Guru di Kudus Viral sampai Disorot 9GAG, Tutup Nilai Ujian Siswa Pakai Meme SpongeBob

Nasya Syafira • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 08:58 WIB
Guru SD di Kudus menggunakan potongan gambar karakter SpongeBob untuk menutupi nilai ujian siswa.
Guru SD di Kudus menggunakan potongan gambar karakter SpongeBob untuk menutupi nilai ujian siswa.

Durasi Baca: 6 menit

Ikhtisar: Guru SD di Kudus menutup nilai ujian siswa dengan meme SpongeBob, aksi kreatifnya kemudian mendapat perhatian 9GAG.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Seorang guru SD di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, menjadi perhatian setelah menggunakan potongan gambar karakter SpongeBob untuk menutupi nilai ujian siswa agar momen pembagian hasil tes terasa lebih menyenangkan. Aksi tersebut kemudian diunggah ulang akun 9GAG dan menarik perhatian jutaan pengguna media sosial.

Bukan sekadar cara unik membagikan nilai, metode ini memperlihatkan bagaimana humor visual dipakai guru untuk membuat suasana setelah ujian terasa lebih ramah bagi anak.

Dari lembar ujian menjadi kejutan kecil

Guru tersebut adalah Mudrikatussyifa, yang akrab disapa Syifa. Ia berusia 24 tahun dan berasal dari Desa Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus.

Syifa mengajar Bahasa Inggris di SD 1 Kedungdowo sekaligus menjadi tentor di sebuah lembaga bimbingan belajar. Ia mulai mengajar sejak Januari 2025.

Cara yang digunakannya sederhana. Potongan gambar karakter SpongeBob dan teman-temannya ditempel menggunakan klip untuk menutupi angka nilai pada lembar ujian.

Ketika kertas diberikan kepada siswa, mereka harus membuka gambar tersebut untuk mengetahui hasil ujiannya.

Karakter yang digunakan juga tidak dipasang secara sembarangan. Ekspresi atau tampilan karakter disesuaikan dengan nilai yang berada di baliknya.

Baca Juga: Raisya Bawazier dan Zidan Sepakat Cerai, Nafkah Iddah-Mut’ah Rp120 Juta Jadi Sorotan

Nilai 54 ditutup Plankton, 99,5 dapat Patrick

Dalam video yang kemudian diunggah ulang 9GAG, salah satu lembar ujian memperlihatkan Plankton dengan ekspresi menangis menutupi nilai 54.

Sementara itu, nilai 99,5 pada ujian Bahasa Inggris ditutup gambar Patrick Star dengan efek hati.

Konsep tersebut membuat angka nilai tidak langsung terlihat. Siswa terlebih dahulu mendapatkan pengalaman kecil berupa rasa penasaran sebelum mengetahui hasilnya.

Nilai yang terlihat setelah dibuka Karakter yang digunakan
54 Plankton dengan ekspresi menangis
99,5 Patrick Star dengan efek hati

Angka dan karakter tersebut merupakan contoh yang terlihat dalam video yang menjadi viral, bukan sistem penilaian khusus yang diterapkan untuk seluruh siswa.

Mengapa Syifa memilih cara tersebut?

Syifa menjelaskan bahwa gagasan itu berawal dari keinginannya membuat suasana setelah tes tidak terasa menegangkan.

Menurutnya, anak-anak tetap perlu mengetahui hasil ujian, tetapi proses menerima nilai bisa dibuat lebih menyenangkan. Ia ingin menghargai usaha siswa sekaligus membuat mereka tidak terlalu takut atau sedih ketika nilainya belum sempurna.

Dari sisi siswa, pendekatan tersebut ternyata mendapat respons positif. Syifa mengatakan anak-anak menjadi penasaran dan antusias ketika waktunya membuka gambar pada lembar ujian.

Momen yang biasanya identik dengan rasa tegang berubah menjadi semacam kejutan kecil.

Bukan hanya viral di Indonesia

Konten Syifa kemudian mendapat jangkauan lebih luas setelah diunggah ulang oleh akun 9GAG, platform hiburan dan meme internasional.

Dalam unggahannya, 9GAG menulis keterangan singkat, “Imagine you got a Patrick,” sambil mencantumkan akun pembuat video. Unggahan tersebut dilaporkan telah ditonton lebih dari 9,8 juta kali.

Perhatian dari pengguna media sosial tidak hanya datang dari Indonesia. Syifa juga menyebut kontennya mendapat respons dari guru luar negeri dan kemudian diperhatikan oleh 9GAG.

Ada konteks lain dari sosok gurunya

Menariknya, pendekatan kreatif Syifa bukan sepenuhnya muncul tanpa latar belakang.

