Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Iptek Bisnis & UMKM Religi

Kisah Nuh bin Maryam di Marw Persia Saat Menentukan Menantu, Dari Budak Penjaga Kebun Lahir Ulama Besar Abdullah bin Mubarak

Nazwa Deriska Noviyanti • Kamis, 5 Maret 2026 | 17:17 WIB

Ilustrasi kota Marw Persia dengan sosok ulama dan perkebunan anggur yang menggambarkan kisah Nuh bin Maryam dan Mubarak.
Ilustrasi kota Marw Persia dengan sosok ulama dan perkebunan anggur yang menggambarkan kisah Nuh bin Maryam dan Mubarak.

Ikhtisar: Kisah Nuh bin Maryam di Marw Persia memperlihatkan cara memilih menantu berdasarkan agama dan amanah. Cerita ini juga melahirkan ulama besar Abdullah bin Mubarak dari pasangan Mubarak dan putri Nuh.

Balikpapan TV - Hai Cess! Di kota Marw, Persia, ada kisah menarik tentang seorang hakim sekaligus gubernur bernama Nuh bin Maryam. Ia dikenal sebagai ulama sekaligus orang kaya yang memiliki seorang putri cantik dengan karier yang baik. Ketika putrinya memasuki usia menikah, banyak pria terpandang datang melamar. Namun justru di situ kebingungan muncul.

Pilihan terlalu banyak kadang membuat keputusan terasa berat. Nah, bagaimana Nuh akhirnya menentukan calon menantu? Kisah ini malah berujung pada keputusan yang kadapapa pang sederhana tapi penuh makna. Simak terus sampai tuntas Cess!

Mengapa Nuh bin Maryam bingung memilih calon menantu untuk putrinya?

Banyak pria kaya dan berpangkat tinggi datang melamar putri Nuh bin Maryam. Situasi itu membuatnya berada dalam dilema. Setiap calon memiliki kedudukan yang kuat, sehingga memilih salah satu berpotensi menimbulkan rasa tersinggung dari pihak lain.

“Aku bingung, kalau harus memilih salah satu dari mereka sebab nanti yang lain akan tersinggung,” keluh Nuh sebagaimana dikutip dari NU Online.

Kebingungan itu terus berlangsung. Padahal putrinya sudah memasuki usia yang tepat untuk menikah. Nuh menunda keputusan, bukan karena kada ingin menikahkan anaknya, tetapi karena mempertimbangkan dampak dari pilihan yang diambil.

Nah, di sinilah cerita mulai berubah arah.

Baca Juga: Kapal Perang Iran IRIS Dena Tenggelam Ditembak Torpedo Kapal Selam Amerika Serikat di Samudra Hindia, 32 Orang Selamat dan Ratusan Pelaut Hilang

Siapa Mubarak, budak yang dipercaya menjaga kebun Nuh?

Di rumah Nuh bin Maryam ada seorang budak laki-laki bernama Mubarak. Ia dikenal sebagai pribadi yang saleh dan sangat dipercaya oleh tuannya.

Mubarak berasal dari kalangan miskin. Tugasnya sehari-hari adalah mengurus perkebunan milik Nuh yang ditanami berbagai jenis pohon dan buah. Meski statusnya budak, sifatnya dikenal jujur dan amanah.

Suatu hari Nuh meminta Mubarak memetik segenggam anggur.

“Wahai Mubarak, petikkan aku segenggam anggur,” ucap Nuh.

“Baik, Tuan. Segera saya ambilkan,” jawab Mubarak patuh.

Anggur yang dibawa ternyata masam. Nuh meminta lagi segenggam. Hasilnya sama. Anggur yang dipetik tetap masam.

Hal ini membuat Nuh heran. Dari sekian banyak buah di kebun, kenapa Mubarak tidak memilih yang manis?

Ilustrasi Mubarak menjaga kebun anggur milik Nuh bin Maryam di kota Marw.
Ilustrasi Mubarak menjaga kebun anggur milik Nuh bin Maryam di kota Marw.

Apa jawaban Mubarak yang membuat Nuh tertegun?

Pertanyaan Nuh akhirnya langsung ditujukan kepada Mubarak.

“Mubarak, dari anggur sebanyak ini, kenapa kamu tidak bisa membedakan mana yang manis dan mana yang masam?!” tanya Nuh.

Mubarak menjawab sederhana.

“Maaf, Tuan. Aku benar-benar tidak tahu mana yang manis dan mana yang masam.”

Jawaban itu membuat Nuh semakin heran. Bagaimana mungkin seseorang yang mengurus kebun sebulan penuh tidak mengetahui rasa buah di dalamnya.

“Kau kan bisa mencicipinya agar tahu mana yang manis dan mana yang masam,” sergah Nuh.

Jawaban Mubarak kemudian membuat Nuh terdiam.

