Rumah Gadang Masuk Dunia Fashion! Puragraph Vol. II Minang Ubah Siluet Tradisional untuk Gen Z

Amellinda Nur Aini • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 17:27 WIB
Puragraph Vol. II Minang hadirkan siluet Rumah Gadang dalam fashion modern monokrom yang cocok untuk Gen Z masa kini (BTV/AI).
Puragraph Vol. II Minang hadirkan siluet Rumah Gadang dalam fashion modern monokrom yang cocok untuk Gen Z masa kini (BTV/AI).

Durasi Baca: 5 menit

Ikhtisar: Puragraph Vol. II Minang membawa siluet Rumah Gadang ke busana monokrom modern, wearable, dan relevan bagi generasi muda Indonesia kini.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Puragraph Vol. II | Minang tampil di Grand Indonesia, Jakarta, mengolah arsitektur Rumah Gadang menjadi busana modern untuk generasi muda.

Buat pembaca yang melihat budaya sebagai bagian dari gaya personal, koleksi ini menarik karena tradisi hadir lewat detail pakaian sehari-hari.

6 detail Puragraph Vol. II yang menerjemahkan Rumah Gadang ke busana modern

Koleksi ini memakai pendekatan arsitektural, bukan sekadar menempelkan ornamen Minang pada pakaian modern.

1. Siluet atap Rumah Gadang

Bentuk atap Rumah Gadang menjadi sumber utama konstruksi visual koleksi. Garis khasnya diterjemahkan secara subtil agar terasa sebagai struktur pakaian, bukan kostum tradisional.

Inspirasi tersebut hadir pada beberapa bagian, termasuk kerah, bagian bawah pakaian, dan cuff lengan. Cara ini membuat identitas Minangkabau muncul melalui bentuk yang mudah dikenali secara visual. 

2. Kerah dengan sentuhan arsitektural

Kerah menjadi salah satu area yang menerima interpretasi dari siluet atap Rumah Gadang. Detail tersebut memberi karakter struktural tanpa membuat keseluruhan busana terasa berat.

Pendekatan semacam ini memperlihatkan bagaimana bentuk bangunan dapat diterjemahkan menjadi elemen fesyen. Identitas budaya hadir melalui konstruksi, sehingga busana masih terasa modern untuk pemakaian sehari-hari. 

3. Bagian bawah pakaian dibuat berkarakter

Garis arsitektur Rumah Gadang juga diterapkan pada bagian bawah busana. Elemen tersebut membantu menciptakan bentuk pakaian yang memiliki struktur visual khas.

Hasilnya bukan replika Rumah Gadang dalam bentuk pakaian. Desainer mengambil karakter garisnya, lalu mengolahnya menjadi bahasa desain yang lebih sederhana dan wearable. 

4. Cuff sebagai detail kecil yang membawa identitas

Bagian cuff lengan menjadi salah satu titik lain yang mendapat inspirasi dari arsitektur Minangkabau. Detail kecil tersebut bekerja sebagai aksen tanpa mendominasi keseluruhan tampilan.

Strategi ini menarik karena identitas budaya justru muncul melalui bagian-bagian yang sering luput diperhatikan. Busana akhirnya memiliki cerita tanpa membutuhkan ornamen berlebihan. 

5. Monokrom hitam-putih

Puragraph Vol. II menggunakan dominasi warna hitam dan putih. Menurut penjelasan desainer, pilihan tersebut mempertimbangkan warna yang mudah ditemukan dalam lemari pakaian dan gampang dipadupadankan.

Palet monokrom juga membantu fokus berpindah kepada bentuk, konstruksi, dan siluet. Bagi generasi muda yang menyukai pakaian versatile, pendekatan ini membuat elemen budaya terasa lebih dekat. 

6. Material katun untuk kenyamanan

Puragraph memilih serat katun sebagai material utama dibandingkan polyester. Karakter katun yang breathable menjadi pertimbangan penting karena koleksi diarahkan untuk penggunaan yang nyaman.

Ada konsekuensi pada material alami tersebut karena permukaannya lebih rentan mengalami lecet. Namun tim desain memilih kenyamanan sebagai bagian penting dari pengalaman memakai koleksi. 

Mengapa Rumah Gadang diterjemahkan menjadi pakaian?

Puragraph melihat Rumah Gadang sebagai simbol tempat berlindung sekaligus ruang yang menghadirkan rasa memiliki. Gagasan itu kemudian diterjemahkan menjadi pakaian yang berfungsi sebagai lapisan perlindungan tubuh.

Konsep tersebut berkaitan dengan filosofi sandhang, pangan, papan. Pakaian ditempatkan sebagai bagian dari kebutuhan hidup, sementara Rumah Gadang menjadi metafora tempat yang menaungi. 

Lead Designer Puragraph, Maritza Anjali Putri, menyebut gagasan tersebut sebagai upaya menghadirkan busana yang menawarkan perlindungan dan kenyamanan, bukan sekadar estetika visual. 

Pendekatan itu membuat koleksi memiliki cerita yang cukup kuat tanpa harus mengubah pakaian menjadi busana adat. Rumah Gadang hadir sebagai sumber desain, sementara fungsi pakaian masih menjadi prioritas.

