Ketika Kota Makin Sibuk, Cara Menjaga Kesehatan Mental Atasi Stres

Ahla Najwa • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 08:40 WIB
Ilustrasi warga Balikpapan menjalani rutinitas perkotaan di tengah kesibukan kerja, perjalanan, keluarga, dan kebutuhan menjaga kesehatan mental. (BTV/AI)
Ilustrasi warga Balikpapan menjalani rutinitas perkotaan di tengah kesibukan kerja, perjalanan, keluarga, dan kebutuhan menjaga kesehatan mental. (BTV/AI)

Durasi Baca: 7 Menit

Ikhtisar: Rutinitas kerja, perjalanan, urusan keluarga, tekanan ekonomi hingga tuntutan untuk selalu terhubung bisa membuat seseorang merasa terus berjalan tanpa benar-benar punya waktu untuk pulih. 

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Pagi dimulai dengan pekerjaan. Setelah itu perjalanan pulang, urusan rumah, pesan yang belum dibalas, pekerjaan yang masih terbawa sampai malam, lalu besok semuanya dimulai lagi.

Kadang tubuh memang hanya membutuhkan tidur. Tetapi ada kalanya yang terasa bukan sekadar mengantuk atau capek setelah beraktivitas.

Pikiran sulit berhenti, konsentrasi menurun, tidur berantakan, mudah tersinggung, kehilangan minat melakukan hal yang biasanya disukai, atau merasa tidak punya cukup ruang untuk bernapas.

Kondisi seperti ini sering dianggap sebagai bagian biasa dari kehidupan orang dewasa. Padahal, kesehatan mental berada pada sebuah spektrum. Tekanan hidup dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk bekerja, beristirahat, berhubungan dengan orang lain, dan menjalani aktivitas sehari-hari.

Karena itu, persoalannya bukan sekadar bagaimana menjadi lebih kuat menghadapi rutinitas.

Pertanyaannya adalah: kapan seseorang cukup membutuhkan jeda, dan kapan sudah waktunya mencari bantuan?

Kota yang Sibuk, Pikiran yang Tidak Pernah Benar-Benar Berhenti

Kehidupan perkotaan membuat banyak orang menjalani beberapa peran sekaligus.

Di tempat kerja harus produktif. Di rumah ada tanggung jawab keluarga. Di luar itu masih ada kebutuhan sosial, urusan finansial, perjalanan, komunikasi digital dan berbagai hal kecil yang terus meminta perhatian.

Masalahnya bukan selalu satu tekanan besar.

Tekanan yang datang sedikit demi sedikit pun dapat menguras energi jika waktu untuk memulihkan diri semakin sempit.

Seseorang mungkin masih bekerja seperti biasa, tetap datang ke kampus, mengurus keluarga atau bertemu teman. Dari luar, semuanya terlihat berjalan normal.

Namun kemampuan menjalankan aktivitas tidak selalu berarti kondisi mental sedang baik-baik saja.

Kementerian Kesehatan mengingatkan bahwa masalah kesehatan jiwa sering tidak terlihat secara kasatmata. Karena itu, perubahan kondisi seseorang perlu diperhatikan sebelum berkembang menjadi persoalan yang lebih berat.

Baca Juga: Klinik Permata 79 BDS Ajak Warga Sehat Lewat Senam dan Cek Kesehatan Gratis

Lelah, Stres, Burnout, atau Masalah yang Membutuhkan Bantuan?

Tidak semua rasa lelah berarti seseorang mengalami gangguan mental. Lelah setelah menyelesaikan pekerjaan berat dapat menjadi respons yang wajar. Begitu pula stres sementara ketika menghadapi tenggat, ujian, persoalan keluarga atau situasi sulit.

Yang perlu diperhatikan adalah pola dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari. Jika tekanan terus berlangsung dan mulai memengaruhi tidur, konsentrasi, hubungan dengan orang lain, pekerjaan, pola makan atau kemampuan menjalankan aktivitas, kondisi tersebut layak mendapatkan perhatian lebih.

Burnout juga tidak sama dengan sekadar merasa capek. Dalam konteks pekerjaan, burnout berkaitan dengan tekanan kerja kronis yang tidak berhasil dikelola dan dapat terlihat melalui kelelahan, jarak mental terhadap pekerjaan, serta penurunan efektivitas kerja.

Ilustrasi warga mengenali perbedaan lelah, stres, burnout, dan gangguan mental berdasarkan pola serta dampaknya. (BTV/AI)
Ilustrasi warga mengenali perbedaan lelah, stres, burnout, dan gangguan mental berdasarkan pola serta dampaknya. (BTV/AI)

Sementara itu, gangguan mental merupakan kondisi yang memiliki karakter klinis dan dapat menyebabkan gangguan bermakna pada fungsi kehidupan seseorang. Jadi, jangan terburu-buru memberi label kepada diri sendiri.

