Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Iptek Bisnis & UMKM Religi

Ujian Pernikahan dan Kesabaran Lelaki Saleh, Kisah dari Kitab Qashahsus Shahabati was Shalihin

Nazwa Deriska Noviyanti • Senin, 23 Februari 2026 | 15:33 WIB

Ilustrasi pasangan suami istri dengan nuansa reflektif sebagai simbol ujian pernikahan.
Ilustrasi pasangan suami istri dengan nuansa reflektif sebagai simbol ujian pernikahan.

Ikhtisar: Kisah lelaki saleh dalam kitab Qashahsus Shahabati was Shalihin mengajarkan makna sabar dalam pernikahan. Ujian pasangan menjadi jalan kemuliaan dan pertolongan batin dari Allah.

Balikpapan TV - Hai Cess! Menikah itu ibadah. Tapi ibadah kada pernah lepas dari ujian. Ada yang diuji soal ekonomi, keturunan, atau sikap pasangan. Semua beda-beda porsinya.

Jangan berhenti di sini. Baca sampai tuntan Cess!, karena kisah lelaki saleh ini nunjukkan bagaimana kesabaran dalam rumah tangga bisa jadi jalan kemuliaan yang kadang orang lain kada lihat.

Kisah ini dituturkan oleh Muhammad Mutawalli Asy-Syarawi dalam kitab Qashahsus Shahabati was Shalihin halaman 315, terbitan Maktabah At-Taufiqiyyah.

Kenapa Pernikahan Disebut Ibadah yang Penuh Ujian?

Pernikahan adalah bagian dari ibadah dalam Islam. Seperti ibadah lain, ia punya ujian. Kada ada pasangan tanpa tantangan.

Ada yang diuji persoalan keuangan. Ada yang diuji soal keturunan. Ada juga yang diuji lewat sikap dan karakter pasangan. Semua itu bagian dari proses. Jika dihadapi dengan sabar dan ikhlas, Allah menjanjikan anugerah dan kemuliaan.

Kisah lelaki saleh ini jadi contoh nyata. Ia alim, lembut, dikenal para penuntut ilmu sebagai guru yang bijaksana. Namun Allah mengujinya lewat istrinya yang berwatak keras dan gemar memaksakan kehendak. Ujiannya bukan di luar rumah. Tapi di dalam.

Baca Juga: Cara Memilih Lampu Untuk Plafon yang Tepat Agar Rumah Minimalis Tetap Nyaman Setiap Hari

Bagaimana Sikap Lelaki Saleh Menghadapi Istrinya yang Keras?

Ia memilih sabar. Itu kuncinya.

Setiap kali istrinya bersikap keras, ia membalas dengan kelembutan. Ia lebih sering diam daripada membalas. Bukan lemah. Tapi menjaga diri.

Suatu hari, ia mengajak istrinya ke majelis ilmu tempat ia mengajar. Harapannya sederhana. Ia ingin istrinya melihat bagaimana murid-murid menghormatinya. Ia berkata, “Andai saja engkau melihatku saat duduk di majelis ilmu, mungkin saja engkau akan memperlakukanku lebih lembut. Di sana orang-orang memperlakukanku dengan lembut, menatapku dengan hormat, dan mendengarkan ucapanku dengan khidmat.”

Ilustrasi lelaki saleh menghadapi ujian rumah tangga dengan tenang.
Ilustrasi lelaki saleh menghadapi ujian rumah tangga dengan tenang.

Apa yang Terjadi Saat Istrinya Datang ke Majelis Ilmu?

Istrinya benar-benar datang. Duduk bersama para murid. Mendengar suaminya menjelaskan ilmu dengan tenang dan menjawab pertanyaan dengan bijak.

Sang guru melihat istrinya hadir. Hatinya riang. Ia berharap perubahan akan terjadi setelah itu.

