Durasi Baca: 6 menit
Ikhtisar: Empat teknik belajar membantu meningkatkan fokus, pemahaman, daya ingat, dan kebiasaan belajar tanpa mengandalkan sistem kebut semalam.
Balikpapan TV - Hai Ces! Pernah duduk berjam-jam di depan buku, mencatat banyak halaman, lalu keesokan harinya justru bingung ketika mencoba mengingatnya? Persoalannya belum tentu soal kemampuan. Cara belajar, jarak waktu mengulang materi, tidur, dan bagaimana otak dipaksa mengingat juga punya peran.
Materi dari Stik Journey menyoroti empat kebiasaan belajar yang bisa dicoba, mulai dari membagi waktu belajar sampai menjelaskan kembali materi dengan bahasa sendiri.
Yang menarik, sejumlah penelitian pendidikan juga menunjukkan bahwa belajar dengan jeda dan latihan mengingat kembali informasi dapat membantu retensi dibandingkan sekadar menumpuk waktu belajar dalam satu sesi.
Belajar lama belum tentu membuat materi lebih melekat
Salah satu kebiasaan yang sering muncul menjelang ujian adalah Sistem Kebut Semalam (SKS). Materi dikumpulkan sebanyak mungkin dalam satu waktu karena merasa semakin lama belajar, semakin banyak pula yang akan tersimpan.
Padahal, belajar dengan cara menumpuk seluruh materi dalam satu sesi berbeda dengan distributed practice atau belajar yang disebar dalam beberapa kesempatan. Tinjauan sistematis pada pendidikan profesi kesehatan menemukan sebagian besar eksperimen yang diteliti menunjukkan manfaat distributed practice dan/atau retrieval practice dibandingkan sejumlah metode pembanding.
Artinya, persoalannya bukan sekadar berapa jam buku terbuka. Yang juga penting adalah bagaimana waktu tersebut digunakan dan kapan materi dipanggil kembali dari ingatan.
1. Coba pola belajar 25 menit, lalu istirahat
Stik Journey memperkenalkan Teknik Pomodoro, yaitu belajar selama 25 menit kemudian mengambil jeda sekitar 5 menit sebelum melanjutkan sesi berikutnya.
Pola ini dapat membantu membuat waktu belajar terasa lebih terukur. Daripada memasang target abstrak seperti “harus belajar sampai semua selesai”, perhatian diarahkan pada satu sesi pendek yang jelas.
Selama 25 menit, pilih satu target. Misalnya memahami satu konsep matematika, membaca satu subbab, atau membuat beberapa soal latihan.
Lima menit berikutnya jangan dipakai untuk membuka materi baru. Berdiri, berjalan sebentar, minum, atau sekadar mengistirahatkan mata.
Yang perlu diperhatikan, angka 25 menit dan 5 menit dalam materi Stik Journey lebih tepat diperlakukan sebagai pola praktis, bukan durasi yang otomatis paling efektif untuk semua orang. Kebutuhan konsentrasi dapat berbeda berdasarkan usia, jenis materi, dan kondisi belajar.
2. Jangan hanya membaca, coba jelaskan dengan bahasa sendiri
Teknik kedua adalah Metode Feynman. Gagasan sederhananya: setelah mempelajari sesuatu, coba jelaskan kembali seolah-olah sedang mengajarkannya kepada orang lain.
Di sinilah bagian yang sering mengejutkan.
Ketika hanya membaca, seseorang bisa merasa sudah memahami materi karena semua jawabannya masih terlihat di halaman. Namun ketika buku ditutup dan diminta menjelaskan dengan bahasa sendiri, bagian yang belum dipahami biasanya lebih mudah terlihat.
Stik Journey menyarankan penggunaan cermin jika tidak ada orang lain yang bisa menjadi pendengar.
Cara ini juga sejalan dengan konsep retrieval practice, yakni berusaha mengambil kembali informasi dari ingatan, bukan sekadar membacanya berulang-ulang. Sejumlah kajian menemukan latihan mengingat kembali dapat membantu pembelajaran dan retensi.
Jadi, setelah membaca satu materi, tutup buku dan tanyakan: “Kalau harus menjelaskan ini tanpa melihat catatan, apa yang bisa saya ceritakan?”
Jika masih tersendat, bagian itulah yang perlu dipelajari kembali.
Baca Juga: Sering Bingung Mau Masak Apa? Ini 7 Trik Menyiapkan Menu Harian agar Tidak Boros
3. Ubah catatan menjadi sesuatu yang bisa dipahami
Catatan tidak harus berupa halaman penuh tulisan.
Stik Journey menyarankan penggunaan mind map, gambar, warna, atau singkatan agar informasi memiliki bentuk yang lebih mudah dipanggil kembali.
Namun, jangan berhenti pada kegiatan mempercantik catatan. Tujuan utamanya tetap membuat hubungan antargagasan menjadi lebih jelas.
Misalnya, satu konsep utama ditempatkan di tengah. Dari sana, buat cabang berisi pengertian, contoh, penyebab, akibat, atau istilah penting.
Strategi belajar berbasis visual seperti dual coding juga termasuk pendekatan yang banyak dibahas dalam literatur pembelajaran, bersama spacing, retrieval practice, elaboration, dan concrete examples.
Dengan begitu, catatan bukan lagi sekadar salinan buku. Catatan menjadi peta yang membantu otak melihat hubungan antarbagian materi.
