Durasi Baca: 6 Menit
Ikhtisar: Warga Tanjung Laut, Bontang, memprotes aktivitas proyek Polder Tanjung Laut karena kondisi jalan berdebu dan aktivitas kendaraan proyek dinilai mengganggu warga, termasuk anak-anak. Proyek ini merupakan bagian dari upaya pengendalian banjir di kawasan Bontang Selatan.
Balikpapan TV – Hai Ces! Pembangunan Polder Tanjung Laut di Bontang kembali menjadi perhatian. Proyek yang ditujukan untuk membantu mengatasi persoalan banjir tersebut mendapat keluhan dari warga yang tinggal di sekitar lokasi pekerjaan.
Salah satu persoalan yang dirasakan warga adalah kondisi jalan yang berdebu akibat aktivitas proyek. Pergerakan kendaraan dan pekerjaan konstruksi di kawasan permukiman membuat debu mengganggu aktivitas sehari-hari masyarakat.
Keluhan tersebut menjadi lebih serius karena lokasi proyek berada di kawasan yang cukup dekat dengan permukiman. Aktivitas kendaraan proyek yang keluar-masuk membuat warga khawatir terhadap keselamatan, terutama anak-anak yang beraktivitas di sekitar lingkungan mereka.
Proyek Pengendali Banjir
Polder Tanjung Laut merupakan salah satu proyek infrastruktur yang disiapkan Pemkot Bontang untuk memperkuat pengendalian banjir.
Lokasinya berada di kawasan Jalan Selat Karimata, Kelurahan Tanjung Laut. Berdasarkan perencanaan pemerintah, polder tersebut disiapkan untuk menampung limpasan air ketika hujan sehingga tidak langsung mengalir ke kawasan permukiman. Kapasitas tampung yang direncanakan mencapai sekitar 45 ribu meter kubik.
Pembangunan polder juga telah melalui proses pembebasan lahan. Sebanyak 38 bidang lahan sebelumnya telah dibebaskan untuk kebutuhan proyek tersebut.
Pemerintah menargetkan pembangunan fisik Polder Tanjung Laut dapat selesai pada akhir 2026. Proyek tersebut masuk dalam prioritas penanganan banjir Kota Bontang.
Warga Rasakan Dampak Pekerjaan
Di tengah tujuan besar proyek tersebut, warga sekitar tetap membutuhkan kenyamanan selama proses pembangunan berlangsung.
Debu menjadi salah satu gangguan yang paling mudah dirasakan. Kendaraan proyek yang melintas dapat membuat material dari area pekerjaan terbawa ke jalan, terutama ketika kondisi cuaca kering.
Bagi warga yang tinggal berdekatan dengan lokasi pekerjaan, kondisi tersebut bukan sekadar persoalan estetika. Debu yang terus beterbangan dapat membuat lingkungan terasa kurang nyaman dan mengganggu aktivitas masyarakat.
Kekhawatiran juga muncul terhadap anak-anak. Ketika kendaraan proyek beroperasi di sekitar lingkungan permukiman, masyarakat tentu berharap ada pengaturan lalu lintas yang cukup agar anak-anak tetap aman ketika beraktivitas di luar rumah.
Komunikasi dengan Warga Jadi Penting
Sebelum pembangunan berjalan, pemerintah kecamatan telah menekankan pentingnya komunikasi antara kontraktor dan masyarakat.
Camat Bontang Selatan Ahmad Effa Yuliansyah sebelumnya meminta agar RT dan pemuda di sekitar lokasi proyek dilibatkan. Menurutnya, pembangunan yang berlangsung di kawasan padat penduduk berpotensi memengaruhi aktivitas warga, mulai dari lalu lintas kendaraan proyek hingga akses jalan.
Karena itu, komunikasi tidak seharusnya berhenti pada tahap sosialisasi awal. Ketika muncul persoalan baru selama pekerjaan berlangsung, warga juga membutuhkan saluran komunikasi yang jelas untuk menyampaikan keluhan.
Dengan begitu, persoalan di lapangan bisa segera ditindaklanjuti tanpa berkembang menjadi konflik antara masyarakat dan pelaksana proyek.
Baca Juga: Sebaru Fun Run 2026 Balikpapan Ludes 600 Tiket, Rute 5K Siap Digelar Agustus
Jalan Proyek Perlu Dijaga
Salah satu langkah yang dapat dilakukan selama pekerjaan berlangsung adalah memastikan kondisi akses di sekitar proyek tetap terjaga.
Kendaraan proyek perlu memperhatikan kebersihan jalan setelah keluar-masuk lokasi pekerjaan. Material yang terbawa ke jalan juga perlu segera dibersihkan agar tidak mengganggu pengguna jalan.