Namun saat pulang, harapannya pupus. Ketika ia bertanya, “Tadi engkau melihatku, kan?" istrinya menjawab dingin, “Ya, aku melihatmu. Tapi sungguh kasihan apa yang kulihat. Semua orang duduk tenang dan berwibawa, sedangkan engkau malah teriak-teriak.”

Jawaban itu tentu menyakitkan. Tapi ia hanya menunduk dan berkata dalam hati, “Ya Allah, mungkin Engkau sedang mendidikku melalui lisannya.”

Bagaimana Allah Memuliakan Kesabaran Lelaki Saleh Ini?

Sejak itu, ia kada lagi mengeluh. Ia menerima istrinya sebagai bagian dari ujian hidup.

Allah pun memberinya karunia berupa madad, pertolongan batin. Aura positif memancar dari wajahnya. Ucapannya menembus hati para murid. Mereka merasakan perubahan itu.

Para murid tahu, kemuliaan gurunya bukan datang tiba-tiba. Itu buah kesabaran. Bukti semakin jelas saat istrinya wafat. Wajah sang guru kada lagi bersinar seperti dahulu. Ia tetap beribadah, tetap mengajar, tapi auranya berbeda.

Saat ditanya murid, “Guru, mengapa kami tidak lagi melihat aura dalam diri engkau?” ia menjawab tenang, “Telah meninggal orang yang karena dirinya Allah memuliakanku.”

Apa Pelajaran Besar dari Kisah Rumah Tangga Ini?

Kisah ini mengajarkan satu hal penting. Ujian keluarga sering kali lebih berat karena interaksi paling sering terjadi di sana.

Sebagian besar ujian keimanan datang dari rumah. Dari orang terdekat. Dari pasangan. Dan justru di situlah ladang pahala terbuka lebar.

Lelaki saleh ini kada melihat istrinya sebagai beban. Ia melihatnya sebagai madrasah. Tempat belajar sabar. Tempat ditempa agar matang menghadapi kehidupan. Nah, pahamlah ikam, kadang orang yang paling menguji justru yang paling berjasa dalam pertumbuhan diri.

Baca Juga: Mau Mulai Usaha dirumah! Simak Panduan Usaha Makanan Skala Dapur Rumah

Insight: Kisah ini menegaskan bahwa kemuliaan kadang lahir dari ruang yang sempit, dari rumah sendiri. Ujian pasangan bisa terasa berat, tapi di situlah kualitas diri ditempa. Ada perbedaan antara membalas dan menahan diri. Lelaki saleh ini memilih menahan diri. Hasilnya nyata. Aura, madad, pengaruh pada murid. Di Balikpapan yang serba cepat ini, rumah tangga pun perlu sabar ekstra. Kada instan pang. Pahamlah ikam, ujian keluarga bisa jadi jalan naik derajat.

Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang memahami makna sabar dalam rumah tangga. Siapa tahu jadi penguat hari ini.

Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, 'Bukan Sekadar Info Biasa!'

FAQ

Apa sumber kisah lelaki saleh ini?
Kisah ini terdapat dalam kitab Qashahsus Shahabati was Shalihin karya Muhammad Mutawalli Asy-Syarawi halaman 315.

Apa bentuk ujian yang dihadapi lelaki saleh tersebut?
Ia diuji dengan istri yang berwatak keras dan gemar memaksakan kehendak.

Apa anugerah yang Allah berikan karena kesabarannya?
Allah memberinya madad atau pertolongan batin, aura positif, dan ucapannya mampu menyentuh hati para murid.

DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Gambar dapat saja dihasilkan AI di artikel ini hanya sebagai ilustrasi pendukung yang membantu pembaca memahami konteks informasi bukan sebagai bukti realistis. Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.

Koneksi Informasi Terkini
Koneksi Informasi Terkini

Editor : Arya Kusuma
#Maktabah At Taufiqiyyah #Madad #Muhammad Mutawalli Asy Syarawi #Ujian Pernikahan #Qashahsus Shahabati was Shalihin