Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Bisnis & UMKM Iptek Mimbar Opini

Pembantaian Puluhan Hiu di Pulau Derawan Picu Kecaman, Wisata Bahari Berau Ikut Terancam

Arya Kusuma • Minggu, 19 Juli 2026 | 13:16 WIB
Bukti hiu yang ditemukan
Bukti potongan hiu yang ditemukan

Durasi Baca: 6 menit

Topik: Dugaan pembunuhan hiu di kawasan konservasi Pulau Derawan memicu perhatian serius publik

Ikhtisar: Dugaan pembunuhan puluhan hiu di Pulau Derawan memantik kecaman, menyoroti lemahnya pengawasan kawasan konservasi serta ancaman terhadap ekosistem dan wisata bahari.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Dugaan pembantaian puluhan hiu di kawasan konservasi Pulau Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, memicu kecaman dari komunitas penyelam setelah petugas menemukan puluhan satwa laut tersebut telah mati dan diduga akan dimanfaatkan sebagai umpan pancing rawai. Peristiwa ini menjadi perhatian karena terjadi di salah satu destinasi wisata bahari paling terkenal di Indonesia.

Derawan dikenal karena kekayaan bawah lautnya. Kini perhatian publik tertuju pada perlindungan satwa laut yang menjadi daya tarik kawasan tersebut. Ikuti faktanya sampai akhir, Ces!

Apa yang sebenarnya terjadi di Pulau Derawan?

Kasus ini terungkap saat petugas Unit Pelaksana Teknis Daerah Kawasan Konservasi Perairan, Pesisir, dan Pulau-Pulau Kecil Kawasan Delta dan Perairan Sekitarnya (UPTD KKP3K KDPS) melakukan operasi terhadap sejumlah nelayan.

Dalam operasi tersebut, petugas mengamankan puluhan satwa laut yang telah mati. Barang bukti terdiri atas 30 ekor tawny nurse shark, delapan ekor blacktip reef shark, serta dua ekor giant shovelnose ray.

Temuan itu langsung memicu perhatian komunitas penyelam di Berau. Jumlah satwa yang ditemukan dinilai menunjukkan persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar pelanggaran perikanan biasa.

Pulau Derawan selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan wisata unggulan Kalimantan Timur yang menawarkan pengalaman menyelam dengan keanekaragaman hayati laut yang tinggi. Keberadaan hiu menjadi bagian penting dari daya tarik tersebut.

Mengapa komunitas penyelam mengecam keras tindakan tersebut?

Ketua Berau Divers, Fitriani, menilai tindakan membunuh hiu hanya untuk dijadikan umpan pancing tidak dapat dibenarkan, terutama apabila satwa tersebut memiliki status perlindungan.

"Hiu itu saja kami sulit temukan saat menyelam. Ini malah dibunuh untuk dijadikan umpan. Kalau statusnya dilindungi, tidak boleh dibunuh. Cara seperti itu tidak bisa dibenarkan," tegas Fitriani.

Pernyataan tersebut menggambarkan betapa keberadaan hiu di kawasan wisata kini semakin sulit dijumpai. Kondisi itu menjadi perhatian serius karena hiu merupakan salah satu indikator kesehatan ekosistem laut.

Komunitas penyelam juga menilai konservasi tidak hanya berkaitan dengan perlindungan satwa, tetapi juga menjaga keberlangsungan sumber daya alam yang menjadi penopang ekonomi masyarakat melalui sektor pariwisata.

Baca Juga: Kapasitas Internet Jaringan Seluler Kampung Payung-payung Maratua Mendesak Ditambah.

Mengapa hilangnya hiu berdampak besar bagi ekosistem laut?

Hiu merupakan predator puncak dalam rantai makanan laut. Keberadaannya membantu menjaga keseimbangan populasi berbagai spesies sehingga ekosistem terumbu karang tetap stabil.

Berbagai penelitian konservasi kelautan menunjukkan bahwa berkurangnya populasi predator puncak dapat memicu perubahan komposisi spesies, meningkatkan dominasi hewan tertentu, dan pada akhirnya memengaruhi kesehatan terumbu karang secara keseluruhan.

Di kawasan wisata selam seperti Pulau Derawan, hiu juga menjadi salah satu daya tarik utama bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Kehilangan satwa tersebut dapat mengurangi pengalaman wisata bawah laut yang selama ini menjadi kekuatan utama Berau.

