Video Mindfulness Dikritik Netizen, Maudy Ayunda Akhirnya Buka Suara

istikhomah • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 06:07 WIB
Maudy Ayunda memberikan klarifikasi dan permintaan maaf setelah video Mindfulness in the Age of Bad News menuai kritik dari netizen.
Maudy Ayunda memberikan klarifikasi dan permintaan maaf setelah video Mindfulness in the Age of Bad News menuai kritik dari netizen.
Durasi Baca: 4 menit

Ikhtisar: Maudy Ayunda meminta maaf setelah konten mindfulness tentang berita buruk dinilai kurang peka terhadap masyarakat terdampak.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Maudy Ayunda meminta maaf setelah video tentang mindfulness menghadapi berita buruk kembali ramai dan memicu kritik netizen karena dinilai kurang peka terhadap kondisi masyarakat.

Konten itu sebenarnya bukan video baru. Lantas, mengapa pembahasannya baru kembali menjadi sorotan dan membuat Maudy harus memberikan klarifikasi? Yuk, simak kronologinya.

Baca Juga: Bukan Baru Kaya Setelah Jadi Artis, Syahrini Disebut Sudah Punya Latar Keluarga Berada

Video Lama yang Kembali Ramai

Video berjudul Mindfulness in the Age of Bad News diunggah Maudy Ayunda di kanal YouTube pada 21 Agustus 2026. Dalam video tersebut, ia membahas pengalaman menghadapi derasnya berita negatif dari Indonesia maupun dunia.

Maudy bercerita bahwa paparan berita buruk dalam beberapa bulan, bahkan menurutnya sekitar setahun terakhir, membuat dirinya merasa kewalahan secara emosional. Ia kemudian mencoba mengatur kembali pola konsumsi informasi agar tetap mengetahui persoalan yang terjadi tanpa terus-menerus terbebani.

Salah satu gagasan yang disampaikan adalah memberi batas pada konsumsi berita. Menurut Maudy, seseorang tidak harus terus membaca banyak konten mengenai peristiwa yang sama ketika informasi tersebut sudah mulai memberikan dampak buruk terhadap kondisi dirinya.

Gagasan itu kemudian dipahami berbeda oleh sebagian penonton.

Mengapa Netizen Mengkritik Maudy?

Kritik muncul karena bagi masyarakat yang terdampak langsung oleh bencana, persoalan ekonomi, kebijakan pemerintah, atau masalah sosial, berita buruk bukan sekadar informasi yang bisa ditutup ketika terasa melelahkan.

Dalam kondisi tertentu, mengikuti perkembangan berita justru menjadi kebutuhan. Informasi tentang bencana dapat berkaitan dengan keselamatan keluarga, pekerjaan, tempat tinggal, hingga kehidupan sehari-hari. Karena itu, saran untuk mengambil jarak dari berita dinilai tidak bisa diterapkan secara sama kepada semua orang.

Sebagian warganet kemudian menyebut Maudy tone deaf, istilah yang digunakan untuk mengkritik seseorang yang dianggap kurang peka terhadap situasi atau pengalaman kelompok lain.

Kritik juga berkembang ke posisi Maudy sebagai figur publik dengan platform besar. Sejumlah pengguna media sosial mempertanyakan mengapa seseorang dengan pengaruh besar justru memilih membahas cara menjaga jarak dari berita ketika banyak masyarakat sedang menghadapi persoalan secara langsung.

Latar belakang pendidikan dan status Maudy sebagai penerima beasiswa LPDP turut disinggung sejumlah netizen dalam perdebatan tersebut. Sorotan itu kemudian memperluas pembahasan dari sekadar isi video menjadi ekspektasi terhadap peran figur publik di tengah persoalan sosial.

Maudy Akui Ada Perspektif yang Terlewat

Setelah kritik semakin ramai, Maudy memberikan klarifikasi melalui komentar yang disematkan pada video tersebut pada 13 September 2026.

Ia mengakui ada satu perspektif penting yang belum cukup ia masukkan ketika membuat video, yakni soal privilese untuk bisa mengambil jarak dari pemberitaan.

“Being able to step away from the news is itself a privilege. Tidak semua orang punya pilihan itu, terutama ketika apa yang terjadi berdampak langsung pada kehidupan, keluarga, pekerjaan, atau komunitasnya. Aku minta maaf karena bagian ini belum cukup aku refleksikan di videonya.”

Pengakuan tersebut menjadi titik penting dalam polemik ini. Maudy tidak lagi hanya menjelaskan maksud awal videonya, tetapi juga mengakui bahwa pengalaman menghadapi berita buruk tidak sama bagi setiap orang.

Ia kemudian menjelaskan bahwa video tersebut berangkat dari pergulatan pribadi untuk tetap mengikuti berbagai persoalan tanpa membuat dirinya kehilangan kemampuan untuk hadir dan terlibat secara berarti.

Maudy Tegaskan Mindfulness Bukan Berarti Tidak Peduli

Dalam klarifikasinya, Maudy juga menegaskan bahwa mindfulness tidak dimaksudkan sebagai alasan untuk mengabaikan persoalan sosial.

