat saat kemarau, dipicu jalan belum diperkeras dan aktivitas pengangkutan. (IST)
Keluhan debu di Sekerat meningkat saat kemarau, dipicu jalan belum diperkeras dan aktivitas pengangkutan. (IST)

Durasi Baca: 5 Menit

Ikhtisar: Debu kembali dikeluhkan warga Sekerat, Kutim. Pemerintah dan perusahaan diminta mempercepat perbaikan jalan serta pengendalian dampak lingkungan.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Persoalan debu kembali menjadi perhatian masyarakat Desa Sekerat, Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur (Kutim).

Memasuki musim kemarau, kondisi jalan yang belum seluruhnya diperkeras membuat debu lebih mudah beterbangan ketika kendaraan melintas. Di sisi lain, masyarakat juga menyampaikan keluhan terkait debu yang diduga berasal dari aktivitas industri dan kegiatan pengangkutan di sekitar wilayah pesisir.

Kepala Desa Sekerat, Sunan Dhika, meminta persoalan tersebut tidak hanya dilihat sebagai masalah jalan, tetapi juga sebagai persoalan kenyamanan dan lingkungan yang membutuhkan perhatian bersama.

Jalan Belum Sepenuhnya Diperkeras

Salah satu sumber persoalan berada pada akses menuju Desa Sekerat. Dari total ruas jalan sekitar 23 kilometer, baru sebagian yang telah mendapatkan peningkatan atau semenisasi.

Data yang disampaikan pemerintah desa sebelumnya menyebut sekitar lima kilometer telah ditangani, sedangkan kurang lebih 18 kilometer lainnya masih membutuhkan peningkatan. Kondisi tersebut menjadi semakin terasa ketika musim kemarau karena permukaan jalan yang belum diperkeras dapat menghasilkan debu saat dilalui kendaraan.

Bagi masyarakat, persoalan jalan bukan sekadar menyangkut kenyamanan perjalanan.

Akses tersebut juga berkaitan dengan mobilitas warga, distribusi kebutuhan, aktivitas ekonomi, hingga pengembangan kawasan wisata Desa Sekerat.

Karena itu, pemerintah desa kembali meminta agar peningkatan jalan menjadi perhatian pemerintah daerah bersama perusahaan yang beroperasi di wilayah tersebut.

Keluhan Debu Tak Hanya dari Jalan

Sunan Dhika menyampaikan persoalan debu kini dirasakan masyarakat dari kawasan darat hingga laut.

Keluhan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kendaraan yang melintas di jalan yang belum disemenisasi. Masyarakat juga menyoroti aktivitas perusahaan batu bara dan keberadaan fasilitas conveyor di kawasan pesisir.

Namun, sumber debu dari aktivitas perusahaan dalam pemberitaan tersebut masih merupakan keluhan atau dugaan masyarakat, sehingga perlu dibuktikan melalui pemantauan dan pengukuran lingkungan.

Sunan meminta kualitas udara di wilayah tersebut dipantau secara lebih maksimal, terutama ketika musim kemarau.

Ia juga mendorong agar hasil pemantauan dapat disampaikan secara terbuka kepada pemerintah desa dan masyarakat.

Langkah tersebut penting agar pembahasan mengenai debu tidak berhenti pada saling menyampaikan keluhan. Data kualitas udara dan hasil pengawasan lingkungan dapat menjadi dasar untuk menentukan sumber persoalan sekaligus langkah penanganannya.

Baca Juga: Gence Ruan Khas Kutai, Ikan Gabus Bakar dengan Sambal Kasar yang Nendang

Kades: Dampaknya Dirasakan dari Darat hingga Laut

Kepala Desa Sekerat menekankan bahwa persoalan lingkungan harus menjadi bagian dari pembahasan pembangunan di wilayah yang aktivitas industrinya terus berkembang.

“Kalau berbicara dampak, kami merasakannya dari darat sampai ke laut.”

Pernyataan tersebut menggambarkan kekhawatiran pemerintah desa bahwa persoalan debu tidak hanya berada di satu titik.

Sunan juga meminta pemerintah daerah dan perusahaan mengambil langkah konkret, terutama dalam pengendalian debu, pemantauan kondisi lingkungan, serta percepatan pembangunan jalan.

