Kabut Asap Samarinda Muncul Lagi, Kemarau Panjang Belum Berakhir


Durasi Baca: 7 Menit
Ikhtisar: Kabut asap Samarinda berkaitan dengan karhutla, cuaca kering, kualitas udara, serta risiko kesehatan dan gangguan aktivitas warga.
Balikpapan TV - Hai Ces! Kabut asap kembali terlihat di Samarinda, Kalimantan Timur, di tengah kondisi kering dan kebakaran lahan yang masih terjadi. Kondisi ini penting diperhatikan karena asap dapat menurunkan kualitas udara serta mengganggu aktivitas masyarakat.
Yang menarik, persoalannya bukan sekadar asap yang terlihat dari jalan. Data terbaru justru menunjukkan Samarinda masih menghadapi kombinasi karhutla, curah hujan rendah, dan kualitas udara yang berubah mengikuti kondisi lapangan.
Mengapa kabut asap kembali muncul di Samarinda?
Kemunculan asap berkaitan erat dengan kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Samarinda. Kawasan Sambutan dan Palaran sebelumnya menjadi beberapa lokasi yang berkontribusi terhadap kepulan asap.
Pada 6 Oktober 2026, Pemkot Samarinda memperpanjang status tanggap darurat karhutla dan kekeringan. Saat itu BPBD mencatat 246 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar mencapai 608,18 hektare hingga 5 Oktober.
Kondisi tersebut membuat persoalan asap belum selesai ketika kebakaran baru masih berpotensi muncul. Angin juga dapat membantu membawa asap dari lokasi kebakaran menuju kawasan perkotaan.
Pada 12 Oktober, anggota Komisi IV DPRD Samarinda Harminsyah kembali menyoroti kabut asap yang terlihat cukup tebal setelah beberapa hari minim hujan.
Kemarau panjang membuat lahan semakin mudah terbakar
Cuaca kering menjadi bagian penting dalam memahami mengapa kebakaran lebih mudah berkembang. Ketika hujan minim, vegetasi dan material organik kehilangan kelembapan sehingga api dapat lebih mudah menjalar.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




