Kabut Asap Berau Belum Reda, Dinkes Minta Aktivitas Anak Dibatasi

Riafandi • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 16:31 WIB
Kabut asap Berau berdampak pada kesehatan, dengan ribuan kasus ISPA tercatat hingga awal Agustus. (ADAM/BP)
Kabut asap Berau berdampak pada kesehatan, dengan ribuan kasus ISPA tercatat hingga awal Agustus. (ADAM/BP)

Durasi Baca: 5 Menit

Ikhtisar: Kabut asap masih menyelimuti Berau, Dinkes mengimbau aktivitas luar ruangan anak dibatasi untuk mengurangi paparan dan risiko gangguan pernapasan.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan masih menjadi perhatian di Kabupaten Berau. Kondisi udara yang terdampak asap membuat sektor kesehatan meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap kelompok yang lebih rentan seperti anak-anak dan lansia.

Dinas Kesehatan Berau pun mengimbau masyarakat mengurangi paparan asap. Salah satu langkah yang ditekankan adalah membatasi aktivitas luar ruangan, termasuk kegiatan bermain anak, selama kondisi kualitas udara belum kembali normal.

Kabut Asap Beri Dampak ke Sektor Kesehatan

Karhutla tidak hanya meninggalkan persoalan berupa titik api dan asap yang mengganggu aktivitas masyarakat.

Dampaknya mulai terlihat pada layanan kesehatan. Dinkes Berau mencatat 3.288 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut atau ISPA ditangani puskesmas sepanjang Juli hingga minggu pertama Agustus 2026.

Angka tersebut terdiri dari 2.533 kasus pada Juli dan tambahan 755 kasus pada minggu pertama Agustus.

Kepala Dinkes Berau Lamlay Sarie mengatakan angka tersebut masih bersifat sementara karena karhutla masih berlangsung.

“Itu masih data sementara dan berpotensi akan terus naik seiring dengan meningkatnya karhutla.”

Pemantauan terhadap kasus ISPA terus dilakukan melalui fasilitas pelayanan kesehatan untuk melihat perkembangan dampak kabut asap terhadap masyarakat.

Baca Juga: Karhutla Kasai Belum Padam, Krisis Air Hambat Pemadaman dan Bupati Berau Minta Water Bombing

Anak dan Lansia Jadi Perhatian

Dalam kondisi kualitas udara yang terganggu, anak-anak dan lansia menjadi kelompok yang mendapat perhatian khusus.

Dinkes Berau mendorong masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kondisi udara belum sepenuhnya membaik.

Lamlay Sarie juga menyampaikan sejumlah langkah pencegahan yang perlu diperhatikan masyarakat.

“Perlindungan terhadap anak-anak dan lansia juga menjadi perhatian khusus. Pembatasan aktivitas luar ruangan, penggunaan masker saat harus bepergian, menjaga pola makan serta segera mendapatkan penanganan medis ketika muncul gangguan pernapasan menjadi langkah yang dianjurkan selama kualitas udara belum sepenuhnya kembali normal.”

Artinya, imbauan membatasi aktivitas bermain anak bukan berarti anak harus berhenti beraktivitas. Fokusnya adalah mengurangi paparan yang tidak diperlukan ketika kondisi udara sedang buruk.

Keluhan Pernapasan Mulai Meningkat

Dampak kabut asap juga dirasakan di fasilitas kesehatan.

Dokter Umum Puskesmas Tanjung Redeb, dr. Nina Damayanti, menyebut jumlah pasien dengan keluhan terkait pernapasan meningkat cukup signifikan.

“Kalau sebelumnya sekitar 126 pasien, sekarang sudah mencapai 324 pasien. Jadi peningkatannya cukup signifikan dan yang banyak kami tangani itu anak-anak serta lansia.”

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kedua kelompok tersebut termasuk masyarakat yang perlu mendapatkan perlindungan lebih ketika kualitas udara memburuk.

Aktivitas Bermain Anak Perlu Dikurangi

Anak-anak biasanya memiliki aktivitas luar ruangan yang cukup tinggi, termasuk bermain bersama teman atau melakukan kegiatan di lingkungan sekitar rumah.

Ketika kabut asap masih pekat, kegiatan tersebut sebaiknya dikurangi.

Orang tua dapat mempertimbangkan kondisi udara sebelum mengizinkan anak beraktivitas di luar. Jika kualitas udara memburuk, kegiatan yang tidak mendesak dapat dialihkan ke dalam ruangan.

Langkah ini menjadi bagian dari pencegahan agar anak tidak terlalu banyak terpapar asap.

Jika Harus Keluar, Perhatikan Perlindungan

Membatasi aktivitas luar ruangan menjadi langkah utama ketika kondisi udara buruk.

Namun, ada kondisi tertentu yang membuat masyarakat tetap harus keluar rumah. Dalam situasi tersebut, Dinkes mengimbau masyarakat menggunakan masker.

dr. Nina Damayanti juga menyampaikan hal serupa.

“Kalau memang harus keluar, sebaiknya menggunakan masker.”

Selain mengurangi aktivitas luar ruangan, masyarakat juga dianjurkan menjaga kondisi tubuh dan memperhatikan asupan makanan selama periode kualitas udara buruk.

Jangan Abaikan Keluhan Pernapasan

Kabut asap dapat membuat keluhan pernapasan lebih mudah muncul atau memburuk.