Tanda-tanda tersebut lebih tepat dipakai sebagai alasan untuk mengevaluasi kondisi dan, bila diperlukan, berbicara dengan tenaga profesional.

Apa yang Paling Sering Menguras Energi Mental?

Setiap orang mempunyai pemicu yang berbeda. Namun beberapa tekanan dapat muncul bersamaan.

1. Tekanan pekerjaan

Target, beban kerja, konflik di tempat kerja atau sulitnya memisahkan pekerjaan dari kehidupan pribadi dapat membuat pikiran terus berada dalam mode bekerja.

2. Persoalan finansial

Ketidakpastian pendapatan, cicilan, kebutuhan keluarga dan biaya hidup dapat menjadi sumber tekanan yang berlangsung lama.

3. Hubungan dengan orang lain

Konflik keluarga, pasangan, pertemanan atau lingkungan kerja juga dapat memengaruhi kondisi psikologis.

4. Kurang tidur

Waktu istirahat yang terus dikorbankan untuk menyelesaikan pekerjaan atau aktivitas lain membuat tubuh dan pikiran memiliki lebih sedikit kesempatan untuk pulih.

5. Terlalu banyak paparan digital

Ponsel membuat pekerjaan dan percakapan sosial dapat masuk ke ruang pribadi kapan saja. Media sosial juga dapat membuat seseorang terus membandingkan kehidupannya dengan orang lain.

Karena itu, menjaga kesehatan mental tidak selalu berarti menambah kegiatan baru ke dalam jadwal.

Kadang justru perlu mengurangi hal-hal yang terus mengambil ruang di kepala.

Coba Perhatikan Lima Hal Ini dalam Kehidupan Sehari-hari

Daripada terus bertanya, “Saya ini kenapa?”, seseorang dapat mulai mengamati perubahan yang lebih konkret.

Pertama, tidur. Apakah jadwal tidur berubah atau kualitas tidur semakin buruk?

Kedua, energi. Apakah aktivitas sederhana terasa jauh lebih melelahkan daripada biasanya?

Ketiga, konsentrasi. Apakah pekerjaan atau aktivitas yang biasanya dapat diselesaikan mulai sulit dilakukan?

Keempat, hubungan sosial. Apakah seseorang mulai menarik diri atau kehilangan keinginan berinteraksi?

Kelima, fungsi sehari-hari. Apakah kondisi tersebut sudah membuat pekerjaan, kuliah, hubungan keluarga atau aktivitas rutin terganggu?

Lima hal ini bukan alat untuk mendiagnosis diri sendiri. Fungsinya lebih sederhana: membantu seseorang menyadari bahwa ada perubahan yang mungkin perlu diperhatikan.

Baca Juga: Begini Cara Mencuci Beras agar Bersih Tanpa Air Berlebihan

Self-Care Tidak Harus Rumit

Menjaga kesehatan mental sering dibayangkan sebagai sesuatu yang membutuhkan banyak waktu dan biaya.

Padahal, langkah dasarnya dapat dimulai dari kebiasaan yang sederhana.

1. Beri batas antara kerja dan waktu pribadi

Tidak semua pesan pekerjaan harus dijawab pada detik yang sama. Jika situasi pekerjaan memungkinkan, tentukan waktu ketika aktivitas profesional benar-benar berhenti.

2. Prioritaskan tidur

Tidur bukan waktu yang terbuang. Tubuh membutuhkan kesempatan untuk memulihkan diri setelah menjalani aktivitas sepanjang hari.

3. Bergerak

Aktivitas fisik ringan dapat menjadi bagian dari rutinitas menjaga kesehatan. Tidak harus selalu olahraga berat.

Berjalan kaki, melakukan peregangan atau aktivitas fisik yang realistis bagi kondisi masing-masing dapat menjadi awal.

4. Kurangi waktu layar pada momen tertentu

Tidak harus langsung menghilangkan media sosial.

Cukup mulai dengan menentukan waktu tertentu tanpa notifikasi, terutama ketika tubuh dan pikiran seharusnya beristirahat.

5. Tetap terhubung dengan orang yang dipercaya

Percakapan sederhana dengan teman, pasangan atau keluarga dapat menjadi ruang untuk tidak menghadapi semuanya sendirian.

6. Sisakan waktu untuk aktivitas yang memang disukai

Hobi tidak harus produktif.

Membaca, memasak, berkebun, menggambar, mendengarkan musik atau sekadar menikmati waktu tenang dapat menjadi bagian dari pemulihan selama dilakukan secara realistis.

