Durasi Baca: 6 Menit
Topik: Pentingnya belajar berkelanjutan agar mampu beradaptasi menghadapi perkembangan teknologi kecerdasan buatan
Ikhtisar: Artikel ini membahas pentingnya belajar sepanjang hayat, kemampuan beradaptasi, profesionalisme, menjaga kesehatan, serta pandangan dr. Tirta menghadapi perubahan teknologi dan tantangan masa depan.
Balikpapan TV - Hai Ces! Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai mengubah banyak profesi, mulai dari industri kreatif hingga layanan kesehatan. Menurut dr. Tirta Mandira Hudhi, kondisi ini menjadi pengingat bahwa kemampuan belajar dan beradaptasi kini menjadi bekal utama agar tetap relevan di dunia kerja.
Perubahan ini datang cepat. Makin banyak pekerjaan mengalami transformasi. Nah, di sinilah tantangannya. Simak terus pembahasannya sampai tuntas, Ces!
Baca Juga: Mengapa Maya Septha Menilai Me-Time Penting? Ini Cara Menjaga Diri Tanpa Merasa Bersalah
Mengapa AI Membuat Kemampuan Belajar Menjadi Sangat Penting?
Teknologi AI kini tidak lagi sekadar membantu membuat tulisan atau gambar. Penggunaannya telah merambah fotografi, produksi video, analisis data, hingga tindakan medis dengan bantuan robot.
dr. Tirta mencontohkan bahwa sejumlah dokter spesialis bahkan telah memanfaatkan teknologi robot dalam operasi lutut. Gambaran tersebut menunjukkan bahwa otomatisasi akan terus berkembang dan menyentuh semakin banyak bidang pekerjaan.
Menurutnya, perkembangan tersebut bukan sesuatu yang bisa dihentikan. Yang dapat dilakukan adalah meningkatkan kemampuan diri agar tetap memiliki nilai di tengah perubahan.
Ia menilai seseorang akan sulit bertahan apabila enggan mempelajari keterampilan baru atau menolak mengikuti perkembangan zaman. Ketika teknologi bergerak semakin cepat, kemampuan yang tidak diperbarui berisiko tertinggal.
Dalam pandangannya, kesuksesan seseorang bertumpu pada dua hal. Pertama, menjaga amalan ibadah yang terus mengalir. Kedua, tidak pernah berhenti belajar dari berbagai sumber yang tersedia.
Belajar, menurut dr. Tirta, tidak selalu harus berlangsung di ruang kelas. Pengetahuan dapat diperoleh melalui pendidikan formal, seminar, workshop, pengalaman profesional, hingga diskusi dengan orang lain. Hal terpenting adalah ilmu tersebut benar-benar diterapkan.
"Talenta itu akan mati kalau kamu enggak konsisten untuk melatih talenta itu. Jadi, talent itu akan kalah sama konsisten. Bahkan orang yang enggak punya talent itu kalau konsisten melatih, dia akan bisa mengalahkan orang yang bertalenta yang malas." — dr. Tirta Mandira Hudhi, Dokter Umum dan Pengusaha
Baca Juga: Mengapa IPK Bukan Penentu Sukses? Ninda Bagikan Enam Kebiasaan Belajar yang Konsisten
Akses Ilmu Sudah Terbuka, Mengapa Banyak Orang Tetap Tertinggal?
dr. Tirta menilai tantangan terbesar saat ini bukan lagi keterbatasan akses informasi.
Berbagai buku digital, jurnal ilmiah, hasil penelitian, hingga laporan industri kini dapat diakses jauh lebih mudah dibanding beberapa tahun lalu. Banyak perguruan tinggi, lembaga penelitian, hingga organisasi internasional menyediakan referensi yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
Namun, ia melihat muncul kebiasaan baru yang justru menghambat proses belajar mendalam.
Banyak orang lebih menyukai ringkasan singkat dalam video berdurasi beberapa puluh detik dibanding membaca sumber utamanya. Akibatnya, pemahaman yang diperoleh sering kali hanya berada di permukaan.
Menurut dr. Tirta, membaca memberi keuntungan yang jauh lebih luas daripada sekadar menambah wawasan.
Melalui kebiasaan membaca, seseorang memperoleh bahan diskusi, memperluas sudut pandang, hingga menemukan peluang yang mungkin belum pernah terpikirkan sebelumnya.