Baca Juga: Dikta Wicaksono dan Rachel Florencia Resmi Menikah? Ini Fakta Terbaru Hubungan Mereka

Gen Z mendapat budaya dalam bentuk yang lebih mudah dikenakan

Puragraph merupakan sister brand dari Purana yang diarahkan pada pakaian lebih ringan dan dekat dengan kebutuhan sehari-hari. Fokus tersebut membuat budaya Indonesia diterjemahkan melalui desain minimalis dan struktural. 

Tantangannya cukup menarik. Tim desain harus mempertemukan selera Gen Z dengan basis konsumen Purana yang lebih matang, sehingga potongan busana perlu bekerja lintas generasi.

Salah satu contohnya terlihat pada pendekatan crop. Potongan dibuat sedikit memanjang agar karakter modernnya masih terasa, sekaligus memberi kenyamanan bagi pemakai dari kelompok usia berbeda. 

Koleksi Puragraph Vol. II | Minang terdiri dari 10 look dalam dua pilihan warna, hitam dan putih. Secara keseluruhan, terdapat 20 busana dalam koleksi tersebut.

Di titik ini, budaya menjadi bagian dari wardrobe, bukan sekadar pakaian yang muncul pada acara tertentu. Itu yang membuat pendekatan Puragraph relevan bagi pembaca muda.

Fashion berkelanjutan ikut menjadi konteks koleksi

Puragraph Vol. II diperkenalkan dalam rangkaian PURANA17: Renjana Perca di Grand Indonesia. Agenda tersebut berlangsung pada 14–23 Agustus 2026 dan membawa tema pemanfaatan kembali kain serta praktik fesyen berkelanjutan. 

Dalam rangkaian yang sama, Purana Re:Made mengolah arsip kain perca dari periode 2009 hingga 2025 menjadi busana statement. Pendekatan tersebut membawa isu ekonomi sirkular ke dalam perayaan ulang tahun ke-17 Purana. 

Konteks ini penting karena fashion modern kini mulai berbicara tentang usia pakaian, material, proses produksi, dan pemanfaatan kembali bahan. Estetika saja sudah kadapapa menjadi satu-satunya pertimbangan.

Apa artinya bagi pembaca Kalimantan Timur?

Bagi pembaca Kalimantan Timur, eksperimen Puragraph memberi contoh bagaimana identitas daerah dapat diterjemahkan menjadi produk kreatif modern tanpa harus menghilangkan akar budayanya.

Konteks tersebut sejalan dengan agenda kreatif di Kaltim. Dekranasda Kaltim sedang menyiapkan Wastra Diaspora 2026 yang mencakup fashion show, expo produk kreatif, serta workshop fashion product designer pada Oktober mendatang.

Di kawasan IKN, Otorita IKN juga mendorong pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya melalui pelatihan dan pengembangan produk bernilai jual. Program tersebut melibatkan masyarakat sekitar sekaligus menekankan transfer pengetahuan kepada generasi berikutnya. 

Artinya, pembahasan tentang Rumah Gadang di runway Jakarta punya kaitan dengan perkembangan ekosistem kreatif di Kalimantan Timur. Budaya lokal maupun budaya Nusantara sama-sama membutuhkan cara baru agar dekat dengan pasar generasi muda.

Baca Juga: Lisa BLACKPINK Masuk 4 Nominasi MTV VMA 2026, Rekornya Jadi Sorotan

Poin Penting:

Insight Redaksi

Rumah Gadang menunjukkan bahwa budaya bisa masuk lemari harian lewat desain, bukan sekadar ornamen. Bagi Kaltim, pendekatan ini menarik karena ekosistem wastra sedang tumbuh. Kada harus meniru Minang; yang penting berani mengolah identitas sendiri menjadi produk yang dipakai generasi muda.

Yang perlu dijaga adalah cerita di balik desain. Produk kreatif daerah akan kuat ketika budaya, fungsi, kualitas, dan pasar berjalan bareng.

Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam yang suka fashion, budaya, dan karya kreatif Nusantara supaya makin banyak yang melihat budaya dari sudut pandang baru.

Selalu update info fashion, budaya, dan kreativitas Nusantara hanya di Balikpapan TV teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Apa inspirasi utama Puragraph Vol. II | Minang?

Inspirasi utamanya berasal dari arsitektur Minangkabau, terutama siluet dan bentuk atap Rumah Gadang.

2. Bagian busana mana yang mengambil bentuk Rumah Gadang?

Inspirasi tersebut diterapkan pada kerah, bagian bawah pakaian, cuff lengan, serta sejumlah detail konstruksi busana.

3. Ada berapa busana dalam koleksi ini?

Koleksi terdiri dari 10 look dengan dua pilihan warna, hitam dan putih, sehingga totalnya 20 busana.

4. Mengapa koleksi memakai warna hitam dan putih?

Palet monokrom dipilih agar mudah dipadukan dan membantu menonjolkan struktur serta siluet busana.

5. Apakah koleksi ini ditujukan untuk Gen Z?

Puragraph memang diarahkan untuk menghadirkan budaya Indonesia melalui busana yang lebih easywear dan dekat dengan penggunaan sehari-hari.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates

 

 

Editor : Arya Kusuma
Puragraph Rumah Gadang Minangkabau fashion indonesia