4. Jangan mengorbankan tidur demi menambah jam belajar
Bagian ini sering terlupakan ketika ujian sudah dekat.
Stik Journey memasukkan olahraga ringan dan tidur cukup sebagai bagian dari kebiasaan belajar. Jalan kaki singkat atau stretching dapat menjadi jeda dari posisi duduk, sedangkan tidur memberi kesempatan bagi tubuh dan otak untuk beristirahat.
Hubungan tidur dengan pembelajaran bukan sekadar anggapan populer. Meta-analisis tentang kurang tidur menemukan bahwa kekurangan tidur sebelum maupun setelah proses belajar dapat berdampak buruk terhadap memori materi yang baru dipelajari.
Penelitian pada remaja juga menemukan bahwa tidur terbatas lebih berkaitan dengan penurunan kemampuan mengingat pada materi yang dipelajari secara sekaligus dibandingkan materi yang dipelajari dengan jeda.
Karena itu, menambah jam belajar dengan memangkas waktu tidur tidak selalu menjadi pertukaran yang menguntungkan.
Baca Juga: Bikin Buket Sendiri di Rumah? Ini 6 Trik Menata Bunga agar Rapi dan Tampil Profesional
Bukan cuma belajar lebih lama, tetapi belajar dengan cara yang berbeda
Empat teknik tadi sebenarnya mengarah pada satu perubahan kebiasaan: jangan menjadikan membaca berulang sebagai satu-satunya cara belajar.
Belajar dapat dibagi menjadi sesi yang lebih teratur. Materi bisa dijelaskan kembali tanpa melihat buku. Catatan dapat dibuat untuk menunjukkan hubungan antargagasan. Setelah itu, tubuh tetap diberi kesempatan untuk bergerak dan tidur dengan cukup.
Bahkan, penelitian mengenai distributed practice dan retrieval practice menunjukkan bahwa strategi tersebut cukup sering menghasilkan hasil belajar yang lebih baik dibandingkan metode pembanding, meski penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan konteks belajar.
Jadi, ketika materi terasa cepat hilang, pertanyaannya tidak harus berhenti pada “Kenapa saya susah mengingat?”
Pertanyaan yang lebih berguna adalah: “Apa yang sebenarnya saya lakukan selama belajar?”
Poin Penting
- Belajar berjam-jam tidak otomatis membuat materi tersimpan lebih kuat.
- Belajar dengan jeda dapat menjadi alternatif dari sistem kebut semalam.
- Menjelaskan kembali materi membantu menguji apakah konsep benar-benar dipahami.
- Mind map, gambar, dan struktur visual dapat membuat catatan lebih bermakna.
- Tidur merupakan bagian penting dalam proses belajar dan memori.
- Pola 25 menit belajar dan 5 menit istirahat dapat dicoba sebagai strategi mengatur fokus, bukan aturan mutlak.
Insight Redaksi
Belajar efektif bukan perlombaan mengumpulkan durasi, melainkan kemampuan mengatur perhatian, memahami konsep, lalu memanggilnya kembali. Bagi pelajar, kebiasaan kecil seperti menutup buku dan menjelaskan materi sendiri justru bisa menjadi latihan paling jujur untuk mengetahui bagian yang masih belum dipahami.
Kalau biasanya belajar baru dikebut ketika ujian sudah dekat, coba pecah materi menjadi sesi kecil sejak beberapa hari sebelumnya. Pelan tidak masalah, yang penting jangan baru mulai ketika waktunya sudah mepet.
Bagikan artikel ini ke teman belajar yang sering bilang sudah membaca semua materi, tetapi besoknya lupa lagi.
Belajar tidak harus lama terus-menerus; yang penting tahu cara membuat waktu belajar benar-benar berarti bersama Balikpapan TV.
FAQ
1. Apakah belajar 25 menit selalu paling efektif?
Tidak selalu. Pola 25 menit belajar dan 5 menit istirahat merupakan teknik pengaturan waktu yang dapat dicoba. Durasi ideal bisa berbeda berdasarkan jenis materi, kemampuan konsentrasi, dan kondisi setiap orang.
2. Mengapa menjelaskan materi sendiri bisa membantu?
Menjelaskan kembali memaksa seseorang mengambil informasi dari ingatan dan menyusunnya menggunakan bahasa sendiri. Bagian yang sulit dijelaskan dapat menjadi petunjuk bahwa materi tersebut masih perlu dipahami.
3. Apakah membuat catatan berwarna otomatis membuat belajar lebih efektif?
Tidak otomatis. Warna, gambar, dan mind map sebaiknya digunakan untuk memperjelas hubungan antargagasan, bukan sekadar mempercantik halaman.
4. Apakah tidur benar-benar berhubungan dengan daya ingat?
Ya. Sejumlah penelitian menemukan kurang tidur dapat mengganggu proses belajar dan memori, termasuk materi yang baru dipelajari.
5. Apa yang bisa dilakukan jika sering belajar dengan sistem kebut semalam?
Mulailah memecah materi menjadi beberapa sesi. Setelah belajar, tutup catatan dan coba ingat kembali poin utamanya. Cara tersebut lebih dekat dengan prinsip distributed practice dan retrieval practice.Sumber Informasi:
Informasi ini telah tayang sebelumnya di YouTube Stik Journey, dengan judul “4 Menit Buat Kamu Berfikir Cerdas | Menjadi Cerdas”. Dipublikasikan kembali dengan penyesuaian angle dan style artikel Balikpapantv.id.