Kasus DBD Bontang Capai 139, Anak Usia 5-14 Tahun Paling Banyak Terdampak

Riafandi • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 20:49 WIB
Kasus DBD di Bontang masih perlu diwaspadai. Sepanjang Agustus 2026 tercatat 15 kasus positif yang tersebar di delapan kelurahan, dengan Gunung Telihan menjadi wilayah terbanyak yakni enam kasus. Secara kumulatif, kasus DBD sejak awal tahun mencapai 139 kasus dengan satu kasus meninggal dunia. (FOTO: ADIEL KUNDHARA/KP)
Kasus DBD di Bontang masih perlu diwaspadai. Sepanjang Agustus 2026 tercatat 15 kasus positif yang tersebar di delapan kelurahan. (FOTO: ADIEL KUNDHARA/KP)

Durasi Baca: 5 Menit

Ikhtisar: Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Bontang masih perlu diwaspadai. Gunung Telihan menjadi wilayah dengan kasus terbanyak. Secara kumulatif, kasus DBD di Bontang sejak awal tahun mencapai 139 kasus dengan satu kasus meninggal dunia.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Kasus demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi perhatian di Kota Bontang. Meski jumlah kasus pada Agustus 2026 menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, masyarakat tetap diminta tidak lengah.

Selama Agustus 2026, tercatat 15 kasus positif DBD yang tersebar di delapan kelurahan.

Penanggung Jawab DBD Dinas Kesehatan Bontang, Siti Rahimah, mengatakan kasus paling banyak ditemukan di Kelurahan Gunung Telihan.

“Terbanyak di Kelurahan Gunung Telihan dengan enam kasus,” kata Imah, Selasa (1/9/2026).

Gunung Telihan Catat Kasus Terbanyak

Dari total 15 kasus selama Agustus, Gunung Telihan menjadi kelurahan dengan jumlah kasus paling tinggi, yakni enam kasus.

Selanjutnya, Satimpo dan Tanjung Laut Indah masing-masing mencatat dua kasus.

Sementara di Kelurahan Tanjung Laut ditemukan satu kasus dengue dengan warning sign serta satu kasus positif DBD.

Empat kelurahan lainnya masing-masing mencatat satu kasus. Wilayah tersebut meliputi Api-Api, Belimbing, Berebas Tengah, dan Bontang Baru.

Anak Usia 5-14 Tahun Paling Banyak Terdampak

Jika dilihat berdasarkan kelompok usia, kasus DBD terbanyak pada Agustus ditemukan pada kelompok usia 5-14 tahun.

Tercatat enam kasus berada dalam kelompok usia tersebut. Rinciannya terdiri dari empat pasien perempuan dan dua pasien laki-laki.

Selain itu, terdapat lima kasus pada kelompok usia 1-4 tahun.

Sementara kelompok usia 15-44 tahun mencatat dua kasus dan dua kasus lainnya ditemukan pada masyarakat berusia di atas 44 tahun.

Data tersebut menunjukkan kelompok anak masih menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapat perhatian dalam upaya pencegahan DBD.

Baca Juga: Pengecer Pertalite Makin Terbatas, Antrean SPBU Bontang Belum Longgar

Total Kasus Capai 139

Jika dihitung sejak awal 2026, jumlah kasus DBD di Bontang telah mencapai 139 kasus.

Dari jumlah tersebut, satu kasus dilaporkan berujung pada kematian.

“Total kasus dari awal tahun mencapai 139. Dengan satu kasus berujung kematian,” ucap Siti Rahimah.

Meski angka kasus pada Agustus lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya, kondisi tersebut belum menjadi alasan untuk mengabaikan pencegahan.

Kasus Agustus Menurun dari Tahun Lalu

Pada Agustus 2025, jumlah kasus DBD yang tercatat mencapai 19 kasus.

Sementara Agustus 2026 mencatat 15 kasus. Artinya, terdapat penurunan jumlah kasus dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Namun, Dinas Kesehatan tetap mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan kondisi lingkungan sekitar.

Penurunan kasus tidak berarti ancaman DBD telah hilang.

Genangan Air Jadi Perhatian

Salah satu hal yang perlu diperhatikan masyarakat adalah keberadaan tempat yang dapat menampung air.

Tempat-tempat tersebut berpotensi menjadi lokasi perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti yang menjadi pembawa virus dengue.

Karena itu, masyarakat diminta rutin memeriksa lingkungan rumah maupun sekitarnya.

Tempat penampungan air yang tidak terawat dapat menjadi salah satu titik yang perlu mendapat perhatian dalam pencegahan DBD.

Terapkan Gerakan 3M

Masyarakat diminta melakukan langkah pencegahan melalui gerakan 3M.

Langkah tersebut meliputi menguras tempat penampungan air, menutup tempat penampungan air, serta memanfaatkan atau mendaur ulang barang yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.

Selain itu, warga juga diminta memperhatikan tempat-tempat kecil yang sering luput dari pemeriksaan.

Jangan Lupakan Vas dan Tatakan Dispenser

Tempat perkembangbiakan nyamuk tidak selalu berupa bak atau drum berukuran besar.

Vas bunga dan tatakan dispenser juga perlu diperhatikan karena dapat menampung air.

Drum serta berbagai wadah lain yang berada di sekitar rumah juga perlu diperiksa secara rutin.

