Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Iptek Bisnis & UMKM Religi

Kenapa Banyak Orang Indonesia Berbuka dengan yang Manis? Ada Hadits Kurma dan Penjelasan Ulama yang Menarik Disimak Cess

Nazwa Deriska Noviyanti • Rabu, 11 Maret 2026 | 16:27 WIB

Ilustrasi takjil Ramadhan berisi kurma dan kolak manis sebagai hidangan berbuka puasa yang memiliki dasar dalam kajian fiqih Islam.
Ilustrasi takjil Ramadhan berisi kurma dan kolak manis sebagai hidangan berbuka puasa yang memiliki dasar dalam kajian fiqih Islam.

Ikhtisar: Tradisi berbuka dengan yang manis saat Ramadhan sering dianggap sekadar kebiasaan. Padahal dalam kajian fiqih, anjuran tersebut memiliki landasan dari hadits Nabi dan metode istinbath ulama.

Balikpapan TV - Hai Cess! Kalimat “berbukalah dengan yang manis” sudah lama jadi bagian dari tradisi Ramadhan di Indonesia. Setiap bedug Maghrib berkumandang, meja makan sering langsung terisi kolak, es campur, hingga aneka takjil manis. Banyak orang mengira kalimat itu berasal langsung dari hadits Nabi. Namun beberapa waktu terakhir muncul perdebatan di media sosial yang menyebut anjuran tersebut hanyalah potongan jingle iklan lama.

Perdebatan itu langsung bikin banyak orang bertanya-tanya. Apakah benar tradisi berbuka dengan yang manis cuma pengaruh iklan? Atau memang ada dasar dari ajaran Islam? Nah, supaya kada bingung, simak penjelasan lengkapnya sampai tuntas Cess!

Apakah benar Nabi menganjurkan berbuka dengan makanan manis?

Secara teks hadits, Rasulullah SAW memang mencontohkan jenis makanan tertentu saat berbuka puasa. Yang disebut dalam riwayat bukan langsung kata “makanan manis”, melainkan kurma.

Hadits yang diriwayatkan Ahmad dan Abu Dawud menjelaskan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ

Artinya, Rasulullah SAW berbuka dengan beberapa buah kurma basah sebelum shalat Maghrib. Jika kada ada kurma basah, beliau berbuka dengan kurma kering. Jika kada ada kurma, beliau meneguk beberapa teguk air.

Dari hadits tersebut terlihat jelas contoh langsung Nabi saat berbuka. Urutannya sederhana. Kurma dulu. Jika kada ada, air juga cukup. Tradisi ini kemudian jadi rujukan utama dalam pembahasan fiqih mengenai adab berbuka puasa.

Nah, di titik ini sebagian orang mulai bertanya: kalau haditsnya menyebut kurma, dari mana muncul kalimat “berbukalah dengan yang manis”? Pahamlah ikam, jawabannya ada pada kajian ulama.

Baca Juga: Halaman Rumah Sempit? Coba 6 Ide Garasi Motor Minimalis Ini, Motor Aman dan Rumah Tetap Enak Dipandang

Kenapa kurma dipilih sebagai makanan berbuka puasa?

Para ulama ketika membaca hadits kada hanya melihat teks secara harfiah. Mereka juga menelusuri alasan hukum atau yang dikenal sebagai ‘illat.

Dalam kajian fiqih, para ulama menilai kurma dipilih karena memiliki rasa manis yang cepat memulihkan tenaga setelah seharian berpuasa. Selain itu, sifat manis juga membantu memperkuat penglihatan yang melemah akibat menahan lapar dan haus.

Karena alasan tersebut, para ulama kemudian menyimpulkan bahwa esensi sunnah berbuka bukan hanya pada buah kurmanya saja, tetapi juga pada sifat manis yang dimilikinya.

Dengan pendekatan ini, makanan lain yang memiliki rasa manis juga bisa masuk dalam kategori yang sama. Artinya, kolak, madu, atau minuman manis juga dapat menjadi pilihan berbuka.

Nah, dari sinilah muncul pemahaman yang sering terdengar di masyarakat: berbuka dengan yang manis. Jadi bukan sekadar kebiasaan pang.

kurma manis yang dipercaya membantu memulihkan energi tubuh setelah seharian berpuasa.
kurma manis yang dipercaya membantu memulihkan energi tubuh setelah seharian berpuasa.

Bagaimana metode ulama menyimpulkan hukum tersebut?

Dalam ilmu fiqih, proses pengambilan hukum disebut istinbathul hukmi. Ulama menggunakan berbagai metode untuk memahami maksud dari sebuah hadits.

Salah satu penjelasan datang dari Imam Asy-Syaukani dalam kitab Nailul Authar. Ia menegaskan bahwa jika alasan hukum kurma adalah rasa manisnya, maka semua makanan manis dapat disamakan hukumnya.

