Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Bisnis & UMKM Iptek Mimbar Opini

Cara Berpikir Empat Tokoh Ini Bisa Mengubah Cara Melihat Diri Sendiri

AdminBTV • Minggu, 12 Juli 2026 | 11:26 WIB
Empat perspektif membantu membangun pola pikir kritis, memperkuat kepercayaan diri, dan mendukung pengembangan diri berkelanjutan. (BTV/AI)
Empat perspektif membantu membangun pola pikir kritis, memperkuat kepercayaan diri, dan mendukung pengembangan diri berkelanjutan. (BTV/AI)

Durasi Baca: 6 Menit

Topik: Empat Perspektif Membangun Pola Pikir Kritis dan Kepercayaan Diri Berkelanjutan

Ikhtisar: Empat narasumber membahas pentingnya berpikir kritis, mengenali potensi diri, menghargai proses, serta mengambil keputusan berdasarkan nilai pribadi agar pertumbuhan berlangsung lebih sehat.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Berpikir kritis, mengenali potensi diri, menikmati proses, hingga berani menentukan arah hidup menjadi benang merah dalam video Suara Berkelas yang dipandu Vilaf Franov bersama Abigail Limuria, Pak Hendra, Baskara Hindia, dan Panji Pragiwaksono.

Empat sudut pandang itu saling melengkapi untuk membantu banyak orang membangun rasa percaya diri yang bertumpu pada cara berpikir, bukan sekadar pencitraan.

Masih sering merasa tertinggal atau bingung menentukan langkah? Simak sampai selesai. Ada banyak sudut pandang yang mungkin mengubah cara memandang diri sendiri, Ces!

Apa Hubungan Berpikir Kritis dengan Rasa Percaya Diri?

Percaya diri ternyata bukan sekadar berani berbicara. Dalam pembahasan bersama Abigail Limuria, kepercayaan diri justru lahir ketika seseorang memiliki cara berpikir yang sehat dan mampu mengolah informasi secara rasional.

Vilaf Franov menyoroti kebiasaan sebagian orang yang ingin terlihat pintar saat menjelaskan sesuatu. Menurutnya, pendekatan tersebut justru berisiko membuat komunikasi kehilangan makna. Nilai utama bukan terletak pada bagaimana seseorang tampak cerdas, melainkan apakah orang lain dapat memahami penjelasan yang diberikan.

Abigail Limuria, Co-Founder What Is Up Indonesia, menjelaskan bahwa dunia saat ini membutuhkan keseimbangan antara keterbukaan terhadap informasi baru dan kemampuan menyaring informasi tersebut secara kritis.

Menurutnya, sikap terbuka bukan berarti menerima semua informasi tanpa pertimbangan. Sebaliknya, seseorang perlu membuka diri terhadap perspektif baru sambil tetap memeriksa kualitas bukti yang mendukungnya.

"Skeptis itu sebenarnya esensinya adalah withholding belief sampai ada sufficient evidence. Artinya, gua enggak mau percaya dulu sampai buktinya cukup nih untuk gua ngerasa nyaman untuk percaya. Dan menurut aku itu adalah posisi yang sangat fair dan sehat... Sedangkan sinis itu ya prasangka buruk aja ke semua orang. Sinisisme itu adalah sebuah state of mind yang harus dihindarin."

— Abigail Limuria, Co-Founder What Is Up Indonesia

Abigail membedakan secara tegas antara skeptisisme dan sinisme. Skeptisisme berarti menunda keyakinan sampai tersedia bukti yang memadai. Sementara sinisme berangkat dari prasangka buruk terhadap segala sesuatu tanpa dasar yang kuat.

Mengapa Terburu-buru Membentuk Opini Bisa Menjadi Masalah?

Menyaring informasi secara kritis membantu membangun keputusan objektif, kepercayaan diri, dan pola pikir yang lebih matang. (BTV/AI)
Menyaring informasi secara kritis membantu membangun keputusan objektif, kepercayaan diri, dan pola pikir yang lebih matang. (BTV/AI)

Salah satu kebiasaan yang disorot dalam diskusi tersebut adalah dorongan untuk segera memiliki pendapat terhadap setiap isu yang sedang ramai diperbincangkan.

Abigail menilai banyak persoalan muncul karena orang ingin mengambil kesimpulan sebelum memperoleh informasi yang cukup. Akibatnya, opini dibangun di atas data yang belum lengkap.

Karena itu, ia menyarankan agar setiap informasi melewati sejumlah pertanyaan sederhana sebagai penyaring awal. Misalnya, dari mana informasi berasal, apakah sumbernya kredibel, apakah data yang digunakan relevan, apakah hubungan antara premis dan kesimpulannya masuk akal, hingga apakah penelitian tersebut telah diverifikasi.

Pendekatan tersebut membantu seseorang membangun skeptisisme yang sehat tanpa berubah menjadi pribadi yang selalu curiga terhadap semua hal.

Vilaf Franov juga menambahkan bahwa fenomena media sosial membuat banyak orang mudah memberikan penilaian hanya berdasarkan potongan informasi. Bahkan, dua hari setelah sebuah isu viral, sering kali muncul fakta baru yang mengubah pemahaman sebelumnya.