Dengan demikian, penanganan tidak hanya bersifat sementara ketika keluhan muncul, tetapi dapat menjadi sistem pengendalian yang berjalan secara berkelanjutan.

Persoalan Jalan Sudah Lama Disorot

Keluhan mengenai jalan di Sekerat sebenarnya bukan persoalan baru.

Pada Juli 2026, pemerintah desa telah menyampaikan bahwa akses menuju kawasan wisata masih menjadi salah satu hambatan utama. Dari sekitar 23 kilometer ruas jalan, baru lima kilometer yang telah mendapatkan peningkatan melalui dukungan perusahaan.

Pemerintah Kabupaten Kutai Timur juga sebelumnya menyatakan dukungan terhadap pengembangan Sekerat sebagai kawasan wisata. Dalam agenda Festival Sekerat Nusantara, pemerintah daerah menekankan pentingnya akses, atraksi, dan kelembagaan dalam pengembangan destinasi.

Artinya, persoalan akses jalan memiliki dua sisi.

Di satu sisi, jalan yang belum sepenuhnya diperkeras dapat memunculkan persoalan debu. Di sisi lain, kualitas jalan yang belum optimal juga dapat menghambat potensi ekonomi dan pariwisata desa.

Aktivitas Kendaraan Berat Pernah Dikeluhkan Warga

Keluhan terkait debu juga pernah mencuat pada awal 2026.

Warga sebelumnya mengeluhkan aktivitas kendaraan berat perusahaan yang melintas di jalan desa. Pemberitaan Kaltim Post pada Februari menyebut aktivitas tersebut menimbulkan debu dan turut menjadi perhatian karena risiko keselamatan pengguna jalan.

DPRD Kutim kemudian menyoroti penggunaan jalan umum oleh kendaraan perusahaan. Dalam pemberitaan tersebut, DPRD menegaskan bahwa jalur umum seharusnya tidak digunakan sebagai jalur hauling apabila telah tersedia jalur khusus yang diperuntukkan bagi aktivitas perusahaan.

Rangkaian persoalan tersebut menunjukkan bahwa isu debu di Sekerat bukan hanya muncul karena satu kejadian.

Ada persoalan infrastruktur, lalu lintas kendaraan berat, aktivitas industri, serta kondisi musim kemarau yang saling beririsan.

Investasi Besar dan Harapan Masyarakat

Desa Sekerat berada di kawasan yang memiliki aktivitas industri dan investasi cukup besar.

Di sisi lain, desa juga mempunyai potensi wisata dan budaya. Pemerintah Kabupaten Kutai Timur sebelumnya mendorong Sekerat menjadi destinasi wisata berbasis budaya dan ekonomi kreatif. Desa tersebut memiliki kawasan pantai, potensi alam, serta agenda budaya seperti Festival Sekerat Nusantara.

Kondisi tersebut membuat persoalan lingkungan dan infrastruktur menjadi semakin penting.

Pengembangan industri diharapkan berjalan berdampingan dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Infrastruktur yang baik juga dibutuhkan agar manfaat aktivitas ekonomi dapat dirasakan warga dan potensi wisata dapat berkembang.

Sunan sebelumnya juga menyampaikan bahwa pemerintah desa tidak menolak investasi. Yang menjadi perhatian adalah bagaimana aktivitas investasi dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus meminimalkan dampak yang mereka rasakan.

Baca Juga: Pantai Sekerat Kutai Timur, Pesona Pesisir yang Harus Ditempuh Lewat Jalan Hutan

Pengendalian Debu Perlu Berbasis Data

Persoalan debu di Sekerat pada akhirnya membutuhkan penanganan yang terukur.

Ada setidaknya tiga hal yang menjadi perhatian.

Pertama, infrastruktur jalan. Percepatan peningkatan ruas jalan yang masih belum diperkeras dapat membantu mengurangi debu yang berasal dari permukaan jalan.

Kedua, pengawasan aktivitas perusahaan. Jika terdapat dugaan debu berasal dari kegiatan industri, sumbernya perlu diperiksa melalui mekanisme pengawasan lingkungan yang sesuai.

Ketiga, pemantauan kualitas udara. Data pengukuran dapat membantu pemerintah dan masyarakat mengetahui kondisi sebenarnya, sekaligus menentukan apakah diperlukan tindakan lanjutan.

