Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Desil 9-10 dan BBM Subsidi: Mengapa Data Kesejahteraan Kini Bisa Diperdebatkan?

Revan Prasetya Irwansyah Putra
Desil DTSEN menjadi sorotan seiring rencana pembatasan BBM subsidi bagi kelompok ekonomi 9 dan 10
Desil DTSEN menjadi sorotan seiring rencana pembatasan BBM subsidi bagi kelompok ekonomi 9 dan 10

Durasi Baca: 8 menit

Ikhtisar: Desil menjadi sorotan karena rencana pembatasan BBM subsidi, sementara DTSEN memakai pemeringkatan sosial ekonomi nasional berbasis berbagai karakteristik keluarga Indonesia.

 

Advertisement

Balikpapan TV - Hai Ces! Rencana pemerintah membatasi pembelian BBM subsidi bagi desil 9 dan 10 membuat cara penentuan kesejahteraan kembali dipertanyakan. Polemik ini berkaitan dengan DTSEN dan akurasi pemeringkatan keluarga.

Di balik angka desil, ada metode statistik, data sosial ekonomi, dan posisi relatif keluarga dalam populasi nasional. Memahami cara kerjanya penting sebelum menilai apakah sebuah keluarga layak menerima atau kehilangan fasilitas subsidi.

Desil Bukan Sekadar Urutan Pendapatan Keluarga

Desil 1 sampai 10 bukan label pendapatan tetap. Posisi keluarga dapat berubah ketika kondisi ekonomi dan pemeringkatan berubah.

DTSEN dibangun dari integrasi DTKS, P3KE, Regsosek, data administratif, serta pembaruan kependudukan melalui Dukcapil. BPS menyebut DTSEN menjadi rujukan bersama pemerintah untuk berbagai program sosial ekonomi.

BPS menjelaskan desil dihitung memakai berbagai karakteristik sosial ekonomi melalui metode Proxy Means Test atau PMT. Karakteristik tersebut mencakup perumahan, air minum, energi memasak, aset, listrik, pendidikan, pekerjaan, kesehatan, dan disabilitas.

Karena banyak indikator dipakai bersama, perubahan satu kondisi rumah tangga belum otomatis menggeser posisi desil. Perubahan tersebut harus masuk dalam proses pemutakhiran dan penghitungan kembali.

Desil DTSEN mencerminkan pemeringkatan sosial ekonomi keluarga berdasarkan berbagai indikator yang dapat berubah berkala. [BTV:AI]
Desil DTSEN mencerminkan pemeringkatan sosial ekonomi keluarga berdasarkan berbagai indikator yang dapat berubah berkala. [BTV:AI]

Mengapa Pengeluaran Per Kapita Menjadi Perdebatan?

Di sinilah kritik Arief Anshory Yusuf menjadi penting. Ia menyoroti keterbatasan data pengeluaran per kapita dalam DTSEN.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Balikpapan TelevisiIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Gempa NTT Masuk Tahap Pemulihan, Apa Dampaknya bagi Anggaran dan Aktivitas Ekonomi?

Gempa NTT Masuk Tahap Pemulihan, Apa Dampaknya bagi Anggaran dan Aktivitas Ekonomi?

Gempa NTT masuk tahap pemulihan. Simak dampaknya bagi anggaran, infrastruktur, dan aktivitas ekonomi warga, Ces!

Proyek PSEL Bekasi Rp3 Triliun Resmi Dimulai, Ini Dampaknya bagi Ekonomi Hijau

Proyek PSEL Bekasi Rp3 Triliun Resmi Dimulai, Ini Dampaknya bagi Ekonomi Hijau

PSEL Bekasi Rp3 triliun mengolah sampah menjadi energi dan membuka 1.000 pekerjaan hijau, simak dampaknya Ces!

El Nino Perkuat Risiko Karhutla IKN, Begini Dampaknya bagi Ekonomi Kaltim

El Nino Perkuat Risiko Karhutla IKN, Begini Dampaknya bagi Ekonomi Kaltim

El Nino meningkatkan risiko karhutla IKN. Simak dampaknya bagi ekonomi Kaltim dan mitigasinya, Ces!

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer