Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Bisnis & UMKM Religi Iptek

Cara Mengurangi Kebiasaan Membandingkan Diri Menurut Eva Alicia

AdminBTV • Jumat, 19 Juni 2026 | 12:37 WIB
Ilustrasi seseorang belajar menghargai diri sendiri tanpa terus membandingkan pencapaiannya dengan orang lain. (BTV/AI)
Ilustrasi seseorang belajar menghargai diri sendiri tanpa terus membandingkan pencapaiannya dengan orang lain. (BTV/AI)

Durasi Baca: 6 menit

Topik: Memahami kebiasaan membandingkan diri dan membangun perspektif baru

Ikhtisar: Artikel ini membahas alasan seseorang sulit berhenti membandingkan diri, cara mengubah pola pikir, serta pentingnya fokus pada perkembangan pribadi.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain ternyata bukan semata soal kemampuan, melainkan berkaitan dengan cara seseorang memandang dirinya sendiri.

Masih sering merasa tertinggal saat melihat pencapaian orang lain? Simak sampai habis, ada beberapa sudut pandang yang mungkin jarang dipikirkan. Baca sampai akhir, kada rugi Ces!

Mengapa melihat orang lain sukses terasa seperti ancaman?

Perasaan tertinggal muncul karena pencapaian orang lain sering dianggap sebagai cermin nilai diri sendiri. Saat orang lain berhasil, sebagian orang justru merasa dirinya sedang kalah.

Eva Alicia, Content Creator & Entrepreneur, menilai kondisi tersebut berkaitan dengan ego yang merasa terancam. Seseorang menjadi terbiasa menghubungkan keberhasilan orang lain dengan kegagalannya sendiri.

Padahal, latar belakang, pengalaman pendidikan, lingkungan, hingga kesempatan yang dimiliki setiap orang berbeda. Sulit membandingkan dua perjalanan hidup yang memang tidak pernah dimulai dari titik sama.

Baca Juga: Merasa Hilang Arah? Eva Alicia Jelaskan Mengapa Itu Bukan Kegagalan

Apakah membandingkan diri hanya cara menghindari pekerjaan nyata?

Ya, menurut Eva Alicia, membandingkan diri sering menjadi cara menghindari tanggung jawab terhadap tujuan pribadi.

Menghabiskan waktu mengamati perkembangan orang lain memang terasa lebih mudah dibanding menjalankan rutinitas yang berat. Misalnya menjaga pola makan, pergi ke gym, atau mulai mengerjakan proyek yang selama ini ditunda.

Eva mengatakan:

"Pakai energi yang kamu pakai buat iri, untuk diri sendiri. Aku yakin kalau misalnya kamu repeat itu di dalam otak kamu setiap hari, hidup kamu bakal beda banget 90 hari dari sekarang."

Kalimat itu muncul dari pengalaman pribadinya. Ia mengaku pernah merasa minder melihat kondisi fisik orang lain, padahal langkah konkret yang diperlukan sebenarnya sederhana, yakni mulai bergerak dan berlatih secara konsisten.

Tips sederhana mengalihkan energi perbandingan:

  1. Batasi waktu melihat aktivitas orang lain di media sosial.
  2. Selesaikan satu pekerjaan yang tertunda setiap hari.
  3. Catat progres pribadi setiap minggu.

Bagaimana menyikapi kenyataan bahwa hidup tidak selalu adil?

Ilustrasi seseorang belajar keterampilan baru setelah menghadapi kegagalan dan penolakan kerja. (BTV/AI)
Ilustrasi seseorang belajar keterampilan baru setelah menghadapi kegagalan dan penolakan kerja. (BTV/AI)

Eva menilai menerima kenyataan bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan dapat membantu mengurangi rasa kecewa.

Ia memberi contoh saat melamar pekerjaan sebagai desainer grafis. Portofolio yang disusun dengan usaha besar ternyata kalah dari pelamar lain yang memiliki hasil motion graphic lebih panjang.

Namun pengalaman tersebut justru membuatnya belajar menggunakan After Effects dan Adobe Premiere. Kemampuan baru itu kemudian membuka kesempatan lain.

Menurut Eva, hasil dari sebuah usaha tidak selalu datang dalam bentuk yang diharapkan. Bisa saja hasilnya berupa keterampilan baru, pengalaman, atau pemahaman yang sebelumnya belum dimiliki.

Baca Juga: 3 Tipe Orang yang Suka Menunda Menurut Eva Alicia dan Cara Mengatasinya

Mengapa definisi sukses perlu diperiksa ulang?

