Durasi Baca: 8 menit
Topik: Film komedi fiksi ilmiah berlatar budaya Madura hadir dengan pendekatan lokal autentik
Ikhtisar: Tretan Muslim membahas film VO UFO, edukasi kesehatan melalui konten, hingga pentingnya representasi budaya Madura secara akurat dalam industri perfilman Indonesia.
Balikpapan TV - Hai Ces! Film VO UFO menjadi proyek layar lebar terbaru yang mempertemukan komedi, drama keluarga, budaya Madura, dan fiksi ilmiah. Komika sekaligus pengusaha Tretan Muslim mengungkap proses kreatif film tersebut saat berbincang dalam podcast Raditya Dika, mulai dari riset budaya hingga tantangan menjadi pemeran utama.
Penasaran kenapa film ini ramai diperbincangkan bahkan sebelum tayang? Simak sampai selesai, ada banyak cerita menarik yang jarang dibahas, Ces!
Baca Juga: Okin Absen dari Wisuda Anak, Sindiran Rachel Vennya Picu Perdebatan Publik
Apa yang membuat VO UFO berbeda dari film Indonesia lainnya?
Alih-alih hanya mengandalkan komedi, VO UFO menawarkan cerita yang memadukan drama keluarga dengan elemen alien dalam latar kehidupan masyarakat Madura.
Menurut Tretan Muslim, ide besarnya sederhana tetapi unik. Seorang pekerja barang bekas yang hidup sebagai sandwich generation berjuang memberangkatkan ibunya berhaji. Di tengah perjuangan itu, sebuah UFO jatuh di area persawahan dan justru dibongkar menjadi rongsokan oleh warga.
Premis tersebut melahirkan konflik yang tidak biasa. Alien kehilangan kendaraan untuk kembali, sementara kehidupan masyarakat tetap berjalan dengan segala persoalannya.
Tretan Muslim mengatakan film ini diproduksi oleh Cinemart bersama Skak Studios dengan Bayu Skak sebagai sutradara. Ia ikut terlibat sejak tahap pengembangan cerita untuk memastikan detail budaya Madura tersaji secara tepat.
"Di film ini aku kerja jadi tukang rombeng (barang bekas), besi, sampah, dan lain-lain. Karakternya sandwich generation karena di rumah itu sudah sempit, ibuku tinggal di situ, terus iparku juga tinggal di situ."
Ia juga mengungkapkan bahwa proses produksi memerlukan waktu cukup panjang karena pengerjaan efek visual komputer (CGI) yang kompleks. Syuting bahkan telah rampung sekitar setahun sebelum jadwal penayangan.
Mengapa representasi budaya Madura menjadi perhatian utama?
Salah satu hal yang paling ditekankan Tretan Muslim adalah penggunaan bahasa Madura yang sesuai dengan kehidupan masyarakat setempat.
Ia menilai masih banyak kesalahpahaman mengenai bahasa Madura di dunia hiburan. Beberapa ungkapan yang populer di media sosial atau sinetron, menurutnya, justru bukan bahasa yang umum dipakai dalam percakapan sehari-hari.
"Bahasa Madura itu kosa katanya sangat kaya dan nuansanya sangat kontekstual, hanya orang lokal yang benar-benar bisa merasakan dan mendapatkan penempatan yang pas."
Tretan Muslim menjelaskan bahwa setiap kabupaten di Pulau Madura memiliki perbedaan dialek, termasuk pilihan kata ganti orang dan tingkat kesopanan dalam berbahasa.
Karena itu, tim produksi mengganti sebagian dialog agar menggunakan dialek Bangkalan yang dinilai lebih mudah dipahami para pemain.
Proses pemilihan pemeran juga dibuat sangat serius. Bayu Skak disebut melakukan proses casting terhadap sekitar 2.500 orang Madura untuk memperoleh aktor yang benar-benar memahami budaya lokal.
Menurut Tretan Muslim, keputusan tersebut membuat film terasa lebih alami dibanding sekadar menggunakan aksen buatan.
Baca Juga: Juan Bongkar Rahasia Bisnis Emas, Peran Kritis Eve Justru Selamatkan Banyak Keputusan
Dari edukasi kesehatan hingga konten komedi
Percakapan bersama Raditya Dika tidak hanya membahas film.
Tretan Muslim juga menceritakan program kontennya yang menghadirkan tenaga medis untuk memberikan edukasi kepada para talent dalam kanal miliknya.
Ia menyebut Dokter Gia pernah melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap sejumlah peserta "Sekolah Normal". Dari pemeriksaan tersebut ditemukan berbagai kondisi medis yang sebelumnya tidak diketahui.
Beberapa peserta diketahui mengalami gangguan neurologis akibat riwayat kejang ketika masih bayi. Ada pula penyandang cerebral palsy yang baru memperoleh penjelasan medis mengenai kondisinya.
Menurut Tretan Muslim, informasi dari dokter sangat membantu karena banyak masyarakat masih mengaitkan gangguan neurologis dengan hal-hal yang tidak berdasar secara ilmiah.
Ia menyoroti masih adanya anggapan bahwa gangguan tertentu berkaitan dengan unsur mistis.
Padahal, penjelasan medis jauh lebih penting agar keluarga memahami kondisi pasien sekaligus mengetahui pilihan penanganan yang tersedia.