Situasi itu menjadi pengingat bahwa memperlambat proses mengambil kesimpulan sering kali menghasilkan pandangan yang lebih akurat dibanding bereaksi secepat mungkin.

Bagaimana Cara Mengenali Potensi Diri Lewat Metode 4E?

Pembahasan berikutnya menghadirkan Pak Hendra yang memperkenalkan konsep talents mapping melalui pendekatan sederhana bernama 4E.

Metode tersebut mengajak seseorang mengamati aktivitas yang paling sering dilakukan dengan antusias, mudah dijalankan, mampu menghasilkan kualitas terbaik, dan memiliki nilai yang dapat terus berkembang.

Empat unsur tersebut terdiri atas Enjoy, Easy, Excellent, dan Earn.

Pak Hendra menjelaskan bahwa langkah pertama adalah mencatat aktivitas yang benar-benar dinikmati. Setelah itu, perhatikan aktivitas yang terasa mudah dilakukan bahkan tanpa proses belajar yang panjang.

Kemudian nilai apakah aktivitas tersebut selalu menghasilkan performa terbaik. Terakhir, lihat apakah kemampuan itu dapat terus berkembang hingga memberi manfaat atau menghasilkan nilai dalam jangka panjang.

"Kalau teman-teman di luar sana ngerasa bisa melakukan ini itu, coba catat deh di mana saja kamu kuat, di mana saja kamu enjoy melakukan itu, excellent, earn, dan easy juga. Coba catat aktivitas-aktivitasnya... Catat dalam portofolio kita masing-masing mana yang paling kuat, dan mana yang kamu tuh pengin terus terafiliasi dengan itu."

— Pak Hendra, Dosen dan Praktisi Talents Mapping

Pak Hendra juga memberikan contoh sederhana mengenai bakat yang sering luput disadari. Ada orang yang secara alami senang membantu orang lain setelah pekerjaannya selesai, ada yang memiliki kemampuan teknis tanpa belajar secara formal, hingga ada pula yang menikmati mengumpulkan berbagai koleksi.

Semua kecenderungan tersebut dapat menjadi petunjuk mengenai kekuatan alami yang dimiliki seseorang apabila diamati secara konsisten.

Bagaimana Baskara Hindia Memandang Proses sebagai Bagian dari Hasil?

Baskara Hindia mengangkat sudut pandang yang berbeda mengenai kegagalan. Menurutnya, hasil akhir memang penting, tetapi proses yang dijalani memiliki nilai yang sama besar dalam perjalanan seseorang.

Ia mengaku pernah menganggap target yang tidak tercapai sebagai kegagalan. Pandangan tersebut berubah setelah mendapat masukan dari salah satu anggota timnya bahwa proses juga merupakan bagian dari hasil yang diperoleh.

Sejak itu, Baskara mulai mengevaluasi berbagai pengalaman dengan cara berbeda. Jika proses berjalan sesuai nilai yang diyakini, memberi pembelajaran, dan tetap dinikmati, maka pengalaman tersebut tidak bisa langsung disebut gagal.

"Tentu kalau gua ingin mencapai sesuatu cuman ternyata hasilnya tidak sesuai dengan yang gua inginkan, ya gua menganggap itu sebuah kegagalan. Cuman belum lama ini juga gua diingatkan sama salah satu anak di tim gue bahwa kadang kita semua lupa kalau proses itu juga bagian dari outcome (hasil)."

Pandangan tersebut diperkuat oleh Pram, Creative Director Hindia, yang menilai pencapaian tidak layak dibayar dengan proses yang penuh konflik dan menguras kondisi emosional.

"Apa gunanya lu menciptakan sesuatu yang bagus banget, lu suka, tapi lu berdarah-darah prosesnya? Lu terlalu banyak konflik di dalamnya, terlalu banyak gontok-gontokan di dalamnya, taxing secara emosional, buat elo enggak enak juga, dan lu jadi enggak belajar banyak dari situ. Maksudnya, proses pendewasaannya sebagai sebuah tim atau individu jadi enggak banyak. There is no point in that kalau cuma ngejar hasil akhirnya doang."

Bagi Baskara, ukuran keberhasilan bukan hanya pencapaian akhir. Proses yang membuat seseorang berkembang, mengenal diri sendiri, dan memperoleh pelajaran juga merupakan keberhasilan yang layak dihargai.

Mengapa Membandingkan Diri dengan Orang Lain Justru Menambah Beban?

Dalam diskusi yang sama, Baskara mengingatkan bahwa setiap orang memiliki ritme kehidupan yang berbeda.

Ia mengibaratkan kehidupan sebagai maraton, bukan perlombaan lari jarak pendek. Karena itu, mengukur kemajuan diri menggunakan kecepatan orang lain hanya akan memunculkan rasa tertinggal yang terus-menerus.

"Ini mungkin klise banget, cuman gua percaya bahwa hidup itu maraton, bukan lomba lari cepat (sprint). Jadi kalau lu menilai selalu dengan kecepatan orang-orang di sekitar lu, lu akan selalu merasa lu tuh ketinggalan pada akhirnya."