Pendekatan tersebut penting agar persoalan tidak berhenti pada perdebatan mengenai siapa yang menjadi penyebab debu.

Sekerat Butuh Solusi, Bukan Sekadar Janji

Sekerat memiliki potensi ekonomi, budaya, dan wisata yang cukup besar. Pemerintah daerah bahkan telah mendorong pengembangan kawasan tersebut melalui Festival Sekerat Nusantara dan penguatan sektor pariwisata.

Namun, potensi tersebut membutuhkan akses dan lingkungan yang mendukung.

Jalan yang lebih baik dapat memperlancar mobilitas masyarakat dan wisatawan. Pengawasan lingkungan yang kuat dapat membantu memastikan aktivitas industri berjalan sesuai ketentuan. Sementara keterbukaan data kualitas udara dapat membuat masyarakat memiliki informasi yang lebih jelas mengenai kondisi lingkungan tempat mereka tinggal.

Karena itu, permintaan pemerintah desa agar pemerintah daerah dan perusahaan mengambil langkah konkret menjadi bagian penting dari upaya mencari jalan keluar.

Persoalan debu tidak cukup diselesaikan dengan penyiraman jalan atau tindakan sesaat. Penanganannya perlu melihat akar persoalan secara menyeluruh, mulai dari kondisi infrastruktur hingga aktivitas yang berlangsung di sekitar permukiman dan pesisir.

Poin Penting

Insight Redaksi

Persoalan Sekerat memperlihatkan bahwa pembangunan dan investasi tidak cukup hanya diukur dari besarnya aktivitas ekonomi.

Ada indikator lain yang tidak kalah penting: seberapa besar masyarakat merasakan manfaat pembangunan dan seberapa baik dampaknya dikelola.

Jalan yang belum selesai, keluhan debu, serta aktivitas industri yang berdampingan dengan permukiman menunjukkan perlunya koordinasi lebih kuat antara pemerintah, masyarakat, dan perusahaan.

Yang paling dibutuhkan warga bukan sekadar janji penanganan, melainkan solusi yang bisa dilihat, diukur, dan dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Jika persoalan debu memang berkaitan dengan beberapa sumber, maka setiap sumber juga perlu ditangani berdasarkan data. Dengan begitu, pembangunan Sekerat dapat terus berjalan tanpa mengabaikan kenyamanan dan kualitas lingkungan masyarakat.

Menurut Ces, persoalan debu di wilayah industri seperti Sekerat sebaiknya diselesaikan dengan cara apa? Bagikan artikel ini agar informasi mengenai kondisi dan aspirasi masyarakat Desa Sekerat semakin diketahui.

Ikuti kabar terbaru Kutai Timur dan Kalimantan Timur hanya di Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Di mana Desa Sekerat berada?

Desa Sekerat berada di Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.

2. Apa persoalan utama yang dikeluhkan masyarakat Sekerat?

Salah satu persoalan yang kembali dikeluhkan adalah debu, baik yang berkaitan dengan kondisi jalan maupun dugaan dampak dari aktivitas industri di sekitar wilayah desa.

3. Berapa panjang jalan menuju Desa Sekerat?

Pemerintah desa sebelumnya menyebut panjang akses menuju Sekerat sekitar 23 kilometer.

4. Apakah seluruh jalan menuju Sekerat sudah disemenisasi?

Belum. Data yang disampaikan sebelumnya menyebut sekitar lima kilometer telah mendapatkan peningkatan, sementara sekitar 18 kilometer masih membutuhkan penanganan.

5. Apa yang diminta Kepala Desa Sekerat?

Kepala Desa Sekerat meminta pemerintah dan perusahaan mengambil langkah konkret untuk mengendalikan debu, meningkatkan pemantauan lingkungan, serta mempercepat pembangunan jalan.

Sumber Informasi: Artikel ini sudah tayang sebelumnya di Media "Kaltim Post", dengan judul "Dari Jalan hingga Laut Dikepung Debu, Kades Sekerat Minta Pemerintah dan Perusahaan Bertindak",oleh penulis Jufriadi. Di-update kembali dengan angle dan style balikpapantv.id.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates

 

Editor : Redaksi BTV
Sumber : Kaltim Post
Desa Sekerat Sunan Dhika kutai timur bengalon debu