Ia mencontohkan penggunaan data pasar dari platform statistik seperti Statista. Sebelum memulai bisnis, seseorang dapat mempelajari ukuran pasar, tren konsumen, hingga potensi pertumbuhan sebuah produk. Dengan begitu, keputusan bisnis tidak hanya didasarkan pada rasa suka atau passion semata.
Pendekatan berbasis data dinilai jauh lebih rasional dibanding mengambil keputusan hanya berdasarkan intuisi.
Malas Belajar Dinilai Menjadi Ancaman Terbesar Generasi Produktif
Menurut dr. Tirta, sifat arogan karena merasa sudah mengetahui banyak hal sering kali menjadi penyebab seseorang berhenti berkembang.
Ketika seseorang menutup diri terhadap ilmu baru, proses peningkatan kemampuan ikut berhenti.
Ia juga mengkritisi munculnya kebiasaan mengandalkan kemudahan teknologi secara berlebihan. Teknologi memang mempermudah pekerjaan, tetapi apabila seluruh proses berpikir diserahkan kepada teknologi, kemampuan individu perlahan dapat menurun.
Dalam pandangannya, rasa malas menjadi persoalan yang jauh lebih serius dibanding keterbatasan kemampuan.
Malas membuat seseorang enggan memperbarui kompetensi, sementara dunia kerja terus berubah.
Akibatnya, banyak pekerja memasuki usia produktif dengan keterampilan yang sudah tidak sesuai kebutuhan industri. Mereka bertahun-tahun menjalani rutinitas yang sama tanpa meningkatkan kapasitas diri.
dr. Tirta mengaitkan kondisi tersebut dengan meningkatnya tantangan tenaga kerja berusia di atas 35 tahun yang kesulitan bersaing ketika perusahaan membutuhkan kemampuan baru yang lebih relevan dengan perkembangan teknologi.
Ia memperkirakan hanya sebagian kecil masyarakat yang benar-benar menikmati bonus Indonesia Emas 2045 apabila budaya belajar tidak diperkuat sejak sekarang.
Bagi dr. Tirta, masa depan bukan hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi oleh kesiapan manusia memanfaatkan teknologi tersebut secara bijak.
Baca Juga: Refleksi Filsafat hingga Sukses: Cara Pikir Baru Generasi Muda
Bagaimana Menyusun Prioritas Kerja Tanpa Mengorbankan Kehidupan Pribadi?
Selain membahas pentingnya belajar, dr. Tirta juga menyoroti cara bekerja yang dinilai lebih efektif di tengah tuntutan zaman. Menurutnya, bekerja keras saja tidak cukup apabila tidak disertai kemampuan menentukan prioritas.
Ia mendorong penerapan prinsip work smart, yaitu bekerja secara cerdas dengan menyusun urutan kepentingan dalam kehidupan sehari-hari.
Prioritas pertama, menurutnya, adalah keluarga. Hubungan dengan pasangan maupun anak perlu mendapat perhatian karena menjadi fondasi kehidupan seseorang di luar pekerjaan.
Urutan berikutnya adalah diri sendiri. Waktu untuk berolahraga, beribadah, beristirahat, hingga berlibur dianggap sama pentingnya agar kondisi fisik dan mental tetap terjaga.
Baru setelah itu pekerjaan menempati prioritas berikutnya. Dengan pembagian tersebut, seseorang dinilai memiliki peluang lebih besar menjaga keseimbangan hidup sekaligus mempertahankan produktivitas.
dr. Tirta juga mengingatkan bahwa lingkaran pertemanan biasanya berubah seiring bertambahnya usia.
Menurutnya, semakin dewasa seseorang, hubungan sosial cenderung mengerucut kepada orang-orang yang benar-benar hadir sejak masa berjuang, bukan sekadar ketika keadaan sudah nyaman.
Baca Juga: Self-Love dan Kebahagiaan: Kunci Aura Atraktif yang Jarang Disadari
Mengapa Olahraga dan Pola Makan Tetap Menjadi Kunci?
Dalam kesempatan yang sama, dr. Tirta menekankan bahwa kesehatan tidak dapat dipisahkan dari gaya hidup sehari-hari.