Menurutnya, yang jauh lebih penting adalah menemukan kecepatan yang sesuai dengan kondisi masing-masing hingga akhirnya mencapai tujuan dengan cara yang sehat.

Baskara juga mengingatkan bahwa dunia sudah cukup sering membandingkan seseorang dengan orang lain. Karena itu, tidak perlu menambah tekanan dengan melakukan hal yang sama terhadap diri sendiri.

"Tanpa lu membanding-bandingkan diri lu dengan orang lain aja, akan ada banyak banget orang di luar sana yang akan membandingkan lu dengan orang lain."

Ia pun mengungkapkan bahwa menulis lagu menjadi ruang untuk mengenal dirinya sendiri. Aktivitas berkarya bukan hanya menghasilkan karya, tetapi juga menjadi sarana memahami emosi dan pengalaman hidup.

Bagaimana Mengambil Keputusan agar Tidak Menjalani Hidup Orang Lain?

Bagian terakhir menghadirkan Panji Pragiwaksono yang membahas pentingnya mengambil keputusan berdasarkan nilai pribadi.

Menurut Panji, seseorang sesekali perlu melihat kembali perjalanan hidupnya untuk memastikan arah yang sedang ditempuh masih sesuai dengan tujuan yang diinginkan.

Ia mengutip gagasan Steve Jobs mengenai "connecting the dots", bahwa hubungan berbagai pengalaman hidup sering kali baru terlihat ketika seseorang menoleh ke belakang.

Panji kemudian memperkenalkan analogi tentang "zombie", yaitu orang yang menjalani kehidupan secara otomatis tanpa benar-benar memahami keinginan dirinya sendiri.

Menurutnya, kondisi tersebut muncul ketika hampir semua keputusan penting diambil karena mengikuti lingkungan, teman, atau dorongan orang lain.

"Kenapa dia enggak tahu? Karena dia enggak pernah ambil keputusan hidupnya berdasarkan apa yang dia mau, tapi berdasarkan lingkungannya."

Akibatnya, seseorang dapat kehilangan kesempatan mengenali minat, tujuan, dan nilai yang sebenarnya ingin diperjuangkan.

Panji juga menilai keputusan yang diambil sendiri memberi ruang untuk bertumbuh karena setiap konsekuensi akan menjadi bahan evaluasi pribadi.

"Kenapa (keputusan harus diambil sendiri)? Karena nanti kita akan selalu menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi sama hidup kita... Kalau kita nyalahin diri kita sendiri, kita jadi punya ruang untuk bertumbuh."

Di akhir pembahasannya, Panji menjelaskan bahwa tidak semua orang harus memiliki cara hidup yang sama. Ada yang nyaman mengikuti arus kehidupan, ada pula yang memilih menentukan arah secara jelas. Keduanya dapat dijalani selama seseorang memahami konsekuensi dari pilihan tersebut.

"Orang yang go with the flow, don't know where to go... Kalau lu mau jadi orang yang go with the flow enggak apa-apa juga, tapi harus konsekuen."

Poin Penting:

Insight Redaksi: Empat narasumber menghadirkan benang merah yang sama, yakni pertumbuhan dimulai dari cara berpikir sebelum menghasilkan tindakan. Di Balikpapan, pesan seperti ini relevan bagi banyak generasi muda yang sedang membangun karier maupun usaha. Kada harus selalu menjadi yang paling cepat. Yang penting memiliki arah yang jelas dan mampu mengevaluasi setiap langkah. Cara berpikir pang sering menjadi pembeda terbesar, Ces.

Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam yang sedang mencari arah hidup atau sedang membangun rasa percaya diri. Bisa jadi satu sudut pandang baru membantu mereka melihat perjalanan dengan cara berbeda.

Tetap ikuti informasi inspiratif dan penuh wawasan hanya di Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Apa inti pesan Abigail Limuria dalam video ini?
Membangun keseimbangan antara sikap terbuka terhadap informasi baru dan skeptisisme yang didasarkan pada bukti.

2. Apa yang dimaksud metode 4E?
Metode untuk mengenali potensi melalui empat unsur, yaitu Enjoy, Easy, Excellent, dan Earn.

3. Mengapa Baskara Hindia menganggap proses sebagai bagian dari hasil?
Karena proses memberikan pembelajaran, pendewasaan, dan pengalaman yang juga merupakan bentuk pencapaian.

4. Apa pesan utama Panji Pragiwaksono tentang keputusan hidup?
Keputusan penting sebaiknya diambil berdasarkan nilai dan keinginan pribadi agar seseorang memiliki ruang untuk berkembang.

Sumber Informasi: Artikel ini disusun berdasarkan tayangan YouTube Suara Berkelas, dengan tema empat pelajaran tentang berpikir kritis, mengenali potensi diri, menghargai proses, dan menentukan arah hidup melalui wawancara bersama Abigail Limuria, Pak Hendra, Baskara Hindia, dan Panji Pragiwaksono.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
#berpikir kritis #Baskara Hindia #indonesia