“Maaf, Tuan. Engkau hanya memerintahkanku untuk menjaganya, bukan mencicipi. Aku tidak ingin mengkhianatimu.”

Jawaban itu sederhana. Tapi prinsipnya kuat. Nah, di situ Nuh melihat sesuatu yang berbeda pada diri Mubarak. Pahamlah ikam.

Bagaimana nasihat Mubarak tentang memilih calon menantu?

Setelah melihat kejujuran dan prinsip Mubarak, Nuh meminta pendapatnya tentang satu hal penting: memilih calon suami untuk putrinya.

Mubarak memberikan penjelasan yang menarik:

"Dalam memilih menantu, dulu orang-orang kafir zaman jahiliah melihat siapa orang tuanya, bagaimana reputasinya, seperti apa rumahnya, dan berapa besar kekayaannya. Sementara umat Yahudi dan Nasrani melihat sejauh mana kecantikan dan kemolekannya. Pada zaman Rasulullah sendiri, yang jadi pertimbangan adalah kualitas agama dan ketakwaannya. Pada zaman kita sekarang, kekayaan menjadi prioritas utama. Silakan, tuan pilih di antara empat ini.”

Penjelasan itu membuat Nuh merenung. Ia akhirnya menyampaikan keputusan yang tidak disangka.

“Wahai pemuda, aku memilih calon menantu yang agamanya kokoh, bertakwa, dan amanah.”

Pilihan itu ternyata mengarah kepada Mubarak sendiri.

Apa yang terjadi setelah Mubarak menikahi putri Nuh?

Mubarak sempat terkejut ketika Nuh memintanya menjadi menantu.

“Tapi, tuan, aku hanya seorang budak India berkulit hitam yang dulu engkau beli. Kenapa sekarang justru tuan ingin mengangkatku sebagai menantu?” ujarnya.

Keputusan itu kemudian dibicarakan Nuh dengan istrinya. Sang istri meminta agar putri mereka juga dimintai pendapat.

Jawaban sang putri singkat.

“Jika hal ini sudah menjadi keputusan ibu dan bapak, aku akan mematuhinya. Aku tidak akan pernah menentang perintah kalian berdua.”

Akhirnya Mubarak menikah dengan putri Nuh bin Maryam. Dari pasangan inilah kemudian lahir Abdullah bin Mubarak.

Ia kelak dikenal sebagai ulama besar yang zuhud dan banyak meriwayatkan hadits Nabi. Namanya dikenal luas dalam dunia intelektual Muslim.

Hal Penting dari Kisah Ini

1. Nuh bin Maryam merupakan hakim, gubernur, sekaligus ulama di kota Marw Persia.
2. Banyak pria kaya melamar putrinya, namun ia bingung memilih.
3. Mubarak, budak yang menjaga kebun, menunjukkan kejujuran saat diminta memetik anggur.
4. Nasihat Mubarak tentang memilih menantu menekankan agama dan ketakwaan.
5. Dari pernikahan Mubarak dan putri Nuh lahir ulama besar Abdullah bin Mubarak.

Insight: Kisah ini memperlihatkan bagaimana nilai amanah kadang muncul dari tempat yang kada disangka. Seorang budak penjaga kebun justru menunjukkan prinsip yang kuat. Dari situ Nuh melihat kualitas yang kadang luput dari pandangan banyak orang. Nah, kadang ukuran manusia tentang status, kekayaan, atau keturunan bisa berubah ketika bertemu akhlak yang teguh. Cerita ini memberi gambaran bahwa pilihan hidup sering bermula dari sikap sederhana yang dijaga dengan konsisten. Pahamlah ikam.

Bagikan jua artikel ini ke bubuhan ikam supaya kisah penuh pelajaran ini makin banyak diketahui orang Cess!

Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, 'Bukan Sekadar Info Biasa!'

FAQ

Siapa Nuh bin Maryam dalam kisah ini?
Nuh bin Maryam adalah hakim dan gubernur di kota Marw, Persia. Ia juga dikenal sebagai ulama dan orang kaya.

Siapa Mubarak yang disebut dalam cerita ini?
Mubarak adalah budak yang dipercaya menjaga perkebunan milik Nuh bin Maryam dan dikenal memiliki sifat saleh serta amanah.

Siapa Abdullah bin Mubarak?
Abdullah bin Mubarak adalah ulama besar yang lahir dari pernikahan Mubarak dan putri Nuh bin Maryam serta dikenal sebagai perawi hadits.

DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Gambar dapat saja dihasilkan AI di artikel ini hanya sebagai ilustrasi pendukung yang membantu pembaca memahami konteks informasi bukan sebagai bukti realistis. Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.

Koneksi Informasi Terkini
Koneksi Informasi Terkini

Editor : Arya Kusuma
#Mubarak penjaga kebun #Abdullah bin Mubarak #kisah memilih menantu dalam Islam #Nuh bin Maryam #Kota Marw Persia