Pada 2024, nama Mudrikatussyifa tercatat sebagai salah satu penulis penelitian mengenai penerapan Quantum Teaching berbantuan media grafis untuk meningkatkan kualitas pembelajaran IPAS pada siswa kelas V SD 1 Mijen. Penelitian tersebut melibatkan 34 siswa.

Penelitian itu melaporkan adanya peningkatan aktivitas belajar siswa dan hasil belajar dalam dua siklus pembelajaran. Namun, penelitian tersebut membahas pembelajaran IPAS dan tidak dapat dijadikan bukti bahwa metode stiker SpongeBob merupakan bagian dari penelitian tersebut.

Konteks ini setidaknya menunjukkan bahwa penggunaan media visual dan pendekatan pembelajaran kreatif memang pernah menjadi bagian dari aktivitas akademik Syifa sebelum konten SpongeBob tersebut viral.

Baca Juga: Cut Intan Nabila Cerita Alasan Tinggalkan Anggar, Dipengaruhi Ucapan Mantan Suami

Apa yang sebenarnya menarik dari metode ini?

Nilai ujian biasanya dipandang sebagai hasil akhir dari proses belajar. Tetapi bagi siswa sekolah dasar, cara hasil itu disampaikan juga bisa memengaruhi pengalaman mereka ketika menerima evaluasi.

Dalam kasus Syifa, angka nilai tidak dihilangkan atau diubah. Yang diubah adalah cara siswa melihat angka tersebut.

Ini menjadi pembeda penting. Meme SpongeBob bukan pengganti penilaian akademik, melainkan elemen visual yang digunakan untuk membungkus momen pembagian hasil ujian.

Metode tersebut juga menunjukkan bahwa kreativitas guru tidak selalu membutuhkan teknologi rumit. Potongan gambar, klip kertas, dan sedikit humor bisa menjadi bagian dari interaksi di kelas selama tetap digunakan dalam konteks yang tepat.

Poin Penting

Insight Redaksi

Yang membuat kisah ini menarik bukan sekadar penggunaan meme SpongeBob. Ada gagasan yang lebih sederhana di baliknya: hasil evaluasi tetap penting, tetapi pengalaman anak ketika menerima hasil tersebut juga perlu diperhatikan.

Di tengah budaya media sosial yang cepat membuat sesuatu menjadi viral, kisah Syifa menunjukkan sisi lain dari konten pendidikan. Kreativitas yang awalnya ditujukan untuk siswa di sebuah sekolah di Kudus ternyata bisa diterima dan dipahami oleh audiens yang jauh lebih luas.

Untuk pembaca di Kalimantan Timur, kisah ini juga relevan sebagai contoh bahwa inovasi dalam pendidikan tidak selalu harus dimulai dari perangkat mahal. Cara berkomunikasi dengan siswa bisa menjadi ruang kreativitas tersendiri.

Viral, tetapi bukan berarti semua nilai harus dibuat seperti meme

Pendekatan seperti ini menarik untuk dibicarakan, tetapi tidak otomatis cocok untuk semua kelas atau semua siswa.

Guru tetap perlu memastikan siswa memahami hasil belajarnya dan mengetahui bagian mana yang perlu diperbaiki. Unsur humor sebaiknya menjadi pendamping, bukan menggantikan umpan balik akademik.

Dengan begitu, kreativitas tetap punya fungsi pendidikan, bukan hanya mengejar perhatian di media sosial.

Kalau menurut Ces cara guru ini menarik, bagikan artikel ini kepada teman, guru, atau orang tua yang mungkin punya pengalaman serupa. Karena cerita pendidikan yang sederhana kadang justru membuka cara pandang baru.

Tetap ikuti Balikpapan TV untuk cerita pendidikan, tren digital, dan kisah inspiratif lain yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

FAQ

1. Siapa guru yang viral karena menggunakan meme SpongeBob?

Guru tersebut adalah Mudrikatussyifa atau Syifa, guru Bahasa Inggris di SD 1 Kedungdowo, Kabupaten Kudus.

2. Mengapa nilai ujian siswa ditutup dengan gambar SpongeBob?

Syifa mengatakan cara tersebut dibuat agar suasana setelah tes lebih menyenangkan dan siswa tidak terlalu tegang ketika melihat hasil nilainya.

3. Karakter apa saja yang digunakan?

Video yang viral memperlihatkan sejumlah karakter SpongeBob, termasuk Plankton dan Patrick Star.

4. Berapa nilai yang terlihat dalam video?

Salah satu contoh adalah nilai 54 yang ditutup gambar Plankton dan nilai 99,5 yang ditutup gambar Patrick Star.

5. Bagaimana aksi guru tersebut bisa dikenal secara internasional?

Kontennya diunggah ulang oleh akun 9GAG dan kemudian mendapat perhatian luas di media sosial.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
SpongeBob kudus guru viral pendidikan