Dari Bibit Pohon hingga Sensor Longsor, Begini Program LONTARA UNHAS di Gowa

Arya Kusuma • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 17:21 WIB
Foto bersama visitasi oleh Universitas Hasanuddin dengan tim lontara, perangkat Desa Lonjoboko, dan Ormawa SPACE
Foto bersama visitasi oleh Universitas Hasanuddin dengan tim lontara, perangkat Desa Lonjoboko, dan Ormawa SPACE

Durasi Baca: 4 menit

Ikhtisar: Visitasi UNHAS meninjau program LONTARA di Lonjoboko, dari konservasi, jalur evakuasi, hingga teknologi peringatan longsor desa.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Tim LONTARA PPK ORMAWA SPACE FT-UH menjalani visitasi Universitas Hasanuddin di Desa Lonjoboko, Gowa, Minggu (23/8/2026), untuk mengevaluasi program mitigasi longsor dan konservasi yang berjalan selama tiga bulan.

Yang menarik, kunjungan ini bukan sekadar mengecek kegiatan mahasiswa. Ada lahan konservasi, jalur evakuasi, titik kumpul, hingga sistem peringatan dini longsor yang diuji bersama warga.

Visitasi UNHAS Menilai Perkembangan Program LONTARA

Visitasi tersebut melibatkan dosen Universitas Hasanuddin, dosen pendamping, Ormawa SPACE FT-UH, perangkat desa, pemuda, serta masyarakat.

Program LONTARA memang dirancang untuk memperkuat kapasitas masyarakat menghadapi risiko longsor melalui edukasi, teknologi, dan konservasi lingkungan.

Dalam agenda tersebut, dosen UNHAS Husnul Mubarak, S.TP., M.Si., menjelaskan tujuan utama visitasi kepada tim pelaksana.

“Tim Universitas datang untuk memastikan program yang direncanakan tim pelaksana selama 3 bulan ini sudah sesuai atau belum, melihat situasi Desa Lonjoboko, dan bagaimana tindak lanjut dari program PPK ORMAWA,” jelasnya

Baca Juga: Target Sanitasi 2030 Samarinda Dipercepat, L2T2 hingga Septik Diawasi

Tiga Agenda Utama Digelar di Desa Lonjoboko

Agenda pertama berlangsung di lahan konservasi dengan penyerahan bibit pohon kepada Desa Lonjoboko sebagai bagian dari penguatan lingkungan.

Kegiatan konservasi sebelumnya juga mencakup penanaman bibit pohon melalui program “Appalamung” di lahan warga seluas sekitar 450 meter persegi.

Langkah tersebut memperlihatkan bahwa mitigasi longsor dalam program LONTARA ditempatkan bersama pendekatan konservasi lingkungan, bukan teknologi semata.

Jalur Evakuasi hingga Sistem Peringatan Dini Longsor

Tim kemudian menyusuri desa untuk melihat pemasangan plang jalur evakuasi bencana dan titik kumpul yang tersebar sepanjang jalan.

Peninjauan ini penting karena jalur evakuasi menjadi bagian praktis dari kesiapsiagaan masyarakat ketika kondisi darurat membutuhkan pergerakan cepat.

Agenda berlanjut di aula kantor desa untuk membahas alat Landslide Early Warning System dan peta rawan bencana yang dikembangkan Tim LONTARA.

Dosen pendamping Tim LONTARA, Ir. Dewa Sagita Alfadin Nur, S.T., M.T., juga menekankan pentingnya keberlanjutan dukungan masyarakat dan mitra.

“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kehadiran bapak, ibu, dan pemuda Desa Lonjoboko pada kegiatan tim LONTARA hari ini. Kami sangat berharap agar kedepan tetap mendapat dukungan baik dari masyarakat dan mitra sekalian, demi memperkuat sinergi kerjasama serta keberlangsungan program,” ujarnya

Peninjauan alat peringatan dini longsor dan peta rawan bencana Tim LONTARA di Lonjoboko.
Peninjauan alat peringatan dini longsor dan peta rawan bencana Tim LONTARA di Lonjoboko.

Mengapa Program Seperti LONTARA Menjadi Relevan untuk Kaltim?

Pengalaman Lonjoboko juga memiliki konteks bagi Kalimantan Timur karena BPBD Kaltim mencatat 24 kejadian tanah longsor pada 2026.

Data BPBD Kaltim mencatat 584 kejadian bencana sepanjang 2026, dengan longsor termasuk salah satu jenis bencana yang terlaporkan.

Di Bontang, BPBD juga mencatat longsor akibat hujan deras pada Maret 2026 yang berdampak terhadap dua rumah dan 13 jiwa.

Karena itu, pendekatan berbasis masyarakat, pemetaan risiko, jalur evakuasi, konservasi, dan peringatan dini relevan menjadi bahan pembelajaran bagi wilayah Kaltim.

Baca Juga: Pasar Sepinggan Pascakebakaran Ditata, Kios Sementara Mulai Disiapkan Pemkot

Poin Penting

Insight Redaksi

Program LONTARA menarik karena mitigasi ditempatkan sebagai kerja bersama, bukan sekadar urusan alat. Kaltim punya 24 kejadian longsor pada 2026, sehingga pembelajaran berbasis desa patut dilirik. Kada cukup memasang teknologi; warga perlu paham kapan dan bagaimana menggunakannya. Di sinilah kekuatan program semacam ini: teknologi ketemu kebutuhan lapangan.

Keberlanjutan program perlu dijaga melalui simulasi rutin, pemutakhiran peta risiko, serta pelibatan warga sejak perencanaan hingga evaluasi.

Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang paham pentingnya kesiapsiagaan bencana berbasis masyarakat.

Penasaran bagaimana inovasi mahasiswa bisa ikut memperkuat kesiapsiagaan desa? Simak terus informasi terbaru hanya di Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Apa itu Tim LONTARA?

Tim LONTARA merupakan tim PPK ORMAWA Student Planning Society Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin yang menjalankan program mitigasi longsor di Desa Lonjoboko.

2. Apa saja yang ditinjau saat visitasi?

Visitasi meninjau lahan konservasi, jalur evakuasi, titik kumpul, Landslide Early Warning System, serta peta rawan bencana.

3. Mengapa program ini relevan bagi Kalimantan Timur?

BPBD Kaltim mencatat 24 kejadian tanah longsor pada 2026, sehingga pendekatan kesiapsiagaan desa memiliki relevansi regional.

4. Apa tujuan Landslide Early Warning System?

Alat tersebut digunakan sebagai sistem pendeteksi dini tanah longsor yang menjadi bagian dari program mitigasi Tim LONTARA.

Sumber Informasi: Artikel ini mengacu pada informasi kegiatan visitasi Tim LONTARA PPK ORMAWA SPACE FT-UH di Desa Lonjoboko serta informasi resmi Universitas Hasanuddin mengenai program LONTARA. Artikel disusun ulang secara orisinal dengan gaya jurnalistik Balikpapantv.id.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates

 

Editor : Support
Universitas Hasanuddin Tim LONTARA PPK ORMAWA Mitigasi Longsor