Nasi Kuning Tante Lena Balikpapan Bertahan Sejak 1983, Sarapan Pedas dengan Lauk Lengkap

kholiefatul Jannah • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 17:56 WIB
Nasi Kuning Tante Lena di Balikpapan dikenal sejak 1983 dengan lauk lengkap dan cita rasa pedas. (Sumber: YouTube Balikpapan TV)

Nasi Kuning Tante Lena dikenal sebagai kuliner pagi legendaris Balikpapan sejak 1983 dengan lauk lengkap dan rasa pedas. (Sumber: YouTube @Boengkoes)

Durasi Baca: 6 Menit

Ikhtisar: Nasi kuning Tante Lena di Balikpapan dikenal puluhan tahun, disajikan pedas dengan lauk lengkap dan kue untu-untu goreng khas pagi.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Nasi Kuning Tante Lena di Kebun Sayur, Balikpapan, menjadi pilihan sarapan warga sejak sekitar 1983 dengan racikan pedas dan lauk beragam.

Datang sebelum matahari terbit menjadi bagian dari pengalaman. Warung ini mulai melayani pembeli sekitar pukul 05.30 dan disebut dapat ramai sejak pagi.

Sarapan Pagi yang Sudah Menjadi Kebiasaan Warga

Bagi pemburu sarapan, mencari makanan sebelum aktivitas dimulai sering menjadi tantangan tersendiri. Di Balikpapan, nasi kuning justru memiliki posisi kuat sebagai pilihan makan pagi.

Nasi kuning Balikpapan umumnya hadir bersama lauk seperti ikan, telur, ayam, daging, mie, dan serundeng. Sajian tersebut membuat satu bungkus nasi terasa cukup lengkap untuk mengawali aktivitas. Sejumlah sumber kuliner juga mencatat nasi kuning sebagai salah satu makanan yang biasa disantap masyarakat Balikpapan pada pagi hari.

Dalam video Boengkoes, Nasi Kuning Tante Lena terlihat sudah ramai ketika waktu menunjukkan sekitar pukul 05.30. Kondisi itu menggambarkan bagaimana sarapan pagi menjadi bagian dari ritme kehidupan kota.

Warung tersebut berada di kawasan Gang Bakti, Kebun Sayur. Menurut keterangan Ibu Dwi dalam video, Tante Lena merupakan sosok yang memasak nasi kuning tersebut.

Dari Kebun Sayur, Resep Keluarga Bertahan Puluhan Tahun

Nasi Kuning Tante Lena disebut telah berjualan sejak sekitar tahun 1983. Keterangan tersebut disampaikan Bapak Mahali, suami Tante Lena, saat berbincang dalam tayangan Boengkoes.

Artinya, usaha tersebut telah melewati berbagai perubahan kebiasaan makan dan perkembangan kawasan kuliner Balikpapan. Dalam video, Bapak Mahali juga menyebut persaingan kini semakin ramai karena terdapat banyak penjual nasi kuning di sekitar kawasan tersebut.

Meski demikian, ia menyebut Tante Lena masih menjadi salah satu pelopor. Menurut keterangannya, terdapat sekitar sembilan penjual nasi kuning dalam radius satu kilometer dari lokasi tersebut.

Kondisi itu menarik karena keberadaan warung lama tidak hanya berkaitan dengan usia usaha. Ada kebiasaan pelanggan yang ikut membuat sebuah makanan bertahan.

Nasi kuning sendiri bukan makanan yang asing dalam tradisi kuliner Kalimantan. Buku Kuliner Borneo dari Universitas Mulawarman menjelaskan bahwa nasi kuning di Kalimantan umumnya menggunakan beras, santan, dan rempah, lalu disandingkan dengan berbagai lauk. Dalam tradisi masyarakat Banjar, nasi kuning juga dikonsumsi sebagai sarapan maupun dalam berbagai acara khusus.

Pemerintah Kota Balikpapan melalui pendataan objek pemajuan kebudayaan tahun 2024 juga mencantumkan nasi kuning sebagai kuliner tradisional yang berkembang. Kudapan untuk-untuk turut masuk dalam daftar kuliner tradisional Kota Balikpapan.

Jadi, nasi kuning di kota ini bukan sekadar menu sarapan. Ia menjadi bagian dari lanskap kuliner yang tumbuh bersama masyarakat.

Baca Juga: Sayur Bening Daun Kelor di Kalimantan Timur, Sederhana tetapi Punya Cerita

Apa yang Membuat Nasi Kuning Tante Lena Berbeda?

Satu hal yang langsung menonjol dari versi Tante Lena adalah rasa pedasnya. Dalam tayangan tersebut, Ibu Dwi menjelaskan bahwa sambalnya menggunakan cabai besar, bumbu Bali, serta cabai kecil.

Karakter tersebut memberikan warna rasa yang kuat pada hidangan. Pedasnya kemudian bertemu dengan nasi kuning yang gurih karena penggunaan santan.

Lauk yang tersedia juga cukup beragam. Ada telur bebek, ikan tongkol layang, kakap terpulu, daging, ayam, mie, serundeng, serta bawang goreng. Ketersediaan lauk tertentu dapat berubah mengikuti kondisi bahan.