Bagi daerah yang mengandalkan wisata bahari, menjaga ekosistem berarti sekaligus menjaga keberlangsungan ekonomi lokal.

Mengapa pengawasan kawasan konservasi menjadi sorotan?

Anggota Berau Divers, Hendra Pranata, memberikan apresiasi kepada petugas yang berhasil mengungkap dugaan pelanggaran tersebut. Namun, menurutnya, langkah penindakan saja belum cukup.

"Pengawasan harus diperkuat dan didukung fasilitas yang memadai agar kejadian seperti ini bisa dicegah sejak awal," ujar Hendra.

Menurutnya, pengawasan di kawasan konservasi perlu dilakukan secara konsisten sehingga pelanggaran dapat dicegah sebelum menimbulkan kerusakan yang lebih luas.

Pandangan tersebut juga sejalan dengan prinsip pengelolaan kawasan konservasi laut yang menekankan pencegahan sebagai langkah utama, bukan hanya penegakan hukum setelah kerusakan terjadi.

Peningkatan patroli, dukungan sarana pengawasan, serta koordinasi antarlembaga dinilai menjadi faktor penting agar kawasan konservasi tetap berfungsi sebagaimana mestinya.

Baca Juga: Paket Wisata Maratua Naik 20% Imbas Pertamax Meroket, Turis Asing Jadi Harapan.

Apa dampaknya bagi wisata Pulau Derawan dan Kalimantan Timur?

Pulau Derawan telah lama menjadi ikon wisata bahari Kalimantan Timur. Wisatawan datang untuk menikmati terumbu karang, penyu, pari manta, ubur-ubur tidak menyengat di danau tertentu, hingga peluang bertemu hiu di habitat alaminya.

Apabila praktik perburuan satwa laut terus terjadi, citra kawasan konservasi dapat ikut terdampak. Wisatawan penyelam umumnya memilih destinasi yang memiliki komitmen kuat terhadap perlindungan ekosistem.

Selain itu, kerusakan ekosistem tidak dapat dipulihkan dalam waktu singkat. Pemulihan populasi hiu membutuhkan waktu bertahun-tahun karena sebagian besar spesies hiu memiliki pertumbuhan lambat dan tingkat reproduksi yang rendah.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa konservasi bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Pelaku usaha wisata, nelayan, komunitas penyelam, hingga masyarakat memiliki peran menjaga kekayaan laut Kalimantan Timur agar tetap lestari untuk generasi berikutnya.

Poin Penting:

Insight Redaksi: Peristiwa ini menunjukkan bahwa kekuatan pariwisata Berau sebenarnya bertumpu pada kualitas ekosistemnya. Ketika satwa kunci mulai hilang, dampaknya kada hanya dirasakan penyelam, tetapi juga pelaku wisata dan masyarakat pesisir. Pencegahan harus menjadi prioritas. Jangan menunggu kerusakan semakin luas baru bertindak. Itu pang yang paling penting bagi masa depan wisata bahari Kalimantan Timur.

Perkuat patroli laut, libatkan komunitas penyelam serta masyarakat pesisir, lalu bagikan jua informasi ini ke bubuhan ikam supaya semakin banyak yang peduli.

Masih banyak cerita penting dari Kalimantan Timur yang layak diikuti. Selalu update info hanya di Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Apa yang ditemukan petugas di Pulau Derawan?
Petugas menemukan 30 tawny nurse shark, delapan blacktip reef shark, dan dua giant shovelnose ray dalam kondisi mati.

2. Mengapa kasus ini menuai kecaman?
Karena hiu diduga dibunuh untuk dijadikan umpan pancing di kawasan konservasi yang menjadi destinasi wisata bahari.

3. Siapa yang menyampaikan kecaman?
Komunitas Berau Divers melalui Ketua Fitriani dan anggota Hendra Pranata.

4. Apa dampaknya bagi Pulau Derawan?
Kasus ini berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem laut sekaligus menurunkan daya tarik wisata selam.

Sumber Informasi: Artikel ini sudah tayang sebelumnya di Media Prokal, dengan judul "Ekosistem Terancam Runtuh: Pembantaian Puluhan Hiu di Pulau Derawan Demi Umpan Pancing Menuai Kecaman Keras", oleh penulis Redaksi Prokal. Di-update kembali dengan angle dan style balikpapantv.id.

Editor : Arya Kusuma
hiu UPTD KKP3K KDPS pulau derawan wisata bahari Berau