Setrika Baju Kadang Kusut Lagi? Coba Gunakan 6 Teknik Menyetrika yang Benar Agar Pakaian Rapi dan Awet Dipakai
Keyla Editha Febrina• Kamis, 5 Maret 2026 | 08:38 WIB
Aktivitas menyetrika pakaian di rumah dengan teknik yang benar agar kain rapi.
Ikhtisar:Menyetrika pakaian memerlukan teknik yang tepat agar kain rapi, serat terjaga, dan pakaian awet dipakai. Artikel ini membahas kesalahan umum serta panduan menyetrika yang benar berdasarkan praktik perawatan tekstil.
Balikpapan TV - Hai Cess!Aktivitas menyetrika pakaian sering dianggap pekerjaan rumah sederhana. Namun di banyak rumah Indonesia, baju yang sudah disetrika kadang masih terlihat kusut atau bahkan cepat rusak setelah beberapa kali dicuci.
Padahal menurut berbagai panduan perawatan tekstil, cara menyetrika sangat mempengaruhi kualitas kain. Jika suhu terlalu tinggi atau tekniknya keliru, serat kain bisa rusak dan pakaian kehilangan bentuknya.
Di Indonesia sendiri, kebiasaan menyetrika pakaian masih sangat umum karena banyak jenis kain tropis mudah kusut setelah dicuci. Dari kemeja kerja sampai seragam sekolah.
Nah, ada beberapa teknik dasar yang sering terlewat saat menyetrika baju di rumah. Penasaran apa saja? Baca terus sampai habis Cess.
Kenapa teknik menyetrika mempengaruhi kualitas pakaian?
Serat kain memiliki struktur berbeda-beda. Kapas, linen, polyester, hingga rayon memerlukan perlakuan suhu yang berbeda saat disetrika.
Ketika panas setrika mengenai kain, serat tekstil akan melunak sehingga mudah dirapikan. Namun jika suhu terlalu tinggi, struktur serat bisa rusak dan kain menjadi kaku atau mengilap.
Contoh yang sering terjadi adalah kemeja berbahan katun yang terlihat mengilap setelah disetrika terlalu panas.
Menurut Orsola de Castro, desainer fashion sekaligus aktivis tekstil berkelanjutan dari Inggris, cara merawat pakaian termasuk proses menyetrika memiliki peran penting dalam menjaga umur pakaian.
“Cara merawat pakaian seperti mencuci dan menyetrika memiliki dampak besar terhadap umur kain. Perawatan yang tepat membantu pakaian bertahan lebih lama dan mengurangi kerusakan serat,” jelas Orsola de Castro, co-founder Fashion Revolution, dalam berbagai wawancara tentang perawatan tekstil.
Nah, pahamlah ikam. Menyetrika kada cuma soal rapi, tapi juga soal menjaga serat kain.
Contoh berbagai jenis kain pakaian yang memerlukan suhu setrika berbeda.
Kesalahan apa yang sering terjadi saat menyetrika baju di rumah?
Ada beberapa kebiasaan yang sering terjadi tanpa disadari.
Pertama, langsung menyetrika pakaian yang terlalu kering. Kain yang sangat kering biasanya lebih sulit dirapikan sehingga perlu tekanan lebih kuat.
Kedua, banyak orang mencampur semua jenis pakaian tanpa mengatur suhu setrika.
Padahal bahan sintetis seperti polyester memerlukan suhu rendah, sedangkan katun atau linen membutuhkan panas lebih tinggi.
Kesalahan lain adalah menyetrika bagian yang salah terlebih dahulu.
Contohnya kemeja yang langsung disetrika bagian depan tanpa merapikan kerah dan lengan.
Akibatnya bentuk pakaian terlihat kurang rapi.
Nah itu sudah. Kadang terlihat sepele, tapi efeknya cukup terasa.
Kesalahan umum menyetrika pakaian tanpa mengatur suhu setrika.
Apa saja 6 teknik menyetrika baju yang benar di rumah?
1. Menyortir pakaian berdasarkan jenis kain Langkah pertama sebelum menyetrika adalah memisahkan pakaian berdasarkan bahan.
Kain sintetis seperti polyester atau spandex memerlukan suhu rendah. Sementara katun dan linen membutuhkan suhu tinggi agar kusutnya hilang.
Dengan menyortir pakaian, proses menyetrika menjadi lebih aman dan kain tidak rusak karena panas berlebih.
Selain itu pekerjaan juga terasa lebih efisien.
2. Gunakan suhu setrika sesuai label pakaian Sebagian besar pakaian memiliki label perawatan.
Label tersebut menunjukkan suhu yang aman untuk menyetrika.
Biasanya simbol setrika dengan satu, dua, atau tiga titik menunjukkan tingkat panas yang direkomendasikan.
Mengikuti panduan ini membantu menjaga kualitas kain dalam jangka panjang.
