Tarakan Masih Kering, Kabut Asap Hambat Pertumbuhan Awan Hujan

Riafandi • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 20:34 WIB
Kabut asap menghambat pembentukan awan hujan di Tarakan, sementara peluang hujan terbuka di sejumlah wilayah Kaltara. 
(AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN)
Kabut asap menghambat pembentukan awan hujan di Tarakan, sementara peluang hujan terbuka di sejumlah wilayah Kaltara. (AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN)

Durasi Baca: 5 Menit

Ikhtisar: Tarakan masih minim hujan karena pertumbuhan awan terhambat kabut asap, sementara peluang hujan mulai terbuka di wilayah Kaltara.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Harapan hujan untuk mengurangi kabut asap di Tarakan masih belum menunjukkan tanda kuat. Di tengah kondisi kering, pertumbuhan awan di wilayah ini juga belum optimal karena adanya asap yang menyelimuti kawasan sekitar laut.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG Tarakan menyebut peluang hujan dalam waktu dekat lebih terbuka di sejumlah wilayah Kalimantan Utara seperti Malinau, Bulungan, dan Nunukan. Sementara Tarakan masih perlu menunggu perkembangan atmosfer beberapa hari ke depan.

Tarakan belum mendapat peluang hujan yang kuat

Kepala BMKG Tarakan Muhammad Sulam Khilmi mengatakan peluang hujan pada 7 September 2026 lebih terkonsentrasi di Malinau, Bulungan, dan Nunukan.

Untuk Tarakan, kondisi atmosfer masih belum cukup mendukung terbentuknya awan hujan.

“Secara umum Kalimantan Utara untuk tanggal 7 memang ada beberapa peluang hujan, tapi tidak di Tarakan. Konsentrasinya di Malinau, Bulungan, dan Nunukan.”

BMKG memperkirakan peluang hujan di beberapa wilayah Kaltara meningkat pada 8 hingga 11 September, dengan potensi hujan sedang hingga lebat terutama di Malinau, Bulungan, dan Nunukan.

Sementara Tarakan masih dipantau dari hari ke hari. BMKG berharap peluang hujan mulai muncul dalam pembaruan prakiraan untuk beberapa hari berikutnya.

Baca Juga: Kabut Asap Ganggu Aktivitas Sekolah, Kemenag Tarakan Terapkan BDR untuk Madrasah dan Ponpes

Bibit awan sebenarnya mulai terbentuk

Meski hujan belum banyak turun, kondisi atmosfer Tarakan bukan berarti sepenuhnya tanpa pembentukan awan.

BMKG menyebut bibit awan sebenarnya mulai muncul. Persoalannya, volumenya belum cukup untuk mencapai kondisi jenuh yang memungkinkan awan berkembang menjadi awan hujan.

Kabut asap menjadi salah satu faktor yang menghambat proses tersebut. Asap yang berada di sekitar permukaan laut dapat mengganggu proses pembentukan awan yang berasal dari uap air laut.

“Kalau secara normal tidak ada asap, proses pertumbuhan awan ini lebih lancar dibanding ketika ada asap yang menyelimuti permukaan laut.”

Artinya, keberadaan asap bukan hanya persoalan jarak pandang atau kualitas udara. Dalam kondisi tertentu, asap juga dapat menjadi salah satu faktor yang membuat pertumbuhan awan hujan tidak optimal.

Minim hujan dan asap membentuk siklus

Kondisi Tarakan menjadi semakin kompleks karena minimnya hujan dapat berkaitan dengan meningkatnya potensi titik panas atau hotspot.

Saat hujan berkurang, kondisi lahan menjadi lebih kering dan risiko munculnya hotspot dapat meningkat. Ketika hotspot bertambah, asap juga berpotensi muncul dan menyebar.

Di sisi lain, keberadaan asap kembali menghambat pertumbuhan awan. Akibatnya, peluang hujan menjadi semakin kecil.

BMKG menggambarkan kondisi tersebut sebagai sebuah siklus yang untuk sementara sulit diputus.

“Karena tidak ada hujan, muncullah hotspot. Karena hotspot kemudian banyak asap, asap juga mempengaruhi pertumbuhan awan. Jadi menjadi sebuah siklus yang sulit diputus sementara ini.”

Asap Tarakan tidak seluruhnya berasal dari wilayah setempat

Kabut asap yang menyelimuti Tarakan juga tidak seluruhnya disebut berasal dari wilayah kota tersebut.

Menurut BMKG Tarakan, sebagian asap merupakan limpahan dari wilayah Kalimantan lainnya, termasuk Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan.

Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan asap di Tarakan dapat dipengaruhi dinamika yang terjadi di wilayah lebih luas.

