Supplier MBG Curhat, Ada Permintaan Beras Broken dan Ayam Memar untuk Dapur

Arya Kusuma • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 14:36 WIB
Ilustrasi bahan pangan dan dapur MBG yang menggambarkan pentingnya pemeriksaan kualitas sebelum makanan dibagikan.
Ilustrasi bahan pangan dan dapur MBG yang menggambarkan pentingnya pemeriksaan kualitas sebelum makanan dibagikan.

Durasi Baca: 4 Menit

Ikhtisar: Curhatan supplier MBG menyoroti permintaan bahan baku, dari beras broken hingga ayam, di tengah sorotan keamanan pangan.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali diperbincangkan setelah sejumlah akun di Threads mengungkap pengalaman mereka saat ditawari memasok bahan pangan untuk dapur MBG. Cerita yang muncul mencakup permintaan beras broken hingga ayam afkir dan ayam memar.

Utas yang diunggah akun Threads @dewarmdhy pada Minggu, 6 September 2026, salah satunya menampilkan tangkapan layar percakapan WhatsApp tentang kebutuhan beras broken sebanyak 60 ton per minggu.

Cerita tersebut ramai ketika kasus dugaan gangguan kesehatan setelah konsumsi makanan MBG juga muncul di sejumlah daerah. Badan Gizi Nasional (BGN) sendiri pada 3 September menyebut persoalan kepatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP) menjadi salah satu perhatian utama dalam kasus gangguan kesehatan yang terjadi.

Beras broken 60 ton per minggu jadi pemicu perbincangan

Dalam tangkapan layar yang dibagikan @dewarmdhy, terdapat pesan seseorang yang mencari pemasok beras broken dalam jumlah besar.

“Ada channel yang jual beras broken ga? Ada yang ngajakin gua kerja sama, dia butuh 60 ton per minggu,” tulis pesan tersebut.

Pesan berikutnya mempertanyakan penggunaan beras broken untuk kebutuhan MBG.

Unggahan itu kemudian mendapat lebih dari 358 ribu penayangan, sekitar 17 ribu tanda suka, serta lebih dari 800 balasan hingga Minggu, 6 September 2026. Sejumlah pengguna Threads ikut membagikan pengalaman yang mereka klaim pernah alami saat berhubungan dengan dapur MBG.

Namun ada hal penting yang perlu dipisahkan. Unggahan media sosial tersebut merupakan kesaksian dari pemilik akun dan belum menjadi bukti bahwa praktik serupa terjadi di seluruh dapur MBG.

Soal beras broken, istilah tersebut juga tidak otomatis berarti beras tidak layak konsumsi. Pemerintah memiliki aturan kelas mutu beras yang mencakup kadar air, butir patah, butir menir, benda lain, serta parameter mutu lainnya. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 22 Tahun 2025 bahkan menetapkan batas butir patah maksimal 15 persen untuk beras premium dan 25 persen untuk beras medium.

Jadi, persoalannya bukan sekadar ada atau tidaknya butir patah. Yang perlu diperiksa adalah apakah beras yang digunakan memenuhi kelas mutu dan ketentuan yang berlaku.

Tangkapan layar utas Threads yang membahas dugaan permintaan bahan baku untuk dapur Makan Bergizi Gratis.
Tangkapan layar utas Threads yang membahas dugaan permintaan bahan baku untuk dapur Makan Bergizi Gratis.

Baca Juga: Erupsi Anak Krakatau September 2026 Masih Berpotensi Berlanjut, Ini Lokasi, Kronologi, dan Dampaknya 

Lalu muncul cerita soal ayam afkir dan ayam memar

Pengakuan lain datang dari akun Threads @entoniett.s yang mengaku pernah mendapat tawaran memasok daging ayam untuk salah satu dapur MBG.

Ia menyebut calon pembeli kemudian meminta ayam afkir atau ayam yang mengalami memar. Permintaan tersebut disebut berkaitan dengan kebutuhan stok dua dapur, dengan harga fillet dada ayam sekitar Rp33.000 per kilogram.

Pemilik akun juga menyampaikan kekhawatiran mengenai karakter daging ayam petelur yang sudah melewati masa produktif serta ayam yang mengalami memar.

Klaim tersebut masih merupakan pengalaman pribadi yang disampaikan melalui media sosial. Tidak ada bukti transaksi yang ditampilkan dalam materi yang beredar untuk memastikan bahwa permintaan tersebut memang berasal dari pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tertentu.

Hal ini penting karena tuduhan terhadap dapur atau pengelola tertentu membutuhkan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan. Cerita di media sosial bisa menjadi petunjuk awal, tetapi belum otomatis menjadi temuan resmi.

Baca Juga: 2.000 Rusun di Lahan PT KAI, Pemerintah Dorong Penyelesaian Aspek Hukum

Dugaan selisih harga juga ikut disorot

Pemilik akun yang sama kemudian mengungkap dugaan permintaan perbedaan harga antara nilai pembelian dan nilai dalam invoice.

Ia menulis harga dada fillet disebut Rp33.000 per kilogram, sedangkan invoice yang dimintanya disebut mencapai Rp56.000 per kilogram.

