Durasi: 7 menit
Topik: Cara mengendalikan overthinking melalui mindfulness, napas, dan pengelolaan energi diri
Ikhtisar: Artikel ini membahas penyebab overthinking, cara mengenali pemicunya, teknik mengelola pikiran melalui kesadaran napas, serta pentingnya memahami pola energi diri agar kualitas hidup tetap terjaga.
Balikpapan TV - Hai Ces! Overthinking sering muncul ketika pikiran terus berputar memikirkan hal yang belum tentu terjadi. Dalam tayangan YouTube Mindbits Growth, praktisi mindfulness Semara menjelaskan bahwa mengembalikan perhatian pada napas menjadi langkah awal untuk memutus siklus tersebut sekaligus membantu seseorang kembali hadir di momen saat ini.
Masalah ini sering dianggap sepele, padahal dampaknya bisa memengaruhi kualitas tidur, hubungan dengan orang lain, hingga produktivitas sehari-hari. Simak sampai tuntas, karena ada banyak cara praktis yang bisa langsung diterapkan. Gas terus, Ces!
Baca Juga: Mengapa Maya Septha Menilai Me-Time Penting? Ini Cara Menjaga Diri Tanpa Merasa Bersalah
Apa yang sebenarnya membuat seseorang mengalami overthinking?
Overthinking bukan sekadar terlalu banyak berpikir. Kondisi ini muncul ketika pikiran terus mengulang kekhawatiran yang sama hingga menguras energi emosional maupun fisik.
Dalam penjelasannya, Semara mengatakan bahwa langkah pertama bukan menghentikan pikiran secara paksa, melainkan menyadari keberadaannya.
Menurutnya, napas menjadi pintu paling mudah untuk kembali mengenali kondisi diri. Saat seseorang mulai memperhatikan apakah napas terasa pendek, panjang, berasal dari dada, atau dari perut, tubuh sebenarnya sedang memberikan informasi mengenai keadaan emosinya.
Napas yang pendek dan tertahan sering kali berkaitan dengan rasa cemas yang belum disadari. Sebaliknya, ketika napas mulai lebih panjang dan rileks, tubuh memperoleh sinyal bahwa situasi sedang aman sehingga pikiran perlahan ikut menenangkan diri.
Semara juga menjelaskan bahwa proses tersebut perlu disertai keberanian mengakui apa yang sedang dirasakan.
Seseorang dapat bertanya kepada dirinya sendiri, kekhawatiran terbesar apa yang sedang muncul saat ini. Dengan mengenali sumbernya, pikiran tidak lagi menyebar ke berbagai kemungkinan yang belum tentu terjadi.
Baca Juga: Mengapa IPK Bukan Penentu Sukses? Ninda Bagikan Enam Kebiasaan Belajar yang Konsisten
Mengapa melawan pikiran justru membuat overthinking bertambah?
Banyak orang mencoba menghilangkan pikiran negatif dengan memaksanya pergi. Sayangnya, cara tersebut sering menghasilkan efek yang berlawanan.
Semara mengutip temuan riset neuroeconomics yang menunjukkan bahwa ketika seseorang diminta untuk tidak memikirkan sesuatu, justru objek tersebut semakin mudah muncul dalam pikirannya.
Ia memberikan contoh sederhana mengenai "gajah pink". Ketika seseorang dilarang membayangkannya, gambaran tersebut justru muncul secara spontan di kepala.
Fenomena serupa terjadi pada rasa takut gagal, takut ditolak, maupun takut kehilangan. Semakin keras seseorang berusaha menolaknya, semakin besar perhatian yang diberikan kepada rasa takut tersebut.
Dalam sesi wawancara, Semara mengatakan:
"Wherever our attention goes, our energy flows. Karena kita perhatikan itu semakin ada dalam kesadaran... Jadi buat dikembalikan buat aku tuh ada dua, ada up dan top-down regulation namanya. Jadi bottom-up itu dari merasakan sensasi tubuh... Yang kedua tadi top-down adalah berpikir. Jadi dengan kognitif kita, saya overthinking tadi saya overthinking setelah ini saya tenang."
Menurutnya, perhatian memiliki hubungan langsung dengan energi. Apa yang terus-menerus menjadi fokus pikiran akan memperoleh ruang yang semakin besar di dalam kesadaran.
Karena itu, mengubah arah perhatian menjadi bagian penting dalam mengelola overthinking.
Bagaimana mindfulness membantu mengembalikan ketenangan?
Mindfulness bukan berarti mengosongkan pikiran. Sebaliknya, latihan ini mengajarkan seseorang untuk memperhatikan apa yang sedang terjadi tanpa terburu-buru memberikan penilaian.
Semara menjelaskan terdapat dua pendekatan regulasi yang dapat dilakukan.
