Dari Botol Plastik ke Tabungan Emas, Rantai Ekonomi Daur Ulang Jadi Cuan


Durasi Baca: 3–4 menit
Ikhtisar: Penguatan bank sampah melalui FORSEPSI 2026 membuka peluang ekonomi masyarakat. Namun, harga material dan biaya distribusi masih menjadi tantangan pengelolaan sampah di Balikpapan.
Balikpapan TV - Hai Ces! Sampah botol plastik yang dipilah warga Balikpapan bisa berujung menjadi tabungan emas, tetapi perjalanan nilainya masih menghadapi ongkos pengiriman ke industri pengolahan di luar Kalimantan Timur.
Di balik kebiasaan memilah dari rumah, ada urusan harga, pembeli, dan biaya logistik. FORSEPSI 2026 kembali mengangkat tantangan itu di tingkat daerah.
Dari setoran sampah, Yanto mengumpulkan tabungan emas
Bagi Yanto, nasabah Bank Sampah Induk Kota Hijau Balikpapan, menyetorkan sampah sudah menjadi “ritual kecil untuk masa depan”.
Dalam laporan Kaltim Post September 2025, saldo Tabungan Emasnya tercatat 9 gram. Ia berencana mencetak emas setelah mencapai 10 gram.
Kebiasaan memilah juga tumbuh di keluarganya. Anak-anak Yanto bahkan membawa botol bekas dari sekolah untuk ditabung.
Pengalaman serupa dijalankan Abdul Rahman, pengelola Bank Sampah Induk Kota Hijau. Ia menyebut, “Sampah yang semula tidak bernilai, tiba-tiba berubah menjadi aset masa depan.”
ANTARA mencatat bank sampah tersebut memiliki lebih dari 2.650 nasabah aktif pada September 2025. Sebanyak 600 nasabah di antaranya membuka Tabungan Emas.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




