Mahasiswa Farmasi UMKT mengembangkan inovasi herbal dan skincare berbahan lokal untuk kebutuhan perawatan.
Ikhtisar: Mahasiswa Farmasi UMKT mengembangkan facial wash jahe Balikpapan, deodoran daun sirih, serta sejumlah produk perawatan berbasis herbal.
Balikpapan TV - Hai Ces! Mahasiswa Farmasi Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT) mengembangkan sejumlah produk herbal dan skincare berbahan tanaman lokal. Inovasi tersebut diperkenalkan dalam Lomba Inovasi BAIMBAI 2026 di Bapperida Samarinda dan salah satunya meraih juara tiga.
Pengembangan produk ini menarik karena mahasiswa mulai membawa bahan lokal menuju inovasi farmasi. Simak bagaimana produk tersebut dikembangkan dan rencana lanjutannya, Ces!
Baca Juga: KKN Tematik Berdampak di IKN Jadi Awal Kolaborasi Kampus Bangun Forest City Berkelanjutan
Apa saja produk herbal yang dikembangkan mahasiswa UMKT?
Kebutuhan terhadap produk perawatan berbahan herbal terus membuka ruang bagi mahasiswa farmasi untuk mengembangkan inovasi dari sumber daya yang tersedia di sekitar.
Mahasiswa Farmasi UMKT memanfaatkan peluang tersebut melalui sejumlah produk yang dikembangkan secara bertahap. Salah satunya adalah facial wash berbahan jahe Balikpapan.
Tim yang terdiri atas Juniati, Rahmawati, dan Javier membawa produk tersebut dalam Lomba Inovasi BAIMBAI Tahun 2026 yang diselenggarakan Pemerintah Kota Samarinda melalui Bapperida.
Dalam laman resminya, Bapperida menyebut BAIMBAI 2026 sebagai ajang yang membuka kesempatan bagi mahasiswa, dosen, masyarakat, ASN, dan perangkat daerah untuk mengembangkan inovasi.
Keikutsertaan tersebut kemudian menghasilkan pencapaian bagi tim mahasiswa UMKT. Facial wash berbahan jahe Balikpapan berhasil memperoleh juara tiga dalam kompetisi tersebut.
Mengapa jahe Balikpapan dipilih sebagai bahan facial wash?
Pemanfaatan bahan lokal menjadi salah satu sisi menarik dari inovasi yang dikembangkan mahasiswa Farmasi UMKT. Jahe Balikpapan tidak hanya diposisikan sebagai tanaman yang dikenal masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari pengembangan produk perawatan.
Menurut informasi dari sumber utama, pengembangan facial wash tersebut dilakukan sebagai bagian dari inovasi farmasi dan kosmetik yang dikerjakan mahasiswa.
Program Studi S1 Farmasi UMKT sendiri memiliki visi pengembangan ilmu kefarmasian yang berbasis sumber daya alam tropis. Arah tersebut membuat pemanfaatan bahan alam menjadi salah satu konteks yang relevan dengan bidang keilmuan mereka.
Namun, capaian dalam lomba bukan menjadi akhir pengembangan produk. Tim masih melihat peluang untuk mengembangkan formulasi lain yang dapat menjangkau kebutuhan perawatan sehari-hari.
Bagaimana mahasiswa mengembangkan deodoran daun sirih dan lemon?
Selain facial wash, mahasiswa UMKT juga menyiapkan produk deodoran antiperspirant yang menggunakan ekstrak daun sirih dan lemon.
Juniati menjelaskan bahwa daun sirih dipilih karena memiliki potensi sebagai bahan antibakteri dalam produk tersebut.
"Kami juga punya deodoran antiperspirant dari ekstrak daun sirih dan lemon. Daun sirihnya digunakan untuk antibakteri," kata Juniati.
Pemanfaatan daun sirih sebagai bahan dalam produk perawatan tubuh juga memiliki dasar penelitian. Sejumlah penelitian farmasi telah menguji ekstrak daun sirih dalam formulasi deodoran dan menemukan aktivitas antibakteri pada sediaan yang diuji.
Konteks tersebut menunjukkan bahwa tanaman yang mudah ditemukan di Indonesia dapat menjadi objek pengembangan produk farmasi ketika diproses melalui formulasi dan pengujian yang sesuai.
Baca Juga: Peredaran Sabu di Penajam Terbongkar, Polisi Amankan Dua Tersangka dan Barang Bukti
Sejauh mana produk mahasiswa UMKT sudah diuji?
Pengembangan produk tersebut dilakukan sebelum tim mengikuti BAIMBAI 2026. Kompetisi kemudian dimanfaatkan sebagai ruang untuk memperkenalkan hasil yang sudah mereka kerjakan.
