Maudy Ayunda Minta Maaf Usai Konten Mindfulness Dikritik, Ini Bagian yang Ia Akui Luput

kholiefatul Jannah • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 12:44 WIB
Konten mindfulness Maudy Ayunda menuai kritik soal privilese dan pengalaman masyarakat terdampak, hingga ia kembali menyampaikan permintaan maaf.
Konten mindfulness Maudy Ayunda menuai kritik soal privilese dan pengalaman masyarakat terdampak, hingga ia kembali menyampaikan permintaan maaf.

Durasi Baca: 6 menit

Ikhtisar: Maudy Ayunda kembali meminta maaf setelah konten mindfulness dikritik karena dianggap belum mempertimbangkan pengalaman masyarakat terdampak.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Konten tentang cara menjaga diri dari derasnya berita buruk ternyata membuka percakapan yang lebih besar soal jarak, privilese, dan realitas sosial.

Maudy Ayunda kembali menyampaikan permintaan maaf pada Minggu, 20 September 2026, setelah video YouTube “Mindfulness in the Age of Bad News” menuai kritik. Pernyataan terbaru itu muncul setelah sebelumnya ia memberikan klarifikasi melalui kolom komentar video yang sama.

Bagi Maudy, persoalannya bukan sekadar bagaimana seseorang menjaga kondisi emosional ketika terlalu banyak menerima informasi negatif. Ia kemudian mengakui ada perspektif dan konteks yang belum cukup dipertimbangkan ketika menyampaikan gagasan tersebut.

Berawal dari kelelahan menghadapi berita buruk

Video “Mindfulness in the Age of Bad News” diunggah Maudy melalui YouTube pada 21 Agustus 2026.

Dalam video tersebut, Maudy bercerita mengenai perasaannya ketika terus berhadapan dengan kabar buruk, mulai dari persoalan politik, bencana alam, hingga tekanan ekonomi.

Ia membagikan cara yang menurut pengalaman pribadinya membantu menjaga kewarasan ketika informasi negatif datang terus-menerus. Salah satunya adalah membatasi paparan berita dan lebih selektif memilih informasi yang dikonsumsi.

Maudy juga sejak awal menyebut dirinya bukan ahli dan masih mencari cara yang paling tepat untuk menghadapi situasi tersebut. Video itu dimaksudkan sebagai percakapan mengenai cara menjaga diri tanpa sepenuhnya kehilangan kepedulian terhadap keadaan sekitar.

Masalahnya muncul ketika gagasan tersebut dibaca dari pengalaman orang yang berbeda.

Kenapa gagasan “diet berita” dipersoalkan?

Sejumlah warganet menilai kemampuan untuk mengambil jarak dari berita buruk tidak bisa disamaratakan.

Bagi seseorang yang keluarganya terdampak bencana, pekerjaannya dipengaruhi kebijakan tertentu, atau komunitasnya menghadapi persoalan lingkungan, berita bukan sekadar informasi yang bisa ditutup dari layar.

ANTARA mencatat kritik berkembang dengan menyinggung persoalan sosial seperti kebakaran hutan, bencana alam, dan kebijakan publik. Sebagian warganet kemudian menggunakan istilah tone deaf untuk menggambarkan penilaian mereka terhadap pesan tersebut.

Di titik ini, pembicaraan soal mindfulness bergeser menjadi pertanyaan yang lebih luas: apakah setiap orang memiliki pilihan yang sama untuk menjauh dari berita buruk?

Jawabannya tidak selalu sama.

Maudy mengakui ada perspektif yang terlewat

Setelah kritik ramai, Maudy memberikan klarifikasi melalui komentar yang disematkan pada video YouTube tersebut pada 13 September 2026.

Ia mengakui ada satu hal penting yang belum cukup masuk dalam pembahasan, yaitu privilese untuk mengambil jarak dari berita.

Maudy menyebut kemampuan untuk menjauh dari pemberitaan merupakan sebuah privilese karena tidak semua orang memiliki pilihan tersebut, terutama ketika suatu peristiwa berdampak langsung terhadap kehidupan, keluarga, pekerjaan, atau komunitas.

Ia juga meminta maaf karena perspektif tersebut belum cukup ia refleksikan ketika membuat video.

Klarifikasi itu penting karena Maudy tidak sekadar mempertahankan gagasan awalnya. Ia mengakui pengalaman pribadi dalam menghadapi berita buruk tidak otomatis berlaku sama bagi orang lain.