Ia menyarankan agar olahraga tidak dipandang sebagai beban atau kewajiban semata. Aktivitas fisik justru lebih baik dijadikan sarana melepas tekanan setelah menjalani rutinitas yang padat.
Dengan begitu, olahraga menjadi kegiatan yang menyenangkan sehingga lebih mudah dilakukan secara konsisten.
Selain aktivitas fisik, pola makan juga menjadi perhatian.
Menurut dr. Tirta, salah satu penyebab tubuh menyimpan lemak adalah konsumsi karbohidrat yang berlebihan, seperti nasi dalam jumlah besar. Sementara itu, protein dan sayuran tetap diperlukan sebagai bagian dari pola makan yang seimbang.
Beberapa kebiasaan sederhana yang disarankan antara lain:
- Melakukan olahraga secara rutin sebagai pelepas stres, bukan sekadar mengejar target fisik.
- Mengatur porsi karbohidrat agar tidak berlebihan.
- Memperbanyak konsumsi protein dan sayuran sesuai kebutuhan tubuh.
- Menjaga pola tidur agar proses pemulihan tubuh berjalan optimal.
- Mengelola tekanan pekerjaan sehingga tidak menumpuk menjadi stres berkepanjangan.
Apa Kata dr. Tirta tentang Stres, Tumor, dan Panic Disorder?
Dalam sesi tanya jawab, dr. Tirta menerima pertanyaan mengenai anggapan bahwa stres dapat menyebabkan munculnya tumor jinak.
Ia menjelaskan bahwa berdasarkan pengetahuan medis saat ini, penyebab sebagian besar tumor masih belum diketahui secara pasti.
Menurutnya, faktor yang paling dominan justru masih berada pada kategori unknown atau belum dapat dipastikan. Setelah itu baru diikuti faktor genetik, gaya hidup, kemudian stres.
Ia menambahkan bahwa gabungan antara gaya hidup dan stres hanya menyumbang sekitar 20 persen dari berbagai faktor yang diduga berperan.
Karena itu, masyarakat sebaiknya berfokus pada hal-hal yang masih dapat dikendalikan.
"Kontrol apa yang bisa kita kontrol, dan jangan mengkhawatirkan apa yang kita tidak bisa kontrol." — dr. Tirta Mandira Hudhi, Dokter Umum dan Pengusaha
Empat aspek yang menurutnya layak dijaga setiap hari adalah pola makan, pola tidur, kebiasaan olahraga, dan kemampuan mengelola stres kerja. Selebihnya diserahkan kepada Tuhan sebagai bagian dari ikhtiar.
Pertanyaan lain datang dari seseorang yang mengaku mengalami panic disorder akibat overthinking dan sedang menjalani pengobatan di dokter spesialis kedokteran jiwa.
Menanggapi hal tersebut, dr. Tirta memberikan jawaban singkat bahwa pasien sebaiknya tetap mengikuti terapi yang telah diberikan psikiater.
Ia menegaskan bahwa dokter spesialis kesehatan jiwa merupakan tenaga medis yang paling tepat menangani kondisi tersebut sehingga arahan pengobatan sebaiknya tetap diikuti.
Pandangan dr. Tirta tentang Penampilan dan Manfaat Jamu
Dalam sesi yang sama, dr. Tirta juga menanggapi pertanyaan mengenai rasa minder terhadap penampilan.
Ia mengakui bahwa orang yang berpenampilan menarik memang sering memperoleh perlakuan sosial yang lebih positif. Kondisi tersebut disebutnya sebagai sebuah privilege.
Namun, ia mengingatkan agar keadaan tersebut tidak dijadikan alasan untuk terus menyalahkan diri sendiri maupun orang lain.
Sebagai langkah yang lebih konstruktif, ia menyarankan mengalihkan energi negatif menjadi aktivitas yang bermanfaat, salah satunya dengan rutin berolahraga di pusat kebugaran.
Menurutnya, olahraga membantu meningkatkan kebugaran tubuh sekaligus membuat wajah tampak lebih segar.
Sementara itu, ketika ditanya mengenai manfaat jamu tradisional seperti sinom dan kunyit asam, dr. Tirta mengatakan bahwa berbagai tanaman herbal telah memiliki penelitian di Indonesia.
Jahe, misalnya, dikenal memiliki sifat antiinflamasi yang membantu meredakan rasa tidak nyaman pada tenggorokan ketika terjadi peradangan.