Masyarakat diminta tidak mengabaikan keluhan kesehatan yang muncul selama kondisi udara masih terdampak asap.

Dalam pemberitaan mengenai kondisi kesehatan di Berau, keluhan yang perlu diperhatikan antara lain batuk, pilek, nyeri tenggorokan hingga gangguan pernapasan.

Jika keluhan semakin berat atau tidak membaik, masyarakat dianjurkan mendapatkan penanganan di fasilitas kesehatan.

Dinkes Terus Pantau Kasus ISPA

Dinkes Berau masih memantau perkembangan kasus ISPA melalui fasilitas pelayanan kesehatan.

Pemantauan tersebut diperlukan karena kondisi karhutla masih berlangsung dan paparan asap berpotensi berubah mengikuti perkembangan di lapangan.

Lamlay Sarie mengingatkan bahwa persoalan kesehatan tidak bisa dilepaskan dari kondisi karhutla.

“Dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan. Ketika asap bertahan dan kualitas udara menurun, konsekuensinya mulai dirasakan langsung masyarakat melalui meningkatnya kebutuhan terhadap pelayanan kesehatan.”

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa dampak karhutla sudah menyentuh aktivitas pelayanan kesehatan masyarakat.

Baca Juga: Potensi Kampung Jadi Andalan Baru Berau, Perangkat Desa Diminta Maksimalkan Perannya

Pelayanan Kesehatan Tetap Berjalan

Meskipun terjadi peningkatan kunjungan pasien dengan keluhan pernapasan, pelayanan kesehatan di Puskesmas Tanjung Redeb disebut masih berjalan normal.

Ketersediaan obat-obatan dan oksigen untuk kebutuhan pelayanan pasien juga disebut masih mencukupi.

Hal ini menjadi bagian penting dalam menghadapi potensi peningkatan kasus selama kabut asap masih terjadi.

Orang Tua Punya Peran Penting

Dalam kondisi seperti ini, orang tua menjadi pihak yang paling dekat dengan aktivitas anak.

Anak mungkin belum memahami kapan kondisi udara sudah tidak baik untuk bermain di luar. Karena itu, orang tua perlu menentukan kapan aktivitas luar ruangan sebaiknya dikurangi.

Pemantauan kondisi udara juga penting. Sebab, tingkat paparan dapat berubah dan kondisi yang terlihat secara kasatmata tidak selalu menjadi satu-satunya indikator kualitas udara.

Karhutla Bukan Sekadar Persoalan Api

Perkembangan di Berau memperlihatkan bahwa dampak karhutla dapat meluas hingga sektor kesehatan.

Ketika asap bertahan, masyarakat harus menyesuaikan aktivitas. Anak-anak perlu mengurangi kegiatan di luar, fasilitas kesehatan menghadapi peningkatan pasien dengan keluhan pernapasan, sementara pemerintah harus memastikan pelayanan tetap tersedia.

Karena itu, penanganan karhutla dan perlindungan kesehatan masyarakat perlu berjalan bersamaan.

Poin Penting

Insight Redaksi

Kabut asap Berau mulai terlihat dampaknya pada layanan kesehatan, bukan sekadar mengganggu pandangan. Anak jangan dianggap kebal.

Ketika kasus ISPA meningkat dan kelompok anak serta lansia ikut banyak ditangani, pembatasan aktivitas luar ruang menjadi langkah pencegahan yang masuk akal sambil menunggu kualitas udara membaik.

Kabut asap bukan cuma soal jarak pandang, kesehatan warga juga terdampak. Ikuti info terbaru hanya di Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Mengapa aktivitas bermain anak di luar ruangan perlu dibatasi?

Karena pembatasan aktivitas luar ruangan dapat membantu mengurangi paparan anak terhadap asap ketika kualitas udara belum membaik.

2. Siapa yang menjadi perhatian khusus Dinkes Berau?

Anak-anak dan lansia menjadi kelompok yang mendapat perhatian khusus selama kondisi udara terdampak asap.

3. Berapa kasus ISPA yang tercatat Dinkes Berau?

Dinkes Berau mencatat 3.288 kasus ISPA yang ditangani puskesmas sepanjang Juli hingga minggu pertama Agustus 2026.

4. Apakah kasus ISPA tersebut masih dapat bertambah?

Menurut Kepala Dinkes Berau Lamlay Sarie, data tersebut masih sementara dan berpotensi meningkat seiring masih berlangsungnya karhutla.

5. Bagaimana kondisi pasien di Puskesmas Tanjung Redeb?

Jumlah pasien dengan keluhan terkait pernapasan disebut meningkat dari sekitar 126 menjadi 324 pasien, dengan anak-anak dan lansia termasuk yang banyak ditangani.

6. Apa yang dilakukan jika harus keluar rumah?

Masyarakat dianjurkan menggunakan masker dan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara sedang buruk.

Sumber Informasi: Artikel ini sudah tayang sebelumnya di Media "BerauPost", dengan judul "Kabut Asap Masih Menyelimuti, Dinkes Berau Imbau Batasi Aktivitas Bermain Anak",oleh penulis Nurismi. Di-update kembali dengan angle dan style balikpapantv.id

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates

 

Editor : Arya Kusuma
Sumber : BERAU POST
Kabut Asap Dinkes Berau berau karhutla