Sorotan kemudian melebar ke posisi Maudy

Perbincangan di media sosial juga berkembang ke posisi Maudy sebagai figur publik.

Latar belakang pendidikannya di Oxford dan Stanford ikut disebut dalam percakapan publik. Bisnis kecantikannya, FromThisIsland, juga menjadi bagian dari sorotan sejumlah warganet karena produk tertentu dari jenama tersebut menggunakan lemak tengkawang yang berasal dari hutan Kalimantan.

Namun, dua hal perlu dibedakan.

Sorotan dan penilaian warganet terhadap latar belakang maupun bisnis Maudy merupakan bagian dari percakapan publik. Itu berbeda dengan fakta bahwa latar belakang pendidikan atau kepemilikan bisnis secara otomatis membuat seseorang memiliki kewajiban mengambil sikap tertentu.

Karena itu, kontroversi ini lebih tepat dibaca sebagai perdebatan mengenai konteks sebuah pesan, bukan sekadar daftar kesalahan seorang figur publik.

Permintaan maaf kedua datang pada 20 September

Perkembangan terbaru terjadi pada Minggu, 20 September 2026.

Maudy kembali menyampaikan permintaan maaf melalui Instagram setelah mengambil waktu untuk mendengarkan berbagai respons dan merefleksikan kembali pernyataan sebelumnya.

Ia mengakui pernyataannya telah menimbulkan kekecewaan dan kemarahan. Maudy juga mengatakan ada perspektif dan konteks yang belum cukup ia pertimbangkan sehingga pesannya terasa jauh dari realitas dan pengalaman yang sedang dihadapi banyak orang.

Dalam pernyataan tersebut, Maudy mengatakan masih perlu banyak belajar, terutama untuk lebih banyak mendengar, lebih peka, berempati, serta terbuka terhadap perspektif yang berbeda dari pengalaman pribadinya.

Ia juga menyinggung suara, akses, platform, dan berbagai bentuk privilese yang dimilikinya sebagai figur publik. Menurut Maudy, semua itu membawa tanggung jawab untuk menggunakan ruang yang dimiliki secara lebih bijak.

Permintaan maaf terbaru tersebut sekaligus menjadi perkembangan baru dalam kontroversi yang sebelumnya sudah mendapat respons melalui kolom komentar YouTube.

Baca Juga: Andre Taulany Ungkap Alasan Yakin Menikah Lagi dengan Amanda Rigby, Ini Sosok yang Membuatnya Mantap

Jadi, apa sebenarnya yang dipersoalkan?

Kontroversi ini pada akhirnya tidak berhenti pada pertanyaan apakah membatasi konsumsi berita merupakan hal yang baik atau buruk.

Mengatur paparan informasi bisa menjadi cara seseorang menjaga dirinya dari kelelahan akibat arus informasi. Namun, pengalaman tersebut tidak berdiri sendiri karena setiap orang memiliki kondisi hidup, tanggung jawab, dan tingkat keterpaparan terhadap persoalan sosial yang berbeda.

Bagi sebagian orang, berita buruk bisa ditutup sementara.

Bagi yang lain, berita tersebut mungkin menyangkut rumah, pekerjaan, keluarga, lingkungan tempat tinggal, atau keputusan yang langsung memengaruhi hidup mereka.

Di situlah kata privilese menjadi bagian penting dalam perdebatan ini. Maudy sendiri akhirnya mengakui bahwa kemampuan mengambil jarak dari berita bukan pengalaman yang dimiliki semua orang.

Dari mindfulness ke cara melihat pengalaman orang lain

Mindfulness dalam konteks video Maudy pada dasarnya dibicarakan sebagai upaya menghadapi derasnya informasi tanpa membuat diri terus-menerus kewalahan.

Tetapi respons publik menunjukkan bahwa cara seseorang memproses berita juga dipengaruhi posisi sosial dan pengalaman hidupnya.

Karena itu, satu pesan yang terasa membantu bagi seseorang belum tentu memiliki makna sama bagi orang lain. Konteks menjadi penting, terutama ketika topik yang dibicarakan menyentuh bencana, kebijakan publik, masalah ekonomi, atau persoalan lingkungan.