3. Setrika pakaian saat sedikit lembap Banyak panduan perawatan tekstil menyarankan menyetrika pakaian ketika masih sedikit lembap.
Kelembapan membantu serat kain lebih mudah dirapikan oleh panas setrika.
Jika pakaian terlalu kering, semprotkan sedikit air menggunakan spray.
Cara ini sering digunakan pada pakaian berbahan katun atau linen.
4. Mulai dari bagian kecil pakaian Teknik menyetrika yang benar biasanya dimulai dari bagian kecil.
Misalnya kerah kemeja, manset, lalu bagian lengan.
Setelah itu baru bagian badan pakaian.
Teknik ini membantu menjaga bentuk pakaian agar terlihat rapi.
5. Gunakan alas setrika yang rata dan kuat Permukaan alas setrika mempengaruhi hasil akhir.
Jika papan setrika tidak stabil, tekanan setrika menjadi tidak merata.
Akibatnya beberapa bagian pakaian masih terlihat kusut.
Alas setrika dengan lapisan busa biasanya membantu proses menyetrika lebih optimal.
6. Setrika mengikuti arah serat kain Gerakan setrika sebaiknya mengikuti arah serat kain.
Gerakan yang terlalu acak dapat menarik serat dan membuat pakaian kehilangan bentuk.
Teknik ini penting terutama pada pakaian formal seperti kemeja kerja.
Langkah menyetrika kemeja mulai dari kerah hingga bagian badan.
Berapa kisaran suhu setrika untuk berbagai jenis kain?
Berikut kisaran suhu yang umum digunakan dalam perawatan pakaian.
• polyester: sekitar 110–150°C • sutra: sekitar 120–150°C • wol: sekitar 140–180°C • katun: sekitar 180–200°C • linen: sekitar 200–230°C
Setrika modern biasanya sudah memiliki pengatur suhu sesuai jenis kain.
Kadapapa pang meluangkan sedikit waktu membaca label pakaian sebelum menyetrika.
Ilustrasi pengaturan suhu setrika sesuai jenis kain pakaian.
Risiko yang sering diabaikan saat menyetrika pakaian
Beberapa hal kecil sering luput padahal berdampak pada kualitas pakaian.
• kain menjadi mengilap akibat suhu terlalu tinggi • serat kain melemah setelah sering terkena panas • pakaian kehilangan bentuk asli • bekas lipatan permanen pada kain • warna pakaian memudar
Tips singkat: Balik pakaian sebelum disetrika terutama untuk kain gelap atau berbahan sintetis.
Cara ini membantu menjaga warna kain.
Langkah sederhana supaya hasil setrika terlihat rapi
Ada beberapa kebiasaan yang bisa membantu menyetrika menjadi lebih efektif.
1. Gunakan hanger setelah pakaian selesai disetrika 2. Lipat pakaian segera agar tidak kusut kembali 3. Atur suhu setrika sebelum memulai 4. Gunakan semprotan air jika kain terlalu kering 5. Simpan pakaian di lemari dengan sirkulasi udara baik
Kebiasaan kecil ini membantu pakaian terlihat rapi lebih lama.
Poin Penting yang Perlu Diingat
1. Teknik menyetrika mempengaruhi umur pakaian 2. Suhu setrika harus menyesuaikan jenis kain 3. Pakaian sedikit lembap lebih mudah dirapikan 4. Menyetrika dimulai dari bagian kecil pakaian 5. Alas setrika yang stabil membantu hasil rapi
Insight:Di banyak rumah Indonesia, menyetrika sering dianggap pekerjaan rutin tanpa teknik khusus. Padahal perawatan pakaian punya dampak besar terhadap umur kain. Baju yang dirawat dengan teknik tepat bisa dipakai jauh lebih lama. Ini penting di tengah tren fashion cepat yang membuat pakaian cepat rusak. Nah, merawat pakaian sih kadapapa pang butuh waktu sedikit lebih lama. Tapi hasilnya jelas terasa. Pahamlah ikam.
Bagikan jua artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang paham cara menyetrika pakaian dengan teknik yang tepat Cess.
Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, "Bukan Sekadar Info Biasa!"
FAQ
Apakah semua pakaian harus disetrika dengan suhu tinggi? Tidak. Suhu setrika harus disesuaikan dengan jenis kain agar serat tidak rusak.
Mengapa pakaian lebih mudah disetrika saat sedikit lembap? Kelembapan membantu serat kain melunak sehingga panas setrika lebih mudah merapikan kusut.
Apakah menyetrika terlalu sering bisa merusak pakaian? Jika suhu terlalu tinggi atau tekniknya keliru, serat kain dapat melemah dan pakaian cepat rusak.
DISCLAIMER Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Gambar dapat saja dihasilkan AI di artikel ini hanya sebagai ilustrasi pendukung yang membantu pembaca memahami konteks informasi bukan sebagai bukti realistis. Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.