Akun @gorengankemaren_ juga ikut membagikan pengalaman terkait penawaran harga produk lauk beku. Ia mengaku produknya yang biasa dijual sekitar Rp10.000 hingga Rp30.000 per porsi pernah ditawar Rp3.000 per porsi oleh pihak yang disebut berkaitan dengan MBG.

Kedua cerita tersebut masih berupa pengakuan pengguna media sosial. Belum ada bukti publik yang cukup untuk menyatakan dugaan selisih harga tersebut sebagai praktik yang terbukti.

Kenapa kualitas bahan baku menjadi persoalan serius?

Rantai pasok MBG bukan sekadar urusan membeli bahan dengan harga tertentu. Makanan yang masuk ke dapur SPPG pada akhirnya dikonsumsi penerima manfaat, termasuk anak-anak sekolah.

BGN menyatakan sekitar 80–90 persen kasus gangguan kesehatan yang dievaluasi berkaitan dengan ketidakpatuhan terhadap SOP, termasuk penyimpanan bahan makanan, penerimaan barang, pengendalian suhu, hingga batas waktu konsumsi.

Karena itu, persoalan kualitas bahan baku perlu dilihat sebagai bagian dari sistem keamanan pangan. BGN juga memiliki pedoman yang mendorong penggunaan bahan pangan lokal, sementara menu MBG disusun dengan memperhatikan kebutuhan gizi dan keamanan pangan.

Artinya, pemasok, dapur, tenaga pengelola, dan sistem pengawasan punya peran masing-masing. Ketika satu bagian bermasalah, dampaknya bisa sampai ke piring penerima manfaat.

Baca Juga: BYD Bangun Basis Produksi di Subang, Target TKDN EV Indonesia Makin Tinggi

Yang perlu ditunggu bukan sekadar ramainya utas

Utas tersebut telah membuka pertanyaan publik mengenai bagaimana bahan pangan dipilih, berapa harga yang dibayarkan, siapa pemasoknya, serta bagaimana pemeriksaan dilakukan sebelum bahan masuk ke dapur.

Tetapi pertanyaan itu perlu dijawab melalui pemeriksaan dan bukti, bukan hanya dari percakapan media sosial.

BGN pada awal September menyatakan sedang memperkuat tata kelola SPPG dan pengawasan keamanan pangan. Langkah itu menjadi penting di tengah munculnya kasus gangguan kesehatan dalam program MBG.

Bagi penerima manfaat, ujung persoalannya sederhana: makanan yang masuk ke kotak makan harus memenuhi standar, aman dikonsumsi, dan sesuai kebutuhan gizi.

Poin Penting

Insight Redaksi

Program MBG punya dampak langsung ke kehidupan keluarga karena makanan yang disiapkan dapur SPPG dikonsumsi anak-anak dan kelompok penerima manfaat lainnya. Karena itu, kualitas bahan pangan bukan perkara administratif semata.

Cerita supplier yang beredar di Threads layak menjadi bahan pertanyaan publik, tetapi pembuktiannya harus berjalan melalui mekanisme pengawasan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Yang paling penting, anggaran besar untuk program pangan publik harus menghasilkan makanan yang aman dan bermutu sampai ke penerima manfaat. Kada ada ruang untuk mengorbankan kualitas ketika yang disiapkan adalah makanan untuk anak-anak, Ces.

Pembaca sebaiknya membedakan antara pengakuan di media sosial, dugaan, dan temuan resmi. Informasi mengenai kualitas bahan pangan atau dugaan permainan harga perlu dilihat bersama bukti transaksi, pemeriksaan bahan, serta keterangan lembaga yang memiliki kewenangan.

FAQ

1. Apa yang dimaksud beras broken?

Beras broken adalah beras yang memiliki butir patah. Keberadaan butir patah tidak otomatis membuat beras tidak layak konsumsi karena pemerintah memiliki standar kelas mutu yang mengatur batas persentasenya.

2. Apakah benar dapur MBG meminta beras broken?

Permintaan tersebut muncul dalam tangkapan layar percakapan yang dibagikan akun Threads @dewarmdhy. Namun, belum ada bukti publik yang memastikan identitas pihak pemesan atau membuktikan praktik tersebut sebagai kebijakan umum seluruh dapur MBG.

3. Apa itu SPPG?

Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) merupakan unit pelaksana yang menyiapkan dan mendistribusikan makanan dalam program MBG.

4. Apa kaitan kualitas bahan dengan kasus gangguan kesehatan MBG?

BGN menyebut persoalan gangguan kesehatan banyak berkaitan dengan ketidakpatuhan SOP, termasuk penerimaan bahan, penyimpanan, pengendalian suhu, serta waktu konsumsi.

5. Apakah dugaan markup harga dalam utas sudah terbukti?

Belum. Cerita mengenai perbedaan harga Rp33.000 dan Rp56.000 per kilogram masih merupakan klaim pengguna media sosial dan belum disertai bukti publik yang cukup untuk menyatakan dugaan tersebut sebagai praktik yang terbukti.

Sumber Informasi: Informasi dipublikasikan sebelumnya di Media Threads @dewarmdhy dan @entoniett.s, serta unggahan @gorengankemaren_. Artikel dikembangkan dengan konteks standar mutu beras dari Kementerian Pertanian dan informasi tata kelola keamanan pangan dari Badan Gizi Nasional.

Editor : Arya Kusuma
Supplier MBG Mbg keamanan pangan Badan Gizi Nasional