Saat mencicipi pesanannya, Boengkoes memilih nasi kuning dengan telur bebek, ikan tongkol, ayam paha, mie, serundeng, dan bawang goreng. Porsi tersebut dihargai Rp40 ribu.

Sementara itu, pilihan paling sederhana disebut mulai Rp15 ribu dengan telur. Paket dengan kombinasi lauk seperti tongkol, ayam, atau daging berada pada kisaran Rp30 ribu hingga Rp35 ribu berdasarkan pilihan.

Harga tersebut menunjukkan bahwa nasi kuning di tempat ini dapat dinikmati dalam beberapa tingkat pilihan. Pembeli bisa mengambil lauk sederhana atau membuat satu porsi dengan banyak pendamping.

Nasi Kuning Tante Lena menawarkan sambal pedas, lauk beragam, dan pilihan porsi mulai Rp15 ribu. (Sumber: YouTube @Boengkoes)
Nasi Kuning Tante Lena menawarkan sambal pedas, lauk beragam, dan pilihan porsi mulai Rp15 ribu. (Sumber: YouTube @Boengkoes)

Pedas, Gurih, dan Lauk yang Menjadi Satu Paket

Karakter nasi kuning Tante Lena tidak hanya datang dari sambal. Nasinya disebut memiliki tekstur pulen dengan rasa santan yang terasa.

Ikan tongkol menjadi salah satu lauk yang memberikan rasa gurih dan tekstur tersendiri. Telur bebek juga menjadi pilihan yang cukup menarik karena memiliki karakter rasa dan tekstur berbeda dari telur ayam.

Sementara itu, ayam, mie, dan serundeng membuat satu porsi terasa semakin lengkap. Bawang goreng kemudian memberikan aroma sekaligus tekstur renyah pada bagian atas sajian.

Menurut Bapak Mahali, rasa pedas tersebut awalnya berkaitan dengan selera Tante Lena yang memiliki latar keluarga Manado. Ketika racikan itu dijual, pembeli justru menyukainya.

Keterangan tersebut menunjukkan bagaimana sebuah resep dapat berkembang dari kebiasaan keluarga menjadi karakter usaha. Selera pribadi penjual kemudian bertemu dengan lidah pelanggan dan akhirnya menjadi identitas dagangan.

Ada pula cerita pelanggan yang datang dari kawasan Kilo 15 untuk membeli nasi kuning. Dalam tayangan, disebutkan terdapat pekerja asal Jawa yang membawa nasi kuning tersebut sebelum melakukan perjalanan pulang ke Jawa.

Cerita seperti itu memperlihatkan bahwa daya tarik sebuah makanan tidak selalu ditentukan oleh bentuk penyajian yang rumit. Rasa yang konsisten dapat membuat pelanggan rela menempuh perjalanan khusus.

Baca Juga: Mengenal Papeda Papua, Bubur Sagu Kenyal dengan Kuah Ikan Kuning yang Khas

Nasi Kuning Pagi Hari dan Budaya Sarapan Balikpapan

Kebiasaan sarapan pagi memiliki hubungan kuat dengan aktivitas masyarakat kota. Tempat makan yang buka sejak dini hari dapat menjadi titik pertemuan pekerja, warga sekitar, maupun orang yang sedang melakukan perjalanan.

Pola tersebut juga terlihat pada sejumlah tempat sarapan lain di Balikpapan. Indonesia Travel mencatat nasi kuning sebagai salah satu menu sarapan yang tersedia di Depot Miki dan menyebut suasana pagi di tempat tersebut biasanya ramai.

Kehadiran banyak penjual nasi kuning di Balikpapan menunjukkan adanya permintaan yang cukup kuat terhadap menu tersebut. Dalam konteks Tante Lena, tradisi usaha selama puluhan tahun menjadi bagian dari cerita yang membuat makanan ini menarik untuk dikenali.

Bukan hanya soal rasa. Ada kebiasaan datang pagi, memilih lauk, makan bersama, lalu kembali menjalankan aktivitas.

Pola sederhana tersebut justru menjadi bagian dari pengalaman kuliner kota.

Untu-Untu, Kudapan yang Ikut Diburu Pembeli

Sarapan di Nasi Kuning Tante Lena tidak berhenti pada nasi. Ada pula kudapan bernama untu-untu yang menurut Bapak Mahali dapat terjual sekitar 300 hingga 400 buah dalam sehari.

Dalam tayangan Boengkoes, untu-untu diperkenalkan sebagai roti goreng dengan isian pisang. Harganya disebut Rp5 ribu untuk tiga buah.

Teksturnya renyah pada bagian luar, sementara bagian dalam terasa lembut dengan isian pisang manis. Selain pisang, tersedia pula varian dengan isian kacang hijau dan unti kelapa.

Untuk-untuk juga tercatat dalam pendataan kuliner tradisional Kota Balikpapan tahun 2024. Kehadirannya bersama nasi kuning menunjukkan bahwa budaya sarapan tidak hanya berkaitan dengan makanan utama, tetapi juga kudapan pendamping.