Pendekatan pertama adalah bottom-up regulation, yaitu mengaktifkan kembali rasa aman melalui tubuh. Caranya dapat berupa merasakan telapak kaki menyentuh lantai, memperhatikan gravitasi ketika mengembuskan napas, atau menyadari sensasi fisik yang sedang dirasakan.
Pendekatan kedua adalah top-down regulation, yaitu menggunakan kemampuan berpikir untuk mengubah cara memandang situasi.
Salah satu contoh sederhana adalah mengubah kalimat "Aku overthinking" menjadi "Aku menyadari bahwa aku sedang overthinking."
Perubahan kecil tersebut ternyata memiliki makna besar.
Semara menjelaskan:
"Beda pertama adalah jarak, karena ini metakognisi. Kita menyadari bahwa pikiran itu hadir... Saat kita bilang 'aku overthinking', yang kedua adalah our sense of self tuh artinya gua tuh overthinker gitu, gue itu orangnya pemarah, khawatiran, jadi akan semakin susah untuk let go."
Dengan memberi jarak terhadap pikiran, seseorang tidak lagi menjadikan overthinking sebagai identitas dirinya, melainkan hanya sebagai pengalaman yang sedang dialami dan dapat berlalu.
Baca Juga: Refleksi Filsafat hingga Sukses: Cara Pikir Baru Generasi Muda
Apa hubungan Human Design dengan pengelolaan energi?
Dalam pembahasan tersebut, Human Design diperkenalkan sebagai alat refleksi diri, bukan sebagai penentu mutlak kepribadian.
Semara mengingatkan agar seseorang tidak menjadikan hasil Human Design sebagai label yang membatasi dirinya.
Informasi tersebut lebih tepat digunakan sebagai bahan kontemplasi untuk mengenali pola energi, cara mengambil keputusan, maupun kebutuhan istirahat.
Ia menjelaskan bahwa Human Design mengenal lima tipe energi, yaitu Generator, Manifesting Generator, Manifestor, Projector, dan Reflector.
Masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda dalam mengelola energi.
Sebagai contoh, tipe Projector cenderung menyerap energi dari lingkungan sehingga membutuhkan waktu istirahat yang berkualitas agar tidak mudah mengalami kelelahan maupun overthinking.
Sementara itu, Generator umumnya memperoleh kepuasan ketika mengerjakan sesuatu yang benar-benar sesuai dengan minatnya.
Semara juga mengingatkan bahwa siapa pun tetap berpotensi mengalami burnout apabila terus memaksakan diri tanpa mengenali batas kemampuan tubuh maupun pikirannya.
Baca Juga: Self-Love dan Kebahagiaan: Kunci Aura Atraktif yang Jarang Disadari
Bagaimana EFT Tapping dapat membantu meredakan overthinking?
Selain mindfulness, Semara juga membahas Emotional Freedom Technique (EFT) Tapping sebagai salah satu metode yang digunakan untuk membantu meregulasi emosi. Teknik ini menggabungkan pendekatan terapi perilaku kognitif dengan konsep jalur energi atau meridian dalam pengobatan tradisional Tiongkok.
Praktiknya dilakukan dengan mengetuk ringan beberapa titik tubuh sambil mengucapkan kalimat penerimaan diri. Tujuannya bukan menghilangkan emosi, melainkan membantu tubuh dan pikiran menerima kondisi yang sedang dialami sehingga respons stres perlahan menurun.
Titik yang digunakan dalam EFT antara lain bagian bawah kelingking tangan (Karate Chop), pangkal alis, samping mata, bawah mata, bawah hidung, dagu, tulang selangka, hingga area bawah ketiak.
Ketika ditanya apakah efektivitas EFT hanya berasal dari sugesti, Semara menjelaskan:
"Bisa jadi sugesti, it's a placebo effect. Tapi menurutku yang membantu selain dengan kata-kata yang tadi kita ada proses ikhlas dan penerimaan dan mindful kesadaran tadi, ada hubungannya dengan meridian tertentu. Ini yang dari ilmu kuno Tiongkok, traditional Chinese medicine gitu. Jadi saat kita tapping di berbagai titik ini bisa ngebantu rileks."
Setelah melakukan EFT, Semara menyarankan beberapa langkah sederhana agar tubuh memperoleh kesempatan melakukan pemulihan secara optimal.
Di antaranya adalah:
1. Minum air putih untuk membantu proses pelepasan ketegangan.
2. Mengonsumsi makanan hangat dan bernutrisi, terutama yang kaya protein dan serat.
3. Memberikan waktu istirahat yang cukup, karena proses regulasi emosi masih dapat berlangsung beberapa jam bahkan beberapa hari setelah latihan dilakukan.
Baca Juga: Mengapa Motivasi Sering Gagal? Ini Cara Membangun Kebiasaan Konsisten Menurut Atomic Habits
Mengapa mengenali energi diri sama pentingnya dengan mengendalikan pikiran?
Menurut Semara, overthinking sering kali membuat seseorang menghabiskan energi untuk hal-hal yang berada di luar kendalinya.
Karena itu, mengenali kapan energi meningkat dan kapan mulai menurun menjadi bagian penting dari proses pengembangan diri.
Cara sederhana yang dapat dilakukan adalah melakukan refleksi terhadap aktivitas selama 24 jam terakhir. Perhatikan aktivitas mana yang membuat tubuh terasa bersemangat, dan mana yang justru menguras tenaga secara berlebihan.
Refleksi tersebut membantu seseorang memahami pola hidupnya sendiri tanpa terus-menerus menyalahkan lingkungan maupun orang lain.
Semara juga mengingatkan pentingnya menetapkan batasan dalam kehidupan sosial. Terlalu banyak menghadiri berbagai kegiatan tanpa jeda dapat meningkatkan kelelahan mental.
Ia mengajak masyarakat untuk mulai menikmati konsep Joy of Missing Out (JOMO), yaitu merasa nyaman ketika melewatkan aktivitas yang memang tidak perlu diikuti.
Dengan begitu, energi dapat dialihkan kepada hal-hal yang benar-benar memberikan manfaat bagi kesehatan fisik maupun mental.
Mengapa self-development juga membutuhkan waktu untuk beristirahat?
Di akhir pembahasan, host Mindbits Growth, Bilal, mengingatkan bahwa pengembangan diri bukan hanya tentang mengejar motivasi tanpa henti.
Menurutnya, bersikap baik kepada diri sendiri juga merupakan bagian penting dari proses bertumbuh.
Hal tersebut diperkuat oleh Semara yang mengatakan bahwa kehidupan akan terasa melelahkan apabila seseorang terus memaksa dirinya berkembang karena merasa selalu kurang.
Ada saatnya seseorang berhenti sejenak, menikmati apa yang dimiliki saat ini, serta memberikan welas asih kepada dirinya sendiri.
Pendekatan tersebut membantu menjaga keseimbangan antara produktivitas, kesehatan mental, dan kualitas hidup dalam jangka panjang.
Baca Juga: Jingga's Jive Ungkap Pentingnya Bertumbuh Tanpa Validasi agar Motivasi Tidak Mudah Hilang
Poin Penting:
- Overthinking dapat memengaruhi kualitas tidur, pekerjaan, dan hubungan dengan orang lain.
- Memperhatikan napas menjadi langkah awal untuk kembali fokus pada kondisi saat ini.
- Melawan pikiran secara paksa justru dapat membuat overthinking semakin kuat.
- Mindfulness mengajarkan seseorang mengamati pikiran tanpa menjadikannya identitas diri.
- Human Design diposisikan sebagai alat refleksi, bukan label yang membatasi diri.
- EFT Tapping dapat menjadi salah satu metode regulasi emosi yang dipadukan dengan penerimaan diri, istirahat, dan pola hidup sehat.
Insight Redaksi: Dari sudut pandang Balikpapan TV, pembahasan ini menunjukkan bahwa mengatasi overthinking kada selalu harus dimulai dari perubahan besar. Kebiasaan sederhana seperti mengatur napas, mengenali batas energi, hingga memberi ruang istirahat justru sering terlewat. Di tengah ritme kerja yang makin padat, kemampuan mengelola diri menjadi bekal penting. Jangan sampai produktif terus, tetapi tubuh dan pikiran mulai memberi sinyal kelelahan. Keseimbangan pang yang perlu dijaga, Ces.
Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang memahami cara menghadapi overthinking dengan pendekatan yang lebih sehat dan terukur.
Ikuti terus informasi inspiratif dan pembahasan pengembangan diri hanya di Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!
FAQ
1. Apa langkah pertama saat mulai mengalami overthinking?
Memperhatikan napas dan menyadari kondisi tubuh agar perhatian kembali ke momen saat ini.
2. Mengapa mengatakan "aku menyadari sedang overthinking" dianggap lebih baik?
Karena memberikan jarak antara diri dengan pikiran sehingga overthinking tidak menjadi identitas diri.
3. Apa fungsi Human Design dalam pembahasan ini?
Sebagai alat refleksi untuk mengenali pola energi dan kebutuhan diri, bukan sebagai label kepribadian yang mutlak.
4. Apa yang disarankan setelah melakukan EFT Tapping?
Minum air putih, mengonsumsi makanan bergizi, dan beristirahat agar proses regulasi emosi berlangsung optimal.
Sumber Informasi: Artikel ini sudah tayang sebelumnya di media YouTube Mindbits Growth, dengan judul "Kenapa Kita Overthinking? Cara Mengontrol Pikiran dan Kembali Hadir di Saat Ini | #humandesign". Di-update kembali dengan angle dan style Balikpapantv.id.