WHO menempatkan tidur cukup, aktivitas fisik, pola hidup sehat dan hubungan sosial sebagai bagian dari praktik self-care. Namun self-care bukan pengganti sistem kesehatan atau bantuan tenaga profesional ketika seseorang memang membutuhkannya.

Baca Juga: 5 Kebiasaan Sehari-hari yang Diam-diam Merusak Kualitas Tidur, Nomor 2 Sering Dilakukan!

Jangan Sampai Self-Care Malah Menjadi Beban

Ada jebakan lain ketika membicarakan kesehatan mental: membuat daftar kewajiban baru. Harus olahraga setiap hari. Harus meditasi. Harus bangun sangat pagi. Harus journaling. Harus selalu positif.

Jika semua itu justru membuat seseorang merasa gagal karena tidak mampu melakukannya, tujuan awalnya menjadi hilang. Rutinitas kesehatan mental seharusnya dapat disesuaikan dengan kehidupan nyata.

Ilustrasi rutinitas sederhana menjaga kesehatan mental yang fleksibel, konsisten, dan tidak menambah tekanan dalam keseharian. (BTV/AI)
Ilustrasi rutinitas sederhana menjaga kesehatan mental yang fleksibel, konsisten, dan tidak menambah tekanan dalam keseharian. (BTV/AI)

Untuk pekerja dengan jadwal padat, mungkin cukup menyediakan waktu tanpa pekerjaan sebelum tidur. Untuk mahasiswa, mungkin berupa jeda setelah menyelesaikan tugas.

Untuk orang tua, mungkin berarti meminta bantuan pasangan atau anggota keluarga agar memiliki waktu istirahat. Yang dicari bukan rutinitas yang terlihat sempurna.

Yang lebih penting adalah rutinitas yang bisa dijalankan secara konsisten dan tidak menambah tekanan.

Kapan Sebaiknya Mulai Mencari Bantuan?

Mencari bantuan tidak harus menunggu sampai kondisi menjadi krisis.

Jika tekanan mental mulai mengganggu pekerjaan, tidur, hubungan, konsentrasi atau aktivitas sehari-hari, berbicara dengan tenaga kesehatan dapat menjadi langkah yang masuk akal.

Skrining juga dapat membantu seseorang mengenali kondisi awal. Kementerian Kesehatan menyediakan skrining kesehatan jiwa, termasuk melalui kuesioner SRQ-20. Namun hasil skrining bukan diagnosis medis. Hasil yang kurang baik perlu ditindaklanjuti dengan penilaian tenaga profesional.

Di Balikpapan, sistem layanan kesehatan kota juga mencantumkan pelayanan kesehatan jiwa di fasilitas kesehatan tingkat pertama, termasuk Puskesmas tertentu.

Artinya, mencari pertolongan tidak selalu berarti langsung menuju layanan yang jauh atau menunggu kondisi menjadi berat.

Langkah pertama dapat dimulai dengan bertanya kepada fasilitas kesehatan terdekat mengenai layanan yang tersedia.

Kalau Teman Kita yang Terlihat Kewalahan?

Kadang orang yang membutuhkan bantuan bukan diri sendiri, melainkan teman atau anggota keluarga. Perubahan perilaku dapat menjadi alasan untuk mendekat.

Misalnya, seseorang yang biasanya aktif tiba-tiba menarik diri, kehilangan minat terhadap aktivitas, mengalami perubahan suasana hati yang mencolok atau mengatakan bahwa hidup terasa tidak berarti.

Tidak perlu langsung memberikan ceramah. Mulailah dengan pertanyaan sederhana:

“Kamu akhir-akhir ini kelihatan berat. Mau cerita?”

Dengarkan tanpa buru-buru menghakimi atau mengecilkan masalah.

Jika kondisi terlihat serius, tawarkan bantuan untuk mencari tenaga profesional. Bila orang tersebut berada dalam kondisi krisis atau berisiko menyakiti dirinya, jangan dibiarkan sendirian dan segera cari bantuan darurat atau layanan krisis.

Kementerian Kesehatan menyediakan Healing119, layanan dukungan psikologis awal yang dapat diakses melalui 119 ekstensi 8. Layanan ini juga menyediakan akses melalui kanal digital dan dapat membantu menghubungkan masyarakat dengan bantuan lanjutan bila diperlukan.

Baca Juga: Olahraga Rutin Bukan Sekadar Menjaga Kebugaran, Ini Dampaknya bagi Kesehatan dan Aktivitas Harian

Balikpapan dan Pentingnya Ruang untuk Berhenti

Kesehatan mental warga kota tidak hanya berkaitan dengan apa yang dilakukan seseorang ketika sudah merasa tertekan.

