Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Iptek Bisnis & UMKM Religi

Pakistan Tidak Akui Israel Sebagai negara dan Menegaskan Menolak Normalisasi Hubungan dengan Israel yang digaungkan Donald Trump

Novaldy Yulsa Polii • Selasa, 2 Juni 2026 | 13:33 WIB
Ilustrasi paspor Pakistan dan dinamika hubungan diplomatik terkait sikap Islamabad terhadap Israel.
Ilustrasi paspor Pakistan dan dinamika hubungan diplomatik terkait sikap Islamabad terhadap Israel.

Durasi Baca: 4 Menit

Topik: Pakistan menegaskan tetap menolak mengakui Israel meski menghadapi tekanan diplomatik baru terkait perluasan Kesepakatan Abraham yang didorong Amerika Serikat.

Ikhtisar: Pakistan kembali menegaskan posisinya untuk tidak mengakui Israel. Sikap ini berakar pada kebijakan luar negeri sejak 1947 dan kembali menjadi sorotan setelah Presiden AS Donald Trump mendorong perluasan Kesepakatan Abraham di Timur Tengah.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Pakistan kembali menjadi sorotan setelah secara tegas menolak dorongan normalisasi hubungan dengan Israel yang belakangan kembali digaungkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Sikap Islamabad ini menunjukkan bahwa kebijakan yang telah dijaga selama puluhan tahun masih tetap dipertahankan hingga sekarang.

Penasaran kenapa posisi Pakistan begitu kuat dan sulit berubah? Simak terus sampai habis. Ada banyak faktor politik, sejarah, hingga dinamika dalam negeri yang membuat isu ini terus menarik perhatian publik internasional, Ces!

Mengapa paspor Pakistan sejak lama mengecualikan Israel?

Karena Pakistan memang belum mengakui Israel sebagai negara. Selama beberapa dekade, paspor Pakistan memuat keterangan bahwa dokumen tersebut berlaku untuk seluruh negara di dunia kecuali Israel.

Kebijakan itu bukan sekadar simbol administratif. Posisi tersebut mencerminkan arah politik luar negeri Pakistan yang sejak awal berdiri pada 1947 memilih mendukung perjuangan Palestina.

Pandangan itu kemudian berkembang menjadi bagian dari identitas diplomasi Pakistan yang dipertahankan oleh berbagai pemerintahan, baik sipil maupun militer.

Apa kaitan tekanan Donald Trump dengan posisi Pakistan?

Perdebatan terbaru muncul setelah Donald Trump menghubungkan upaya perdamaian kawasan dengan perluasan Kesepakatan Abraham. Dalam unggahannya, Trump mendorong sejumlah negara mayoritas Muslim, termasuk Pakistan, untuk ikut dalam normalisasi hubungan dengan Israel.

Trump juga menyebut Arab Saudi, Qatar, dan negara lain sebagai bagian dari langkah yang menurutnya dapat memperkuat penyelesaian regional.

Namun respons Islamabad berlangsung cepat. Pemerintah Pakistan menyatakan belum ada langkah ke arah tersebut dan tidak melihat alasan untuk mengubah kebijakan yang sudah lama berlaku.

Baca Juga: Pengakuan Tahanan Palestina Dikurung Mirip Peti Mati Picu Sorotan Dunia.

Mengapa pemerintah Pakistan langsung menolak gagasan itu?

Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Muhammad Asif menegaskan bahwa negaranya tidak dapat menjadi bagian dari pengaturan yang bertentangan dengan ideologi fundamental Pakistan.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa isu Israel bukan hanya persoalan hubungan diplomatik biasa. Ada dimensi politik, sejarah, dan identitas nasional yang sangat kuat di baliknya.

Sampai saat ini, posisi resmi Islamabad tetap sama. Pengakuan terhadap Israel dikaitkan dengan terbentuknya negara Palestina yang merdeka dan berdaulat.

Apa syarat Pakistan untuk mengakui Israel?

