Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Iptek Bisnis & UMKM Religi

Mengenal Kalimat Bubuhan, Sistem Relasi Banjar yang Masih Hidup di Era Sirkel Modern

Arya Kusuma • Senin, 16 Februari 2026 | 12:32 WIB

Ilustrasi komunitas warga Banjar berkumpul, menggambarkan makna bubuhan sebagai identitas sosial yang mengikat kelompok.
Ilustrasi komunitas warga Banjar berkumpul, menggambarkan makna bubuhan sebagai identitas sosial yang mengikat kelompok.

Ikhtisar: Bubuhan dalam budaya Banjar bukan sekadar sebutan kelompok, tapi identitas sosial yang berakar sejarah, membentuk relasi, kekuasaan, hingga eksistensi komunitas modern, dari kampung sampai perantauan.

Balikpapan TV - Hai Cess! Istilah bubuhan dalam budaya Banjar bukan cuma kata sapaan biasa. Ia adalah identitas. Penanda siapa satu kelompok, siapa satu garis, siapa satu rasa. Dari kampung lama sampai ruang pergaulan masa kini, bubuhan hidup dan terus relevan.

Penasaran kenapa satu kata bisa memuat sejarah, struktur pemerintahan, sampai relasi kuasa? Kawal terus artikel ini sampai habis Cess, karena di balik istilah sederhana itu, ada sistem sosial yang kuat dan panjang jejaknya.

Apa sebenarnya makna bubuhan dalam kehidupan masyarakat Banjar?

Bubuhan secara esensial berarti sekumpulan orang yang terikat oleh satu atau beberapa kesamaan. Budayawan Kesultanan Banjar, Ersa Fahriyanur, menjelaskan bahwa ikatan itu bisa lahir dari garis keturunan, tempat tinggal, profesi, hobi, hingga tempat kerja. Intinya, lebih dari satu orang yang merasa menjadi bagian integral dari kelompok yang sama.

Makna ini bukan simbol kosong. Bubuhan adalah representasi relasi sosial yang sudah mengakar sejak masa lampau dalam denyut kehidupan masyarakat Banjar. Ia melekat pada identitas seseorang di tengah komunitasnya. Ketika menyebut bubuhan tertentu, itu bukan cuma menyebut nama kelompok, tapi juga posisi sosial.

Dalam percakapan sehari-hari, istilah ini sering disingkat menjadi “buhan”. Sederhana bunyinya, tapi dalam. Ketika seseorang menyebut “buhan kami”, itu tanda penerimaan. Tanda diakui sebagai bagian. Pahamlah ikam, pengakuan sosial di masyarakat tradisional punya bobot tersendiri.

Baca Juga: Dekorasi Interior Kamar Aesthetic yang Nyaman Dipakai Sehari-hari

Bagaimana bubuhan membentuk struktur pemerintahan Banjar kuno?

Secara historis, bubuhan memegang peran sentral dalam struktur pemerintahan Banjar lama. Beberapa kelompok bubuhan yang bermukim berdekatan membentuk satu wilayah pemukiman. Wilayah itu dipimpin tokoh setingkat kepala kampung.

Kumpulan wilayah tersebut lalu berkembang menjadi struktur lebih besar di bawah kepemimpinan pejabat bernama lalawangan. Jabatan ini setara dengan posisi bupati pada masa kini. Artinya, bubuhan dulu bukan cuma identitas sosial, tapi juga identitas kewilayahan resmi.

Dalam konteks itu, bubuhan menjadi fondasi organisasi masyarakat. Dari unit kecil berbasis kekerabatan hingga struktur administratif lebih luas. Sistemnya rapi, berbasis relasi. Nah’ itu sudah, dari kelompok sosial bisa menjelma jadi sistem pemerintahan.

Mengapa bubuhan kini disamakan dengan sirkel pertemanan modern?

Seiring waktu, makna bubuhan mengalami perluasan. Ia tak lagi terbatas pada asal-usul kampung atau garis keturunan. Di era modern, bubuhan lebih dekat dengan konsep “sirkel” atau circle pertemanan yang populer di kalangan generasi muda.