Juniati mengatakan sejumlah produk telah melalui tahap uji coba dengan melibatkan mahasiswa UMKT. Salah satu produk yang telah diuji adalah deodoran.
Pengujian terhadap produk deodoran berlangsung sekitar tiga bulan. Setelah tahapan tersebut, produk kini memasuki proses perizinan sebelum dapat diedarkan.
"Kami memang sudah ada dorongan dari kami sendiri untuk membuat produk ini. Kebetulan ada lomba inovasi, jadi kami sekalian memperkenalkan produk yang sudah kami buat," ujar Juniati pada Kamis, 6 Agustus 2026.
Tahapan uji coba dan perizinan menjadi bagian penting sebelum sebuah produk perawatan dapat dipasarkan secara luas. Karena itu, pencapaian di kompetisi sekaligus menjadi titik untuk melanjutkan pengembangan secara lebih terarah.
Ke mana arah pengembangan produk herbal UMKT berikutnya?
Setelah mengembangkan facial wash dan deodoran, mahasiswa UMKT masih menyiapkan sejumlah gagasan produk baru.
Juniati menyebut tim mempertimbangkan pengembangan produk krim sebagai bagian dari pengembangan skincare. Mereka juga memiliki rencana mengembangkan produk berbentuk spray menjadi varian lain, termasuk parfum.
Rencana tersebut memperlihatkan bahwa inovasi mahasiswa tidak berhenti pada satu produk lomba. Pengembangan dilakukan dengan melihat kemungkinan penggunaan bahan herbal dalam berbagai bentuk sediaan.
Bagi pembaca, proses ini juga menunjukkan bahwa inovasi farmasi di lingkungan kampus dapat bergerak dari tahap ide, pengujian, kompetisi, hingga persiapan perizinan. Prosesnya memang bertahap, tetapi arahnya jelas.
Poin Penting
- Mahasiswa Farmasi UMKT mengembangkan facial wash berbahan jahe Balikpapan.
- Produk tersebut meraih juara tiga dalam Lomba Inovasi BAIMBAI 2026.
- Tim juga mengembangkan deodoran antiperspirant berbahan ekstrak daun sirih dan lemon.
- Produk deodoran telah melalui uji coba sekitar tiga bulan.
- Produk tersebut kini memasuki tahapan perizinan sebelum diedarkan.
- Pengembangan berikutnya mencakup produk krim dan kemungkinan parfum.
Insight Redaksi
Pengembangan produk mahasiswa UMKT menunjukkan bahwa bahan lokal punya ruang masuk ke inovasi farmasi ketika didukung pengujian dan proses yang jelas. Bukan sekadar ikut lomba, tetapi mulai membangun produk yang berpotensi berlanjut. Dari kampus, gagasan seperti ini patut terus dikawal sampai siap edar, Ces. Kawalan ikam tentu bisa ikut mengenalkan inovasi lokal yang punya proses nyata dan arah pengembangan.
Kalau inovasinya sudah diuji dan masuk tahap perizinan, sayang kalau berhenti sebagai proyek kampus saja.
Bagikan artikel ini ke kawalan ikam supaya makin banyak yang tahu inovasi mahasiswa UMKT.
Terus ikuti perkembangan inovasi anak muda dan kabar terbaru Kalimantan Timur, selalu update info hanya di Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!
FAQ
1. Apa produk yang dikembangkan mahasiswa Farmasi UMKT?
Produk yang dikembangkan antara lain facial wash berbahan jahe Balikpapan dan deodoran antiperspirant dari ekstrak daun sirih serta lemon.
2. Apa prestasi facial wash jahe Balikpapan?
Produk tersebut meraih juara tiga dalam Lomba Inovasi BAIMBAI Tahun 2026.
3. Mengapa daun sirih digunakan dalam produk deodoran?
Menurut Juniati, ekstrak daun sirih digunakan karena memiliki potensi sebagai bahan antibakteri.
4. Apakah produk deodoran sudah diuji?
Ya. Berdasarkan keterangan Juniati, produk tersebut telah diuji selama sekitar tiga bulan dengan melibatkan mahasiswa UMKT.
5. Apa rencana pengembangan berikutnya?
Tim mahasiswa berencana mengembangkan produk krim serta mengeksplorasi pengembangan produk spray menjadi produk lain seperti parfum.
Sumber Informasi
Informasi utama bersumber dari RRI Radio Republik Indonesia (Kalimantan), mengenai pengembangan produk herbal dan skincare mahasiswa Farmasi UMKT. Artikel disusun ulang secara orisinal dengan angle dan gaya jurnalistik Balikpapantv.id. Konteks BAIMBAI 2026 diverifikasi melalui informasi resmi Bapperida Kota Samarinda.