Pemerintah Pakistan secara konsisten menyatakan bahwa pembentukan negara Palestina menjadi syarat utama. Posisi ini merujuk pada perbatasan sebelum tahun 1967 dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota Palestina.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan, Tahir Andrabi, kembali menegaskan pandangan tersebut ketika menjawab pertanyaan terkait Kesepakatan Abraham.

“Kami melihat masalah ini melalui prisma negara Palestina yang merdeka dan berdaulat,” tegas Andrabi.

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa Islamabad masih menempatkan isu Palestina sebagai landasan utama dalam menentukan kebijakan terhadap Israel.

Mengapa normalisasi hubungan dinilai sulit terjadi di Pakistan?

Menurut Muhammad Israr Madani, Kepala International Research Council for Religious Affairs di Islamabad, Pakistan memiliki lingkungan politik yang sangat kompetitif dan kompleks.

Opini publik, partai-partai Islam, kelompok masyarakat sipil, media, hingga parlemen memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan kebijakan luar negeri.

Karena itu, ruang gerak pemerintah dalam mengambil keputusan terkait Israel dinilai jauh lebih terbatas dibanding beberapa negara Arab yang telah bergabung dalam Kesepakatan Abraham.

Beberapa faktor yang membuat posisi Pakistan tetap kuat:

  1. Dukungan historis terhadap Palestina sejak 1947.
  2. Sentimen keagamaan yang masih dominan.
  3. Pengaruh opini publik dan media domestik.
  4. Konsensus politik yang relatif konsisten lintas pemerintahan.

Baca Juga: Kontrol Israel di Gaza Meluas, Lebanon Selatan Kembali Memanas.

Apakah perdebatan soal pengakuan Israel akan terus berlanjut?

Diskusi mengenai kemungkinan Pakistan mengakui Israel sebenarnya muncul secara berkala. Namun hingga kini, perdebatan tersebut belum berkembang menjadi agenda politik utama.

Tekanan internasional mungkin akan terus muncul. Meski begitu, pernyataan pemerintah dan para pejabat terkait menunjukkan bahwa posisi Islamabad masih berada pada jalur yang sama.

Pertanyaan yang kini berkembang bukan lagi apakah tekanan akan datang, melainkan seberapa lama Pakistan mampu mempertahankan konsensus yang telah terbentuk selama puluhan tahun.

Poin Penting:

Insight Redaksi: Dari sudut pandang Balikpapan, isu ini menunjukkan bahwa kebijakan luar negeri tidak selalu ditentukan oleh tekanan global atau kepentingan ekonomi semata. Pakistan memperlihatkan bagaimana sejarah, identitas nasional, dan opini publik dapat menjadi faktor yang sama kuatnya. Di tengah perubahan geopolitik yang cepat, keputusan mempertahankan posisi lama tentu memiliki konsekuensi tersendiri. Namun hingga saat ini, arah kebijakan Islamabad terlihat masih konsisten. Menarik dikawal terus perkembangannya, Ces.

Bagikan jua artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang memahami dinamika politik internasional yang sedang berkembang dan dampaknya terhadap hubungan antarnegara.

Masih banyak perkembangan geopolitik dunia yang patut dikawal bersama. Jangan sampai ketinggalan informasi penting, selalu Update info hanya di Balikpapan Tv teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Mengapa Pakistan tidak mengakui Israel?
Karena Pakistan mengaitkan pengakuan Israel dengan terbentuknya negara Palestina yang merdeka.

2. Apa itu Kesepakatan Abraham?
Kesepakatan normalisasi hubungan antara Israel dan beberapa negara mayoritas Muslim yang dimediasi Amerika Serikat.

3. Siapa yang mendorong Pakistan bergabung dalam Kesepakatan Abraham?
Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

4. Apa syarat utama Pakistan untuk mengakui Israel?
Pembentukan negara Palestina berdasarkan perbatasan sebelum tahun 1967 dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota.

5. Apakah Pakistan berencana mengubah kebijakannya saat ini?
Menurut pernyataan resmi pemerintah, belum ada langkah ke arah tersebut.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates

 

Editor : Arya Kusuma
#Kesepakatan Abraham #israel #Pakistan