Perubahan nada Maudy dari penjelasan awal menuju dua kali permintaan maaf memperlihatkan satu hal yang menarik: percakapan publik tidak selalu selesai ketika sebuah konten diunggah. Respons pembaca juga dapat mengubah cara sebuah pesan dipahami, dipertanyakan, bahkan dievaluasi kembali oleh pembuatnya.

Baca Juga: Atalarik Syach Kembali Disorot, Sengketa Tanah Berujung Eksekusi Rumah dan Aduan ke DPR

Kronologi singkat kontroversi Maudy Ayunda

  • 21 Agustus 2026: Maudy mengunggah video Mindfulness in the Age of Bad News di YouTube.

  • Awal September: Video kembali ramai diperbincangkan dan mendapat kritik dari sejumlah warganet.

  • 13 September: Maudy memberikan klarifikasi melalui komentar yang disematkan pada video dan mengakui perspektif soal privilese belum cukup ia bahas.

  • 20 September: Maudy kembali meminta maaf melalui Instagram serta mengakui masih ada perspektif dan konteks yang belum cukup ia pertimbangkan.

Poin Penting

  • Konten Maudy membahas cara menjaga diri dari kelelahan akibat derasnya berita buruk.

  • Gagasan membatasi paparan berita kemudian mendapat kritik dari sejumlah warganet.

  • Kritik menyoroti bahwa tidak semua orang memiliki pilihan untuk menjauh dari berita yang berdampak langsung.

  • Maudy mengakui kemampuan mengambil jarak dari berita merupakan sebuah privilese.

  • Pada 20 September 2026, Maudy kembali meminta maaf melalui Instagram.

  • Ia menyatakan masih perlu belajar lebih banyak mendengar, peka, berempati, dan memahami perspektif berbeda.

Insight Redaksi

Kontroversi Maudy memperlihatkan bahwa menjaga diri dari banjir informasi memang penting, tetapi konteks sosial tidak bisa dipukul rata. Di Balikpapan, kabar lingkungan, ekonomi, atau kebijakan bisa terasa dekat karena dampaknya hadir dalam keseharian. Berita bukan selalu layar yang bisa ditutup; kadang justru bagian dari hidup yang harus dihadapi.

Kalau membaca isu ini, coba pisahkan antara kebutuhan rehat dari informasi dan kewajiban tetap memahami persoalan yang berdampak langsung. Biar ndak cuma ikut ramai, tapi tahu konteksnya.

Bagikan artikel ini ke teman yang lagi ramai membahas mindfulness, biar obrolannya tidak berhenti di potongan video atau komentar media sosial.

Tetap ikuti cerita dan tren yang sedang ramai dibahas dengan konteks yang lebih jelas, hanya di Balikpapan TV—teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Apa isi video “Mindfulness in the Age of Bad News”?

Video Maudy membahas pengalaman menghadapi derasnya berita buruk dan cara membatasi paparan informasi agar kondisi emosional tetap terjaga.

2. Mengapa konten Maudy Ayunda mendapat kritik?

Sejumlah warganet menilai gagasan mengambil jarak dari berita tidak mempertimbangkan orang-orang yang harus mengikuti informasi karena persoalan tersebut berdampak langsung terhadap kehidupannya.

3. Apa klarifikasi pertama Maudy Ayunda?

Pada 13 September 2026, Maudy mengakui bahwa kemampuan menjauh dari berita merupakan privilese yang tidak dimiliki semua orang dan meminta maaf karena perspektif tersebut belum cukup ia bahas.

4. Kapan Maudy kembali meminta maaf?

Maudy kembali menyampaikan permintaan maaf secara terbuka melalui Instagram pada Minggu, 20 September 2026.

5. Apa yang diakui Maudy dalam permintaan maaf terbaru?

Ia mengakui masih ada perspektif dan konteks yang belum cukup dipertimbangkan, serta mengatakan perlu lebih banyak mendengar, peka, berempati, dan terbuka terhadap pengalaman yang berbeda.

6. Apakah mindfulness berarti harus menjauh dari berita?

Dalam konteks video Maudy, membatasi paparan berita merupakan salah satu cara yang ia ceritakan dari pengalaman pribadi. Kontroversinya justru menunjukkan bahwa kebutuhan setiap orang terhadap informasi dan kemampuan mengambil jarak tidak selalu sama.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates

 

Editor : Arya Kusuma
Maudy Ayunda | Mindfulness media sosial lifestyle