SIGAP UMKM Kukar: Pembinaan Usaha Kini Disesuaikan dengan Kebutuhan

Ahla Najwa • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 22:12 WIB
Diskop UKM Kukar mengembangkan pendampingan usaha sesuai kebutuhan pelaku UMKM agar lebih terukur. (DOK. RIFQI/KP)
Diskop UKM Kukar mengembangkan pendampingan usaha sesuai kebutuhan pelaku UMKM agar lebih terukur. (DOK. RIFQI/KP)

Durasi Baca: 5 Menit

Ikhtisar: Diskop UKM Kukar menyiapkan SIGAP UMKM agar pendampingan usaha lebih terukur, sesuai kebutuhan, dan mendorong pelaku usaha naik kelas.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Dinas Koperasi dan UKM Kutai Kartanegara mengembangkan SIGAP UMKM untuk menyesuaikan pembinaan dengan kondisi setiap pelaku usaha di Kukar agar lebih tepat sasaran.

Bagi pelaku usaha mikro, persoalan yang dihadapi tidak selalu sama. Ada yang masih mengurus legalitas, sementara lainnya sudah berjualan tetapi kesulitan mengelola keuangan atau memperluas pasar. Dari sini, pola pembinaan mulai diarahkan lebih spesifik, Ces!

Mengapa Diskop UKM Kukar mengubah pola pembinaan UMKM?

Selama ini, pelatihan sering menjadi salah satu bentuk utama pembinaan UMKM. Namun, pelatihan yang sama belum tentu menjawab kebutuhan seluruh pelaku usaha.

Diskop UKM Kukar kemudian mengembangkan SIGAP UMKM, singkatan dari Sistem Inkubasi dan Penguatan Tata Kelola UMKM. Inovasi ini digagas Kepala Bidang Pemberdayaan Usaha Mikro Diskop UKM Kukar, Santi Effendi.

Model tersebut menempatkan kondisi masing-masing usaha sebagai titik awal pembinaan. Pelaku usaha terlebih dahulu didata dan diverifikasi, kemudian menjalani asesmen untuk mengetahui kebutuhan serta tingkat kesiapan usahanya.

Pendekatan ini menjadi penting karena data UMKM di Kukar sendiri masih terus diperbarui. Pada Februari 2026, Diskop UKM Kukar menyebut lebih dari 40 ribu pelaku UMKM tercatat dalam data, tetapi tidak semuanya dipastikan masih aktif menjalankan usaha.

Artinya, pembinaan tidak cukup hanya mengetahui jumlah UMKM. Pemerintah juga perlu memahami siapa yang aktif, bagaimana kondisi usahanya, dan dukungan seperti apa yang benar-benar dibutuhkan.

Apa yang dilakukan melalui SIGAP UMKM?

SIGAP UMKM menggunakan hasil asesmen sebagai dasar untuk menentukan bentuk pendampingan.

Pelaku usaha yang membutuhkan legalitas dapat diarahkan pada pengurusan dokumen usaha. Sementara pelaku lainnya mungkin lebih membutuhkan peningkatan kualitas produk, kemasan, pencatatan keuangan, pemasaran digital, akses pembiayaan, atau jejaring kemitraan.

Santi mengatakan kebutuhan tersebut memang berbeda antara satu pelaku usaha dengan lainnya.

“Dari hasil asesmen tersebut, pendampingan diarahkan pada kebutuhan yang benar-benar menjadi prioritas sehingga pembinaan lebih tepat sasaran dan hasilnya dapat dipantau,” ujar Santi Effendi, Senin (14/9/2026).

Dengan pola ini, pembinaan tidak lagi hanya berorientasi pada berapa banyak kegiatan yang digelar. Perubahan kondisi usaha setelah pendampingan menjadi bagian penting yang ikut diperhatikan.

Baca Juga: Karhutla Kukar Capai 1.704 Hektare, Helikopter Water Bombing Sasar 5 Kecamatan

Mengapa asesmen menjadi bagian penting?

Asesmen membantu Diskop UKM Kukar menentukan posisi masing-masing pelaku usaha sebelum pendampingan diberikan.

Sederhananya, pelaku usaha yang baru membangun fondasi bisnis tidak bisa langsung diberi target yang sama dengan usaha yang sudah memiliki legalitas, pencatatan keuangan, pasar, dan kapasitas produksi yang lebih mapan.

Karena itu, hasil asesmen digunakan untuk melakukan segmentasi, menyusun rencana pengembangan, memberikan pendampingan, kemudian memantau perkembangan usaha.

Model tersebut juga memungkinkan pemerintah melihat perubahan secara lebih konkret. Indikatornya mencakup kelengkapan legalitas, tata kelola usaha, pencatatan keuangan, kualitas produk dan kemasan, pemasaran digital, kapasitas produksi, peluang pembiayaan, hingga kemitraan.

Ukuran seperti ini membuat perkembangan UMKM tidak hanya dilihat dari keikutsertaan dalam kegiatan pelatihan.

Bagaimana keberhasilan pembinaan UMKM akan diukur?

Diskop UKM Kukar menempatkan monitoring dan evaluasi sebagai bagian dari SIGAP UMKM.