Ia mengatakan latihan tersebut justru membantunya melihat sebab-akibat dengan lebih jelas, tetap peduli, serta memahami apa yang dirasakan masyarakat yang terdampak.

“Aku sama sekali tidak ingin mindfulness menjadi alasan untuk tidak peduli atau menjauh dari realita yang ada.”

Maudy juga mengakui kondisi yang sedang dihadapi masyarakat sangat berat, termasuk persoalan karhutla, bencana gempa, serta kebijakan dan program yang dinilainya berdampak langsung kepada masyarakat. Ia menyebut kelompok terdampak membutuhkan dukungan dan perhatian.

Baca Juga: Andre Taulany dan Amanda Rigby Bikin Netizen Bertanya-tanya, KUA Ungkap Fakta Terbaru

Jadi, Apakah Mindfulness-nya yang Dipersoalkan?

Jika melihat polemiknya secara utuh, kritik terhadap Maudy sebenarnya tidak otomatis berarti mindfulness atau membatasi konsumsi berita merupakan gagasan yang keliru.

Persoalannya lebih banyak berada pada konteks dan posisi orang yang menerima pesan tersebut.

Riset tentang konsumsi berita negatif juga menunjukkan bahwa paparan informasi negatif secara berlebihan dapat berkaitan dengan kelelahan dan kondisi psikologis yang kurang baik. Karena itu, membatasi konsumsi informasi secara sadar dapat menjadi salah satu cara mengatur hubungan seseorang dengan media. Namun, langkah tersebut tidak berarti semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk menjauh dari berita.

Seseorang yang tidak terdampak langsung mungkin bisa mematikan notifikasi atau berhenti membaca berita sementara. Sebaliknya, orang yang keluarganya berada di wilayah bencana atau pekerjaannya terdampak kebijakan tertentu bisa saja membutuhkan informasi tersebut setiap hari.

Di titik inilah permintaan maaf Maudy menjadi relevan. Ia mengakui bahwa kemampuan mengambil jarak dari berita memang merupakan sebuah privilese yang tidak dimiliki semua orang.

Poin Penting

Insight Redaksi

Polemik ini menunjukkan bahwa pesan tentang kesehatan mental tidak berdiri sendiri. Ketika disampaikan kepada publik yang memiliki pengalaman hidup sangat beragam, konteks menjadi bagian penting dari pesan tersebut.

Mengambil jeda dari arus informasi memang dapat membantu seseorang mengelola kelelahan akibat berita. Tetapi bagi masyarakat yang berhadapan langsung dengan bencana, persoalan ekonomi, pekerjaan, atau kebijakan tertentu, informasi bukan sekadar sesuatu yang bisa ditinggalkan.

Karena itu, menjaga kesehatan mental dan tetap peduli terhadap persoalan sosial sebenarnya tidak harus dipertentangkan. Tantangannya adalah menemukan batas yang memungkinkan seseorang tetap terinformasi tanpa tenggelam dalam arus informasi negatif.

Maudy sendiri kini memilih untuk melihat persoalan tersebut dari perspektif yang lebih luas setelah menerima kritik dari publik.

Ia mengakhiri klarifikasinya dengan menyampaikan terima kasih kepada orang-orang yang memberikan masukan dan mengatakan bahwa dirinya mendengarkan serta belajar dari kritik tersebut.

Kalau kamu pernah merasa lelah mengikuti berita, mungkin yang perlu dijaga bukan hanya seberapa banyak informasi yang dikonsumsi, tetapi juga bagaimana kita tetap memahami persoalan tanpa kehilangan empati kepada orang yang sedang mengalaminya.

Balikpapan TV akan terus menemani Ces memahami berita bukan sekadar dari apa yang terjadi, tetapi juga dari manusia yang merasakannya.

FAQ

1. Kapan video Maudy Ayunda tentang mindfulness diunggah?
Video Mindfulness in the Age of Bad News diunggah pada 21 Agustus 2026.

2. Mengapa video Maudy kembali ramai?
Video tersebut kembali dibicarakan di media sosial pada September 2026 dan memicu kritik terkait cara Maudy membahas berita buruk serta kesehatan mental.

3. Mengapa Maudy disebut tone deaf?
Sebagian netizen menilai saran mengambil jarak dari berita kurang mempertimbangkan orang-orang yang mengalami langsung dampak persoalan yang diberitakan.

4. Apa yang membuat Maudy meminta maaf?
Maudy mengakui bahwa kemampuan mengambil jarak dari berita merupakan sebuah privilese dan perspektif tersebut belum cukup ia refleksikan dalam video.

5. Apakah Maudy mengatakan masyarakat harus berhenti peduli terhadap persoalan sosial?
Tidak. Dalam klarifikasinya, Maudy menegaskan bahwa mindfulness tidak dimaksudkan sebagai alasan untuk tidak peduli atau menjauh dari realitas sosial.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
Selebritas Berita Buruk Mindfulness maudy ayunda