Kunyit atau kurkuma juga dikenal memiliki manfaat tertentu, termasuk membantu meningkatkan nafsu makan.
Meski demikian, ia mengingatkan agar masyarakat tidak mudah percaya pada klaim berlebihan terhadap produk herbal.
"Sesuatu yang berlebihan itu hal baik itu enggak bagus. Yang berlebihan bagus ya cuman doa sama ilmu, itu berlebihan tapi bagus." — dr. Tirta Mandira Hudhi, Dokter Umum dan Pengusaha
Menurutnya, segala sesuatu yang dikonsumsi secara berlebihan tetap dapat menimbulkan dampak yang tidak diinginkan, termasuk terhadap kesehatan ginjal.
Poin Penting:
- Kecerdasan buatan (AI) akan terus berkembang sehingga kemampuan belajar menjadi faktor penting untuk tetap relevan di dunia kerja.
- Menurut dr. Tirta, konsistensi melatih kemampuan dapat mengungguli talenta yang tidak diasah.
- Belajar dapat dilakukan dari berbagai sumber, termasuk buku, jurnal ilmiah, seminar, workshop, dan pengalaman langsung.
- Prinsip work smart dimulai dengan menyusun prioritas: keluarga, diri sendiri, kemudian pekerjaan.
- Empat aspek kesehatan yang dapat dikendalikan ialah pola makan, pola tidur, olahraga, dan manajemen stres.
- Jamu memiliki manfaat berdasarkan penelitian, tetapi klaim berlebihan terhadap herbal tetap perlu dihindari.
Insight Redaksi: Perkembangan AI membuka peluang sekaligus tantangan bagi tenaga kerja di Indonesia. Fakta yang disampaikan dr. Tirta menunjukkan bahwa ancaman terbesar sebenarnya bukan teknologi, melainkan keengganan memperbarui kemampuan. Bagi masyarakat Balikpapan yang sedang menikmati pertumbuhan sektor industri, energi, dan jasa, peningkatan kompetensi menjadi investasi jangka panjang. Kada cukup hanya mengandalkan pengalaman kerja. Ilmu harus terus diperbarui. Mulailah dari kebiasaan sederhana, seperti membaca referensi berkualitas, mengikuti pelatihan, dan menjaga kesehatan agar produktivitas tetap terpelihara. Kaitu pang bekal yang relevan menghadapi perubahan, Ces.
Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang memahami pentingnya belajar sepanjang hayat dan menyiapkan diri menghadapi perubahan teknologi yang terus bergerak.
Ikuti terus informasi inspiratif dan edukatif hanya di Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!
FAQ
1. Mengapa dr. Tirta menilai belajar menjadi sangat penting di era AI?
Karena AI telah masuk ke banyak sektor pekerjaan sehingga kemampuan belajar dan beradaptasi menjadi bekal utama agar tetap memiliki daya saing.
2. Apa yang dimaksud bekerja secara profesional menurut dr. Tirta?
Profesional berarti tetap menyelesaikan tanggung jawab pekerjaan secara maksimal meskipun sedang kehilangan motivasi atau rasa semangat.
3. Apa saja yang dapat dikendalikan untuk menjaga kesehatan menurut dr. Tirta?
Empat hal yang dapat dijaga ialah pola makan, pola tidur, kebiasaan olahraga, dan manajemen stres.
4. Apakah stres menjadi penyebab utama tumor?
Menurut dr. Tirta, sebagian besar penyebab tumor masih belum diketahui secara pasti. Faktor genetik, gaya hidup, dan stres juga berperan, tetapi bukan penyebab utama.
5. Bagaimana pandangan dr. Tirta mengenai jamu tradisional?
Jamu memiliki manfaat yang didukung penelitian, tetapi konsumsi tetap harus wajar dan tidak disertai klaim kesehatan yang berlebihan.
Sumber Informasi: Artikel ini diadaptasi dari tayangan YouTube SUARA BERKELAS, dengan judul "Rahasia Jadi Individu BERKELAS Tanpa Harus Memaksakan Jadi Orang Lain", yang menghadirkan dr. Tirta Mandira Hudhi sebagai narasumber. Artikel diperbarui dengan angle dan gaya penulisan khas balikpapantv.id.