Ada juga pertanyaan yang lebih besar: apakah kehidupan sehari-hari memberi cukup ruang bagi seseorang untuk beristirahat, bersosialisasi, bergerak dan menjalani aktivitas yang bermakna?

Karena itu, menjaga mental health di Balikpapan tidak perlu diterjemahkan sebagai gaya hidup yang mahal atau rumit. Mulailah dari hal yang dekat dengan rutinitas masing-masing.

Kenali kapan tubuh meminta istirahat. Perhatikan ketika konsentrasi mulai berubah. Jangan mengabaikan hubungan sosial. Beri batas pada pekerjaan ketika memungkinkan. Dan yang tidak kalah penting, jangan menganggap mencari bantuan sebagai tanda kegagalan.

Ada masalah yang memang dapat dibantu dengan tidur cukup dan jeda. Ada pula kondisi yang membutuhkan orang lain untuk membantu kita melewatinya. Mengetahui perbedaannya adalah bagian dari menjaga kesehatan diri.

Poin Penting

Insight Redaksi

Kesehatan mental tidak selalu terlihat seperti seseorang yang sedang “tidak baik-baik saja”. Bisa saja seseorang tetap bekerja, tetap bercanda, tetap membalas pesan dan tetap menjalankan rutinitas sambil diam-diam kesulitan mengelola tekanan. Karena itu, ukuran kesehatan mental bukan hanya apakah seseorang masih mampu beraktivitas. Ada kalanya pertanyaan yang lebih penting adalah: berapa besar energi yang harus dikeluarkan untuk tetap terlihat baik-baik saja?

Kita tidak selalu bisa mengurangi kesibukan kota. Pekerjaan tetap ada, perjalanan tetap harus ditempuh, keluarga tetap membutuhkan perhatian dan masalah hidup tidak semuanya bisa selesai dalam satu malam. Tetapi kita masih bisa belajar mengenali batas diri.

Hari ini mungkin cukup dengan tidur lebih teratur. Besok mungkin perlu bicara dengan orang yang dipercaya. Dan pada kondisi tertentu, langkah terbaik justru meminta bantuan profesional.

Merawat kesehatan mental bukan berarti berhenti menjalani hidup. Justru supaya kita bisa terus menjalani hidup dengan lebih sadar, lebih sehat dan tidak sendirian menghadapi semuanya.

Kalau informasi seperti ini terasa dekat dengan kehidupan Ces, bagikan kepada teman atau keluarga yang mungkin sedang membutuhkan. Sebab terkadang, satu percakapan sederhana bisa menjadi awal seseorang berani meminta bantuan.

FAQ

1. Apa tanda seseorang sedang mengalami tekanan mental?

Perubahan tidur, energi, konsentrasi, suasana hati, hubungan sosial dan kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari dapat menjadi tanda yang perlu diperhatikan. Tanda tersebut tidak otomatis berarti gangguan mental dan tidak dapat digunakan untuk mendiagnosis diri sendiri.

2. Apa perbedaan stres dan gangguan mental?

Stres dapat muncul sebagai respons terhadap tekanan kehidupan. Gangguan mental memiliki karakter klinis dan dapat menyebabkan gangguan bermakna pada fungsi kehidupan. Karena itu, penilaian profesional diperlukan ketika kondisi mulai menetap atau mengganggu kehidupan sehari-hari.

3. Kapan sebaiknya menemui psikolog atau tenaga kesehatan?

Ketika tekanan mulai mengganggu pekerjaan, pendidikan, tidur, hubungan, konsentrasi atau aktivitas sehari-hari, konsultasi dapat dipertimbangkan. Tidak perlu menunggu sampai kondisi menjadi sangat berat.

4. Apakah self-care cukup untuk mengatasi semua masalah kesehatan mental?

Tidak. Self-care dapat membantu menjaga kesehatan dan mengelola tekanan, tetapi tidak menggantikan layanan kesehatan ketika seseorang membutuhkan pemeriksaan atau penanganan profesional.

5. Apakah hasil skrining kesehatan mental berarti seseorang mengalami gangguan jiwa?

Tidak. Skrining merupakan alat deteksi dini, bukan diagnosis. Hasil yang menunjukkan adanya risiko perlu ditindaklanjuti dengan tenaga kesehatan.

6. Apa yang harus dilakukan jika seseorang berpikir untuk menyakiti dirinya?

Jangan biarkan orang tersebut menghadapi kondisi itu sendirian. Ajak berbicara, bantu mencari pertolongan profesional, dan gunakan layanan darurat atau layanan krisis bila terdapat bahaya segera. Di Indonesia, Healing119 dapat diakses melalui 119 ekstensi 8.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
kesehatan balikpapan kesehatan mental lifestyle