
Ikhtisar: Penelitian memanfaatkan hiu sebagai pengumpul data laut yang dipadukan dengan AI untuk meningkatkan prediksi badai ekstrem.
Balikpapan TV - Hai Ces! Ilmuwan University of Delaware memanfaatkan hiu bersensor untuk mengumpulkan data laut yang membantu memperbaiki pemodelan badai tropis dan hurikan.
Teknologi ini menarik karena hiu dapat bergerak ke wilayah laut yang sulit dipantau instrumen konvensional. Lantas, bagaimana data dari tubuh hiu bisa membantu prakiraan cuaca?
Bagaimana Hiu Membantu Mengumpulkan Data Laut?
Bagi ilmuwan, tantangan besar dalam memprediksi badai adalah memahami kondisi laut di bawah permukaan. Suhu dan karakteristik lapisan atas laut dapat memengaruhi energi yang tersedia bagi badai tropis.
Peneliti University of Delaware memasang sensor kecil bernama CTD pada sirip punggung hiu. Perangkat tersebut mengukur konduktivitas air, suhu, dan kedalaman ketika hiu berenang maupun menyelam.
Data kemudian dikirim melalui satelit ketika hiu berada dalam kondisi yang memungkinkan transmisi. Dengan cara ini, peneliti memperoleh pengamatan laut dari hewan yang bergerak mengikuti lingkungan alaminya.
Sensor CTD Membaca Tiga Kondisi Penting
Konduktivitas berkaitan dengan kadar garam atau salinitas air. Sensor juga merekam suhu dan kedalaman sehingga menghasilkan gambaran kondisi perairan pada berbagai posisi.
Informasi tersebut menjadi pelengkap bagi data satelit, pelampung, serta instrumen pengamatan laut lainnya. Semakin beragam sumber data, semakin lengkap pula gambaran kondisi laut yang dapat digunakan dalam pemodelan.
Mengapa Suhu Laut Penting untuk Prediksi Hurikan?
Suhu laut menjadi salah satu faktor penting dalam perkembangan badai tropis karena air laut yang hangat dapat menyediakan energi bagi sistem tersebut.
Peneliti memberi perhatian khusus pada mixed layer, yaitu lapisan permukaan laut yang tercampur. Lapisan ini menyimpan panas yang dapat berperan dalam mempertahankan atau memperkuat badai.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