Menjaga tempat penampungan air tetap bersih dan tertutup menjadi bagian dari upaya mengurangi potensi perkembangbiakan nyamuk.

Abate Bisa Digunakan

Selain menjaga kebersihan tempat penampungan air, warga juga diminta menaruh bubuk abate di bak mandi.

Langkah tersebut menjadi salah satu upaya yang disebutkan dalam pencegahan perkembangbiakan jentik nyamuk.

Namun, penggunaan abate tetap perlu dibarengi dengan pengelolaan lingkungan yang baik.

Membersihkan dan mengendalikan tempat yang berpotensi menampung air tetap menjadi langkah penting.

Fogging Bukan Satu-satunya Solusi

Pengasapan atau fogging sering dianggap sebagai solusi utama untuk mengatasi DBD.

Namun, dalam laporan tersebut dijelaskan bahwa fogging hanya dapat membunuh nyamuk dewasa.

Sementara itu, jentik nyamuk masih dapat berkembang apabila sumber perkembangbiakannya tidak diberantas.

Karena itu, pengendalian lingkungan tetap menjadi bagian penting dalam pencegahan DBD.

Baca Juga: Cabai Rawit Bontang Tembus Rp95 Ribu, Pasokan dari Samarinda Jadi Andalan Pedagang

Warga Diminta Tidak Lengah

Penurunan kasus pada Agustus dibandingkan tahun sebelumnya merupakan perkembangan positif.

Namun, masyarakat tetap diminta waspada karena kasus masih ditemukan di sejumlah kelurahan.

Keberadaan tempat penampungan air yang tidak terkontrol dapat menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan.

Pencegahan dari lingkungan rumah menjadi langkah yang dapat dilakukan masyarakat secara rutin.

Pencegahan Dimulai dari Rumah

Upaya mencegah DBD tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah.

Masyarakat juga memiliki peran penting dengan memastikan lingkungan rumah tidak menyediakan tempat bagi nyamuk untuk berkembang biak.

Pemeriksaan sederhana terhadap bak mandi, drum, vas bunga, tatakan dispenser dan wadah lainnya dapat dilakukan secara berkala.

Semakin cepat sumber perkembangbiakan ditemukan dan dikendalikan, semakin baik upaya pencegahan yang dilakukan.

Satu Kasus Kematian Jadi Peringatan

Adanya satu kasus DBD yang berujung kematian sejak awal tahun menjadi pengingat bahwa penyakit ini tetap perlu diwaspadai.

Masyarakat tidak seharusnya menunggu kasus meningkat terlebih dahulu untuk melakukan pencegahan.

Langkah menjaga lingkungan dapat dilakukan setiap hari, terutama dengan menghilangkan tempat yang dapat menampung air.

Gunung Telihan Perlu Mendapat Perhatian

Dengan enam kasus selama Agustus, Gunung Telihan menjadi wilayah dengan catatan kasus DBD terbanyak pada periode tersebut.

Satimpo dan Tanjung Laut Indah masing-masing mencatat dua kasus.

Sementara sejumlah kelurahan lainnya mencatat satu kasus.

Sebaran tersebut menunjukkan bahwa kewaspadaan terhadap DBD tetap diperlukan di berbagai wilayah Bontang.

Poin Penting

Insight Redaksi

Kasus DBD di Bontang memang mengalami penurunan pada Agustus dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun, angka 139 kasus sejak awal tahun menunjukkan bahwa kewaspadaan tetap diperlukan.

Yang tidak kalah penting adalah pemahaman masyarakat bahwa fogging bukan satu-satunya cara untuk mengendalikan DBD.

Pemberantasan sumber perkembangbiakan nyamuk justru membutuhkan kebiasaan yang dilakukan secara rutin. Tempat-tempat kecil yang dapat menampung air juga tidak boleh diabaikan.

Dengan menjaga lingkungan dan menerapkan gerakan 3M secara konsisten, masyarakat dapat ikut membantu menekan potensi penyebaran DBD di lingkungan masing-masing.

FAQ

1. Berapa kasus positif DBD di Bontang selama Agustus 2026?

Tercatat 15 kasus positif DBD selama Agustus 2026.

2. Kelurahan mana yang mencatat kasus DBD terbanyak?

Kelurahan Gunung Telihan menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, yaitu enam kasus.

3. Berapa total kasus DBD di Bontang sejak awal tahun?

Total kasus sejak awal 2026 mencapai 139 kasus dengan satu kasus berujung pada kematian.

4. Kelompok usia mana yang paling banyak terkena DBD pada Agustus?

Kelompok usia 5-14 tahun menjadi yang terbanyak dengan enam kasus.

5. Apakah kasus DBD Agustus 2026 meningkat dibandingkan tahun lalu?

Tidak. Agustus 2026 mencatat 15 kasus, sedangkan Agustus tahun sebelumnya tercatat 19 kasus.

Sumber Informasi: Artikel ini sudah tayang sebelumnya di Media "Kaltim Post" Berjudul"Waspada Demam Berdarah! Gunung Telihan Terbanyak Catat Kasus Positif DBD di Bontang",oleh penulis Adhiel kundhara. Di-update kembali dengan angle dan style balikpapantv.id.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates

 

Editor : Redaksi BTV
Sumber : Kaltim Post
aedes aegypti kesehatan bontang dbd demam berdarah