Kasus lain yang disinggung adalah seorang peserta dengan skoliosis sekitar 50 derajat yang masih memiliki peluang diperbaiki melalui tindakan operasi, meski antrean layanan menggunakan BPJS dapat berlangsung cukup lama.
Selain itu, ia juga membahas peserta dengan Tourette Syndrome yang telah menjalani terapi sehingga gejala tics yang dialami kini jauh berkurang.
Raditya Dika turut menambahkan bahwa ia telah mengenal beberapa kreator konten internasional dengan kondisi serupa sehingga memahami bahwa gejala dapat dipicu oleh tekanan emosional tertentu.
Baca Juga: Catheez Masak Ramen di Korea, Momen Sekamar Bareng Vior dan Maiden Penuh Candaan
Bagaimana Tretan Muslim menghadapi tantangan sebagai pemeran utama?
Meski telah lama dikenal sebagai komika, menjadi pemeran utama film merupakan pengalaman baru bagi Tretan Muslim.
Ia mengaku menerima tawaran tersebut karena merasa cerita yang diangkat benar-benar dekat dengan identitas budaya yang ia pahami sejak kecil.
Berbeda dari citranya sebagai pelawak, karakter yang dimainkan justru lebih banyak menghadirkan drama keluarga.
Menurutnya, sebagian besar humor dalam film muncul dari situasi yang terjadi, bukan dari dialog komedi yang terus-menerus dilontarkan tokohnya.
Ia bahkan menjalani proses pembacaan naskah selama sekitar satu bulan untuk mempersiapkan karakter tersebut.
"Filmnya ada komedinya tapi bukan aku yang nyeletuk, salah situasi. Malah justru di film ini banyakan adegan sedih."
Genre yang menggabungkan drama keluarga, budaya Madura, komedi, dan fiksi ilmiah juga menjadi tantangan tersendiri.
Dalam podcast tersebut, Raditya Dika bahkan menyebut konsep film ini sebagai sesuatu yang belum banyak ditemukan di perfilman Indonesia.
Dinasti Komedi Indonesia dan langkah baru setelah MLI
Selain film, Tretan Muslim mengonfirmasi dirinya bersama Choki Pardede dan Adri telah membentuk Dinasti Komedi Indonesia (DKI) setelah tidak lagi berada di Majelis Lucu Indonesia (MLI).
Ia menjelaskan sejumlah kekayaan intelektual yang sebelumnya mereka kembangkan masih dalam proses pembahasan, sementara beberapa program yang memang mereka ciptakan dapat dibawa ke wadah baru tersebut.
Langkah ini disebut sebagai bagian dari pengembangan karya dan identitas kreatif baru tanpa meninggalkan gaya komedi yang selama ini dikenal publik.
Baca Juga: Catheez, Vior, dan Maiden Mukbang di Korea, Ini Momen Tak Terduga
Poin Penting:
- Film VO UFO menggabungkan drama keluarga, budaya Madura, komedi, dan fiksi ilmiah.
- Tretan Muslim ikut memastikan representasi budaya serta bahasa Madura disajikan secara autentik.
- Bayu Skak melakukan proses casting sekitar 2.500 orang Madura untuk mendapatkan pemain yang sesuai.
- Konten Tretan Muslim juga menghadirkan dokter untuk meningkatkan edukasi kesehatan masyarakat.
- Film ini dijadwalkan tayang di bioskop mulai 9 Juli 2026.
Insight Redaksi: Kehadiran VO UFO menunjukkan bahwa budaya lokal dapat menjadi fondasi cerita yang segar tanpa kehilangan daya tarik komersial. Dari sudut pandang Balikpapan, pendekatan seperti ini menarik karena daerah juga memiliki kekayaan budaya yang layak diangkat secara autentik, bukan sekadar tempelan. Representasi yang akurat pang memberi nilai jangka panjang. Kada cukup hanya lucu, tetapi juga menghadirkan identitas yang kuat. Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam agar makin banyak yang mengenal karya berbasis budaya lokal, Ces.
Masih banyak cerita menarik dari dunia film, hiburan, dan budaya yang layak diikuti. Jangan sampai ketinggalan, selalu update info hanya di Balikpapan TV teman update setia, bukan sekadar info biasa!
FAQ
1. Kapan film VO UFO dijadwalkan tayang?
Film VO UFO dijadwalkan mulai tayang di bioskop pada 9 Juli 2026.
2. Siapa sutradara film VO UFO?
Film ini disutradarai oleh Bayu Skak dan diproduksi oleh Cinemart bersama Skak Studios.
3. Apa cerita utama film VO UFO?
Film mengisahkan seorang pencari barang bekas dari keluarga sederhana yang bertemu alien setelah sebuah UFO jatuh di persawahan.
4. Mengapa bahasa Madura menjadi perhatian dalam film ini?
Tim produksi ingin menghadirkan dialog yang sesuai dengan penggunaan bahasa Madura dalam kehidupan sehari-hari sehingga terasa lebih autentik.
Sumber Informasi: Artikel ini sudah tayang sebelumnya di Media YouTube Raditya Dika, dengan judul "Raditya Dika Podcast feat. Tretan Muslim", oleh penulis Tim Raditya Dika. Di-update kembali dengan angle dan style balikpapantv.id.