Selain untu-untu, meja sarapan tersebut menyediakan beberapa jajanan lain. Di antaranya pelus, maglik berbahan singkong, kue ketan atau kacang hijau, lumpia, risol, bihun goreng, serta mie goreng.

Bihun dan mie goreng disebut dijual dalam porsi sekitar Rp6 ribu hingga Rp10 ribu.

Berapa Modal yang Perlu Disiapkan untuk Sarapan?

Berdasarkan harga yang disebut dalam tayangan, pilihan sarapan di Nasi Kuning Tante Lena dapat disesuaikan dengan anggaran.

Pilihan Harga yang disebut dalam tayangan
Nasi kuning dengan telur Rp15.000
Nasi kuning dengan pilihan lauk Rp30.000
Nasi kuning dengan ayam dan ikan/daging Rp35.000
Nasi kuning komplit pilihan Boengkoes Rp40.000
Untu-untu Rp5.000 untuk 3 buah
Bihun atau mie goreng Rp6.000–Rp10.000

Harga tersebut merupakan informasi yang disebut dalam video dan dapat berubah mengikuti kebijakan penjual serta ketersediaan lauk.

Bagi pembeli, pilihan ini memberi fleksibilitas. Sarapan sederhana dapat dimulai dari satu bungkus dengan telur, sedangkan pilihan komplit cocok bagi yang ingin mencicipi banyak lauk sekaligus.

Dalam tayangan, total belanja Boengkoes setelah menikmati nasi kuning dan jajanan mencapai Rp50 ribu.

Baca Juga: Pansuh Ayam: Kuliner Dayak yang Dimasak dalam Bambu, Lengkap Bahan dan Cara Membuatnya

Cara Menikmati Nasi Kuning Ini agar Rasanya Seimbang

Karena karakter sambalnya cukup pedas, lauk dapat dipilih sesuai kemampuan menikmati cabai. Telur atau ayam dapat menjadi pendamping untuk menyeimbangkan rasa nasi dan sambal.

Ikan tongkol memberikan karakter gurih yang berbeda. Serundeng dan bawang goreng kemudian menambah tekstur pada setiap suapan.

Mie menjadi pelengkap yang cukup umum ditemukan dalam nasi kuning Balikpapan. Kombinasi nasi, mie, lauk, dan serundeng membuat satu porsi memiliki beberapa tekstur sekaligus.

Waktu terbaik untuk mencicipinya tentu mengikuti jam operasional yang disebut penjual, yakni mulai sekitar pukul 05.30. Datang pagi juga memberi kesempatan untuk memilih lauk saat persediaan masih tersedia.

Poin Penting

Insight Redaksi

Nasi Kuning Tante Lena menunjukkan bahwa sarapan sederhana dapat menjadi penanda identitas kota. Resep pedas, pilihan lauk, dan kebiasaan datang sejak pagi membentuk pengalaman yang sulit dipisahkan dari kehidupan Balikpapan. Ketika persaingan kuliner makin ramai, kekuatan warung lama justru berada pada konsistensi rasa, cerita keluarga, serta kedekatan dengan pelanggan setempat. Modal penting.

Kalau handak mencoba, datang pagi dan siapkan pilihan lauk sesuai selera supaya pengalaman sarapan lebih nyaman.

Bagikan artikel ini ke kawalan ikam yang suka berburu sarapan pagi, terutama bubuhan pencinta nasi kuning dan jajanan tradisional Balikpapan.

Penasaran sarapan apa yang bikin pagi Balikpapan terasa hidup? Ikuti terus cerita kuliner lokal dan info pilihan hanya di Balikpapan Tv teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Di mana lokasi Nasi Kuning Tante Lena?

Dalam tayangan, lokasinya disebut berada di Gang Bakti, kawasan Kebun Sayur, Balikpapan.

2. Mulai jam berapa Nasi Kuning Tante Lena berjualan?

Penjual menyebut dagangan mulai tersedia sekitar pukul 05.30 pagi.

3. Berapa harga nasi kuning paling murah?

Pilihan dengan telur disebut mulai Rp15 ribu per porsi.

4. Apa itu untu-untu?

Dalam tayangan Boengkoes, untu-untu diperkenalkan sebagai roti goreng berisi pisang, dengan pilihan isian kacang hijau dan unti kelapa.

5. Apakah nasi kuning ini pedas?

Ya. Penjual menjelaskan racikan sambalnya menggunakan cabai besar, bumbu Bali, dan cabai kecil sehingga memiliki karakter pedas.

Sumber Informasi: Informasi ini telah tayang sebelumnya di Media Youtube @Boengkoes, dengan judul BUKA PAGI BANGET LANGSUNG RAME!! MAKAN NASI KUNING SEBUNGKUS 40RIBU PEDES MELEK!!!. Di-publikasikan kembali dengan angle dan style artikel Balikpapantv.id. 

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates

 

Editor : Support
Tante Lena Untu-Untu kuliner balikpapan Nasi Kuning Balikpapan