Beliau menjelaskan bahwa makanan dengan tingkat kemanisan lebih tinggi dapat masuk melalui metode fahwa al-khitab. Sedangkan makanan dengan kemanisan setara masuk melalui lahnul khitab.

Penjelasan ini menunjukkan bahwa anjuran berbuka dengan makanan manis memiliki landasan metodologi fiqih yang kuat. Jadi kada sekadar tradisi kuliner Ramadhan saja.

Nah, ikam mulai pahamlah kenapa kolak atau es campur sering muncul di meja berbuka di Indonesia.

Apakah ulama lain juga mendukung anjuran makanan manis saat berbuka?

Pendapat yang sejalan juga muncul dalam catatan Imam al-Bujairimi. Dalam penjelasannya, sebagian ulama tabi’in bahkan menganjurkan berbuka dengan segala jenis makanan manis secara umum.

Contohnya madu. Makanan ini sering disebut karena memiliki rasa manis alami dan mudah diserap tubuh.

Menurut penjelasan tersebut, rasa manis membantu memulihkan kondisi tubuh setelah puasa. Selain itu juga mendukung kekuatan penglihatan yang melemah selama menahan makan dan minum.

Jadi ketika masyarakat menikmati kolak atau minuman manis saat Maghrib, sebenarnya kebiasaan itu memiliki kaitan dengan pemahaman ulama terhadap hadits Nabi.

Kadapapa pang jika berbuka dengan makanan manis lain. Selama tujuannya mengikuti makna sunnah yang sama.

Mana yang paling utama saat berbuka puasa?

Meski makanan manis memiliki dasar kesunahan, ulama juga menyusun urutan makanan yang dianggap paling utama saat berbuka.

Syekh Bakri ad-Dimyathi menjelaskan urutannya dalam kitab I’anah al-Thalibin.

Urutan tersebut antara lain:

1. Kurma basah (ruthab)
2. Kurma kering (tamr)
3. Air, terutama air Zamzam
4. Makanan manis alami seperti kismis, susu, atau madu
5. Makanan manis olahan

Penjelasan ini menunjukkan bahwa kurma tetap berada di posisi pertama sebagai pilihan terbaik.

Namun jika kurma kada tersedia, makanan manis lain tetap dapat menjadi pilihan berbuka. Nah itu sudah… tradisi takjil manis yang sering muncul di meja makan Ramadhan ternyata memiliki dasar ilmu yang panjang dalam kajian fiqih.

Poin Penting:

1. Hadits Nabi menyebut kurma sebagai makanan berbuka puasa.
2. Ulama menilai kurma dipilih karena sifat manisnya yang memulihkan energi.
3. Metode istinbath fiqih memperluas makna sunnah pada makanan manis lainnya.
4. Madu, susu, atau buah manis juga masuk dalam kategori yang sama.
5. Kurma tetap dianggap pilihan paling utama jika tersedia.

Baca Juga: Halaman Sempit Jadi Kebun Cabai Produktif, Panduan Cocopeat yang Mudah Dicoba di Rumah.

Insight: Tradisi kuliner Ramadhan di Indonesia sering dianggap sekadar kebiasaan. Padahal di balik semangkuk kolak atau segelas minuman manis tersimpan kajian fiqih panjang. Ulama membaca hadits kada hanya dari teks, tetapi juga maknanya. Di situlah muncul pemahaman bahwa rasa manis membantu memulihkan energi setelah puasa. Jadi ketika meja berbuka penuh takjil manis, itu bukan sekadar budaya makan. Ada jejak ilmu di dalamnya. Pahamlah ikam, Ramadhan memang penuh makna.

Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya semakin banyak yang memahami tradisi berbuka puasa dari sisi ilmu. Kawalan ikam pasti tertarik jua membaca penjelasan ini Cess!

Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, 'Bukan Sekadar Info Biasa!'

FAQ

Apakah ada hadits langsung yang menyebut “berbukalah dengan yang manis”?
Secara redaksi hadits kada ada kalimat tersebut. Hadits menyebut kurma sebagai makanan berbuka Nabi.

Kenapa kurma dianjurkan saat berbuka puasa?
Ulama menjelaskan bahwa kurma dipilih karena rasa manisnya membantu memulihkan energi dan kondisi tubuh setelah puasa.

Apakah kolak atau minuman manis juga termasuk sunnah berbuka?
Dalam kajian fiqih, makanan manis lain dapat disamakan dengan kurma karena memiliki sifat yang sama, yaitu rasa manis yang memulihkan tenaga.

DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Gambar dapat saja dihasilkan AI di artikel ini hanya sebagai ilustrasi pendukung yang membantu pembaca memahami konteks informasi bukan sebagai bukti realistis. Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.

Koneksi Informasi Terkini
Koneksi Informasi Terkini

Editor : Arya Kusuma
#Fiqih Islam #Hadits Nabi #kurma #ramadhan #Takjil Manis