Pengendalian debu menjadi bagian penting, terutama ketika pekerjaan dilakukan di dekat permukiman.
Langkah tersebut tidak berarti menghentikan pembangunan. Justru, pengelolaan dampak selama konstruksi dapat membuat pekerjaan berjalan lebih lancar sekaligus menjaga hubungan dengan masyarakat sekitar.
Proyek Bernilai Besar, Dampaknya Harus Terukur
Pembangunan Polder Tanjung Laut merupakan proyek strategis untuk penanganan banjir Bontang. Pemerintah sebelumnya mengalokasikan anggaran pembangunan fisik puluhan miliar rupiah, sementara pembebasan lahan juga telah menghabiskan anggaran daerah.
Besarnya nilai proyek membuat masyarakat tentu berharap manfaatnya benar-benar dirasakan setelah pembangunan selesai.
Namun, manfaat jangka panjang tersebut juga perlu diimbangi dengan pengelolaan dampak selama proses konstruksi.
Warga tidak hanya membutuhkan polder yang selesai tepat waktu. Mereka juga membutuhkan proses pembangunan yang aman, tertib, dan tidak menimbulkan gangguan berlebihan terhadap lingkungan sekitar.
Polder Diharapkan Jadi Solusi Banjir
Setelah selesai, Polder Tanjung Laut diharapkan mampu menjadi salah satu solusi untuk mengurangi banjir lokal di kawasan tersebut.
Sistemnya dirancang untuk menampung air terlebih dahulu ketika hujan, kemudian mengalirkannya secara bertahap setelah kondisi memungkinkan. Dengan cara tersebut, tekanan terhadap sistem drainase dan kawasan permukiman diharapkan dapat berkurang.
Karena tujuan akhirnya adalah meningkatkan keamanan dan kenyamanan warga, proses pembangunannya juga perlu memperhatikan kondisi masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi.
Hai Ces! Proyeknya memang untuk mengatasi banjir, tetapi selama pengerjaan berlangsung, warga juga jangan sampai merasa “kebanjiran masalah” baru. Debu, kendaraan proyek, dan keselamatan anak-anak perlu menjadi perhatian agar pembangunan tetap berjalan tanpa mengabaikan kenyamanan warga.
Baca Juga: Wadi, Fermentasi Ikan Tradisional Khas Kalimantan yang Sarat Kearifan Lokal
Poin Penting
- Warga Tanjung Laut memprotes dampak aktivitas proyek Polder Tanjung Laut.
- Debu dari aktivitas pekerjaan menjadi salah satu keluhan.
- Aktivitas kendaraan proyek juga dikhawatirkan mengganggu keselamatan anak-anak.
- Polder dibangun sebagai bagian dari upaya pengendalian banjir Bontang Selatan.
- Pemerintah sebelumnya meminta komunikasi antara kontraktor dan warga tetap dijaga.
Insight Redaksi:Pembangunan infrastruktur tidak hanya dinilai dari hasil akhirnya, tetapi juga dari bagaimana prosesnya berlangsung. Polder memang ditujukan untuk mengurangi persoalan banjir, tetapi dampak konstruksi terhadap warga harus tetap dikendalikan. Pengaturan kendaraan, kebersihan jalan, pengendalian debu, dan komunikasi dengan warga menjadi bagian penting agar proyek berjalan beriringan dengan kepentingan masyarakat.
FAQ
1. Mengapa warga Tanjung Laut memprotes proyek polder?
Warga mengeluhkan dampak aktivitas pekerjaan, termasuk kondisi jalan yang berdebu dan aktivitas kendaraan proyek di sekitar permukiman.
2. Apa tujuan pembangunan Polder Tanjung Laut?
Polder disiapkan sebagai bagian dari sistem pengendalian banjir di kawasan Bontang Selatan.
3. Berapa kapasitas tampungan Polder Tanjung Laut?
pemerintah menyebut kapasitas tampungnya sekitar 45 ribu meter kubik.
4. Di mana lokasi Polder Tanjung Laut?
Proyek berada di kawasan Jalan Selat Karimata, Kelurahan Tanjung Laut, Bontang.
5. Kapan proyek Polder Tanjung Laut ditargetkan selesai?
Pemerintah sebelumnya menargetkan pembangunan selesai pada Desember 2026.
Sumber Informasi: Artikel ini sudah tayang sebelumnya di Media BerauTerkini.co.id, dengan judul "Jalan Berdebu Hingga Ancam Anak! Warga Tanjung Laut Protes Aktivitas Proyek Polder Rp 38,5 Miliar",oleh penulis Adhiel kundhara. Di-update kembali dengan angle dan style balikpapantv.id.
Editor : Arya Kusuma
Sumber : Kaltim Post