Seseorang sulit berhenti membandingkan diri ketika belum memiliki definisi sukses versi dirinya sendiri.

Eva pernah berpikir orang sukses adalah pemilik bisnis berskala nasional yang mempunyai gedung sendiri. Selama bertahun-tahun, standar itu membuatnya merasa belum berhasil.

Setelah melakukan journaling dan mengevaluasi keinginannya, ia menemukan bahwa target ekspansi bisnis hingga Asia sudah cukup membuatnya merasa puas.

Pertanyaan sederhana yang dapat dicoba adalah, bagian mana dari pencapaian orang lain yang sebenarnya menarik perhatian. Apakah kedisiplinannya, konsistensinya, atau sekadar simbol keberhasilan yang terlihat mewah?

Mengapa media sosial sering membuat seseorang merasa tertinggal?

Media sosial hanya menampilkan sebagian kecil kehidupan seseorang. Yang terlihat biasanya adalah momen terbaik, bukan kondisi sehari-hari.

Eva mengingatkan:

"Jangan bandingin realita kamu sekarang dengan ilusi hidup orang lain... Stop bandingin realita kamu sama versi terbaik orang lain. Ini sama bodohnya, sama naifnya, sama polosnya kayak kalau kamu lagi bandingin raw footage sama trailer film."

Ia juga mengakui memiliki persona daring yang dianggap sempurna oleh sebagian pengikutnya. Padahal, dirinya juga pernah mengalami keraguan dan membandingkan diri dengan orang lain.

Karena itu, waktu mengonsumsi media sosial perlu diperhatikan. Saat sedang lelah, tertekan pekerjaan, atau kurang percaya diri, melihat unggahan orang lain justru bisa memperburuk suasana hati.

Baca Juga: Percaya Diri Menurut Eva Alicia: Bukan Bakat, Tetapi Bukti dan Disiplin

Apa yang terjadi ketika seseorang mulai menikmati hidupnya sendiri?

Semakin seseorang menyukai proses hidupnya, semakin kecil dorongan untuk memperhatikan perjalanan orang lain.

Eva menggambarkannya dengan analogi maraton dan padel. Orang yang sedang berlatih maraton tidak akan sibuk iri kepada peserta turnamen padel karena fokusnya sudah jelas.

Ia mengatakan:

"Semakin kamu suka sama hidup kamu, semakin kamu enggak peduli sama hidup orang lain... Karena kenapa? Kamu udah sibuk sama jalur kamu sendiri, kamu tahu progres kamu sendiri."

Ketika standar yang dipakai adalah diri sendiri di masa lalu, pencapaian orang lain tidak lagi terasa sebagai ancaman.

Poin Penting:

Insight redaksi: Dari sudut pandang masyarakat Balikpapan yang akrab dengan ritme kerja padat dan mobilitas tinggi, pesan Eva Alicia menarik untuk dicermati. Banyak orang mengejar standar keberhasilan yang sebenarnya diwarisi dari lingkungan sekitar, bukan lahir dari kebutuhan pribadi. Di sinilah letak persoalannya. Ukuran sukses sering dipinjam dari kehidupan orang lain. Coba luangkan waktu menulis target sendiri selama tiga bulan ke depan. Sederhana, tapi sering terlupa. Bagikan jua artikel ini ke bubuhan ikam yang masih sering merasa tertinggal, Ces.

Masih sering merasa tertinggal saat membuka media sosial? Bisa jadi yang berubah bukan hidup orang lain, melainkan cara memandang perjalanan sendiri. Ikuti terus informasi menarik hanya di Balikpapan Tv teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Mengapa seseorang sulit berhenti membandingkan diri dengan orang lain?
Karena pencapaian orang lain sering dianggap sebagai ukuran nilai diri sendiri.

2. Apa manfaat mengurangi kebiasaan membandingkan diri?
Membantu fokus pada tujuan pribadi dan mengurangi pikiran berlebihan.

3. Bagaimana cara mulai mengubah pola pikir tersebut?
Dengan mengevaluasi definisi sukses pribadi dan mencatat progres diri sendiri.

4. Mengapa media sosial memicu rasa tertinggal?
Karena yang terlihat biasanya hanya momen terbaik seseorang.

5. Siapa Eva Alicia?
Eva Alicia adalah Content Creator dan Entrepreneur yang membahas pola pikir serta pengembangan diri.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
#Eva Alicia #perkembangan pribadi #media sosial