Santi menegaskan, uji coba diperlukan sebelum model tersebut diterapkan lebih luas. Hasil pemantauan akan digunakan untuk melihat apakah pola pendampingan sudah sesuai dengan kondisi pelaku usaha sekaligus memperbaiki model yang masih perlu disempurnakan.

“Tidak harus langsung besar, tetapi ada kemajuan yang jelas dari kondisi awal menuju kondisi usaha yang lebih baik,” katanya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa ukuran keberhasilan tidak semata-mata berupa pertumbuhan usaha secara cepat. Perubahan bertahap dari kondisi awal juga menjadi indikator.

Kepala Diskop UKM Kukar Muhammad Reza mendukung penerapan SIGAP UMKM sebagai bagian dari penguatan tata kelola pembinaan usaha mikro di daerah.

Pendekatan berbasis perkembangan ini juga sejalan dengan kebutuhan pemerintah daerah untuk memiliki data UMKM yang lebih akurat. Diskop UKM Kukar sebelumnya melakukan verifikasi dan validasi untuk memilah pelaku usaha yang masih aktif dengan usaha yang bersifat musiman atau sudah tidak berjalan.

Apa dampaknya bagi pelaku UMKM di Kukar?

Jika diterapkan secara konsisten, pola ini membuat pendampingan lebih dekat dengan persoalan yang benar-benar dihadapi pelaku usaha.

Pelaku UMKM tidak harus mengikuti seluruh program dengan kebutuhan yang sama. Pendampingan dapat diarahkan pada hambatan paling mendesak, kemudian perkembangan usaha dicatat untuk menentukan langkah berikutnya.

Pendekatan tersebut juga membuka ruang kolaborasi yang lebih spesifik. Pada Agustus 2026, misalnya, Diskop UKM Kukar bekerja sama dengan Fakultas Agama Islam Universitas Kutai Kartanegara dalam pendampingan sertifikasi halal bagi produk UMKM. Kolaborasi seperti ini menunjukkan bahwa kebutuhan UMKM dapat ditangani melalui dukungan pihak yang memiliki kompetensi tertentu.

Bagi pelaku usaha, manfaat akhirnya bukan sekadar mengikuti pelatihan. Yang lebih penting adalah ada perubahan nyata pada cara usaha dikelola, kualitas produk meningkat, pasar bertambah, atau akses pembiayaan dan kemitraan menjadi lebih terbuka.

Semangat yang dibawa Diskop UKM Kukar melalui SIGAP UMKM adalah “UMKM Berdaya, Ekonomi Daerah Jaya.”

Baca Juga: BPKAD Kukar Digeledah Polisi, Ternyata Masih Berkaitan dengan Kasus Disdikbud

Poin Penting:

Insight Redaksi

SIGAP UMKM menarik karena menggeser ukuran pembinaan dari “berapa banyak pelatihan” menjadi “apa yang berubah setelah didampingi”. Di Kukar, pendekatan ini makin relevan ketika data pelaku usaha masih terus diperbarui. UMKM tidak cukup dihitung; kondisinya harus dipahami. Dari sana, program bisa lebih tepat guna dan terasa manfaatnya.

Kalau pendampingannya tepat, pelaku usaha tidak perlu mengikuti semua program. Yang dibutuhkan adalah bantuan yang benar-benar menjawab masalah usaha masing-masing.

Bagikan artikel ini ke pelaku UMKM atau rekan usaha di Kukar yang sedang mencari informasi pembinaan dan pengembangan bisnis.

Mau tahu bagaimana UMKM Kukar bisa naik kelas tanpa sekadar mengejar banyak pelatihan? Ikuti terus informasi ekonomi dan usaha hanya di Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Apa itu SIGAP UMKM?

SIGAP UMKM adalah Sistem Inkubasi dan Penguatan Tata Kelola UMKM yang dikembangkan Diskop UKM Kukar untuk membuat pembinaan usaha lebih terarah dan sesuai kebutuhan.

2. Mengapa pembinaan UMKM perlu disesuaikan?

Karena setiap pelaku usaha memiliki kondisi, tingkat kesiapan, dan persoalan berbeda, mulai dari legalitas hingga pemasaran dan akses pembiayaan.

3. Apa saja yang dinilai dalam SIGAP UMKM?

Perkembangan usaha dapat dilihat dari legalitas, tata kelola, pencatatan keuangan, kualitas produk dan kemasan, pemasaran digital, kapasitas produksi, pembiayaan, serta kemitraan.

4. Apakah SIGAP UMKM hanya berisi pelatihan?

Tidak. Model ini mencakup pendataan, verifikasi, asesmen, segmentasi, rencana pengembangan, pendampingan, monitoring, dan evaluasi.

5. Apa tujuan akhir SIGAP UMKM?

Diskop UKM Kukar ingin membangun sistem pembinaan yang fokus dan berkelanjutan agar pelaku usaha berkembang bertahap menuju UMKM yang lebih mandiri dan siap naik kelas.

Sumber Informasi

Media Kaltim Post, dengan judul “Diskop UKM Kukar Kembangkan SIGAP UMKM, Pembinaan Mesti Sesuai Kebutuhan Usaha”, oleh Muhhammad Rifqi Hidayatullah. Diolah kembali dengan angle, konteks, dan gaya editorial Balikpapantv.id.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
Diskop UKM Kukar ekonomi kukar umkm