Karena itu, datangnya hujan menjadi salah satu faktor penting untuk membantu mengurangi kondisi kering dan keberadaan asap, meski waktunya tetap bergantung pada perkembangan atmosfer.

Kapan Tarakan berpeluang hujan?

Untuk Tarakan, BMKG masih melakukan pembaruan prakiraan secara berkala.

Sulam menyebut peluang hujan di Tarakan diharapkan mulai muncul dalam prakiraan empat hingga lima hari berikutnya. Namun, hal tersebut masih berupa peluang dan bukan kepastian bahwa hujan akan turun pada waktu tertentu.

Sementara secara lebih luas, BMKG memperkirakan wilayah Kalimantan Utara mulai memasuki periode musim hujan pada akhir September atau awal Oktober.

Perubahan musim tersebut diharapkan dapat membantu memutus kondisi kering yang saat ini berlangsung.

Baca Juga: Udara Tarakan Masih Kategori Sedang, Sekolah Tetap Tatap Muka dengan Pembatasan

El Nino tidak otomatis berarti kemarau terus berlangsung

BMKG juga mengingatkan masyarakat agar tidak langsung menganggap kondisi musim hujan nantinya sebagai tanda bahwa pengaruh El Nino telah berakhir sepenuhnya.

El Nino dan musim kemarau merupakan dua fenomena yang berbeda.

Menurut BMKG, pengaruh El Nino lebih signifikan ketika terjadi bersamaan dengan musim kemarau. Ketika periode kemarau berakhir dan memasuki musim hujan, dampak El Nino bisa menjadi tidak terlalu signifikan.

Dengan begitu, masyarakat perlu membedakan antara fenomena iklim dan pergantian musim ketika membaca perkembangan cuaca di Kaltara.

Tarakan masih menunggu hujan

Untuk saat ini, kondisi Tarakan masih berada dalam situasi yang serba berkaitan: hujan yang minim membuat kondisi kering bertahan, sementara asap dapat menghambat pertumbuhan awan yang berpotensi menghasilkan hujan.

BMKG masih memantau perkembangan tersebut dari hari ke hari. Wilayah lain di Kaltara sudah memiliki peluang hujan lebih besar, tetapi Tarakan masih menunggu kondisi atmosfer yang lebih mendukung.

Poin Penting

Insight Redaksi

Kondisi Tarakan menunjukkan bahwa kemarau dan kabut asap dapat saling memperkuat dampaknya terhadap cuaca. Ketika hujan minim, hotspot berpotensi bertambah dan asap ikut menghambat pertumbuhan awan. Siklus ini harus diputus. Karena itu, informasi cuaca perlu diikuti bersama perkembangan kualitas udara agar warga tidak hanya menunggu hujan, tetapi memahami risikonya.

Kalau cuaca masih kering dan asap bertahan, ikam jangan hanya menunggu hujan turun; pantau terus informasi resmi soal kondisi udara dan cuaca.

Hujan di Tarakan masih ditunggu, sementara asap menghambat pertumbuhan awan. Ikuti info terbaru hanya di Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Kenapa Tarakan masih minim hujan?

Menurut BMKG Tarakan, kondisi atmosfer di Tarakan masih belum mendukung pertumbuhan awan hujan secara optimal. Kabut asap menjadi salah satu faktor yang menghambat proses tersebut.

2. Apakah awan hujan sudah mulai terbentuk?

Ya. BMKG menyebut bibit awan di wilayah Tarakan mulai terbentuk, tetapi volumenya belum cukup untuk berkembang menjadi awan hujan.

3. Wilayah Kaltara mana yang berpeluang hujan lebih besar?

Malinau, Bulungan, dan Nunukan memiliki peluang hujan lebih besar dibanding Tarakan dalam prakiraan yang disampaikan BMKG pada 7 September 2026.

4. pakah asap di Tarakan seluruhnya berasal dari Tarakan?

Tidak. BMKG menyebut sebagian asap merupakan limpahan dari wilayah Kalimantan lainnya, termasuk Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan.

5. Kapan musim hujan diperkirakan mulai di Kaltara?

BMKG memperkirakan Kaltara mulai memasuki periode musim hujan pada akhir September atau awal Oktober.

6. Apakah El Nino sama dengan musim kemarau?

Tidak. BMKG menjelaskan El Nino dan musim kemarau merupakan dua fenomena berbeda. Dampak El Nino lebih signifikan ketika terjadi pada periode musim kemarau.

Sumber Informasi: Artikel ini sudah tayang sebelumnya di Media "Tarakan Masih Minim Hujan, Asap Hambat Pertumbuhan Awan",oleh penulis Zakaria RT. Di-update kembali dengan angle dan style balikpapantv.id.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates

 

Editor : Arya Kusuma
Sumber : Radar Tarakan
arakan bmkg kalimantan utara cuaca kaltara