Menurut Ersa Fahriyanur, ketika seseorang masuk dalam satu sirkel, otomatis ia diakui sebagai bagian dari bubuhan tersebut. Artinya, pengakuan sosial tetap jadi inti. Bedanya, ruangnya lebih cair. Bisa berbasis hobi, pekerjaan, atau minat yang sama.

Transformasi ini menunjukkan kelenturan budaya Banjar. Nilai dasarnya tetap, bentuknya menyesuaikan zaman. Dari kampung ke komunitas urban. Dari ikatan darah ke kesamaan visi. Fleksibel, tapi akarnya tetap kuat.

Bagaimana bubuhan berperan dalam relasi politik dan kekuasaan?

Dalam ranah politik dan kekuasaan, istilah bubuhan punya nilai strategis. Ia menjadi penanda afiliasi atau kedekatan dengan tokoh tertentu. Ungkapan seperti “bubuhannya gubernur A” menunjukkan relasi kuasa yang tak bisa dianggap sepele.

Individu yang berada dalam kelompok itu kerap dipandang memiliki akses atau keistimewaan tertentu. Ini memperlihatkan bahwa bubuhan tak hanya soal pertemanan, tapi juga posisi sosial. Identitas kelompok bisa memengaruhi persepsi publik.

Konsep ini membuktikan betapa kuatnya bubuhan dalam menentukan eksistensi seseorang. Relasi sosial berkelindan dengan relasi kekuasaan. Bukan sekadar kumpul bareng, tapi jaringan yang punya dampak nyata.

Bagaimana bubuhan dijaga eksistensinya di perantauan?

Di luar bahasa Banjar, bubuhan dapat dipadankan dengan organisasi, paguyuban, atau komunitas. Hingga kini, konsep ini tetap dilestarikan melalui wadah formal seperti Kerukunan Bubuhan Banjar sebagai pengikat silaturahmi warga Banjar di perantauan.

Wadah ini menjaga relasi tetap hidup meski jarak memisahkan. Identitas tidak luntur hanya karena berpindah kota. Justru di tanah rantau, bubuhan sering menjadi jangkar emosional.

Dalam konteks urban seperti Balikpapan yang dikenal sebagai kota pendatang, konsep bubuhan terasa relevan. Identitas kelompok membantu adaptasi sosial. Ada rasa memiliki. Ada jaringan. Ada dukungan.

Insight: Bubuhan bukan sekadar istilah budaya, tapi sistem sosial yang lentur dan strategis. Di satu sisi, ia menguatkan solidaritas. Di sisi lain, ia bisa memengaruhi relasi kuasa. Di kota pendatang seperti Balikpapan, konsep ini terasa dekat. Banyak komunitas tumbuh dengan pola serupa, meski namanya beda. Tantangannya ada pada bagaimana menjaga nilai kebersamaan tanpa terjebak eksklusivitas. Pilihannya di tangan komunitas itu sendiri. Jadi, pahami konteksnya, manfaatkan jejaringnya, tapi tetap terbuka. Nah’ itu sudah, jelas arahnya Cess.

Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang paham makna sosial di balik satu kata sederhana ini. Kawal jua info ini biar diskusinya hidup.

Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, “Bukan Sekadar Info Biasa!”

FAQ

1. Apa arti bubuhan dalam budaya Banjar?
Bubuhan berarti sekumpulan orang yang terikat oleh satu atau beberapa kesamaan seperti keturunan, tempat tinggal, profesi, atau minat yang sama.

2. Siapa yang menjelaskan makna bubuhan secara budaya?
Makna bubuhan dijelaskan oleh Ersa Fahriyanur, budayawan Kesultanan Banjar, yang menekankan bubuhan sebagai identitas sosial dan relasi kelompok.

3. Apakah bubuhan masih relevan di era modern?
Masih. Kini bubuhan berkembang menjadi simbol keberadaan sosial, mirip sirkel pertemanan atau komunitas, bahkan memiliki peran dalam relasi politik dan organisasi perantau.

DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Gambar dapat saja dihasilkan AI di artikel ini hanya sebagai ilustrasi pendukung yang membantu pembaca memahami konteks informasi bukan sebagai bukti realistis. Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.

Koneksi Informasi Terkini
Koneksi Informasi Terkini

Editor : Arya Kusuma
#kesultanan banjar #Ersa Fahriyanur #Budaya Banjar #Bubuhan Banjar #kerukunan bubuhan banjar